![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Wajah Fic seketika memerah padam saat Elfa mengatakan sesuatu dengan nafas memburu seperti habis berlari jauh.
"Apa yang kau dengar itu benar benar serius Elfa, kau sedang tidak salah mendengar?" tanya Ayah.
"Aku juga tidak paham Ayah. Malam itu aku dari membeli sesuatu dan melewati mobil itu, lalu tak sengaja menangkap obrolan dua pria asing yang sedang berbicara serius di dalamnya. Aku juga cukup terkejut saat mendengar mereka menyebut nama itu dan aku memutuskan untuk menguping." jelas Elfa.
"Kau mengenal Pria itu?" tanya Fic.
"Tidak! Tapi aku melihat mereka beberapa kali menemui Tuan Nath." sahut Elfa.
"Kau boleh tidak percaya padaku Kak Fic. Di dalam rumah itu pun aku pernah menangkap seorang pelayan pria yang sedang berbicara dengan seseorang di Hpnya. Dia seperti sedang melapor pada seseorang tentang keadaan Nona Ellena. Itu terjadi sebelum Nona Ellena pergi menyusul kak Fic. Setelah itu, aku tidak sempat menguping dia lagi karena harus diam di dalam kamar Nona Ellena."
Fic terdengar mendengus.
"Aku sudah menduga ini. Dan aku sudah mencurigainya. Satu anak buahku juga sudah mendapatkan informasi yang jelas, dan ini sama dengan apa yang kau sampaikan." ucap Fic menoleh lagi pada Elfa.
"Apa kau ada memberitahu ini pada seseorang?"
"Tidak. Aku tidak berani. Aku takut. Aku memilih untuk menunggu waktu yang tepat untuk bisa memberitahumu." jawab Elfa.
Tangan Fic terkepal keras dan nampak gemetaran. Mengusap keringat yang mengalir ke rahangnya.
"Aku harus datang untuk menggagalkan pernikahan mereka." Fic bangun dari duduknya.
"Tuan. Kau tidak boleh gegabah! Kedatangan mu akan mengundang masalah besar! Jika pernikahan itu gagal, bukan hanya Tuan Nath yang akan mendekam di penjara, tapi kau juga!" ayah Elfa menahan tangan Fic.
Fic terpaku, menoleh lalu kembali duduk. Nampak meremas rambutnya.
"Apa yang harus aku lakukan? Aku tidak mungkin membiarkan penghianat itu berlama lama di dekat Tuan Nath dan Ellena!"
"Kak Fic.." Elfa mendekat.
"Kau kan pintar. Cari ide dong. Kasian Nona Ellena. Semalaman ia menangis memanggil namamu. Dia tidak mau menikah katanya."
Plak....! Ayah memukul kepala Elfa.
"Dasar Bodoh! Bukan kah kau yang mempunyai ide ini? Sekarang saja kau bilang begitu hah!"
"Benar Ayah. Tapi melihat Nona Ellena, aku jadi tidak tega. Aku tidak tahan, Ayah.."
Fic menarik nafas berat.
"Biarkan aku yang akan menyelesaikan urusan ini." Fic kini bangun kembali.
"Kau mau apa tuan Fic?"
"Pak. Hanya ada satu jalan untuk menyelesaikan semua ini. Yaitu menyingkirkan dalangnya!"
Fic menoleh pada Elfa sebelum beranjak. "Kembali lah dan temani Nona Ellena. Jangan katakan apapun padanya."
Elfa mengangguk. "Tapi kau mau apa?"
Fic tersenyum tipis. "Tidak akan terjadi apa apa padaku. Kalian tidak perlu khawatir." usai berbicara Fic kemudian melangkah ke kamar yang ia tempati sementara ini di dalam rumah ini. Hanya beberapa menit, ia sudah kembali keluar dan melangkah meninggalkan Rumah Elfa.
Fic mengemudi mobil sewaan Ayah Elfa.
Tangan kirinya nampak merogoh sesuatu dari balik jaketnya.
"Maafkan aku Ellena. Aku harus melakukan ini. Aku lebih memilih keselamatan kalian dari pada hidupku."
Beralih ke Keadaan Rumah Nathan saat ini.
Beberapa orang terlihat mengisi ruangan depan itu. Persiapan yang sudah terlihat selesai dan tinggal menunggu acara dimulai.
Di ruangan lain,
"Ellena. Sudahlah. Jangan terus menangis." hibur Khale pada wanita yang siap ia nikahi itu.
"Apa kita benar benar akan menikah? Jika kau tidak mau menceraikan aku setelah ini bagaimana?" Ellena menoleh dengan Fic mengusap air matanya.
__ADS_1
Terdengar Khale tergelak. Sedih Sebenarnya, tapi merasa lucu saja. Dimana mana orang mau menikah itu berharap pernikahannya lenggang dan memiliki pasangan yang setia sehidup semati. Tapi ini berbeda, ingin menikah tapi berharap diceraikan setelah menikah.
"Kenapa tertawa? Kau senang dengan pernikahan ini ya? Kau hanya pura pura tidak senang?" menuding hidung Khale.
"Ellen, tidak begitu." kini mendekat dan berlutut di hadapan Ellena.
"Dengarkan aku. Semoga saja, Ayah ku berhasil. Jadi kita tidak harus menikah. Tapi , andai saja Ayah tidak kembali nanti sampai tiba waktunya.." Khale menghentikan ucapannya, membuat Ellena langsung melotot ke arahnya.
"Begini saja. Anggap kita sedang main pengantin pengantinan saja."
"Mana bisa! Yang akan menikahkan kita itu penghulu Asli! Bukan tukang balon yang sedang menyamar!" sahut Ellena semakin ketus.
"Ah, kita akan kembali memikirkan jalan keluar setelah nanti saja." Khale berdiri.
"Aku juga pusing Ellena. Semakin pusing karena kau tidak berhenti menangis." Khale kini membanting tubuhnya di kasur sebelah Ellena duduk.
"Aku ini sedang tidak memaksa mu untuk menikah dengan ku. Aku juga terpaksa! Kita ini sama sama sedang tertekan." bergumam.
"Tapi aku takut Khal?" ucap Ellena, masih sesenggukan, mengguncang lengan Ellena.
"Kau itu takut denganku? Atau takut dengan pernikahan ini?" tanya Khale.
"Takut dengan pernikahan ini Khal,"
"Aku juga takut memikirkan itu Ellen."
"Aku memikirkan apa rencana mereka setelah kita menikah?"
"Mana aku tau, aku juga bertanya tanya. Mungkin mereka ingin kita bahagia dalam pernikahan yang sakinah, mawadah dan warahmah. Samawa begitu." memiringkan wajahnya untuk menatap Ellena.
"Diam! Kenapa kau malah bercanda tidak pada waktunya!" teriak Ellena.
Khale mendengus, kini bangun dan duduk di samping Ellena.
"Setidaknya kita harus bersyukur. Orang itu masih memilih aku yang menikahimu, bukan pria kejam yang tak kau kenal sedikit pun. Jadi masih sedikit aman. "
"Kau benar. Masih ada untungnya. Pria itu kamu. Meskipun kita belum tau rencana mereka setelah ini. Setidaknya kau tidak mungkin untuk menghancurkan cintaku dan Fic bukan?"
Khale menepuk nepuk halus punggung Ellena. "Itu kau paham."
Kini Ellena mencoba menenangkan pikirannya. Begitu juga dengan Khale.
Di ruangan lain.
Nathan dan Mira sudah menegang. Menyambut hari yang seharusnya menjadi hari bahagia untuk putri mereka.
Derap langkah terdengar mendekati mereka.
Ken masuk bersama Rimbun.
"Tuan. Para tamu sudah datang. Hanya tinggal menunggu Penghulu saja."
Nathan hanya mengangguk tipis dengan menyimpan banyak Kegelisahan.
"Aku akan pergi Sebentar. Ku harap kau bisa tenang menghadapi ini." ucap Ken.
"Apa rencana mu Ken?" tanya Nathan.
Ken menarik nafas. "Berdoa saja, semoga aku tepat waktu untuk kembali sebelum pernikahan mereka terjadi. Tapi jika aku belum kembali setelah waktunya tiba. Maka nikahkan saja mereka. Setidaknya, ini bisa menyelamatkan mu dahulu Tuan Nath. Selanjutnya kita akan berpikir nanti saja."
"Kau akan pergi dengan siapa?"
"Kimmy dan Keyan. Biarkan mereka yang akan menemaniku."
Nathan kembali mengangguk.
Ken kini melangkah, meninggalkan Rumah Nathan yang sudah siap dengan Pesta kecil itu.
Melaju dengan mobilnya menuju kesebuah tempat. Tangan kiri Ken merogoh Ponsel.
__ADS_1
Sementara di tempat lain.
"Kimmy... Cepatlah. Ayah sudah menghubungi ku." teriak Keyan pada Kimmy yang masih sibuk mencari sesuatu di sebuah toko dalam Mall.
"Tunggu sebentar. Aku belum menemukan kemeja yang pas untukku."
"Kau cari mati ya. Ayah hanya memberi waktu sepuluh menit. Sudahlah!"
Keyan rupanya kesal lalu pergi begitu saja meninggalkan Kimmy.
"Heh tunggu, sebentar lagi!" Kimmy meneriaki Keyan yang terus berjalan pergi.
"Ahrg.. Cepat kak!" menyodorkan kemeja pada seorang pelayan toko.
Setelah selesai membayar, Kimmy bergegas menyusul langkah kaki Keyan yang sudah menghilang.
Bruk..!
Mungkin karena terburu buru, Kimmy menabrak seorang gadis yang juga sedang berjalan keluar dari Mall tersebut. Gadis itu sampai terjatuh.
"Aduh, sakit.. hiks.. hiks.." gadis itu merintih kesakitan.
Kimmy yang juga terkejut panik dan cepat menolong gadis itu.
"Maafkan aku Nona. Kau tidak apa apa?"
"Lutut ku berdarah. Hiks.. Gaunku kusut. Kau ini bodoh atau buta hah!" gadis itu memaki.
"Maafkan aku, sungguh aku tidak sengaja. Aku, aku.."
"Nay...." dua pasangan suami istri yang mungkin orang tua gadis itu berlari menghampiri.
"Kau kenapa sayang." yang wanita meraih tangan Gadis itu dengan wajah khawatir.
"Dia menabrakku. Lihatlah Ibu, lututku berdarah." menunjuk Kimmy dan memperlihatkan lututnya yang lecet.
"Kau ya. Beraninya membuat Putriku terluka!" wanita itu geram dan menuding Kimmy.
"Maafkan aku Tante. Sungguh aku tidak sengaja. Aku terburu buru. Aku akan bertanggung jawab, tapi tolong jangan sekarang ya. Aku sungguh terburu buru." sahut Kimmy dengan wajah memohon.
"Mana bisa. Kau harus bertanggung jawab sekarang!" wanita itu marah dan mendorong tubuh Kimmy dengan kasar.
"Kayla. Sudahlah. Mungkin dia memang tidak sengaja." sang suami cepat mencegah istrinya.
"Tapi Ric, dia sudah membuat putrimu terluka."
Kimmy menoleh pada Pria itu. "Om, maafkan aku. Sungguh aku tidak sengaja. Aku akan bertanggung jawab atas kesalahan ku ini. Tapi sekarang aku harus pergi dulu." Kimmy merogoh kantongnya dan mengeluarkan sesuatunya dari dompetnya.
"Agar kalian percaya, ini adalah kartu nama Ayahku dan alamat kantornya. Kalian bisa mendatangi alamat itu dan meminta pertanggungjawaban ku langsung di depan Ayahku. Aku tidak akan lari." ucap Kimmy, tak ingin banyak waktu karena sudah terlambat Kimmy kembali melangkahkan setelah pria itu menerima kartu nama yang ia ulurkan.
Seketika pria itu terbelalak menatap nama di kartu nama itu.
"Pemuda itu ternyata anak sektretaris Ken!"
"Masa sih?" istrinya seperti tidak percaya dan cepat menyambar kartu nama itu dari tangan suaminya.
"Iya benar. Artinya pemuda itu adalah salah satu dari Tiga Putra kembar Sekretaris Ken. Ya Tuhan! Sudah sebesar itu?" wanita itu melongo.
"Bukankah, Putri Nathan juga akan menikah dengan salah satu dari mereka? Kenapa mereka masih keluyuran disini?" sambungnya.
Suaminya hanya tersenyum tipis. "Mungkin mereka ada urusan." kemudian melirik putrinya yang masih meringis.
"Hanya lecet sedikit, tidak apa apa. Ibu bisa mengobatinya di mobil. Ayo Ayah bantu." meraih pundak putrinya.
"Tapi gaunku kusut Ayah. Kalau begitu aku tidak mau ikut kalian ke pesta teman Kalian." rengek gadis itu.
"Jangan begitu sayang. Kau harus ikut. Ini adalah hari pernikahan Putrinya. Kami sudah sangat lama tidak bertemu dengan mereka. Kami juga ingin mengenalkanmu pada Teman lama Ibu dan Ayah itu." jawab sang Ibu.
_________
__ADS_1