![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Kurang dari tiga puluh menit waktu untuk mereka mengucapkan janji suci. Semua sudah siap tinggal menunggu Sang Penghulu saja.
Tamu Tamu yang terdiri dari orang orang terdekat saja, sudah mengisi bangku bangku kosong.
Dua Pria yang biasa mendatangi Nathan pun nampak ada di ujung sana mengawasi keadaan. Entah mereka itu suruhan siapa sebenarnya. Ini menjadi tanda tanya besar bagi Mereka. Namun saat ini Nathan hanya bisa diam, kali ini dia harus menurut dengan apa yang sudah di anjurkan Ken sebelum dia pergi meninggalkan pesta yang seharusnya ia tunggu ini.
Tak lama dari itu Penghulu datang.
Seorang staf WO segera menyambut dan mempersilahkan duduk di tempat yang memang sudah di siapkan. Kemudian sang Staf beranjak menemui pemilik Hajat.
Selang beberapa menit, nampak Pasangan calon mempelai sudah berjalan beriringan menuju Tempat di mana penghulu sudah duduk. Di belakang mereka, Nathan dan Mira menyertai bersama Rimbun.
Jika di lihat dari luar, sekilas wajah wajah itu terlihat bahagia, walaupun hanya sekedar berpura pura untuk menutupi keadaan yang sebenarnya. Baik Khale maupun Ellena yang sama sama sudah duduk di depan penghulu. Nathan dan Mira pun duduk di belakang Mereka. Ada Rimbun juga, namun tak nampak Ken diantara mereka.
Kimmy dan Keyan pun sama, tidak ada disana.
Mereka bukan tidak heran atas ketidak hadiran Ken, tapi beruntung mereka hanya berpikir jika Ken mungkin sedang ada urusan dan sebentar lagi akan tiba.
Selang beberapa saat, Penghulu terlihat berbisik pada Nathan.
"Apa acara sudah bisa kita mulai Tuan?"
Nathan melirik jam, kurang dari dua puluh menit lagi.
"Tunggu sebentar lagi Pak. Ayah dari Tuan muda Khale belum datang. Kita harus menunggunya." jawab Nathan melirik Rimbun seolah memberi kode halus.
"Dia sedang menjemput Tuan muda Keyan. Mungkin jalanan macet. Tunggu dulu ya." ucap Rimbun untuk meyakinkan Penghulu.
Penghulu hanya bisa mengangguk. "Baiklah."
Seorang pelayan mendekati Nathan, setelah menunduk hormat pelayan itu membisikkan sesuatu.
Nathan cepat menoleh ke arah pelayan yang menunjuk dengan jempolnya itu. Di ikuti oleh Mira yang ikut menoleh.
"Bajingan itu berani datang kemari rupanya." gumam Nathan ketika di lihatnya Ricard sudah berdiri disana bersama Kayla. Mereka melempar senyuman dan anggukan hormat.
"Nath. Kau tidak boleh mencari keributan. Ingat, Ken menyuruhmu untuk tetap tenang sampai ia kembali." bisik Mira. Nathan menatap Mira dan mengangguk.
"Maafkan aku. Darahku selalu mendidih jika melihat wajahnya."
Mira menepuk nepuk punggung suaminya. Nathan kini meraih tangan Mira dan mengajaknya berdiri.
"Kau benar Mira. Sebaiknya kita menemuinya dan menyambutnya dengan baik, agar dia tidak curiga jika pernikahan ini hanyalah sebuah keterpaksaan saja. Kita harus bisa terlihat jika kita baik baik saja menjalani kelicikan mereka." bisik Nathan yang hanya di jawab anggukan oleh Mira.
__ADS_1
Keduanya kini beranjak menemui Ricard dan Kayla.
"Nath. Bagaimana kabar kalian?" sapa Ricard dengan masih terlihat canggung.
"Seperti yang kalian lihat. Kami baik baik saja." jawab Nathan dengan dingin. Bahkan tak menyambut uluran tangan Ricard.
"Ah, maafkan kami. Jika kehadiran kami yang tanpa di undang ini mengganggu kalian, kami tidak bermaksud apa apa. Hanya ingin bersilaturahmi setelah sekian lama kita tidak bertemu." ucap Ricard kembali.
Nathan hanya tersenyum tipis saja.
"Apakah kedatangan kami sudah terlambat. Apakah ijab kabul mereka sudah selesai?" kali ini Kayla yang bertanya ingin sekedar menepis malu yang ia rasakan saat tatapan dingin Nathan pada mereka.
"Tidak Kayla. Kalian belum terlambat. Ayo duduk lah. Kami sedang menunggu Tuan Ken. Dia belum datang karena ada sedikit urusan." Mira yang menjawab , dengan menenangkan diri walau sebenarnya dia juga menyimpan banyak kebencian pada sosok Pria di hadapannya itu.
"Ayo duduklah. Nikmati hidangan yang ada." Mira menguatkan hati, kemudian meraih tangan Kayla dan membawanya melangkah pada kursi tamu yang tersedia di sana.
Nathan hanya diam saja melihat itu. Ricard pun menghampiri Mereka dan ikut duduk disamping Kayla dengan mengapit tangan Putrinya.
"Di Putri kalian?" tanya Mira, Melirik gadis manis yang tersenyum ramah padanya.
"Ah, iya Mira. Dia putriku. Kenalkan." Ricard meminta Putrinya untuk mengulurkan tangan.
"Nay , Tante."
"Cantik dan anggun. Mudah mudahan hatimu tak seperti Ayahmu." itu hanya ucapan Mira dalam hati.
"Selamat datang di pesta kecil kami. Aku harus kembali menemani Putriku." ucap Mira. Setelah itu kembali pada Nathan dan mereka kembali melangkah untuk duduk di belakang Calon mempelai.
Detik detik kembali berputar mengiring kegelisahan mereka yang sedang duduk di depan Penghulu menunggu waktu. Yang di tunggu sebenarnya bukan waktu, melainkan kedatangan Ken.
Beralih ke sebuah mobil yang tengah melaju sedang.
Fic mengemudi dengan menelepon seseorang.
Setelah selesai berbicara, terlihat dia mengantongi kembali Ponselnya dan kembali fokus pada jalan.
Mobil itu berbelok ke sebuah Rumah sakit. Fic nampak keluar. Mengenakan sebuah Topi dan masker. Dia terus melangkah masuk tanpa menoleh lagi. Menyusuri lorong rumah sakit dan berhenti di sebuah pintu Ruangan.
Menoleh ke kiri dan ke kanan. Saat suasana di anggap sudah aman, ia membuka pintu kamar rawat inap itu dengan cepat dan masuk tanpa Permisi.
Di tatapnya seseorang yang tengah berbaring lemah di sana. Matanya menatap seseorang itu dengan penuh kebencian. Tangannya terkepal keras. Tanpa belas kasihan selayaknya Fic yang biasa.
Ia menarik selimut penutup tubuh lemah itu.
__ADS_1
"Kau ternyata yang sudah membuat Nona Ellena menderita dan mengkhianati keluarga Tuan Nath. Aku hanya ingin membalas semua perbuatan mu tanpa kasihan sekarang!" Fic meraih pistol dari balik jaketnya dan siap memecahkan kepala seseorang yang masih terpejam itu.
Fic siap menarik pelatuk.
Bug...!
Sebuah tendangan tepat mengarah tangan Fic menyebabkan pistol itu terjatuh dari genggaman tangan nya.
"Tuan Ken!" Fic mundur beberapa langkah.
Moncong pistol milik Ken sudah terarah tepat di kepalanya.
"Aku tau kau akan datang kemari." ucap Ken.
"Hh, aku juga tau, kau ada di belakang permainan ini!" sahut Fic.
Melirik Dua putra Ken yang berdiri tepat di belakang Ayahnya.
"Menurut lah Fic. Dengan begitu, kau akan menyelamatkan banyak orang. Termasuk Nona Ellena." gertak Ken.
"Itu tidak mungkin kulakukan Tuan Ken!"
"Kau sekarang berani membangkangnya ku? Kau lupa siapa aku?" Ken terus menodong Fic.
"Aku tidak pernah lupa. Justru aku sangat mengingatnya. Kau yang sudah mendidik ku menjadi kuat. Kau yang sudah menyuruhku untuk mengabdikan hidupku pada Tuan Nath. Dan itu sebabnya, Aku tidak akan membiarkan pengkhianat berkeliaran di sekitar keluarga Tuan Nath!" menatap bengis pada Ken.
"Akan ku lakukan apapun untuk mereka Tuan. Tidak peduli dengan nyawaku, atau sekalipun aku harus melawan mu!"
Bug ..!
Satu pukulan Fic dengan gesit, tepat ke tangan Ken. Pistol itu terjatuh, namun dua Putra Ken tak tinggal diam, segera menyerang Fic dan membekuk Fic.
Fic kini tak berkutik setelah dua tangannya tertekuk ke belakang dan kali ini pistol sudah menempel di pelipis.
"Jika kau ingin semua permainan ini cepat berakhir, menurut lah Fic!" Ken memberi kode pada dua Putranya.
Melempar sebuah borgol yang langsung di tangkap oleh Keyan dan dengan cepat memborgol kedua tangan Fic.
Kini mereka menyeret Fic keluar dari ruangan itu, membawa Fic keluar dari rumah sakit menuju mobil.
Anehnya, beberapa orang meyaksikan itu, bahkan para staf keamanan Rumah sakit juga. Tapi tidak ada yang bergeming satu pun, malah sengaja menyisih memberi jalan untuk mereka.
Atau mungkin pihak Rumah sakit ini sudah bekerja sama dengan Ken?
__ADS_1
Tunggu di bab selanjutnya!