![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Hari yang di nanti Ellena akhirnya tiba.
Sore ini mereka sudah berkemas untuk pergi ke Villa Puncak, dimana akan diadakan pesta sederhana milik Ellena. Setelah siang tadi Ellena juga sempat merayakan hari Ulang Tahunnya bersama Ayah dan Ibunya. Juga Ken serta Rimbun yang datang walau hanya sekedar memberi ucapan dan tak lupa sudah pasti membawa kado mewah untuk Tuan Putri.
Sesuai saran dari Fic, Ellena mengundang Triple K untuk ikut serta. Hanya mereka saja. Ellena tidak mengundang satupun dari teman sekolah ataupun teman dekatnya.
Ellena memang tipe yang tidak suka dengan keramaian. Di Tahun tahun kemarin sebelumnya, Ellena juga selalu tidak ingin ada pesta. Hanya saja Nathan sering memaksa merayakan dengan meriah hari Ulangtahun Putrinya.
"Kau sudah siap?" tanya Khale pada Ellena.
"Ah, tunggu Fic sebentar. Dia sedang menyiapkan keperluan ku." mendengar ucapan Ellena, Kimmy mendekat.
"Fic ikut?"
Ellena langsung melotot. "Tentu saja! Siapa yang akan menjagaku jika Fic tidak ikut hah?"
"Kau tidak melihat kami bertiga? Kami akan menjagamu Nona Ellena! Disana juga banyak para Pelayan!" sahut Keyan.
"Tapi aku tidak terbiasa tanpa Fic! Jika dia tidak ikut, yang ada nyawaku serasa tertinggal separuh disini." jawab Ellena ketus.
"Kalau kalian tidak suka Fic ikut, lebih baik tidak jadi pergi!" sambung Ellena.
Jika sudah begini, semua yang ada hanya bisa bungkam. Baik Nathan dan Mira, Ken maupun Rimbun yang berada disitu hanya bisa mendengus.
Terlihat Ken melangkah mendekati Mereka.
"Biarkan Fic ikut. Dia memang yang sudah menjaga Nona Ellena sejak lahir. Wajar saja kalau Nona Ellena tidak bisa jauh darinya."
"Tapi Ayah.."
Khale cepat menarik lengan Keyan untuk berbisik.
"Benar kata Ayah. Fic harus ikut. Kau tidak ingat kejadian di kampus yang lalu. Apapun yang terjadi pada Ellena, hanya Fic yang bisa mengatasinya. Kalau terjadi apa apa pada Ellena, apa kau mau kita disalahkan?"
Keyan terdiam, kemudian mengangguk tanda mengerti dengan ucapan Khale.
Mereka menoleh bersamaan ketika mendengar langkah kaki Fic dari ujung sana. Fic menarik sebuah koper yang tentunya berisi keperluan milik Ellena.
Fic menghampiri Nathan terlebih dahulu.
"Jaga Putriku dengan baik Fic! Jangan membuatnya bersedih atau menangis di hari Ulangtahunnya." ucap Nathan lirih. Fic hanya mengangguk.
"Mari Nona." mempersilahkan Ellena.
Fic melangkah dibelakang Ellena sementara Triple K menyusul.
Mobil mobil mereka kini melaju. Ellena tentu saja duduk bersama Fic tanpa adanya orang ketiga. Senyum kebahagiaan tak lepas dari bibir pink merona Ellena.
Hatinya Bahagia. Bukan karena hari ini adalah hari Ulang Tahunnya, tapi karena akhirnya bisa pergi ke Villa puncak bersama Fic.
Fic sendiri merasa tidak enak hati pada Triple K. Tatapan ketidak sukaan mereka padanya sudah bisa diartikan sebagai sebuah teguran halus untuk Fic.
Setelah lama melaju, mobil mereka kini berhenti di depan Villa Puncak. Beberapa Pelayan yang memang sudah berada disana cepat menyambut kedatangan mereka.
Para Pelayan milik Nathan sengaja datang lebih awal untuk mempersiapkan semua keperluan Ellena di sana.
"Antar Nona Ellena ke kamarnya." perintah Fic.
"Kau saja Fic!" Ellena cepat membantah.
"Baiklah." Fic akhirnya melangkah bersama Ellena untuk ke kamar yang sudah disiapkan khusus untuk Ellena.
Triple K pun melangkah ke kamar mereka untuk beristirahat sejenak.
Malam mulai menjelang,
Dibawah sinar rembulan yang terang. Sebuah kolam yang di penuhi lilin lilin kecil dengan harum semerbak bunga bunga di taman tepat berada di halaman belakang luas milik Villa itu.
Ellena berdiri menatap ratusan lilin itu. Dengan gaun putih yang begitu terlihat anggun menambah kecantikannya. Membuat semua mata akan bergetar jantungnya ketika menatapnya.
Fic berdiri cukup jauh di sana. Bukan tak ingin mendekat, namun ia berusaha untuk menjaga sikap, sebisa mungkin.
"Ellena. Apa kau tidak dingin?" sapa Khale mendekatinya.
Ellena menoleh, "Aku sudah merasa dingin."
"Kalau begitu, ayo kesana." Khale menunjuk Api unggun yang sudah disiapkan Pelayan.
Ellena melirik Fic dulu sebelum akhirnya mengangguk. Sempat dongkol dalam hati ketika berharap Fic mendekat tapi Fic tetap tak bergeser dari tempatnya berdiri.
Beruntung Ellena bisa sedikit mengerti, jika disini ada Triple K yang membuat Fic harus menjaga sikap.
Khale membawa Ellena duduk di bangku panjang yang dekat dengan api unggun.
Melirik dua saudaranya yang sibuk menyantap Barbeque dan jagung bakar.
__ADS_1
"Apa kau senang berada di Villa ini?" tanya Khale, hanya sekedar basa basi.
"Tentu saja. Aku sudah lama tidak menghirup udara segar Villa ini. Setelah hampir sepuluh tahun lamanya."
"Kau benar. Dulu kita sering kemari bersama orang tua kita. Apa kau ingat, bagaimana kau begitu nakal dulu?"
"Kau yang nakal Khal, sampai aku membencimu dan kedua saudara mu itu." sangkal Ellena melirik Keyan dan Kimmy yang melempar senyuman padanya.
Khale terbahak.
"Itu kan dulu. Karena kita semua masih kecil. Sekarang berbeda. Lihatlah, mereka berdua sudah dewasa dan begitu tampan. Begitu juga dengan ku."
Ellena tergelak mendengar itu. "Kau benar. Kalian sudah dewasa dan Tampan. Tapi sayang , masih saja nakal." Ellena meninju lengan Khale yang langsung menangkap tangannya.
Fic bisa melihat itu dari kejauhan. Mendengar keduanya tertawa bahagia.
Fic memejamkan matanya. Ribuan jarum seperti sedang menusuk nusuk hatinya. Perih, menyaksikan itu.
"Kenapa terasa begitu sakit?" menekan dadanya sendiri.
"Tidak! Aku tidak boleh rapuh. Nona Ellena memang lebih pantas bersama Tuan muda Khale." kembali menguatkan hati untuk menatap mereka.
"Khal, apa kau masih ingat perjanjian orang tua kita?" tiba tiba Ellena bertanya.
"Tentang Perjodohan kita?"
Ellena mengangguk.
"Tentu saja. Tapi kau tidak usah khawatir. Iya kan saja mereka agar senang. Kita hanya perlu menjalani saja. Percayalah, Jodoh itu sudah ada yang mengatur."
"Mana bisa seperti itu. Mengiyakan lalu menjalani. Artinya menerima. Kalau tidak jodoh bagaimana?" bantah Ellena.
"Tinggal tunggu reaksi mereka bagaimana. Setidaknya kita sudah mencoba. Kalau gagal, itu artinya salah mereka yang menjodohkan kita. Bukan kita."
"Tapi aku tidak mau. Kita tidak saling mencintai Khal!"
"Hem.. Kau benar." Khale tersenyum.
"Apa kau sudah mempunyai pacar?" pertanyaan Khale membuat Ellena bungkam.
"Kau sendiri? Apa kau sudah punya pacar?" Ellena ganti bertanya.
"Belum." jawab Khale.
"Kalau itu rahasia." jawab Khale.
"Kalau begitu, jawaban ku sama dengan mu."
Khale hanya mendengus. Melirik Ellena, seolah paham dengan perasaan Ellena yang menolak perjodohan mereka.
"Baiklah. Ini sudah malam. Sebaiknya kita beristirahat. Bukankah besok pagi kau ingin pergi ke puncak? Melihat sinar Sunrise dari atas puncak?" ajak Khale yang cepat di balas anggukan setuju dari Ellena. Gadis itu merasa senang karena akhirnya tidak lagi berdekatan dengan Khale.
"Aku akan mengantarmu." Khale meraih tangan Ellena, untuk membawanya masuk.
Fic yang melihat itu cepat membalikan badan.
"Fic!" Ellena memanggilnya sebelum Fic sempat melangkah.
"Antar aku ke kamar!"
"Nona. Biar Tuan Muda Khale yang mengantar mu."
"Kau disini untuk menjagaku Fic! Kenapa membantahku?" Ellena sudah melotot.
"Tapi,"
"Apa yang dikatakan Ellena benar. Kau harus menjaganya Fic!"
"Tuan muda!"
"Ayo Fic! Aku sudah mengantuk!" Ellena menarik paksa lengan Fic. Fic hanya bisa pasrah. Mengikuti langkah Ellena.
"Kenapa kau membiarkan Fic mengantar Nona?" Keyan sudah berdiri disisi Khale, melirik kesal kearah Mereka yang melangkah.
"Memangnya kenapa? Sekedar mengantar ke kamar, masa harus berebut?" jawab santai Khale juga melangkah.
"Dasar Bodoh! Tidak bisa menggunakan kesempatan!" umpat Keyan.
"Kau bilang apa?" Khale sudah mengepalkan tangannya.
"Eh, tidak tidak. Ayo tidur!" Keyan berlari kecil menghindari amukan Khale. Disusul Kimmy.
Ellena sudah berada di kamarnya. Cepat menutup pintu dan menguncinya.
Menarik lengan Fic ke arah Ranjang.
__ADS_1
"Kau berbohong padaku!" Ellena sudah melotot tepat dihadapan Fic.
"Nona."
"Kau bilang tidak akan menjauh dariku. Dari pertama makan malam sampai usai, kau membiarkan aku bersama Khale!"
"Ma, maafkan Fic. Fic hanya ingin.." sudah cukup gugup. Bukan karena kemarahan Ellena yang membuatnya, tapi karena wajah Ellena yang tak berjarak.
"Em, Baiklah. Aku maafkan, tapi temani aku sekarang sampai aku tidur."
Fic hanya bisa mengangguk.
Ellena tersenyum, menarik tubuh Fic untuk duduk bersandar di sisi ranjang. Mengangkat kedua kaki Fic ke Ranjang juga. Ellena sendiri segera duduk di pangkuan Fic dengan menyibakkan gaun bagian bawahnya.
"Mana kado untukku?" menarik pinggang Fic hingga tubuh mereka merapat.
"Oh iya. Aku, aku sudah menyiapkannya. Tapi, tapi jangan begini Nona. Kenapa duduk begini?" Fic meremang. Paha mulus Ellena sangat nampak terlihat.
"Biarkan saja!" rengek Ellena, menepis tangan Fic yang ingin mencoba mengangkat tubuhnya.
"Aku dingin Fic!" mengangkat tangan Fic untuk berada di pahanya.
"Ah, ba, baiklah. Fic akan mengambilkan ganti untukmu." sungguh, tubuh Fic gemetaran di buat Ellena.
"Tidak mau!" Ellena merengkuh tengkuk Fic. Menempelkan Keningnya.
"Lalu bagaimana? Kau dingin bukan? Berganti lah. Gaun ini cukup terbuka untukmu." suara Fic terdengar bergetar.
"Peluk saja. Itu pasti hangat." Ellena kembali merengek, membuat Fic hampir melayang jiwanya.
Satu tangan melingkarkan ke pinggang Ellena, satu tangan menyentuh bibir Ellena.
Pikiran Fic mendadak hilang, Ketika Ellena menepis tangannya dan mendaratkan bibirnya. Ellena melumatt rakus bibirnya.
Fic tak tahan lagi dengan godaan Ellena, kemudian membalas dengan lebih dari itu.
Keduanya berciuman dengan cukup panas.
Hingga nafas mereka tersengal, berulang kali menarik nafas, lalu kembali mengulang pagutan.
Fic menekan tubuh Ellena.
"Ah.., Ellena." desahann Fic tidak bisa untuk ditahan lagi ketika pangkal paha Ellena menggesek miliknya. Fic menarik wajah Ellena. Kedua kening itu bertemu. Dengan dada keduanya yang naik turun tak beraturan.
Fic terpejam, menikmati rasa yang meledak ledak didalam dirinya. "Arg..!" sekuatnya menahan keinginan yang terus memberontak melawan akal sehatnya.
"Tidur lah, Ellena." Fic masih mampu untuk mengingatkan Ellena dengan kedua tangan yang cukup gemetar, merangkup wajah Ellena.
"Tidurlah." Tangannya bergerak turun, Mencoba mengangkat tubuh Ellena dari pangkuannya.
"Sebentar lagi. Aku masih dingin."
Fic memejamkan matanya kembali, berusaha untuk mengatur nafasnya sekarang. Tiba tiba Fic terbelalak ketika merasakan tangan Ellena menyentuh dadanya. Kancing kemejanya sudah terbuka semua.
"Jangan di buka!" Fic mencegah tangan Ellena.
Tapi Ellena tetap melakukannya. Membuang kemeja Fic sembarangan setelah berhasil melepasnya.
Ellena kini menelusuri dada Fic dengan kedua tangannya. Sambil Menciumi leher Fic.
Fic menahan nafas berkali kali menerima perlakuan Ellena.
Tangan Ellena bergerak.
"Ellen, berhenti!" Fic ingin mencegah namun terlambat.
Gaun Ellena sudah merongsot kebawah.
"Ellen!" Fic menarik tangan Ellena. Tapi lebih cepat tangan Ellena yang meraih pengait Bhnya.
"Astaga!"
Fic menegang parah. Dua gumpalan dada Ellena terlihat dengan jelas seolah menantangnya.
Ellena tak mau peduli, merengkuh tubuh Fic dan merapatkan tubuh mereka.
"Fic. Aku dingin." lagi lagi Ellena merengek manja. Menggesekkan kulit mereka.
Fic hanya bisa menggigit bibir bawahnya. Merasakan sensasi luar biasa karena gesekan kulit mereka.
Fic sudah tidak mampu mengeluarkan suara lagi. Selain desahann yang tertahan.
______________________
Tapi tidak janji.
__ADS_1