Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Rencana bulan madu.


__ADS_3

Saat ini, Ken sudah duduk bersama Fic di ruang tengah.


"Apa yang kau lakukan padanya Tuan Ken? Kau tidak mengusut masalah ini kepada jalur hukum bukan?" Fic menoleh sedikit pada Ken yang terdengar mendengus.


"Lalu menurutmu?" tanya Ken.


Fic hanya mengerutkan keningnya.


"Katakan saja bagaimana pendapat mu yang baik Fic. Tak perlu sungkan. Kau sekarang adalah menantu di keluarga ini. Kau punya hak untuk bersuara lebih." ucap Ken.


"Walau bagaimanapun juga, orang orang itu adalah abdi setia Keluarga Fiandi. Dan menurutku, setelah Kakek Fiandi mengakui semua kesalahannya kita bisa menganggap semua masalah sudah kelar. Tak perlu lagi untuk memperpanjangnya." jawab Fic.


Ken menyeringai tipis.


"Apa hanya semudah itu? Lalu bagaimana dengan aib yang sudah mereka hempaskan pada wajahku ini? Aku hampir kehilangan kepercayaan Tuan Nath. Itu sangat menyakitkan bagiku!"


Fic menarik nafas. "Aku paham Tuan. Tapi anda harus bisa melihat istri anda. Setidaknya untuk menghargainya. Lalu ketiga Putra Tuan. Jangan sampai ada yang kecewa atau menaruh dendam nantinya. Karena selain mereka masih ada Tuan Al yang mungkin saja tidak akan terima jika Tuan Ken terlalu keras pada Kakeknya."


Ken terdiam sesaat.


"Apa yang dikatakan Fic benar Ken. Tak perlu lagi memperpanjang masalah ini. Mungkin kami memang sempat menderita karena ulahnya, tapi tidak ada korban nyawa disini." Nathan sudah melangkah dari arah belakang.


Menepuk beberapa kali bahu Ken, kemudian ikut duduk diantara mereka.


"Baiklah. Kalau begitu, aku hanya perlu memulangkan mereka ke Kampung halaman mereka." sahut Ken.


"Baiklah, kau boleh pulang dan beristirahat Ken. Kau pasti lelah. Dari kemarin kau belum beristirahat." ucap Nathan.


Ken kembali mengangguk. "Tapi aku harus memastikan keadaan rumah ini aman dahulu Tuan."


"Ah ya. Kau benar. Lakukan kalau begitu." balas Nathan.


"Anda tidak perlu khawatir Tuan Ken. Aku sudah berada disini. Aku yang akan melakukannya." sahut Fic.


Ken dan Nathan saling menoleh lalu keduanya tertawa.


"Mana bisa. Kau bukan Kepala Pelayan lagi disini." balas Ken.


"Aku masih Kepala Pelayan. Tuan Nath belum pernah memecat ku." jawab Fic.


"Haha.. kau dengar Tuan. Seperti nya kau perlu segera memecat pria ini." Ken menoleh pada Nathan.


Nathan tertawa, menatap Fic dengan tatapan senang.


"Lalukan tugas mu hari ini dengan baik, karena setelah hari ini aku akan segera memecatmu. Dan kau harus menyiapkan keperluan untuk Bulan madu kalian."


"Bulan Madu?" Fic malah tak memikirkan itu.


"Ellena sudah berbicara padaku, dia ingin berbulan madu ke Villa Puncak. Apa kau tidak ingin menurutinya?"


Fic mengangguk. "Tentu saja aku akan menuruti apapun keinginan Nona Ellena."


"Kau benar Fic. Bahagiakan Putriku. Dia sudah sangat lama menderita." balas Nathan. Fic sekali lagi mengangguk, kemudian permisi.


"Dia bisa diandalkan Ken. Kau tak perlu khawatir." ucap Nathan, sembari mengamati langkah pria yang sudah resmi menjadi menantunya itu.

__ADS_1


Fic melangkahkan ke bagian dapur, di sambut para pelayan yang langsung tersenyum bahagia.


"Kak Fic! Kau ini pengantin baru kenapa sudah ke dapur? Apa ada yang kau perlukan?" Elfa berlari menghampiri.


"Aku hanya ingin melihat lihat kalian."


"A...senangnya. Eh, Bagaimana semalam? Apa gol? Kepo nih!" tanya Elfa sambil menggoyangkan kedua lututnya dengan dua tangan berada dibelakang pinggang.


"Elfa, kau ini tidak sopan bertanya begitu." Satu temannya mencubit lengan Elfa.


"Eh, aku kan hanya ingin tau. Siapa tau Kepala Pelayan kita ini sedang kesulitan dan butuh bantuan kita. Haha.. Bukan masalah Malam pertama, siapa tau ada yang lainnya." ucap Elfa sambil cengar-cengir ciri khas dia.


"Aku memang butuh bantuan kalian untuk mempersiapkan segala sesuatunya." ucap Fic.


"Segala sesuatu?"


"Ah iya. Kami, ah.. maksudnya Nona Ellena ingin pergi ke Villa Puncak."


"Villa Puncak? Ah, baiklah. Di mengerti, di mengerti.." Elfa tergelak di ikuti semua.


"Apa kami boleh ikut kira kira Tuan? Kami akan mengadakan pesta kecil di sana." celetuk satu orang.


"Eh,Nona Ellena dan Tuan Fic akan pergi bulan madu. Bukan untuk pesta. Kehadiran kita akan sangat mengganggu!" bantah Elfa.


"Yah .." dengus mereka.


Fic tersenyum. "Aku hanya butuh beberapa pelayan dan Penjaga."


"Ah, baiklah Kak Fic. Aku akan membantu mempersiapkannya." jawab Elfa.


"Siap Komandan!" jawab Elfa.


Setelah semua orang berkumpul, dan Fic hari ini mengambil kembali tugasnya sebagai Kepala Pelayan. Kembali memberi arahan, dan mengatur ulang semua kegiatan dalam rumah ini.


Dari keamanan, gerbang halaman depan belakang sampai dapur. Siapa siapa yang akan menjadi pelayan pribadi untuk Ellena, bahkan menu makanan dan cemilan untuk Ellena. Semua diatur dan di periksa oleh Fic.


Fic seperti sedang berpikir sekarang. Siapa yang akan menggantikannya setelah ia resmi di pecat nanti?


Fic sepertinya tidak ingin kehilangan pekerjaannya. Karena baginya pekerjannya ini sudah menyatu dalam jiwa raganya. Memberi keamanan dan kenyamanan dalam rumah ini. Bagaimana ia bisa meninggalkannya. Lalu siapa yang akan bisa ia percaya untuk mengambil alih?


Fic akhinya ingin mendiskusikan ini dulu dengan Nathan dan juga Ellena.


Setelah semua pekerjaan beres, Fic kembali ke kamar Ellena dengan membawa Jus buah buatannya sendiri.


Fic menghampiri Ellena yang tengah duduk di sofa memainkan Ponsel di tangannya.


"Selamat siang Nona!" meletakkan Jus ke atas meja.


"Fic." Ellena cepat menoleh.


"Kau dari mana? Kenapa lama sekali meninggalkan aku?" menarik tangan Fic. Fic tersenyum, duduk disisi Ellena.


Mengamati indah wajah Ellena kemudian menyentuhnya dengan tangan.


"Aku sedang mempersiapkan keperluan untuk Nona Ellena pergi Ke Villa Puncak. Bukankah Nona ingin pergi kesana untuk bulan madu bersama suami Nona?"

__ADS_1


"A...Fic. Kau lucu sekali sih.." Mencubit hidung Fic, kemudian merebahkan kepalanya di dada Fic.


Fic langsung memeluknya. "Kenapa tidak mengatakan langsung padaku jika ingin kesana. Kenapa malah mengatakan kepada Ayahmu?" Fic bertanya sambil menciumi pipi Ellena.


"Tadi aku mencarimu, tapi kata Ayah kau sedang bersama paman Ken dan aku tidak boleh mengganggumu. Makanya aku katakan saja pada Ayah."


"Kita akan pergi sore nanti."


"Kita akan bulan madu disana?" Ellena mendongak.


"Tidak. Kita hanya akan reka ulang kejadian tempo lalu. Saat itu aku sangat takut Ellena, apa kau itu? Dan nanti, kau yang akan takut." jawab Fic.


"Aku akan menyiksamu sepanjang malam." bisik Fic.


"A.. kau tidak akan tega melakukan itu kepada Tuan Putri kesayanganmu ini Fic." rengek Ellena.


"Kita lihat saja. Aku akan berlaku kejam padamu. Membalas semua perbuatan nakalmu yang pernah membuatku hampir mati berdiri."


Ellena terpingkal.


"Ah Fic. Aku jadi takut." mengeratkan pelukannya.


"Kau takut?" menarik wajah Ellena.


"Iya, aku takut. Takut takut suka."


"Dasar nakal." giliran Fic yang mencubit hidung Ellena.


"Apa masih sakit?" Fic sekarang menunjuk area sensitif Ellena.


"Tidak. Apa kau mau ulang lagi?" lirikan penuh kenakalan Ellena.


"Nona ingin?" Fic mencium singkat bibir Ellena.


"Aku masih sangat penasaran Fic. Hihi, aku agresif ya."


"Kau agresi. Tapi aku suka. Kita akan terus mengulanginya, sampai kita lupa bagaimana cara mengulanginya." Fic memeluk Ellena.


"Kok sampai lupa?"


"Kalau aku sudah tua. Kita sudah sama sama pikun? Bagaimana mau mengulanginya?"


Ellena terpingkal.


"Apa kau bahagia seperti ku Fic?" Ellena bertanya dalam dekapan Fic.


"Tentu saja. Sampai tidak bisa aku ungkapkan. Aku bisa memiliki hati Tuan Putri. Menikahi Tuan Putri, dicintai sepenuhnya olehnya. Itu adalah hal luar biasa yang jarang terjadi pada orang lain. Aku sangat beruntung Ellena."


Mereka kini tenggelam dalam dekapan penuh kebahagiaan.


"Baiklah, mari berkemas. Kita akan berangkat ke Villa Puncak."


Dan sore itu pun mereka bersiap untuk berbulan madu disana. Tempat dimana dulu Fic sempat dibuat Ellena hampir jantungan. Fic sudah berfikir untuk membalas semua itu di sana.


_______

__ADS_1


__ADS_2