Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Cinta cinta yang lain menyusul.


__ADS_3

Ricard dan Kayla berjalan penuh ragu menghampiri Nathan. Sebenarnya mereka sadar, jika kehadiran mereka tidak dipedulikan atau mungkin malah tidak diinginkan. Tapi sudah menjadi niat dan kesepakatan mereka sebelum berangkat kemari, Apapun yang terjadi mereka hanya berniat untuk sekedar memberi ucapan selamat dan mencoba menjalin kembali pertemanan mereka yang sempat hancur, sekaligus Ricard ingin meminta maaf secara langsung pada Nathan dan Mira.


Tapi siapa yang menyangka, sebelum Ricard sempat menyapa, Nathan yang terlebih dulu menyapa.


"Ricard, Kayla. Ah, maafkan kami. Ini ada sedikit masalah tadi. Tapi sudah terselesaikan. Kami sampai mengabaikan mu." sapaan Nathan ini terdengar begitu bersahabat ditelinga Ricard dan Kayla, padahal bagi Nathan ini adalah bentuk rasa bersalahnya lebih kepada untuk menutupi malu karena sudah mencurigai Ricard.


"Tidak apa apa Nath. Kami mengerti." Ricard mengulurkan tangan. Nathan tersenyum melirik itu kemudian menyambutnya.


"Selamat atas pernikahan Putrimu dan ah, aku tidak menyangka jika pria tangguh itu yang akan menjadi menantumu." Ricard melirik pada Fic yang masih bersama Khale.


Nathan tersenyum. "Terimakasih Ric, atas kedatangan kalian. Apa kau masih ingat dengan menantu ku itu?" mereka melepaskan jabatan tangan.


Ricard tergelak kecil. "Dia pernah menghadiahiku Timah panas beberapa kali di tubuhku. Mana bisa aku tidak ingat itu?"


Keduanya terbahak. "Bagaimana rasanya di Penjara?" Nathan bertanya sambil tertawa.


"Sungguh nano nano. Tapi aku bersyukur, ternyata kehidupan ku jauh lebih baik disana dari pada di luar. Aku bisa memperbaiki semuanya dan itu semua berkat istriku juga. Dia tidak pernah meninggalkan aku. Sampai masa tahanan ku berakhir."


Semua kini merasa lega. Ricard dan Kayla sudah menyalami satu persatu dari mereka. Ken, Rimbun dan juga Fic tentunya.


Ricard beberapa kali menepuk bahu Fic.


"Kepala Pelayan Sialan! Nasibmu benar benar beruntung. Bukan hanya mendapatkan kepercayaan dari Nathan, tapi kau kini mendapatkan Gelar Menantu di Keluarga Edoardo ini."


"Apa kau membenciku?" Fic terkekeh pada Ricard.


"Sebenarnya aku sangat membencimu, sama halnya aku membenci Ken. Kalian berdua lah yang begitu kuat melindungi Nathan sehingga aku selalu kalah darinya."


"Ah, tapi pelajaran berharga dari kalian lah yang sudah mengubah kehidupan ku. Terimakasih, Terimakasih."


Semua terbahak.


"Nath, apa kau tau? Putri mereka sangat cantik." Mira berbicara pada suaminya sambil menunjuk Nay yang tersipu.


"Ah iya. Aku sampai melupakannya."


Kalau tadi Keyan yang tercengang saat melihat Elfa, kini gantian Kimmy yang melotot.


"Mirip aku bukan?" Ujar Ricard.


"Tentu saja, kau kan jagonya." tuding Mira.


"Haha.." Nathan terbahak.


"Apa kalian tau? Putriku sempat terluka saat hendak berangkat kemari. Kalian tau siapa yang membuatnya begini?" menunjuk lutut Nay yang berbalut perban tipis.


"Siapa?" tanya Mira.


"Putra Tuan Ken."


Ken yang mendengar itu langsung menoleh pada Tiga Putranya yang berdiri disana. Tentu saja Keyan dan Khale saling melempar pandang kebingungan. Tapi Kimmy, dia nyengir sambil menggaruk kepalanya. Kemudian maju mendekat pada mereka.


"Ayah maafkan Aku."


"Kau yang melakukannya?" mata Ken membulat sempurna.


"Aku tidak sengaja Ayah. Sungguh! Aku juga sudah meminta maaf. Benarkah Paman?"


"Heh, Anak orang terluka seperti itu kau hanya meminta maaf?"


"Sudah Ken! Putramu memang tidak sengaja. Sepertinya sangat terburu buru. Lagian ini hanya luka kecil saja. Tidak apa apa." sergah Ricard.


"Maafkan Putraku Ricard. Beginilah, Resiko mempunyai Tiga Putra kembar sekaligus. Bukan tidak pusing menghadapi kenakalan mereka. Ibunya hampir setiap hari berteriak." ujar Ken.


Mereka Kembali terbahak. Kini Kimmy mendekati Nay, masih dengan malu malu ia menyapa. Kembali meminta maaf.


Khale hanya mendengus sekarang. "Huh, semua orang bermasalah rupanya. " Dia memilih untuk keluar.


"Tidak jadi menikah. Gagal apa bagaimana, entahlah. Tapi kenapa aku tidak bersedih ya? Haha..!" Khale tertawa geli atas dirinya sendiri dan melangkah keluar rumah.


"Khal!" sosok perempuan yang baru saja memasuki gerbang itu, dan suaranya membuat Khale terpaku seketika.

__ADS_1


Bahkan tidak sanggup untuk melangkah lagi. Matanya tak berkedip. Dengan jantung yang berdegup dua kali lipat lebih kencang.


"Friya.." Hanya itu yang mampu diucapkan Khale saat ini tapi hanya sebatas tenggorokan.


"Bagaimana kabarmu? Apa aku terlambat?"


Friya mendekatinya, mengintip ke dalam.


"Kenapa kau diluar? Bukankah ini hari pernikahan mu?"


Mulut Khale seperti terkunci, lehernya serasa tercekik. 'Apa ini mimpi?'


"Khal, kau lupa padaku? Aku Friya."


Khale masih terpaku,


"Khale!" Friya menepuk bahunya.


"Friya!" Khale meraup wajah itu dan seketika memeluk wanita itu.


"Khal, apa yang kau lakukan? Lepas!"


Khale tak melepaskan pelukannya malah semakin mendekap erat.


"Khale, kau gila ya. Lepas! Jika Nona Ellena tau, kita akan bermasalah?"


Kali ini Khale melepaskan pelukannya, menatap Friya dengan cukup dekat. Meraih dikedua lengan Friya dan mengguncang.


"Kenapa menghilang dariku? Kenapa tidak memberi kabar sedikitpun untukku?"


"Kau menonaktifkan semua akun media sosialmu. Aku mencarimu Friya. Aku menanyakan kau kepada kakakmu terus menerus. Kepada teman temanmu. Aku tidak bisa menemukanmu. Kenapa Fri,.. apa karena kau sudah mempunya kekasih? Apa karena kau sudah mendapatkan Pujaan hati mu?"


Friya menunduk, setitik air mata menetes, namun cepat ia usap.


"Maafkan aku. Bukan bermaksud menghilang. Aku hanya..."


"Hanya apa? Mana kekasihmu? Mana Pria idolamu itu?"


"Kenapa? Karena kau sudah meninggalkannya? Karena kau terlalu lama meninggalkannya?"


"Ah, Khal. Bagaimana denganmu? Bukan kah seharusnya Kau berada di dalam? Kau akan menikah bukan?" Friya mengalihkan pertanyaan Khale


"Tidak! Siapa yang mengatakan itu!" semakin menatap lekat pada Friya.


"Aku baru saja sampai di rumah. Kakak mengatakan begitu, jika hari ini kau menikah dengan Nona Ellena."


"Kau salah dengar mungkin."


"Apa yang sebenarnya terjadi?" Friya merasa aneh.


"Kau masih sanggup bertanya apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana mungkin aku menikahi Nona Ellena. Sementara hatiku entah dimana!"


"Ellena sudah menikah dengan Pria yang dia cintai. Dan aku sengsara karena sudah kehilangan wanita yang aku cintai juga. Tapi itu bukan Ellena! Apa kau tidak ingin tau dia siapa?"


Khale menarik lengan Friya hingga tubuh wanita itu membentur tubuhnya.


"Aku tidak ingin ada rahasia lagi diantara kita. Kenapa kau pergi? Kau menghindari ku?"


Friya hanya menggeleng.


"Kenapa Friya. Kenapa harus diam. Kenapa tidak bicara sejak dulu. Aku tau, aku tau Friya. Kau pun sebenarnya tau bukan?"


Friya masih menggeleng.


"Kau menyukaiku bukan? Kau mencintaiku?"


"Khal. Aku.. Maafkan aku, aku.."


"Kenapa tidak mengatakannya Friya. Kenapa malah pergi?" Khale masih terus bertanya.


"Karena kau sudah dijodohkan dengan Nona Ellena. Aku bisa apa. Aku ini Siapa? Aku tau diri."

__ADS_1


"Diam!" Khale berteriak.


"Kau sudah tau dari awal. Aku tidak menyukai perjodohan itu kan?"


"Tapi aku tidak tau siapa yang kau cintai."


"Kamu! Ya. Kamu."


Friya seketika mendongak.


"Maafkan aku. Maafkan Aku Friya." Khale kembali memeluk Friya.


"Aku tidak peduli, andai saat ini kau sudah memiliki kekasih sekalipun. Aku tidak mau terlambat untuk yang kedua kalinya lagi. Aku mencintaimu Friya. Aku mencintaimu." bisik Khale.


Friya tidak bersuara sedikitpun. Hanya terdengar dia terisak. Tangannya bergerak perlahan, kemudian membalas pelukan Khale.


Sekarang Friya menangis tersedu.


"Maafkan aku."


"Jangan pergi lagi. Jangan. Ku mohon." Khale menciumi kepala Friya berulang kali.


Ah, ternyata. Hari pernikahan Fic dan Ellena yang tak direncanakan ini sungguh membawa sejuta kebahagiaan. Bukan hanya untuk Pasangan pengantin saja.


Bukan hanya cinta mereka yang bersatu, tapi cinta cinta yang lain, satu persatu menyusul.


Kedamaian antara Nathan dan Ricard. Mira dan Kayla. Lalu persahabatan Ken dan Nathan yang tidak bisa roboh dengan hal apapun itu.


Eh, kita intip pasangan pengantin baru yuk!


Fic dan Ellena, masih berdiri saling berhadapan dengan tatapan mesra. Ellena dengan kebaya putih itu, sementara Fic hanya mengenakan jas putih milik Khale yang menutupi kaos hitam ketatnya.


Dengan celana jins yang sebenarnya tak layak untuk dikenakan mempelai pria harusnya.


Mereka terlihat letih saat harus menerima banyak ucapan Selamat dari beberapa tamu dan lebih banyak dari para pelayan serta penjaga.


Ken menghampiri mereka. "Fic. Sebaiknya ajak Nona Ellena beristirahat. Nona pasti sudah lelah."


Fic menoleh, mengangguk kecil tapi mendekatkan kepalanya pada Ken untuk berbisik sesuatu.


"Kau tak perlu memikirkan itu. Saat ini, biar menjadi urusanku dulu. Aku tidak pulang. Aku akan menginap beberapa hari disini bersama istriku. Khale yang akan mengurus keadaan di rumahku. Sekarang pergilah ke kamar bersama Nona Ellena. Ini sudah malam, tak perlu menunggu Pesta usai." sahut Ken dari bisikan Fic.


Fic mengangguk, setelah menoleh pada Nathan yang mengangguk tanda setuju dengan ucapan Ken.


Fic meraih tangan Ellena sekarang.


"Nona. Kau harus beristirahat. Ayo Fic antar ke kamar."


Ellena hanya tersenyum saja, tapi senyuman yang terlihat penuh kebahagiaan. Ellena menggenggam erat jemari Fic yang sudah meraih tangannya. Kemudian membawa Fic melangkah.


Mira dan Nathan tersenyum memandangi langkah mereka.


"Jika sebelumnya , Fic sangat takut Ellena terluka atau sakit, sudah ku pastikan malam ini dia akan menyakiti Putriku." gumam Nathan.


"Nath.. Kau ini!" Mira memukul lengan suaminya.


Ken dan Rimbun yang langsung paham dengan ucapan Nathan seketika terkikik.


"Lho, benar kan? Aku tidak salah bicara. Ken pun dulu begitu. Sebelum menikah, Rimbun sakit sedikit saja tidak rela. Setelah menikah apa? Malam pertama dia terus menerus menyakiti istrinya!" menunjuk Ken.


"Itu Ritual khusus namanya. Dan wajib hukumnya!" jawab Ken.


"Kami juga berbeda. Tidak seperti kisahmu. Malam pertama kapan, menikahnya kapan." celetuk Ken.


"Sialan kau Ken! Itu aib, jangan diungkit!"


Semua lagi lagi terbahak.


Serasa masih muda dulu saja. Nathan jika sudah ada Ken, pasti tidak luput dari lelucon yang ada ada saja, bisa saja membuat Mira tertawa.


_________

__ADS_1


[ Tenyata MP Fic, belum bisa di bab ini. Artinya, di bab selanjutnya..]


__ADS_2