![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Mereka sudah selesai makan malam. Fic duduk bersandar di sofa, Ellena duduk didepannya tanpa jarak. Menyandarkan punggungnya di dada Fic. Kedua tangan Fic mendekap perut Ellena sambil usel usel di leher Ellena.
"Fic, kenapa saat yang tadi itu kau mendadak menjadi cerewet?" iseng Ellena, tangannya sambil memainkan hp.
Fic tersenyum kecil. "Siapa yang cerewet?"
"Kau. Sudah tau orang sedang kesusahan bernafas. Di tanya terus."
"Susah bernafas? Memang kenapa? Apa Fic menindih mu? Sepertinya tidak." masih belum berhenti usel usel, tangannya juga mulai gerayangan kemana mana.
"Ya.. Tidak tau. Sesak saja." jawab Ellena, sambil menggelinjang karena geli.
"Sesak kenapa? Apa dada Nona sakit?"
Ellena menggeleng.
Fic tergelak, "Kau tau kenapa?"
Ellena menoleh sekarang. "Apa?"
"Karena enak."
"Fic!" Ellena melotot. Mencubit lengan Fic.
"Kau kenapa jadi genit sih. Fic yang dulu lembut dan lugu. Sekarang pintar merayu, dan genit."
Fic malah mempererat dekapannya. "Itu karena Nona Ellena sekarang milik Fic seutuhnya. Jika dulu Fic takut, jika sekarang tidak lagi."
Ellena tersenyum. "Baiklah, sekarang aku milikmu. Kau tidak perlu takut lagi."
"Hihi.." terdengar Ellena terkikik kecil.
"Kenapa kita bersuara sangat berisik ya? Kalau ingat itu aku jadi malu sendiri."
Fic juga terdengar tergelak. "Karena kalau tidak bersuara, tidak seru. Kurang menghayati."
Ellena kembali menoleh. "Kata siapa? Kau seperti sudah berpengalaman saja?"
"Aku dulu, kadang sering mendengar Tuan Ken dan Ayahmu bercanda. Bercinta tanpa desahann itu kurang menghayati berarti, itu kata mereka."
Ellena kembali terkikik, "Kalau ada yang mendengar suara kita, apa itu tidak memalukan Fic. Mana suaramu keras sekali."
"Kenapa memalukan? Semua pasangan juga pernah mengalami itu, kecuali mereka yang belum pernah, pasti gigit jari saja jika tak sengaja mendengarnya."
"Kau pernah mendengar?" Ellena bertanya sekarang.
Fic tersenyum. Menyibak rambut Ellena dan kembali menciumi lehernya.
"Tentu saja aku pernah mendengar. Kau mau tau siapa yang pernah ku dengar?"
Ellena mengangguk.
"Ayah dan ibumu. Saat proses pembuatan dirimu. Haha.." Fic tertawa lepas sekarang.
"Fic, kau ya. Menantu kurang ajar!" memukul Fic.
__ADS_1
Fic menangkap tangan Ellena.
"Serius Ellena. Aku tak sengaja mendengar mereka. Lugunya aku dulu, aku belum tau apa apa. Aku terkejut dan hampir mendobrak pintu kamar Ayahmu. Aku mengira Nyonya sedang dalam masalah. Beruntung aku cepat menangkap suara Ayahmu. Jika tidak, sungguh aku sudah salah paham!"
Ellena pun tertawa lepas. "Kau gila Fic! Untung kau tidak jadi mendobrak pintunya."
"Jika jadi, maka Nona Ellena tidak akan lahir sesempurna ini, karena prosesnya ada gangguan." keduanya terbahak.
Fic kembali mendekap Ellena. Menciumi tangan dan kepala Ellena dengan bergantian.
"Aku sangat mencintaimu Ellena. Dari saat kau bayi dulu, pertama kali aku jatuh cinta pada Bayi imut itu. Dan aku tidak pernah menyangka jika cinta ku itu berlanjut sampai kau dewasa. Dan aku menikahimu." bisik Fic.
"Aku juga jatuh cinta padamu saat aku masih kecil, aku juga tidak pernah menyangka jika cintaku itu akan berlanjut sampai aku dewasa."
Fic memutar wajah Ellena. Menatapnya dengan penuh cinta.
"Aku tidak menyangka akan menepati janjiku dulu pada Ayah dan Ibumu, untuk menjagamu selama hidupku."
"Kau pernah berjanji?"
Fic mengangguk. "Saat itu, ibumu keguguran karena kecerobohan ku. Dan saat ibumu mengandung kembali. Aku berjanji akan menjaganya tanpa lengah sedetik pun. Hingga kau lahir, aku beralih menjaga mu. Aku takut Ellena. Dulu aku sangat takut sekali, jika Tuan Nath akan kehilangan anaknya untuk yang kedua kalinya. Dan aku tidak pernah berpikir, jika janji itu akan berlanjut sampai sekarang dan akan untuk selama sisa hidupku."
Ellena tersenyum tipis. Menusuk pipi Fic dengan jarinya. "Ibu dan Ayah pernah bercerita tentang itu. Jadi aku sudah tau."
Ellena kembali ke posisi semula, duduk membelakangi Fic dan merebahkan punggungnya ke dada Fic. Tapi tangannya menarik tengkuk Fic dengan kepala menyandar di bahu Fic. Fic mendaratkan bibirnya pada bibir Ellena. Mereka berciuman dengan posisi seperti itu.
Tangan Fic menelusup ke dalam baju Ellena dan meraba raba disana. Menemukan benda favoritnya dan mulai meremas dan memainkan ujungnya.
Ellena mulai menggeliat, tangan Fic seperti mengandung setrum yang langsung membuat seluruh saraf Ellena menegang. Ellena menekan tangan Fic. Fic memperdalam ciumannya. Lidah mereka saling berbelit, saling meminta lebih dan memberi lebih. Fic melepaskan ciumannya. Kini Fic beranjak dari duduknya dan berlutut di lantai dengan posisi Ellena duduk di sofa tepat di hadapannya.
Fic merakus benda itu dengan lahap. Satu tangan menekan pinggang Ellena satu tangan meraba kemana mana. Ellena menggeliat. Memejamkan matanya dengan kepala bersandar di sofa.
Fic belum berhenti, melumatt dan menghisap dada Ellena, membuat si pemilik dada terengah engah menahan nikmat akan perlakuan Fic padanya.
Fic menarik baju bawah Ellena tanpa sisa. Meraba paha Mulus Ellena. Dan menciuminya. Fic merenggangkan paha Ellena, dengan posisi Ellena yang masih duduk di sofa . Fic menciumi kembali paha Ellena, meninggalkan beberapa bekas merah lagi hingga kini merambat ke belahan warna merah jambu itu. Fic mengusapnya pelan, memperhatikan daging kecil pemberi nikmat untuknya itu.
Hanya dengan melihatnya saja, darah Fic sudah berdesir desir tak karuan. Fic mengulurkan lidahnya.
"Ah ..!" Ellena mendesahh saat merasakan lidah Fic menari nari di bawah sana. Fic tidak berhenti, semakin memperdalam.
"Fic..!" Ellena hanya bisa mengerang sambil meremas rambut Fic.
Puas dengan aktivitas itu, Fic sekarang mengangkat tubuh Ellena. Merebahkan tubuh Ellena di atas ranjang besar yang masih berantakan. Fic melepas sisa pakaian Ellena dan pakaiannya juga.
"Ellena, Fic menginginkannya lagi." bisik Fic.
Ellena yang masih terbius dengan rasa yang tak bisa dijabarkan oleh kata kata hanya bisa mengangguk sambil mengigit jarinya sendiri.
"Ah, maafkan Fic ya." Fic kembali memposisikan tubuhnya dengan baik dan kembali mengulang ritual yang baru beberapa jam tadi sudah mereka lakukan.
Di tengah malam yang sepi dan dingin itu, kembali kamar itu terisi oleh eluhan dan desahhan manja Ellena, desahhan penuh gairah milik Fic dan berakhir dengan saling melemas.
Fic menarik selimut, menutupi kedua tubuh polos mereka tanpa peduli dengan sekitar mereka yang berantakan. Fic hanya sempat membetulkan batal untuk Ellena saja. Guling entah dimana, seprei sudah tidak pada tempatnya. Fic hanya tersenyum menatap itu. Menghujani wajah Ellena dengan ciuman.
"Tidurlah Nona."
__ADS_1
"Peluk." rengek Ellena.
"Ah, iya. Tentu saja." Fic cepat mendekap istri kecilnya dengan tangannya yang kekar.
Keduanya akhirnya terlelap dalam keadaan bahagia.
Hingga pagi tiba, pasangan itu belum ada yang bergerak. Mungkin aktivitas semalam sangat menguras tenaga mereka. Terbukti setelah matahari meninggi, baru terlihat Fic bergerak menggeliat. Matanya terbuka, dan pertama yang terlihat adalah wajah cantik Tuan Putrinya.
Fic tersenyum, mencium kening Ellena dan dengan hati hati menyibak Selimut.
Fic beranjak, cepat pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Masih dengan senyumnya yang berkembang Fic mengguyur tubuhnya dengan air dingin.
Setelah puas dengan mandinya, Fic keluar dan cepat berganti. Kemudian membereskan lantai yang berantakan. Memungut pakaian Ellena dan pakaiannya yang berserakan. Mengembalikan guling pada tempatnya. Tapi tidak menyentuh seprei. Fic tidak ingin mengganggu tidur Ellena.
Memilih meraih nampan bekas makan malam mereka dan keluar dari kamar itu.
Hanya beberapa menit, Fic sudah kembali dengan nampan yang sudah penuh dengan makanan. Fic menaruh di atas meja dan mendekati Ellena yang masih terlelap.
Mengintip sedikit, kemudian menciumi pipi Ellena.
Gadis itu menggeliat.
"Selamat siang Nona Ellena."
Ellena tersenyum malu. "Sudah siang ya? Kenapa tidak membangunkan aku?"
"Kau sangat lelap. Mana mungkin aku tega. Ayo bangunlah. Aku sudah sangat lapar."
Ellena beranjak. "Aku mau mandi."
Fic mengangguk, mengambil handuk untuk melilit tubuh Ellena. Fic hampir mengangkat tubuh Ellena, tapi Ellena kali ini menolak.
"Aku bisa sendiri."
"Benar?"
"Ya. Tidak sakit lagi." Ellena kemudian melangkah ke kamar mandi. Fic memandangi langkah Ellena. Beberapa kali mengusap wajahnya. Rasa bersyukur begitu menumpuk di hatinya. Penderitaan mereka akhirnya menuai bahagia.
Fic melirik Ponselnya yang bergetar tanda Pesan Masuk. Fic meraih untuk memeriksa.
[ Mas Gilang yang terhormat. Anda mentang mentang sudah bahagia, Lupa kepada kami hah!]
[ Hahai.. Pengantin baru! Kapan Kami kebagian Pesta besar kalian ya? Mohon maaf mengganggu acara bulan madu mu..!] bermacam Emot disertakan pengirim.
Fic tersenyum. Mengetik balasan.
[Selesai Bulan Madu Nona Ellena, kami akan kesana. Siapkan Pesta yang meriah.]
[ Huh! Siap Bos Q.. Selamat bersenang senang!]
Fic menaruh Ponselnya.
"Ilham. Tentu saja kalian akan kebagian. Kalian sudah banyak membantuku. Aku tidak akan mungkin lupa."
__ADS_1
______