Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Bukan Fic!


__ADS_3

"Fic...!" Ellena masih berlari mengejar. Pria itu sama sekali tidak peduli, masih saja melangkah dan tidak menoleh.


Ellena mempercepat larinya berusaha untuk menggapai tangan Pria itu.


"Fic!" langsung menyambar lengan pria itu dan memeluk pinggangnya.


"Fic! Kenapa pergi, aku sudah sejak tadi menunggumu disini. Ternyata kau sungguh datang. Jangan pergi lagi. AKU MOHON!" Ellena mendekap erat.


"Nona, maaf. Apa kau salah orang?" Pria itu melepaskan tangan Ellena dan memutar tubuhnya.


Ellena mendongak untuk menatap wajah itu.


"Fic!"


"Kenapa kau tidak mengenali ku lagi? Aku Ellena, Fic!" Ellena kembali memeluk pria itu.


"Kenapa kau jahat! Kenapa melupakan aku?" terisak.


"Nona, Nona. Maaf, kau mungkin salah orang. Aku bukan orang yang kau maksud. Aku tidak mengenalmu."


"Tolong lepas Nona!" pria itu berusaha melepaskan pelukan Ellena.


"Tidak! Aku tidak akan melepaskan mu lagi, Fic! Tidak akan!" Ellena mempererat pelukannya.


"Ellena!" Khale sudah sampai di sana. Begitu tersentak saat pria itu menoleh padanya.


"Fic!" Khale menganga, menatap pria itu dari atas sampai bawah.


"Maaf Mas. Nona ini salah paham padaku."


Khale tersadar jika itu bukan Fic, lalu cepat menarik tubuh Ellena padanya dan berbisik.


"Ellen, dia bukan Fic!"


"Dia Fic, Khal! Dia hanya berbohong padaku karena ingin pergi dariku!"


"Bukan Ellen. Sadarlah. Dia hanya mirip. Lihatlah! Rambut dan kulitnya saja berbeda. Penampilannya saja sangat jauh dari Fic! Dia bukan Fic." ucap Khale.


"Dia Fic, Khale. Aku yakin." Ellena kembali pada Pria itu.


"Fic. Ayo kita pulang. Ayo Fic. Bukan kah kita akan menikah? Kenapa kau pergi?"


Pria itu menoleh pada Khale.


"Mas, aku tidak mengenal kalian. Nona ini kenapa?"


"Ah, maafkan dia bung. Dia baru saja kehilangan kekasihnya. Dan kebetulan wajahnya memang mirip denganmu. Dia masih sangat tertekan. Maafkan Kami. Maafkan kami." ucap Khale berulang kali.


"Ayo Ellen. Kita pergi. Tidak baik mengganggu orang!" Khale menarik tangan Ellena.


"TIDAK!!" Ellena bertahan.


"Fic! Ku mohon. Jangan lakukan ini padaku. Aku berjanji tidak akan membuatmu repot lagi. Ayo pulang bersamaku Fic!" Ellena mengiba.


"Mas Gilang...!" dari ujung sana seorang wanita muncul bersama seorang Anak perempuan, berjalan kearah mereka.


"Ranti.. Ah, maaf. Nona ini salah paham padaku. Jangan marah ya?" Pria itu cepat meraih tangan Wanita itu dan kemudian mencium kening anak perempuan itu.


"Salah paham?" wanita itu menoleh pada Ellena yang masih memegang erat lengan Fic. Wanita itu melepaskan tangan Ellena.

__ADS_1


"Apa yang suamiku perbuat pada Nona?"


"Suami?" Ellena tercengang.


"Dia suami saya. Mas Gilang. Dan ini Putri kami. Kami sudah menikah lebih dari dua belas tahun. Kami baru saja datang dari kampung untuk menengok saudara kami disini." ucap wanita itu.


"Apa kau mengenal suamiku? Dia belum pernah kemari. Baru kali ini." tambah Wanita itu.


Ellena menutup mulutnya, mundur beberapa langkah sambil memperhatikan mereka. Menatap gadis kecil yang kini sudah berada di gendongan pria itu.


Ellena masih sesenggukan.


"Maafkan dia Mbak. Maafkan Nona ini. Suami anda memang mirip dengan kekasihnya yang sudah meninggal dunia. Maaf." ucap Khale pada wanita itu.


"Oh. Begitu. Tidak apa apa. Di dunia ini memang ada beberapa orang yang mirip. Mungkin kebetulan suamiku mirip dengan kekasih Nona ini. Semoga Nona bisa lebih tabah ya? Kami permisi kalau begitu." sahut wanita itu.


"Ayo mas. Kita sudah di tunggu." wanita itu meraih tangan pria itu dan membawanya melangkah pergi.


Melihat itu Ellena kembali menjerit.


"Fic! Fic!"


"Jangan pergi! Aku ikut!" Ellena kembali hendak melangkah, namun Khale cepat menahan tubuh Ellena.


"Sudah Ellen, sudah." mendekap erat tubuh Ellena.


"Lepas Khal, lepas! Dia Fic. Aku yakin dia Fic. Mereka hanya membohongiku!" Ellena semakin kuat memberontak.


"Ellena! Dengarkan aku! Dia bukan FIC! Dia suami orang. Kau tidak boleh menganggu suami orang Ellen. Kasian Istri dan Anaknya! Bisa salah paham nanti!"


"Dia Fic. Dia Fic, Khale." Ellena memukul mukul dada Khale, beberapa detik kemudian melemas di pelukan Khale, dan akhirnya jatuh terduduk di jalanan itu. Menatap langkah mereka yang semakin menjauh dan akhirnya menghilang dari pandangannya.


"Ya Tuhan. Ellena. Sampai kapan kau begini." Khale ikut terisak.


Kemudian membopong tubuh Ellena.


Membawanya ke mobil.


"Kita pulang saja ya?" melirik Ellena yang masih terisak.


"Aku ingin bersama Fic, Khal. Aku belum mau pulang. Aku ingin menyusulnya."


"Ellen. Harus kau katakan berapa kali. Itu bukan Fic! Kau jangan mengganggu kenyamanan orang donk Ellena." Khale terlihat sedikit kesal.


Kemudian menghidupkan mobilnya untuk pulang saja.


Ellena masih sesenggukan selama perjalanan. Hingga mobil itu berhenti.


"Ayo turun." mengajak Ellena turun.


Ellena pun turun, melangkah dengan lunglai. Di depan pintu, Nathan dan Mira sudah menyambut mereka.


"Kalian sudah pulang?" sapa Mira. Ellena tidka menjawab, malah berlari sambil menangis ke kamarnya.


"Ada apa Khal?" Mira dan Nathan bertanya pada Khale hampir bersamaan.


"Kami, bertemu seseorang yang mirip dengan Fic. Ellena histeris Paman! Mengira jika itu Fic. Padahal sudah di jelaskan berkali kali, jika itu orang lain yang hanya kebetulan mirip. Itu pun tidak terlalu mirip malah. Dia sudah mempunyai istri dan putri berusia sekitar sepuluh tahun!"


Nathan dan Mira saling melempar tatapan.

__ADS_1


"Maafkan Ellena. Jiwanya memang masih sangat terguncang." sahut Mira.


"Tidak Tante. Khale yang minta maaf. Tidak bisa mengalihkan kesedihan Ellena." balas Khale.


"Tidak apa apa Khal. Sebaiknya kau pilang saja. Biar kamu yang menenangkan Ellena." ucap Nathan.


"Ah, Iya Paman. Khale pamit."


Nathan mengangguk. Menatap langkah kaki Khale.


"Nath. Apa yang di lihat Ellena itu benar benar Fic?" Mira menoleh pada Nathan yang menggeleng.


"Mungkin benar katamu, Ellena masih terguncang. Ku rasa kata Khale juga benar. Pria itu hanya mirip saja." sahut Nathan.


Mira hanya mendengus. Sekarang, mengikuti langkah suaminya yang melangkah ke kamar Ellena.


Nathan menghampiri Ellena yang sudah tengkurap di atas kasurnya. Menangis tersedu sedu.


"Ellen." Nathan mengelus punggung Putrinya.


Ellena bangun, menyeka air matanya.


"Ayah, katakan padaku. Jika Fic masih hidup. Fic tidak mati kan? Fic, tidak mendonorkan jantungnya padaku? Aku melihat Fic..?" memegang erat tangan Ayahnya.


"Kau mungkin salah Orang Ellena. Hanya mirip."


"Tidak Ayah. Itu Fic! Sungguh. Ayah harus percaya padaku. Aku tidak bisa di bohongi. Seperti apapun Fic berubah, sorot matanya, tatapan Fic pada Ellena. Itu tidak akan berubah. Dia Fic Ayah! Ayo kita cari dia..!"


"Ellena. Jangan seperti ini terus. Bersabarlah."


"Bersabar untuk apa? Untuk hidup seperti ini???" Ellena tiba tiba berteriak. Bangun dan menarik kedua tangan Nathan dan Mira.


"Ellena!"


"Keluar! Keluar...!" mendorong kedua orang tuanya keluar kamarnya.


"Ellen, jangan begini. Dengarkan Ayah dulu!"


"Tidak mau!" Ellena menutup pintunya namun Nathan menahan dengan tubuhnya.


"Ellena, Ellena. Dengar Ayah dulu." Cepat merengkuh tubuh Ellena.


"Aku benci dengan hidupku! Aku ingin Fic kembali padaku! Aku ingin bersama Fic!" kembali melemah di pelukan Nathan.


"Ellen.." Mira hanya bisa terisak.


Nathan membawa Ellena ke kasur dan membaringkannya.


Nathan terus mengusap punggung Ellena yang masih menangis.


"Sebaiknya kita katakan yang sebenarnya Nath. Aku tidak tega terus menerus melihat Putrimu seperti ini." ucap Lirih Mira.


"Iya Mira. Iya. Tunggu Ellena tenang. Jika langsung kita beri tahu sekarang, dia akan lari. Aku belum tau pasti, dimana Fic saat ini. Bersabar lah. Fic belum mengatakan padaku di kota mana dia tinggal. Hanya mengatakan di pulau sebrang saja." sahut Nathan, yang juga lirih.


Menatap punggung Ellena yang masih naik turun karena menangis.


___________


< Aku jadi takut di amuk kalian. Jadi baiklah, karya ini tetap disini. Yang disana akan sedikit ku ubah saja. Doakan ya kawan! Jika kalian berkenan, bantu dukungan juga untuk yang di sana. ku awali dengan Cerita Nathan dan dengan beberapa perubahan.>

__ADS_1


Terimakasih!


__ADS_2