Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Percaya pada Ayah.


__ADS_3

Saat ini, Nathan dan Mira sudah kembali berada di rumah mereka. Mira menyeret langkah lesunya ke kamar mandi untuk mencuci muka. Sementara Nathan sudah membaringkan tubuhnya dengan dua tangan bersilang di bawah kepala.


Matanya menatap langit langit, dengan pikiran yang menerawang. Kini Nathan sudah mengambil keputusan untuk mengingkari surat perjanjian itu apapun resikonya.


Mira sudah selesai dengan urusannya, melangkah ke ranjang dan duduk di tepi. Matanya kini tak lepas menatap wajah sang Suami.


Mira tersenyum, meskipun gurat tua yang sudah terlihat di wajah milik suaminya, itu tidak mengurangi ketampanan dan ketenangan wajah itu. Nathan masih tetap seperti dulu, selalu terlihat tegar di depannya walau sebenarnya rapuh.


"Apa kau serius dengan keputusan mu Nath?" meraih tangan suaminya dan membawanya ke pipi.


Nathan menoleh sambil menggulirkan senyuman.


"Tentu saja. Apa kau keberatan jika nantinya kau akan ku tinggal mendekam di Penjara?"


Mira masih tersenyum, meskipun matanya sudah mulai berkaca kaca.


Kini Nathan bangun, duduk dan meraih tubuh Mira untuk mendekapnya.


"Apa kau tau Mira, jika aku sangat mencintaimu. Dari pertama bertemu denganmu hingga sekarang?"


"Tentu saja aku tau." membalas pelukan Nathan.


"Apa kau juga tau jika aku sudah membagi cinta ku? Bukan lagi seutuhnya untuk mu?"


Mira mendongak, "Aku tau. Kau sudah mencintai Ellena. Membagi cintamu untuk kami berdua."


"Ya , kau benar! Dua wanita yang sama sama aku cintai dalam hidupku." mengangkat dagu Mira.


"Aku sudah membahagiakanmu. Dan aku belum pernah membahagiakan Ellena. Bahkan saat orang lain bisa berkorban untuknya, aku mana? Aku malah belum bisa."


Mira menunduk, mengusap air matanya.


"Aku akan mendukung mu kali ini."


Nathan kembali mengangkat dagu Mira.


"Aku hanya akan di penjara. Bukan mati. Jadi kau aman. Tidak harus menjadi janda untuk yang kedua kalinya." ucap Nathan, mendapat hadiah pukulan di bahunya dari Mira.


"Aku tidak mau menjadi janda. Yang ada kamu harus duluan yang menjadi duda!"


"Haha.. kenapa bisa begitu?"


"Karena aku tidak mau kehilangan terlebih dahulu."


"Sudah sudah. Bicara apa sih? Kita akan tetap bersama sampai punya banyak Cucu. Kita akan menua bersama Mira."


Air mata Mira bercucuran, mendekap suaminya dengan erat.


"Entah, tidak bisa ku bohongi jika aku sangat sedih." Mira merengek.


"Aku tau itu. Tapi kita harus bisa melakukan sesuatu untuk putri kita."


"Ya. Aku akan mendukungmu Nath. Meskipun ini berat."


"Jika aku dipenjara,Kau bisa setiap waktu datang membesuk ku bukan?"


"Ya. Akan aku melakukan itu setiap hari. Aku akan memasak banyak dan nikmat untuk mu. Aku akan membawakan ganti untukmu selalu. Bila perlu, aku akan menginap di sana."


Keduanya kini tertawa, sekedar untuk meredam kesedihan yang sudah terbayang ketika saat Nathan mengingkari perjanjiannya nanti. Hingga terlelap dalam dekapan kehangatan penuh kasih sayang yang sejati.


Pagi buta,


Dari pada harus mati penasaran, Elfa nekat berpamitan pada Penjaga untuk pulang ke rumahnya sebentar saja.


Begitu tiba di rumah, Langsung menubruk Ayahnya yang baru saja membukakan pintu.


"Dasar Anak gila. Apa apaan Sih?" yang di peluk berontak.


"Ayah. Maaf kan aku, sudah kasar padamu. Aku tidak tau kalau Ayah sedang sakit." menciumi wajah Ayahnya.


"Heh, kau bau mulut. Kau pasti belum gosok gigi ya!" mendorong wajah Elfa.

__ADS_1


Elfa meringis, "Memang belum. Aku langsung cus pulang. Tanpa sempat ke kamar mandi."


"Dasar jorok!" menyentil telinga Elfa.


"Ayah, aku tidak bisa tidur semalaman memikirkanmu. Memang ayah sakit apa? Dan semalam bagaimana? Ayah sudah berobat kan? Apa kata dokter?"


"Siapa yang sakit?" Ayah melotot.


"Ayah tidak sakit?" melotot juga.


"Tidak! Aku sehat walafiat!" menunjukan lengannya.


"Terus semalam? Ayah membohongi Tuan Nath? Astaga!" Elfa menutup mulutnya, mundur beberapa langkah sambil menggelengkan kepalanya.


"Kenapa Ayah jadi seperti ini. Kenapa Ayah berubah? Apakah penderitaan hidup kita ini membuat Ayah putus asa dan nekad menjadi pembohong hanya untuk uang?"


"Jangan begitu Ayah. Masih ada aku yang bisa mencari kan mu uang! Tak harus.."


Plup!


Ayah membungkam mulut Elfa.


"Bringsik amat sih pagi pagi. Mana sok ustadzah lagi. Sono buat kopi. Hehhh!" Ayah malah santai, tanpa merasa berdosa melengos, menghidupkan TV. Mencari berita Topik Utama di sana.


Kemudian melirik Elfa yang masih berwajah tertekuk.


"Heh, kamu tadi pamit tidak kemari pada Tuan Nath?"


"Mana sempat? Aku kepikiran kamu Ayah! Tapi Ayah malah merasa tak berdosa begini. Ya Tuhan! Ampuni segala dosa dosa Ayahku!" mengatupkan kedua tangannya ke wajah.


"Heh! Kau pikir aku pendosa!" melempar bantal ke arah Elfa.


"Kau sudah membohongi Tuan Nath! Apa itu kalau tidak pendosa namanya?" melempar kembali bantal yang berhasil ia tangkap.


"Haha..!" Ayah tergelak.


"Sini. Duduk sini anak Ayah yang cantik? Ayah akan cerita yang sebenarnya." menepuk sofa di sisinya.


Elfa mendengus saja. Kemudian dengan malasnya melangkah. Cepat membuat secangkir kopi untuk Ayah.


"Nih!" meletakkan itu dengan kasar di atas meja.


"Kau mau menjadi anak Durhaka? Tidak takut jadi perawan tua jika tidak sopan pada Ayahmu?" ayah melotot lagi.


"Hehe..!" Elfa meraih kembali cangkir itu. Dan melakukan adegan ulang dengan lebih manis.


"Ini kopinya Ayah, silahkan diminum."


"Begitu kan cantik. Aku akan mendoakan mu agar kau mendapatkan suami yang super tampan dan tajir."


Elfa merengut, kini duduk di samping Ayahnya.


"Cepat ceritakan padaku yang sebenarnya. Atau aku akan marah dan tidak mau bekerja lagi!" Mengancam Ayahnya.


"Hem..!" merengkuh pundak Elfa dan menarik tubuhnya.


"Berjanjilah untuk tidak mengatakan ini pada siapapun."


"Aku memang harus menceritakan ini padamu, agar kamu bisa berguna. Bisa ikut membantu Nona Ellena, dan kedua orang tuanya." sambung Ayah.


Elfa menoleh, menatap wajah Ayahnya yang nampak begitu serius.


__________


Nathan berlari kecil menghampiri Mira yang terus berteriak memanggil Ellena sambil menggedor-gedor pintu.


"Mira!"


"Nath. Ellena tidak mau membuka pintunya!"


"Minggir lah, biar aku yang berbicara." kini Nathan yang mencoba memanggil Ellena.

__ADS_1


"Ellen! Buka pintunya. Ayah ingin berbicara!"


"Jangan mengganggu ku! Aku tidak mau!" sahut Ellena dari dalam.


"Ellen, jangan begitu nak! Kau tidak kasian pada kami? Lihat Ibumu menangis terus karena memikirkanmu Ellena!" ucap Nathan.


"Kalian juga tidak pernah memikirkan Ellena! Kalian juga tidak kasian pada Ellena! Biarkan saja aku! Aku ingin menyusul Fic saja!" terdengar suara barang pecah.


"Ellen. Buka pintunya dulu. Ayah ingin membicarakan tentang Fic. Apa kau tidak ingin bertemu dengan Fic?"


Mungkin karena mendengar itu, Ellena tiba tiba terdiam. Beberapa saat kemudian pintu terbuka.


"Ellen." Nathan cepat masuk di susul Mira.


"Ayah akan berbohong apa lagi padaku?" Ellena kembali berteriak.


"Tidak Ellena, Ayah ingin berbicara."


"Apa lagi yang akan Ayah bicarakan? Tentang kemalangan Ellena? Tentang penderitaan Ellena? Ayah menginginkan Ellena melupakan Fic? Iklhas dengan semua ini?"


"Ellen. Dengar kan Ayah kali ini. Jangan berteriak dulu."


"Aku tidak bisa Ayah! Aku tidak bisa bertahan hidup seperti ini! Berpisah dengan orang yang aku cintai! Dengan cara seperti ini! Fic mati karena aku, Ayah! Seharusnya aku yang mati! Bukan Fic! Kenapa Ayah? Kenapa harus seperti ini?" Ellena kembali menangis tersedu sedu.


Nathan cepat merengkuh tubuh Putrinya, menariknya pelan untuk duduk di ranjang.


"Ellen, Ellen. Sudah sayang. Ayah akan membantumu sekarang. Ayah berjanji, kau akan bahagia bersama Fic. Selamanya."


Mendengar itu, tangisan Ellena langsung terhenti. Mendongak untuk menatap Ayahnya.


"Ayah bilang Apa?"


Nathan menarik nafas panjang, menoleh pada Mira.


"Tutup pintunya dan kunci." Mira segera menuruti perintah Suaminya. Menutup dan mengunci pintu.


"Ayah ingin menunjukan sesuatu padamu. Tapi berjanjilah untuk tidak gegabah. Apa kau mau berjanji dulu pada Ayah?"


Antara ragu, Ellena mengangguk saja.


Nathan kini mengeluarkan sebuah kertas yang ia simpan di balik bajunya.


"Ellena, bacalah. Dan tolong jangan bertindak gegabah, jika kau ingin kami berdua selamat."


Lagi lagi tangan Ellena gemetaran, menerima kertas itu, terbayang olehnya surat tulisan tangan Fic Beberapa bulan yang lalu.


Ellena berusaha untuk menguatkan hatinya kali ini, dan dengan pelan membaca lampiran yang tertulis dalam kertas itu.


Seketika mata Ellena terbelalak hebat setelah selesai membaca dengan jelas. Kemudian memandangi kedua orang tuanya secara bergantian.


"Apa ini serius Ayah?" suaranya hampir tak terdengar karena menahan antara terkejut, senang dan emosi.


"Benar Putriku. Kali ini, ini adalah kebenaran." balas Nathan.


"Artinya.. Fic tidak mati? Dan jantung ini, bukan milik Fic?" sekali lagi Ellena bertanya untuk meyakinkan. Memandangi Mira dan Nathan yang mengangguk padanya.


"Kau benar Ellena, Kertas ini adalah bukti jika Fic tidak mati. Ini hanya foto copynya. Yang Asli ada pada mereka." ucap Nathan.


"Sebenarnya saat itu, Fic sudah siap mendonorkan jantungnya tanpa bisa dicegah oleh siapapun. Tapi Fic gagal karena ternyata darah kalian berbeda dan itu tidak bisa. Lalu seseorang itu datang dengan membawa serta jantung yang cocok untukmu. Kami tidak punya pilihan kecuali menandatangani surat ini karena saat itu kau sedang sekarat."


Ellena tiba tiba memeluk erat Ayahnya dan menangis tersedu-sedu kembali.


"Tenang lah sayang.. Kau akan pergi menyusul Fic. Ayah sudah menemukan jalan untukmu. Kau harus percaya pada Ayah."


"Benarkah Ayah. Ayah tidak berbohong padaku?" Ellena menarik tubuhnya.


Nathan mengusap wajah Ellena.


"Kita akan mencari cara, agar kau bisa pergi dari sini tanpa ada satu orang pun yang tau."


_____________

__ADS_1


__ADS_2