Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Akan aku lakukan apapun!


__ADS_3

Hampir tiga jam, Tim Medis menangani Ellena di Ruangan ICU.


Saat ini, Ken dan Rimbun beserta Triple K sudah berada disana karena Nathan menghubungi Ken mengabarkan kondisi kritis Ellena.


Mereka sempat tidak percaya itu, tadinya Nathan mengabarkan jika kesehatan Ellena sudah membaik, bahkan hari ini sudah dinyatakan untuk pulang.


Semua dipenuhi rasa kekhawatiran yang lebih sekarang. Hingga akhinya Pintu Ruangan terbuka dan Dokter sudah terlihat keluar bersama beberapa Tim Medis.


Dokter mendekat bersamaan mereka yang juga menghampirinya.


"Bagaimana keadaan Putriku?"


"Tuan Nath. Sepertinya, Jantung Nona Ellena bener bener sudah buruk kondisinya. Kami masih melakukan pemeriksaan lebih lanjut lagi." jawab Dokter.


Mendengar jawaban Dokter semua tertunduk lesu.


Terlihat seorang Perawat keluar dari ruangan.


"Dokter. Nona Ellena sudah sadar. Dia memanggil Tuan Fic."


"Kalian boleh masuk. Tapi tolong buat Nona Ellena tetap tenang." Ucap Dokter.


Nathan dan Mira melangkah, disusul Fic. Sementara yang lain menunggu di luar.


Mata mereka tertegun ketika melihat tubuh Ellena terbaring dengan beberapa selang medis di bagian tubuhnya.


Mira berjalan mendekati.


"Ellena."


Ellena menatap Mira, tangannya membuka alat bantu pernafasan yang melekat di mulutnya.


"Jangan dibuka sayang." Mira mencegah.


"Tidak apa apa Bu. Dada ku sudah tidak sakit." Ellena tetap membukanya.


"Katanya kita mau pulang Bu? Kenapa Ellena disini lagi?" Ellena mengedarkan pandangannya. Menatap beberapa selang yang menancap di tubuhnya. Tangannya hampir saja mencabut selang yang ada di pergelangan tangannya.


"Jangan Ellena. Biarkan saja." Nathan cepat mencegah.


"Ayah, aku ingin pulang. Aku tidak mau disini lagi." rengek Ellena, membuat kedua orang tuanya tak tahan menahan air mata.


"Fic, ayo kita pulang. Bukan kah kita akan menikah?" kini beralih menatap Fic yang masih terpaku disisi ranjang.


"Nona. Kondisi mu memburuk lagi. Bersabarlah. Sampai kau benar benar sembuh." Kini merengkuh wajah Ellena. Tanpa mempedulikan Nathan dan Mira Fic menciumi kening Ellena.


"Bersabarlah. Kita akan menikah, tapi setelah Nona benar benar sembuh."


"Bukankah Dokter mengatakan jika aku sudah sembuh Fic? Kenapa aku dibawa kesini lagi? Apa Jantungku kambuh lagi?"


"Ah iya. Jantung Nona memang kambuh lagi. Maka dari itu bersabarlah. Dokter akan cepat menemukan solusi untuk jantungmu agar tidak kambuh kambuh lagi. Setelah itu kita pulang." Fic berusaha menahan kesedihannya. Memberikan senyuman ternyamannya.


"Kau akan sabar menungguku kan? Aku takut kau tidak sabar Fic? Lalu kau akan bosan."


"Tentu saja. Tentu saja aku akan sabar. Aku tidak akan bosan Nona. Aku tidak akan pernah bosan."


Mereka menoleh ketika seorang Perawat menghampiri.

__ADS_1


"Tuan. Dokter memanggil Anda dan Tuan Fic."


Nathan hanya mengangguk kemudian mendekati Mira.


"Temani Ellena. Kami akan menemui Dokter sebentar." Mira hanya mengangguk.


Mereka melangkah mengikuti Perawat tadi yang membawa mereka ke sebuah ruangan khusus Dokter.


Kini Nathan sudah duduk di hadapan Dokter setelah Fic menarik kursi.


"Tuan Nath." Dokter terlihat menjeda kalimat, menarik nafas dalam-dalam.


"Katup Jantung Nona Ellena mengalami kerusakan parah. Ada kalanya ia berfungsi ada kalanya kembali tidak berfungsi seperti tadi. Beruntung masih bisa di kembalikan." kembali sang Dokter menjeda kalimat.


"Saya takut, dimana saatnya katup itu benar benar tidak berfungsi lagi. Itu akan berakibat fatal."


Nathan menoleh pada Fic, kembali menatap Sang Dokter.


"Kumohon sembuhkan Putriku! Apapun caranya!"


"Kita harus melakukan Transplantasi Jantung Nona Ellena. Hanya itu satu satunya jalan."


"Transplantasi? Artinya, harus ada pendonor jantung untuk Putriku?" wajah Nathan memerah.


"Benar. Dan masalahnya, pihak Rumah Sakit belum mempunyai persiapan hingga saat ini. Sedangkan Nona Ellena membutuhkannya segera."


Nathan terlihat mengusap wajahnya berulang kali. Kemudian merogoh Hpnya untuk menghubungi Ken yang berada di luar sana.


[Ken, hubungi siapapun yang bisa dihubungi untuk mendapatkan Donor Jantung untuk Ellena. Berapapun aku akan membayarnya! Berapapun, aku tidak peduli!]


Baru saja Nathan mengakhiri panggilannya, Seorang Perawat masuk dan berseru.


"Dokter! Nona Ellena!"


Tanpa bertanya, Dokter pun segera berlari menyusul langkah perawat itu disusul Nathan dan Fic.


Dokter segera masuk ke ruangan Ellena.


"Ellena, Nath. Ellena! Dia tidak sadarkan diri lagi!" Mira menubruk Nathan.


Nathan cepat membawa tubuh Mira ke luar ruangan mengikuti instruksi Dokter. Pintu pun kembali di tutup.


Ken yang baru selesai menghubungi beberapa Tim Medis Rumah sakit lain untuk menanyakan keberadaan Donor Jantung untuk Ellena kini bergabung dengan Nathan. Tak ada yang tak cemas sekarang. Baik Rimbun dan Triple K, sudah sama meremang. Apalagi saat tangisan Histeris dari Mira sungguh menyayat hati mereka.


"Mira. Tenanglah. Kita harus kuat demi Putri Kita. Ayo tenanglah sayang. Ku mohon!" Nathan terus mendekap Mira dan menghujani kecupan di pucuk kepalanya.


Fic tidak bisa lagi berucap, mulutnya kini tertutup rapat dengan pikiran yang melayang.


Hingga beberapa saat lamanya, Dokter kembali keluar.


"Bagaimana Dokter?" Nathan cepat bertanya.


"Nona Ellena dalam keadaan kritis." jawab Dokter sambil mengusap wajahnya.


"Bagaimana Tuan? Apa anda berhasilnya mendapatkan Donor Jantung untuk Nona Ellena? Kita harus segera melakukan Transplantasi Jantung Nona. Nona tidak akan bisa bertahan lama hanya dengan alat bantu pernafasan itu."


ucapan Dokter itu bagai petir yang menyambar semua orang.

__ADS_1


Nathan menoleh pada Ken. Ken menggeleng. "Aku belum berhasil menemukannya di Beberapa Rumah Sakit yang ku hubungi Tuan."


"Bagaimana ini?" bibir Nathan cukup bergetar.


"Berapa lama Putri ku bisa bertahan? Sampai kami mendapatkan donor itu?" Nathan bertanya pada Dokter yang hanya menggeleng.


"Secepatnya Tuan. Nona butuh secepatnya. Dua puluh empat jam, jika Jantung Nona tidak segera di ganti, maka.." Dokter itu tidak sanggup meneruskan ucapannya.


"Maafkan kami Tuan. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin!"


Tubuh Fic tiba tiba terasa ringan, hingga ambruk di tembok dan merongsot lemas di lantai begitu saja.


"Tidak. Itu tidak mungkin!" Fic meremas jemarinya di lantai.


"Ellena. Kau tidak boleh pergi. Kau tidak boleh Kenapa Napa. Tidak, aku tidak akan membiarkan kau menderita seperti ini. Aku akan melakukan apapun untuk mu Ellena!" Fic tiba tiba bangun dan melangkah cepat ke arah Dokter yang masih berdiri di hadapan Nathan.


"Ambil Jantungku! Ambil saja Jantungku untuk Nona Ellena!" Fic mengguncang kedua bahu Sang Dokter.


Semua yang ada tercengang mendengar ucapan Fic.


"Fic! Kau sudah Gila!" Nathan menarik tangan Fic.


"Nona Ellena harus selamat Tuan. Kita tidak bisa menunggu sampai menemukan Donor Jantung itu, jika kita menemukannya! Jika tidak bagaimana? Ku mohon Tuan! Aku bersedia. Aku bersedia menukar hidupku demi hidup Nona Ellena!"


Plak.....!


Satu tamparan tangan Nathan cukup keras mendarat di wajah Fic.


"Kau mau menghancurkan hidup Putri ku! Jika dia hidup dan kau mati! Apa yang akan ia lakukan Fic! Kau tidak memikirkan itu?"


Fic bahkan tidak mengusap wajahnya yang terkena tamparan Nathan. Tidak lagi terasa apapun lagi kecuali ngilu dan perih dihatinya memikirkan Ellena. Fic kini berlutut di hadapan Nathan.


"Ku mohon Tuan. Kita tidak punya pilihan lagi. Aku sangat mencintai Putri anda. Aku hanya ingin melakukan apapun demi wanita yang aku cintai, meskipun nyawaku sekalipun. Ku mohon Tuan. Ini bukan masalah hati atau kebahagiaan lagi, tapi nyawa Nona Ellena!" Fic menatap tajam Nathan, lalu bangun dan kembali pada sang Dokter.


"Kau mengatakan jika Nona Ellena tidak punya banyak waktu. Ambil jantungku. Ambil Jantungku sekarang dan selamatkan Nona Ellena!" Fic kembali mengguncang kuat bahu Sang Dokter.


Dokter menatap mereka semua secara bergantian. Tidak ada yang bersuara sedikitpun. Semua hening penuh ketegangan.


"Ikut Saya Tuan."


Tanpa menoleh pada mereka Fic mengikuti sang Dokter. Tentu saja mereka semua ikut menyusul.


"Apa anda bener bener serius?" tanya Dokter itu ketika sudah berada di ruangannya.


"Kau pikir aku sedang bercanda?" Fic menggebrak meja.


Dokter itu terkejut. "Ba, baiklah. Maafkan saya." tangannya menarik sebuah laci dan mengeluarkan sebuah kertas.


"Kami memerlukan tanda tangan Anda."


Fic cepat menerima kertas itu, bahkan tanpa membacanya Fic sudah menyambut uluran pena sang Dokter.


"Cukup Fic! Kau tidak harus melakukan ini!" Nathan menahan keras tangan Fic.


Fic menoleh, menepis kasar tangan Nathan dan segera menandatangani kertas Pernyataan Kesediaannya menjadi Donor Jantung untuk Ellena tanpa paksaan dari siapapun.


_____________

__ADS_1


__ADS_2