![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Lebih dari dua Minggu sudah Fic dan Ellena berada di Villa puncak.
Pagi hari ini, Fic sibuk berkemas. Ellena terlihat manyun, duduk di samping ranjang. Semalam Fic membujuk Ellena untuk pulang, bukan Fic tidak ingin menuruti Ellena untuk berlama lama disini. Tapi Fic juga harus memikirkan keadaan rumah. Tanpa dirinya, Fic sedikit cemas juga. Belum lagi tanpa Ellena, Mira pasti merasa kesepian.
Setelah berusaha keras membujuk Ellena dengan iming iming akan berbulan madu ke Kampung Ilham, Ellena pun akhirnya mau. Walaupun belum begitu ikhlas.
"Setelah ini kita akan pergi ke Lampung ya?"
Fic hanya mengangguk sambil mencium pucuk kepala Ellena.
Mobil mereka pun kini melaju di pagi hari itu meninggalkan Villa puncak yang sudah memberi begitu banyak kenangan manis baik untuk Fic dan juga untuk Ellena. Kenangan indah yang tidak mungkin bisa mereka lupakan.
Fic tidak menyetir sendiri lagi, semenjak berangkat dan pulang ini, seorang sopir khusus sudah menggantikan Fic. Fic duduk dibelakang, bersama Ellena tentunya. Ellena merebahkan Kepalanya di dada Fic. Sepanjang perjalanan Fic pun tak melepaskan tangannya dari tubuh Ellena.
Sesekali membelai rambut Ellena dan mencium keningnya. "Tidurlah, perjalanan masih jauh." ucap Fic.
Ellena pun memejamkan matanya dan terlelap dalam dekapan Fic. Hingga belaian tangan Fic dengan lembut diwajahnya untuk membangunkan Ellena.
"Apa sudah sampai?" Ellena menguap.
"Sudah." jawab Fic. Merapihkan rambut dan baju Ellena lalu membuka pintu mobil.
Beberapa pelayan, dan Elfa yang paling depan menyambut mereka.
"Selamat datang Nona Ellena. Tuan Fic." sambut mereka.
"Hihi.. Pengantin baru sudah pulang dari bulan madu." celetuk Elfa, cepat menyambut koper dari tangan Fic.
Fic dan Ellena hanya tersenyum. Melangkah mengikuti langkah Elfa yang mendahului.
Di dalam Rumah, Mira sudah berdiri di bawah tangga untuk menyambut. Tersenyum lebar ke Arah mereka.
"Kalian sudah pulang? Bagaimana bulan madu kalian. Berjalan lancar kan?"
Ellena malu malu mengangguk. "Tentu saja Bu."
"Ah, ya baiklah. Kalian langsung ke kamar saja dan beristirahat. Ibu akan menyiapkan makan malam untuk kalian." ucap Mira.
"Tak perlu repot-repot. Biar saya yang menyiapkan makan malam untuk Nona Ellena, ah maksudnya untuk kami,.." Fic menjeda kalimat, bingung harus memanggil Mira apa.
Mira terkikik, dia tau Fic sedang kebingungan perihal panggilan kepada dirinya. "Kau mau memanggilku apa hah?"
Fic tersipu, menoleh pada Ellena yang juga ikut terkikik.
Fic menggaruk tengkuknya. 'Aku harus memanggil apa?'
"Fic. Dia Ibuku, artinya Ibu mertuamu. Ayo panggil dia begitu." ucap Ellena, mengguncang lengan Fic.
Fic tersenyum getir sambil mengangguk. "Ah iya." menoleh pada Mira yang masih seperti menunggu panggilan dari Fic.
" Nyonya.. Ah, Ibu, Ah, Ibu.. Ibu mertua." Fic sungguh dibuat sungkan dan canggung dadakan.
Kedua wanita itu malah terbahak menertawakan tingkah Fic yang mendadak grogi.
__ADS_1
"Fic, kenapa kau kaku sekali. Ayo ulangi yang benar!" seru Ellena.
"Ellen, aku , aku malu."
"Ini baru Ibu, nanti kalau Ayah. Pokoknya kamu harus biasakan."
"Sudah, sudah. Tidak apa apa. Biarkan Fic terbiasa dulu Ellena. Senyaman Fic saja dulu. Jangan memaksakan diri." lerai Mira.
"Ayo, pergilah ke kamar. Kalian pasti lelah dari perjalanan." ucap Mira kembali. Fic masih dengan malu mengangguk, dan akhirnya menuntun Ellena untuk melanjutkan langkahnya ke kamar.
Ellena langsung merebahkan tubuhnya di Ranjang. Fic sendiri sibuk bebebah barang bawaan mereka.
"Fic, biarkan pelayan." seru Ellena.
Fic hanya tersenyum, melanjutkan pekerjaannya. Hingga menyiapkan mandi untuk Ellena. Setelah mereka selesai mandi, Pelayan mengetuk pintu.
"Tuan Fic. Tuan Nath dan Nyonya, menunggu kalian di meja makan untuk makan malam."
Fic hanya mengangguk, lalu menghampiri Ellena.
"Ayah Nona, ingin kita makan di meja makan. Bagaimana?" tanya Fic. Ellena sedikit berpikir.
"Tumben?"
"Ah, mungkin ada sesuatu yang Ayah Nona ingin bicarakan kepada kita. Tidak apa apa. Jangan mengecewakan mereka. Ayo." Fic mengulurkan tangan dan Ellena menyambutnya dengan senang.
Fic menuntun Ellena sampai meja makan. Disana sudah ada Nathan dan Mira.
Nathan pun menoleh kepada Fic. "Ayo Fic. Ajak istrimu makan bersama kami." Fic hanya mengangguk, menarik kursi untuk Ellena dan dirinya.
Meskipun ini bukan pertama kalinya Fic duduk untuk makan satu meja dengan mereka, bahkan dulu Fic sering melakukannya, tapi sumpah, kali ini Fic benar benar canggung. Dulu dia duduk disini bukan sebagai siapa siapa selain hanya kepala pelayan. Dan sekarang?
Di depan dia adalah dua orang yang paling di segani dan di hormatinya. Tuan dan Nyonyanya. Dan mereka sudah menjadi Mertuanya sekarang.
Mira terlihat mengambil piring untuk Nathan dan dirinya. Tidak lupa untuk Ellena dan Fic. Tapi Fic cepat mencegah.
"Nyonya. Biar saya saja." Fic cepat mengambil piring untuk Ellena dan dirinya. Tapi sekarang, Ellena yang mencegah.
"Fic, biar aku saja."
"Tidak apa apa. Duduk lah Nona."
"Fic. Kau yang harus duduk." Nathan membuka suara sekarang.
"Melayani suami adalah tugas seorang istri. Jadi mulai sekarang, biarkan Ellena yang melakukan itu untukmu." Fic segera terdiam. Menaruh lagi sendok Nasi dan kembali duduk.
"Benar kata Ayah Fic. Jika dulu kau melayaniku, sekarang aku yang harus melayani mu." sahut Ellena.
Fic hanya mengangguk ringan. Mira hanya tersenyum.
Ellena mulai menuang makanan ke atas piring Fic. Itupun sambil melirik Ibunya untuk meniru.
Sesaat mereka terdiam untuk fokus makan. Cara makan Mira dan Nathan begitu Romantis. Sesekali mereka saling suap, dan sesekali Nathan membersihkan ujung bibir Mira. Tidak seperti pasangan baru di depan mereka. Hanya saling lirik dan menyuap mulut sendiri.
__ADS_1
Dalam Hati Fic, padahal ingin sekali seperti itu. Tapi rasa malu dan canggung masih begitu menguasai dirinya.
Nathan tau itu, hatinya ingin terkikik. Mira pun sama, padahal Mira tau pasti, jika dibelakang mereka Fic itu sangat romantis dan lembut.
"Kita memang harus sering sering mengajak Mereka makan bersama seperti ini Nath. Aku hanya berharap, Fic ini bukan hanya menganggap kita sebagai mertuanya, tapi lebih sebagai Keluarga yang tak perlu disungkani seperti ini." celetuk Mira.
"Sabar sayang. Dulu, pertama kau kesini dan duduk semeja makan denganku juga begitu? Kau juga pasti masih ingat kan Fic?" Nathan menoleh pada Fic yang hanya membalas dengan senyuman dan anggukan kecil. Fic tentu masih mengingat itu dengan jelas, bagaimana pertama kali pertemuan pertamanya dengan Sang ibu mertua.
Kini semuanya kembali hening untuk kembali menikmati makanan. Dan sesaat terdengar Nathan kembali membuka suara, tapi kali ini cukup serius.
"Fic. Besok pagi bisa kah kau ikut Ken ke kantor? Sementara ini aku sangat lelah dan ingin beristirahat dahulu."
Fic dan Ellena saling melempar pandangan sejenak. "Baik Tuan."
"Ayah. Apa maksud Ayah, Fic akan menggantikan Ayah?" tanya Ellena.
"Kenapa bertanya seperti itu?"
"Bukan begitu, tapi, jika benar, Apa itu tidak terlalu cepat Ayah? Fic belum tau apa apa tentang perusahaan?" protes Ellena sedikit agak gusar.
Nathan tergelak kecil. "Maka dari itu, Fic harus mulai belajar memahami. Dan kau tak perlu khawatir. Kau tidak tau kan, kalau suamimu ini sebenarnya sudah sangat tau tentang perusahaan?"
Ellena menoleh pada Fic. "Apa yang di katakan Ayah benar Fic?"
Fic hanya diam, tak menjawab pertanyaan Ellena.
"Ellen, Saat Ibu mengandungmu dulu, Ibu KO. Dan kebetulan Bibi Rimbun juga sedang ngidam dan sama KO nya. Ayahmu dan Paman Ken tidak bisa pergi kemanapun mengurus kami. Selama itu, Fic yang mengurus Perusahaan. Jadi Fic sudah tau tentang perusahaan." Ucap Mira menjelaskan.
Ellena terbengong, menatap Fic dengan bangga. "Ya Ampun! Benar Fic? Kok aku bisa tidak tau."
"Bagaimana Nona bisa tau. Saat itu Nona masih ada di dalam perut." jawab Fic.
"Haha..." Nathan terbahak. "Fic benar. Kau masih dalam perut Ibumu. Kau tidak tau kan, jika suami mu ini seorang pria yang Multitalenta. Dia bukan hanya sebagai Kepala Pelayan yang hebat. Yang bisa menjaga keamanan dan kenyamanan rumah ini, dia juga sukses menjadi Beby sister yang baik untuk mu. Kemudian berhasil menjadi kekasih mu, lalu juga berhasil menikahimu, Haha..." Nathan kembali terbahak, Mira ikut tertawa tapi sambil memukul bahu Nathan.
"Ya Ampun. Makin cinta deh." sahut Ellena, mencubit kecil dagu Fic .
Mereka sekarang tertawa, lalu cepat menghabiskan sisa makanan mereka.
Lalu acara makan malam berakhirnya dengan bahagia.
Sekarang giliran Fic yang mengutarakan tentang kegelisahan mengenai Kepala Pelayan.
"Tuan. Apakah anda benar benar sudah memecatku sebagai Kepala Pelayan dirumah ini?"
Nathan mengangguk, "Maafkan aku, aku terpaksa. Jika tidak, itu tidak akan dibenarkan. Aku juga ingin, kau cepat memahami seluruh seluk beluk Perusahaan. Karena beban itu akan segera berpindah ke bahu mu. Ku harap kau bisa mengerti meskipun aku tidak menjelaskan apa alasannya."
"Baiklah Tuan. Jika anda sudah mempercayakan padaku, aku tidak ingin mengecewakan mu. Tapi, boleh kah aku mencari pengganti diriku?"
"Ya. Tentu saja. Semua itu ku serahkan padamu. Siapapun yang kau pilih, aku yakin kau sudah memikirkannya dengan baik."
Fic mengangguk. Pada akhirnya, Mereka kembali ke kamar masing masing setelah obrolan selesai.
__________
__ADS_1