![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Senja itu, mereka sudah berada di villa Puncak. Tidak ada pelayan khusus yang ikut. Hanya beberapa pelayan dan Penjaga khusus yang memang ada di villa puncak itu.
Fic melangkah sambil satu tangan menggandeng Ellena, dan satu tangan menarik koper.
Beberapa pelayan membungkuk memberi Hormat.
"Selamat datang Tuan Putri Ellena. Selamat datang Tuan Fic. Selamat atas pernikahan kalian."
Mereka hanya membalas dengan senyuman dan anggukan.
"Mari kami antar ke kamar." satu orang maju untuk mempersilahkan.
Fic mengikuti dengan masih menggenggam tangan Ellena.
Mereka menuju lantai paling atas, menuju sebuah pintu. Saat pelayan membuka pintu kamar itu, wangi semerbak bunga mawar seketika menyeruak.
"Astaga!" Ellena memekik, menatapi taburan kelopak mawar yang menghiasai ranjang pengantin mereka. Bahkan kamar itu dihias dengan begitu indah, kelambu berwarna putih dan semua serba putih. Seprai bahkan Gordennya.
Ellena tersenyum ke arah pelayan.
"Kalian sengaja menyiapkan ini semua?"
Pelayan wanita itu tersenyum. "Tentu saja Tuan Putri. Kami tau, kalian akan datang untuk berbulan madu. Setelah melewati banyak sekali kesedihan, kami berharap Tuan Putri akan bahagia untuk Selamanya."
"Terimakasih. Bersama Fic, aku pasti akan terus bahagia."
Ellena semakin tersenyum bahagia, menoleh pada Fic yang juga mengulas senyum.
"Masuklah." perintah Fic. Para pelayan segera pergi setelah mengucapkan Permisi.
Fic menutup pintu, menarik koper dan membuka untuk mengeluarkan beberapa keperluan. Melirik Ellena yang berguling guling di ranjang besar. Menikmati wangi bunga mawar yang bertaburan. Fic hanya tersenyum, meneruskan pekerjaannya.
Kemudian memasuki kamar mandi. Selesai mengatur suhu air, Fic keluar dan menghampiri Ellena.
"Nona. Mandilah dulu. Fic akan menyiapkan makan malam untuk kita."
Ellena bangun, "Kenapa tidak pelayan saja?"
"Segala keperluan mu, aku yang akan mengerjakannya selama kita disini. Ayolah." menarik lembut tangan Ellena yang menyambut uluran tangannya.
"Apa ingin Fic mandi kan?"
Ellena menggeleng. "Tidak usah."
Ellena pun bangun dan menuju kamar mandi. Sambil masih saja tersenyum.
Fic sendiri keluar, menyiapkan makan malam Ellena. Fic tidak berlama lama. Cepat kembali setelah semua ada di nampan.
Rupanya Ellena sudah selesai. Fic menaruh nampan di meja. "Sebentar, Fic juga ingin mandi."
Ellena hanya mengangguk, sambil mengeringkan rambutnya.
Fic juga tidak lama berada di kamar mandi. Cepat menyelesaikan mandi dan keluar dengan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, takut Ellena menunggunya untuk makan. Karena sejak akan berangkat tadi, Ellena belum mau makan apapun.
Fic berdiri terpaku, menatap penampilan Ellena sekarang. Baju tidur warna putih tipis dikenakan Ellena. Dengan bahan lembut yang jatuh, membentuk tubuh Ellena. Begitu tipis hingga Bra dan CD milik Ellena bisa terlihat. Ellena juga bermake-up. Meskipun hanya tipis, tapi itu mampu membuat Ellena semakin cantik menawan.
Jantung Fic berdebar, padahal Fic sudah sering melihat Ellena seperti ini, tapi mungkin karena baju Ellena yang sebelumnya belum pernah mengenakan yang seperti ini cukup membuat Otak Fic tiba tiba traveling saja.
"Fic? Kau kenapa?" seperti ada yang aneh dari Fic.
"Ah, tidak. Aku, aku hanya terpana. Ah, mungkin karena aku, begitu mengagumi Nona." Fic berjalan mendekati lemari.
"Ini, apa kau yang menyiapkan baju ini?" tanya Ellena.
"Menyiapkan?" Fic sedikit berpikir.
Memang siang tadi, Fic sempat menelepon Kepala Pelayan di Villa ini untuk menyuruh menyiapkan seluruh keperluan Ellena.
Fic tak pernah menyangka jika para pelayan sungguh tau situasi, luwes meyiapkan segalanya sampai dengan model baju tidur Ellena.
Fic menggaruk tengkuknya.
__ADS_1
"Ah, mungkin para pelayan. Karena Fic sudah menyuruh mereka." Fic berpikir, kenapa mereka begitu pengertian. Baju itu sungguh membuat Fic semakin tidak ingin bergeser dari Ellena.
Fic melangkah mendekati lemari, mencari ganti yang sudah disiapkan oleh para pelayan juga. Belum sempat menarik, Ellena sudah mendekap Fic dari belakang. Menempelkan pipi ke punggung Fic. Beberapa kali kecupan Ellena membuat Fic meremang. Fic memutar tubuhnya. Melempar dahulu pakaian yang sudah di tangan ke atas ranjang. Kemudian melepaskan tangan Ellena yang berada di pinggang.
Fic memutar tubuh Ellena, sekarang mereka berhadapan. Fic membelai Rambut Ellena mencium kedua pipi merah Ellena.
"Biarkan Fic berganti dahulu."
"Tunggu sebentar Fic. Aku kedinginan."
Fic pasrah, ketika Ellena kembali mendekapnya.
Fic pun mendekap Ellena. Wangi aroma tubuh dan rambut Ellena langsung membuat gairah Fic seketika meningkat kembali. Fic menyibak rambut Ellena, dan menciumi leher serta telinga Ellena. Gadis itu merengek manja. Fic menarik wajah Ellena, mendorong tubuh Ellena pelan hingga sekarang tersandar di tembok.
Fic memandangi wajah Ellena, keduanya saling tatap penuh cinta. Tangan Fic bergerak meraih tengkuk Ellena. Mendaratkan kecupan berat ke bibir Ellena, dan kini melumatt. Mereka berciuman dengan posisi berdiri.
Fic semakin menggila saat gesekan tubuh Ellena pada Tubuh telanjang dadanya. Yang dibawah sudah menegang tak karuan. Fic terengah-engah. Semakin memperdalam ciumannya, menyeruakkan lidahnya berkali kali. Ellena pun demikian. Satu tangan Fic sudah menerobos. Meremas bagian dada Ellena yang sangat disukai nya. Tak puas dengan tangan Fic kini menunduk, menarik tali baju Ellena dan menarik penghalang pandangannya.
Fic sekali lagi mengamati itu, sebelum akhirnya merakus dua gumpalan itu dengan bibirnya, menekan tubuh Ellena pada tubuhnya.
"Fic. ah...!" Ellena mendesah. Fic terengah. Akhirnya, Fic mengangkat tubuh Ellena. Membawanya ke atas Ranjang dan membaringkan tubuh itu di atas taburan kelopak mawar. Perut lapar mereka tak terasa lagi. Hanya desiran indah yang semakin memuncak yang mereka rasakan saat ini.
Fic melucuti pakaian Ellena. Sekali lagi mengamati tubuh indah itu sambil tangannya bergerak aktif. Menyentuh semua itu tanpa terlewat.
Fic menyisir setiap bagian tubuh Ellena dengan bibirnya. Hingga sampai pada Area sensitif. Fic merenggangkan kedua paha Ellena. Dan memposisikan wajahnya. Ellena menggeliat bak cacing kepanasan karena ulah Fic. Meremas kuat rambut Fic hingga berantakan.
"Fic, berhenti." nafasnya tersengal sengal.
Fic mendongak, menatap wajah Ellena yang sudah memerah. Fic tersenyum, menyambar bibir itu. Hanya sebentar, lagi lagi turun perlahan dan kembali lagi ke area sensitif.
Ellena menegang, Fic belum berhenti. Masih berada disitu. Fic benar benar ingin membuat Ellena menggelinjang tak karuan. Hingga Ellena menggoyahkan tubuhnya tanda tak sanggup lagi.
"Ah, Fic. Berhentilah. Ku mohon." Mendorong kepala Fic.
Fic akhirnya berhenti , memandangi tubuh yang terus menggeliat itu.
"Fic. Kau menyiksaku!"
Kedua bibir itu kembali bertaut, seperti tak ingin lepas lagi , bersamaan dengan fic mengarahkan miliknya. Dengan pelan namun pasti.
"Ah...!" keduanya mendesahh bersamaan saat milik Fic memasuki Ellena dengan lambat.
"Ellena..." Fic mengamati wajah Ellena, terdiam, belum bergerak. Sengaja menikmati hangatnya liang surga Ellena yang menghimpitnya. Begitu nikmat mengalir ke seluruh saraf pria itu.
Ellena menggigit bibir bawahnya. Dengan ekspresi wajah yang sulit dimengerti.
"Ellena. Apa yang kau rasakan?" Fic sempat bertanya dengan satu tangan menahan tubuhnya dan satu tangan menyentuh bibir Ellena. Gadis itu hanya menggeleng.
"Apa sakit?"
"Tidak Fic. Tidak."
"Apa kau suka?"
Ellena hanya mendesahh.
"Apa ini nikmat Ellena?" Fic terus bertanya, tapi belum juga bergerak.
"Diam Fic. Kenapa kau Cerewet!" Ellena geram. Menekan tubuh Fic dengan kedua tangannya.
"Aku ingin kau bersuara Ellena. Suaramu sangat merdu." Fic mengangkat pinggulnya kemudian menurunkan dengan pelan dan menekan kuat.
"Ah... Fic..!" Ellena berusaha meredam suaranya.
"Menjerit lah Ellena. Ayo. Jangan meredamnya. Tidak akan ada yang mendengar suara kita. Aku suka suaramu." Fic terus berbisik.
Wajah Ellena memerah, antara malu namun nikmat tak tertahan.
Fic kembali bergerak, sekarang semakin pro. Bergerak semakin lincah, dan menekan semakin kuat. Mengorek seluruh kenikmatan dan memberi seluruh kenikmatan untuk Ellena.
"Ah.. Ellena. Panggil namaku. Ayolah." suara serak Fic yang terus menggoda Ellena makin membuat Ellena melambung.
__ADS_1
"Fic. Ah.. Aku, aku mencintaimu." Ellena mencengkram kuat bahu Fic. Mendaratkan gigitan di bahu Fic.
Fic terus bergerak maju mundur, liang sempit Ellena sungguh membius saraf Fic. Tidak ada yang dirasakan pria itu saat ini kecuali kenikmatan yang tiada taranya. Ellena pun demikian, suaranya begitu beringsik sekarang. Mendesahh, mengerang, memanggil nama Fic tanpa henti. Fic sesekali mengambil jeda. Memainkan tangan dan mulutnya di dada Ellena. Ellena semakin menggila.
Milik Fic sungguh membuatnya melambung.
"Kau selalu penasaran bukan? Dari dulu, kau penasaran Dengan rasa ini. Sekarang nikmati Nona. Aku akan berikan padamu, sesuai dengan permintaan mu. Berapa kali pun kau mau. Aku akan melakukannya untukmu." Fic terus berbicara disela desahannnya. Ellena membungkam mulut Fic dengan tangannya. Dia kesal dengan Fic yang cerewet. Fic tergelak kecil, menggigit lembut jemari Ellena.
Fic kembali menghentak, sekarang dengan kasar. Fic mengangkat sedikit pinggul Ellena dan kembali menyerang. Semakin kuat dan cepat.
"Fic... Ah. Aku tidak tahan." Ellena mengeluh. Meremas kuat lengan Fic.
"Lepaskan saja Ellena. Jangan menahannya."
Desahann keduanya saling bersahutan, mengisi hening nya kamar. Keringat Fic mengalir, bahkan menetes ke tubuh Ellena.
Fic tak bisa mengontrol gerakan dan tenaga lagi. Bergerak tanpa mengambil jeda sekarang. Kedua tangan mereka meremas sprei hingga berantakan.
"Em..." Ellena mengerang. Bersama Fic yang juga mengerang. Kedua tubuh itu terlihat bergetar hebat, rupanya keduanya mencapai puncak bersamaan, hingga akhirnya sama sama melemas.
"Ellena. Terimakasih." Fic belum melepaskan diri, menghujani ciuman pada kepala dan wajah Ellena. Beberapa kali membelai wajah Ellena sambil mengatur nafasnya yang masih memburu. Ellena tidak lagi bersuara, lemas. Hanya bisa tersenyum tipis, dengan nafas yang masih tersengal.
Fic bergerak melepaskan diri, meraih tissu diatas meja rias yang berdekatan dengan ranjang. Membersihkan area sensitif Ellena dan miliknya juga. Sambil sesekali tersenyum melirik Ellena yang pasrah. Hanya menggerakkan tangannya untuk menyibakkan rambutnya yang menutupi wajah.
Fic melilit tubuhnya bagian bawah dengan Handuk lagi. Kemudian menarik Selimut untuk menutupi tubuh Ellena. Merangkak kembali ke ranjang. Ellena bergerak, menarik tubuhnya untuk duduk. Fic mendekapnya dari belakang. Menaruh kepala Ellena di dadanya.
"Fic. Terimakasih ya."
Fic menghela nafas. "Aku yang berterima kasih Nona." menciumi kening Ellena.
"Sama sama kalau begitu." balas Ellena.
"Apa nona mau lagi? Aku akan melakukannya lagi, lebih dari ini." goda Fic.
"A... Aku lelah Fic. Tidak lihat apa. Lutut ku sampai gemetaran begitu?" menunjuk lututnya.
Fic tersenyum tipis. "Maafkan Fic. Fic kasar ya?"
"Tidak kok. Aku suka. Ternyata menikah itu senikmat ini. Aku gak salah, dulu terus mengajakmu menikah." jawab Ellena.
Fic semakin gemes, mempererat pelukannya.
"Jika aku terlambat saat itu, mungkin kau sudah menikah dengan tuan muda Khale." tiba tiba Fic berkata demikian membuat Ellena menoleh.
"Jika itu terjadi, apa aku juga akan melakukan ini dengannya?"
Mendengar itu, wajah Fic seketika memerah. Lalu membungkam mulut Ellena dengan bibirnya.
"Jangan membuatku cemburu Ellena. Membayangkannya saja, aku sangat cemburu."
Ellena terkekeh. "Kau bisa cemburu juga?"
"Kau kira bagaimana? Selama ini aku hanya tidak berani. Tapi sekarang, kau milikku. Aku akan cemburu. Walau sekedar membayangkan."
"Fic. Andaipun terjadi aku menikah dengan Khale, adegan seperti ini tidak mungkin terjadi. Kami tidak saling mencintai."
"Sudah cukup. Jangan membahas itu lagi." Fic kini melepaskan pelukannya.
"Ayo bersihkan diri." Fic menuruni Ranjang.
"Fic." Ellena menahan tangan Fic.
"Kau marah?"
Fic tersenyum. "Apa Fic pernah marah pada Nona?" Fic menarik lembut tangan Ellena. Mencium kembali pipi Ellena.
"Bersihkan diri. Lalu makan. Kau belum makan dari siang tadi. Aku malah menggempur mu. Maafkan aku, aku sungguh kejam." mencium tangan Ellena.
"Kekejaman mu membuatku bahagia." balas Ellena.
Fic tidak berbicara lagi, meraih tubuh Ellena dan membawanya ke kamar mandi.
__ADS_1
_________