![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Nathan menarik nafas berat. Melirik jam, lalu melirik pintu. Beberapa kali ia melakukan itu.
"Bagaimana Tuan?" Penghulu bertanya lagi.
Nathan belum menjawab. Menoleh pada Mira dahulu. Mira melirik jam. Ini sudah waktunya. Kemudian Mira terlihat mengangguk samar.
"Baiklah. Mulai saja."
"Paman!" Khale bersuara seperti ingin protes.
"Tidak perlu menunggu Ayahmu lagi." jawab Nathan.
"Tuan Nath. Tunggu lima menit lagi. Bagaimana?" Rimbun kini yang mencegah.
"Baiklah, kita tunggu lima menit lagi." sahut penghulu.
Kini mereka kembali terdiam, semua tidak ada yang tidak berdebar.
Khale dan Ellena pun saling menoleh.
Tangan Khale merambat pelan meraih tangan Ellena dan meremas lembut jemari gadis itu.
"Tenang lah Ellena. Jangan bersedih. Berdoalah. Semoga saja, Fic akan segera datang menggantikan posisiku." bisik Khale.
Ellena tertunduk, mengusap air matanya yang tak terasa menetes.
____
Berpindah ke tempat lain. Sepuluh menit yang lalu.
Fic di dudukkan di sebuah kursi setelah mereka membawa Fic ke suatu tempat.
Kimmy sekarang yang menggantikan posisi Ken, mengarahkan pistol ke kepala Fic guna mencegah Fic berontak.
Ken sendiri duduk berhadapan dengan Fic.
Fic mengusap keringat yang mengalir di dahinya dengan bahunya, dengan kondisi kedua tangannya masih terbelenggu borgol.
Matanya bengis menatap tajam kearah Ken yang juga menatap sama tajam.
"Jika hanya karena kau tidak mengijinkan perasaanku terhadap Nona Ellena, tidak perlu kau mengkhianati Tuan Nath.Aku tidak menyangka, kebaikan Tuan Nath kau balas sedemikian rupa Tuan Ken!"
Ken terlihat menarik nafas.
"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak menemukanmu hari ini Fic?" tanpa menjawab ucapan Fic, Ken malah bertanya.
"Tentu saja aku akan membunuh kalian semua!"
"Demi Tuan yang kau layani? Demi Ellena yang kau cintai?"
"Ya. Demi kesetiaan ku, tidak seperti mu yang sudah mengotori kesetiaan kita!" sahut Fic tegas tanpa rasa takut sedikit pun.
Ken tergelak renyah. "Kau akan mengorbankan hidupmu untuk yang kedua kalinya? Kau akan membusuk di penjara, dan wanita yang kau cintai akan dinikahi pria lain. Kau terlalu bodoh!"
"Setidaknya, aku bisa menyelamatkan Tuan Nath dari Perjanjian sialan itu!"
"Menghancurkan hidupmu sendiri. Sungguh konyol." Ken mendesah.
"Sampai matipun aku akan tetap melakukan apapun demi keluarga Tuan Nath. Tidak Peduli dengan nyawaku. Kau harus paham itu! Jika kalian benar benar Pejantan Tangguh, lepaskan aku. Kita bertarung! Siapa yang menang diantara kita. Pengkhianat atau aku yang hanya kepala pelayan ini!"
"Lepaskan aku Brengsek! Jangan mengorbankan Nona Ellena dan Tuan Nath demi ambisi Kalian!" Fic berteriak, berusaha untuk berdiri. Namun Keyan dan Kimmy cepat mendorong kembali tubuh Fic hingga terduduk kembali.
"Huh!" Ken mengembuskan nafas panjang. Dia berdiri dan kini mendekat. Menepuk beberapa kali bahu Fic.
"Aku salut padamu Fic. Ternyata didikanku selama ini sungguh tertanam di dirimu. Kau begitu tangguh. Kau Pejantan Tangguh yang sebenarnya. Bahkan tidak takut resiko apapun demi melindungi Tuan Nathan. Kau memang bisa di andalkan. Tuan Putri Ellena tidak salah memilihmu. Bahkan Putra Putraku belum tentu bisa seperti mu."
"Jangan banyak bicara! Aku muak mendengarmu!" Fic kembali berteriak geram.
"Bunuh aku Tuan Ken, atau aku yang akan membunuh kalian!" Mata Fic sudah sangat memerah.
"Aku tau, kesetiaan itu sangat sulit dan mahal. Aku merasakannya Fic. Seperti aku contohnya, Saat ini Aku harus memilih antara kesetiaan dan Keluarga." ucap Ken memundurkan Langkah.
"Lepaskan aku bangsatt...!"
Kimmy tergelak sekarang. "Selembut apapun Fic, jika sudah emosi, bisa mengumpat juga ya?" tapi segera terdiam saat Ken melotot kearahnya.
"Maaf Ayah. Aku hanya ingin bercanda."
"Baiklah, jika itu mau Fic demikian, lepaskan dia. Aku ingin melihat, apa yang akan ia lakukan setelah ini."
"Tapi sebelumnya,.." Ken menjeda kalimat. Mengeluarkan selembar kertas dari balik jasnya.
"Tenangkan hatimu dan baca ini baik baik. Waktumu tinggal sepuluh menit lagi. Jika kau gegabah,maka kau akan kehilangan wanita yang kau cintai! Dan aku tidak mau kau salahkan untuk yang kedua kalinya!" Ken merentangkan kertas itu tepat di depan wajah Fic.
Fic sungguh sangat muak saat ini, namun ia mencoba untuk membaca isi kertas itu.
Seketika mata Fic terbelalak, bibirnya bergetar. Menatap Ken, Kimmy dan Keyan secara bergantian.
"Jadi, kalian...!"
"Lepas kan dia Kym, sepertinya Fic ingin mengadu kekuatan dengan Ayahmu ini."
Keduanya mengangguk, dan segera melepaskan borgol pada kedua tangan Fic.
_____
Dalam rumah Nathan saat ini,
Ketegangan semakin menguasai mereka. Lima menit sudah kembali berlalu. Nathan menarik nafas kembali. Kemudian ia menatap Penghulu.
__ADS_1
"Nikahkan mereka sekarang Pak!"
Penghulu mengangguk. "Silahkan berpindah Tuan."
Nathan menurut, kini duduk berhadapan dengan Khale di samping penghulu.
Sekali lagi Khale menoleh pada Ellena.
Seperti meminta persetujuan. Ellena mengusap air matanya yang kembali menetes. "Maafkan aku Fic. Aku mengkhianati cinta kita." gumamnya, kemudian mengangguk samar.
Nathan mengulurkan tangannya. Khale menyambut dengan sangat ragu. Setelah berdiam beberapa detik.
"Saya nikahkan engkau, Khale Basefa dengan Putriku Ellena Edoardo dengan mas kawin Sepasang perhiasan di bayar tunai!"
"Saya terima-.."
"Tunggu!" suara lantang itu membuat semua orang menoleh tak terkecuali Nathan.
"Ken!" Nathan langsung melepas jabatan tangannya dan berdiri. Ken melangkah mendekat.
"Maafkan atas keterlambatanku,Tuan." kemudian menoleh pada Khale.
"Pergilah dari situ, kau tak harus ada disitu. Karena calon mempelai pria yang sebenarnya sudah ada disini." ucap Ken.
Khale dan Ellena sama melempar pandang, kemudian semua orang mengikuti pergerakan Ken yang menoleh ke arah pintu.
Kimmy dan Keyan terlihat melangkah masuk dengan tenang. Beberapa langkah mereka berhenti dan menarik kaki mereka ke samping, kemudian menoleh kebelakang. Sosok lain muncul dari arah belakang mereka.
"Fic...!" Ellena kini menjerit ketika menyadari siapa yang muncul ditengah tengah Keyan dan Kimmy itu. Seketika bangun dan berlari sambil mengangkat kebaya yang ia kenakan.
"Fic..!" menubruk Fic dan memeluknya dengan erat, tangisan Ellena pecah mengisi seluruh ruangan. Membuat Penghulu dan para tamu melompong bengong dan bingung.
"Maafkan Fic Nona. Fic hampir saja terlambat." Fic pun memeluk Ellena dengan Erat.
"Ken, apa kau berhasil?" Nathan bertanya pada Ken.
Ken mengangguk dan kini berlutut di hadapan Nathan di susul Kimmy dan Keyan.
"Aku tadinya tidak pernah menyangka. Tapi setelah istriku terus mengatakan itu, aku jadi curiga dan aku menyeledikinya. Ampuni aku Tuan. Tolong maafkan segala kekhilafan Kakek Mertua ku!"
"Jadi... Ini semua...?" Nathan membulatkan matanya sekarang.
Ken mengangguk, sementara Rimbun langsung mendekat, bersimpuh disisi suaminya dan memeluk Ken.
"Ken.."
"Maafkan aku Rimbun,aku sudah menekan Kakek agar mau membatalkan perjanjian itu. Aku tidak mungkin mengorbankan Hubungan kami demi keinginan Kakek mu."
"Tidak apa apa Ken. Kau tidak salah. Kau melakukan yang benar." Rimbun terisak.
"Saat ini, Keadaan Kakek Fiandi kritis karena desakan dariku. Tapi dia menyadari kesalahannya dan meminta maaf pada kita semua, terutama padamu Tuan Nath." Ucap Ken, kembali mendongak untuk menatap Nathan.
"Dia hanya sempat menitipkan surat pembatalan perjanjian ini untukmu." Ken mengulurkan kertas pada Nathan yang langsung menerimanya dan meneliti.
Nathan bahkan berulang kali menggelengkan kepala. Lalu menoleh pada Ricard yang ikut berdiri di sana. Sepertinya Ricard belum sepenuhnya mengerti apa yang terjadi, dia hanya menebak jika ini adalah kesalah pahaman saja. Dia juga tidak mungkin berani ikut campur sedikit pun lagi.
"Ya Tuhan. Aku sudah berburuk sangka." dalam hati Nathan.
"Lalu bagaimana kau bisa menemukan Fic?" Nathan bertanya pada Ken.
"Aku sudah bisa menebak, jika Fic sudah membaca semuanya. Aku bahkan sudah mengira jika Fic akan mendatangi Kakek Fiandi untuk membunuhnya. Beruntung kami bisa melihat kedatangan Fic dan tepat waktu mencegahnya. Jika tidak, mungkin Fic akan benar benar dalam masalah besar.
Mendengar itu, Ellena kembali menangis keras.
"Apa yang kau lakukan Fic?" memukul mukul dada Fic.
"Maafkan aku Nona. Aku tidak bisa memikirkan apapun lagi kecuali dirimu dan Ayahmu." Fic kini menarik wajah Ellena.
"Jangan menangis lagi. Sekarang tidak ada lagi yang mengancam Ayahmu. Tidak lagi yang membuatmu takut. Aku sudah ada disini." Fic meraup wajah Ellena berkali kali, mengusap air matanya hingga bersih dengan ujung kaos yang ia kenakan.
"Kau akan menikahi ku?" tanya Ellena.
"Tentu saja."
"Kita akan menikah sekarang Fic?" dalam sesenggukan Ellena bertanya kembali.
"Ya. Sekarang, tapi.." Fic menoleh pada Khale.
"Tuan muda. Apa kau rela melepas Nona Ellena untuk ku?"
"Jika aku tidak mau melepasnya, apa kau pikir Ellena akan menerima ku? Kehadiran mu sudah pasti menggagalkan pernikahan kami. Bukan kah begitu Ellena?" Khale melirik Ellena yang kini tersenyum.
"Ya. Kau sudah menggagalkannya, Fic. Dan tidak perlu ada yang bertanya, siapa yang akan aku pilih." ucap Ellena. Semua tersenyum sekarang.
"Ah baik lah. Cepatlah Fic. Semua tamu sudah kering menunggu." Sahut Khale, ia melepaskan jasnya dan melepaskan jaket yang dikenakan Fic.
"Berganti lah Fic. Berpakaian lah yang sopan di depan Penghulu." Fic hanya tersenyum, kemudian cepat menyambar jas milik Khale dan mengenakannya
Nathan mengangkat bahu Ken.
"Berdirilah Ken. Terimakasih kau sudah datang tepat waktu."
"Tak perlu berterimakasih Tuan. Kami seharusnya yang sangat meminta maaf. Ini semua sungguh memalukan."
"Tidak apa apa Ken. Tidak apa apa. Meskipun salah, Mungkin Kakek mu juga punya alasan yang kuat. Tidak apa apa. Kita akan melupakannya. Semuanya sudah selesai." jawab Nathan.
"Kau benar. Baiklah, sekarang nikahkan mereka Tuan. Nona Ellena harus bahagia." ucap Ken.
Nathan mengangguk, sekarang pria itu tersenyum lebar.
__ADS_1
Kini semua duduk dengan tenang. Khale sudah berpindah, duduk bersama dua adiknya. Nathan kembali ke posisi semula tapi sekarang yang di hadapannya adalah Fic. Bukan lagi Khale.
Nathan menoleh dulu pada Sang Penghulu yang terlihat begitu bingung dengan yang terjadi.
"Kita bisa melanjutkan lagi Pak. Maaf, ini tadi ada kesalahpahaman. Dia Calon Pengantin pria yang sebenarnya." ucap Nathan.
Fic tertunduk malu mendengar itu.
Penghulu hanya mengangguk kemudian bertanya pada Fic.
"Anda sudah siap Tuan?"
Fic gelagapan. "Tunggu sebentar Pak." wajahnya terlihat bingung dan berbisik pada Ellena.
"Nona. Fic tidak membawa apa apa. Bagaimana dengan mas kawinnya?"
Ellena hampir tertawa mendengar itu, kemudian merogoh saku Celana Fic.
"Masa tidak ada sedikit pun Fic?"
"Tidak ada. Aku buru buru, dan tidak memikirkan itu."
Ellena terus mencari di saku saku celana Fic, menarik lembar uang Dua Puluh ribuan.
"Ini apa?" menunjukan pada Fic.
"Ya Tuhan. Hanya ini?"
"Tidak apa apa Fic. Ini saja. Aku iklhas."
Fic tertegun mendengar itu. Lalu mengangguk.
Khale terbahak di ujung sana. "Yang benar saja Fic? Mahar Nona Ellena hanya Dua Puluh Ribu? Kau ini, pakai saja ini. Kau bisa menggantinya nanti." menyodorkan kotak perhiasan.
"Diam kamu Khal!" sergah Ellena, lalu kembali pada Fic.
"Tidak apa apa Fic. Pakai uang kamu ini saja." Ellena tetap bersikeras agar Fic memakai selembar uang milik Fic itu.
"Setelah ini aku akan meminta Fic untuk membelikan cincin berlian untuk ku." ketus Ellena pada Khale. Khale tertawa.
"Baiklah baiklah, aku bisa mengerti. Sekecil apapun dari Fic kau memang harus menerimanya. Dia hampir saja mati untuk bisa sampai di sisimu." ucap Khale. Ellena tersenyum lagi.
"Terimakasih Khal, semua berkat kamu juga." Khale hanya mengangguk, dan kini kembali duduk.
Semua kini terhening, jantung mereka kembali berdebar. Apalagi jantung Fic saat ini, hampir berhenti ketika Nathan mengulurkan tangannya.
"Jabat tanganku Fic."
"Ah, iya Tuan." tangan Fic tampak gemetaran.
"Fokuslah Fic. Kau harus menikahi putriku dengan baik. Jangan salah ucap."
'Ya Tuhan. Aku belum ada persiapan apapun. Apa aku bisa?' dalam hati Fic seketika menciut.
'Kalau nanti salah bagaimana?'
"Fic!"
Fic tersentak. Cepat mengangguk dan menjabat tangan Nathan.
"Bismillah...!"
Dan akhirnya Ijab kabul pun berjalan lancar tanpa di ulang. Tekad Fic dan besarnya cinta dalam hati menuntun kalimat dari mulut Fic dengan sendirinya.
"SAH!"
Satu kata dari mulut Penghulu setelah para saksi itu membuat semua orang bersorak seketika.
Mira memeluk Rimbun dan terisak. Nathan berdiri dan seketika berlari memeluk Ken. Mereka bahkan melupakan dua orang yang baru saja Sah menjadi suami istri itu.
Sampai Suara lengkingan gadis memecah ruangan membuat semua menghentikan tangisan dan menoleh.
"Kak Fic! Kau melupakan ini!" Elfa berlari kecil menghampiri Fic.
"Maaf. Aku terlambat." menyodorkan sebuah kotak.
"ini milikmu kan? Aku tau ini sudah kamu siapkan untuk Nona Ellena. Aku menemukannya di tas mu."
"Ah, kau sungguh membantuku Elfa. Terimakasih." Fic cepat menyambar kotak itu dan mengeluarkan cincin bermata berlian itu dari sana.
Lalu meraih tangan Ellena untuk memasang satu cincin di jari manis Ellena.
Ellena tidak tersenyum, melainkan terus terisak.
"Fic. Aku mencintaimu."
"Aku juga Ellena. Aku mencintaimu."
Semua terbaur dalam suka duka dan haru. Hari ini, pesta pernikahan kali ini sungguh nano nano rasanya. Tegang, takut, sedih, kemudian bahagia. Ada yang masih melongo tanda tak mengerti namun tetap bertepuk tangan.
Ah, semua orang sedang terbaur dalam rasa yang berbeda beda ini. Meskipun pada akhirnya semua tertawa senang. Tapi ada satu pria yang terbelalak sejak teriakan Elfa tadi.
Keyan tak berhenti berkedip.
"Dia.. Dia...!"
Matanya mengamati gadis yang kini sedang berdiri disisi Fic itu.
_____
__ADS_1