![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Bus sudah mulai memasuki Pelabuhan yang bertuliskan Kalimat Pelabuhan Merak!
Samar samar Fic bisa melihat debur ombak yang menghantam pinggiran dermaga dari balik kaca Bus.
Fic memilih untuk menundukkan kepalanya. Berusaha menekan sejuta perasaan gundah yang mulai menggerogoti tubuhnya.
Hingga akhirnya, bus itu mulai berhenti.
"Mas, kau mau turun tidak?"
Fic mendongak. "Apa sudah sampai?"
Pria itu terkekeh, "Ya Belum. Ini Bus berada di geladak Kapal. Kau akan tetap disini atau turun dari Bus ini untuk ke lantai atas?"
"Lantai atas?" pikiran Fic ternyata masih bleng.
"Ah iya." Fic cepat tersadar dan paham jika Bus ini tenyata sudah terparkir rapih di geladak kapal khusus untuk para Bus dan Mobil.
Fic akhirnya mengikuti langkah semua penumpang.
Mereka menaiki tangga untuk menuju bagian lantai atas di dalam Kapal Ferry tersebut.
"Kau mau kemana?" Fic bertanya pada Pria itu ketika melihat pria itu tetap hendak menaiki tangga lagi padahal para orang orang sudah memilih tempat duduk masing masing.
"Ke atas. Kita di atas saja. Pemandangan laut akan nampak begitu indah di malam hari."
"Benar kah?"
Pria itu mengangguk sambil menarik tangan Fic agar ikut serta.
Fic pun mengikuti pria itu.
Pria itu memilih tempat duduk sedikit menengah dari bagian geladak. Kemudian memanggil Fic untuk ikut duduk setelah menyewa sebuah tiker.
"Tunggu sebentar. Aku ingin membeli kopi dan makanan. Kau pasti lapar juga kan?"
"Punya uang?" tanya Fic.
"Masih cukup. Tenang saja."
Fic hanya mengangguk. Pria itu pergi untuk kembali turun memesan Kopi.
Pandangan Fic berputar mengelilingi sekitarnya. Atas kapal yang terbuka tanpa atap, memang menarik untuk di nikmati.
Angin laut semilir yang terasa menusuk tulang Fic. Fic mendekap dirinya sendiri, sambil melirik baju dan celana yang melekat di tubuhnya. Ia sempat berpikir, baju siapa yang dikenakan mereka padanya? Ini sungguh buruk.
Hati Fic kembali resah. Saat terdengar peringatan jika Kapal akan segera berlabuh.
Pelan namun pasti, Kapal itu mulai bergerak.
Kelap kelip lampu terlihat semakin menjauh saja.
Fic menatap lautan lepas yang terbentang di hadapannya. Fic mendongak. Memejamkan matanya, menarik nafas panjang dan menghembuskan dengan cepat. Berusaha mengurangi rasa sesak di hatinya.
"Nona. Maafkan Fic. Kau pasti akan bersedih saat kau sadar nanti, jika kau tau aku tidak ada disisi mu lagi."
Bayangan senyuman manis Ellena, kerlingan mata indahnya serta rengekan manja Ellena saat menggodanya. Fic merindukan itu. Semua tidak ada yang lepas dari jiwanya sekarang.
Fic merasa merana.
"Kenapa harus jatuh cinta padaku? Kenapa aku harus jatuh cinta padamu? Akhirnya kita terpisah seperti ini." meringis hati Fic, menahan rasa pedih seolah teriris iris sembilu bambu.
Tepukan ringan di bahunya membuat Fic terlonjak.
__ADS_1
"Kopinya."
Fic menoleh, menyambut uluran kopi yang masih mengepul.
"Apa kau belum pernah naik kapal?" pria itu duduk di sisi Fic.
Fic menggeleng saja.
"Kau tidak pernah pergi kemana mana?" kembali bertanya.
"Tidak pernah. Aku hanya fokus di rumah saja."
"Karena Corona?"
Fic ingin tergelak mendengar itu. "Tidak. Karena alasan pekerjaan."
"Baiklah. Orang kaya memang begitu."
"Aku bukan orang kaya!" Sahut Fic.
"Kau bilang tadi, kau anak orang kaya. Di usir oleh keluarga mu." menuding.
"Aku tidak mengatakan jika aku orang kaya ataupun anak orang kaya. Aku juga orang susah seperti mu." Fic balas menuding.
"Tapi kenapa uangmu banyak?" kini pria itu melotot.
"Kau mencuri? Lalu membohongiku?"
Fic mendengus. "Seseorang yang memberi ku uang itu. Mungkin karena selama aku bekerja padanya,aku tidak pernah mengambil gajih ku."
"Oh. Baiklah aku percaya. Siapa namamu?"
"Namaku.,"
"Kenapa takut menyebutkan nama? Kau aman sekarang. Tak perlu takut. Apalagi di kampung ku nanti. Kau akan aman sentosa."
"Nama yang simpel dan bagus. Namaku Ilham." mengulurkan tangannya.
"Terlambat!" Fic hanya melirik.
"Dari pada tidak!"
Fic akhirnya menyambut. "Fico Albarez. Panggil aku Gilang!"
"Kenapa mesti pakai nama samaran?"
"Kan aku memang sedang menyamar."
"Menyamar jadi gembel?"
Keduanya terbahak sekarang.
Ilham membaringkan tubuhnya setelah menggeser dua cangkir kopi ke sebelah.
Fic mengikuti, menyilang tangannya untuk bantal. Matanya menatap langit yang sudah gelap. Bintang bintang berkedip.
Deru nafasnya kembali terdengar sesak. Butiran air mata tiba tiba mengalir begitu saja.
"Kenapa aku jadi cengeng begini." mengusapnya dengan ujung baju.
Ellena.
Ellena.
__ADS_1
Ellena.
Bayangan Ellena terus menyiksa Fic sepanjang Kapal berlabuh.
_______
Kembali ke Kota.
Kediaman Rumah Nathan,
Jika sesuai rencana Nathan, seharusnya hari ini menjadi hari pernikahan Fic dan Ellena. Tapi hari ini malah menjadi hari berkabung untuk semua.
Di mana saat semua penghuni, mendengar kabar tentang Fic dari Nathan dan Ken secara langsung.
Nathan berterus terang kepada mereka tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Fic. Jika kematian Fic bukan tanpa alasan. Demi Ellena, demi wanita yang ia cintai. Beruntung semua mengerti, tanpa bisa menyalahkan siapapun karena mereka sudah tau bagaimana hubungan Fic dan Ellena. Ini adalah pengorbanan Fic, mereka patut menghargai.
Dan satu lagi, pesan dari Nathan adalah agar mereka merahasiakan ini dari dunia luar. Cukup kita, cukup orang orang dalam rumah ini saja yang tau.
Semua setuju!
Tapi ada yang membuat mereka janggal, Nathan tak mau pergi berziarah ke makam Fic, sekalipun saja. Walau sekedar hanya menabur bunga atau mengirim doa doa seperti yang di lakukan mereka.
Apa tuan Nath sengaja hanya ingin menjadikan Fic Tumbal? Apa ini hukuman untuk Fic karena sudah berani mencintai Tuan Putri Ellena?
Mereka menebak, meskipun Nathan sudah memberi Alasan jika ia hanya tidak ingin bersedih dan merasa bersalah ketika menatap batu nisan Fic.
Dalam hati,
Mana mungkin Nathan melakukan itu. Melakukan seperti Mereka? Datang dan menabur bunga diatas pusara Fic.
'Mana bisa! Fic tidak mati Bodoh! Ini hanya kelakuan manusia pecundang!'
'Aku tidak akan berdoa untuk ketenangan Fic di alam sana. Tapi aku akan selalu berdoa untuk ketenangan Fic di mana pun saat ini ia berada. Hingga suatu hari, ia bisa kembali untuk Ellena!'
Elfa, tentunya adalah satu satunya Pelayan yang histeris ketika mendengar kabar tentang Fic.
"Kak Fic! Hu...hu... Hiks..Hiks..!" meratap, merana, merongsot ke lantai. Memukul mukul kepalanya.
"Harusnya, jatuh cinta padaku saja. Kau tidak akan berakhir seperti ini."
_____________
Di Rumah sakit.
Empat puluh delapan jam sudah berlalu. Ketegangan kini mulai mereda ketika Dokter mengatakan jika Ellena sudah melewati masa kritisnya dengan baik tanpa hambatan. Tinggal menunggu Ellena sadar.
Semua kini bernafas lega. Begitu juga dengan Nathan sendiri. Kendati rasa gelisah dan khawatir melebihi rasa leganya.
'Apa yang harus aku katakan pada Ellena?'
'Fic tewas Setelah mendonorkan jantungnya untuk mu Ellena!'
'Apa?'
'Tidak, tidak. Ellena pasti akan menjerit, dan syok seketika.'
'Ellena. Bertahanlah sebentar. Semua ini karena ulah Pecundang yang ingin memisahkan kalian. Fic tidak mati. Fic masih hidup. Tapi entah di mana!'
'Aku akan mencarinya, ke ujung dunia sekali pun!'
Ini adalah bayangan Nathan ketika Ellena tersadar nanti.
Nathan seperti orang tidak waras. Ketika harus tersenyum senang saat menyambut Ellena membuka mata, Tapi Nathan juga kembali menarik senyumnya akibat gelisah saat melihat Putrinya membuka mata perlahan.
__ADS_1
'Aku harus bicara apa?'
______________