Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Promosi karya baru!!


__ADS_3

Halo semua... apa kabar???


boleh aku minta dukungan di karya baru temen aku, ...




tolong bantu fav , like dan komen ya Kak?


kenapa? karena kelanjutan Kisah Pejantan Tangguh, akan up di sana juga. Di profil kak Cahaya Nalara!


Insecure Girl.


Bab 1.


Zero Winata, Siswa paling Reseh dan terkenal dengan julukan si Preman Sekolah. Sepertinya punya sifat Tempramental.


Mirza Anggara, Siswa ini terlihat lebih santai dengan gaya ceria serta hati yang baik.


Kedua Siswa ini bukan tak saling kenal, hanya saja, siapa juga yang mau kenal atau dekat dekat dengan yang namanya Zero. Seperti halnya Mirza, dia malas berurusan dengan Zero karena ujung ujungnya ya nanti juga para Gengnya main kroyokan.


Kedua siswa ini berjalan di dua tempat yang berbeda sebenarnya, namun tak sengaja mereka melewati jembatan penyebrangan yang sama dari arah yang berlawanan.


Zero berjalan dengan khas angkuhnya. Mirza berjalan dengan kebiasaan Handset di telinga. Melenggak-lenggok mengikuti irama musik Jaz dari perangkat Ponselnya.


Karena berjalan sembrono tanpa melihat sekitar, Mirza jadi menabrak bahu Zero. Sadar yang ditabrak adalah Si Preman Sekolah, tak ingin berujung ribet urusannya, Mirza cepat meminta maaf. Mengusap usap bahu Zero.


"Maaf. Aku tak sengaja. Kau tidak apa apa?"


Zero dengan wajah tempramentalnya menepis kasar tangan Mirza. Melangkah maju satu langkah. Zero menarik kerah baju Mirza dengan mata membulat. Ekspresi tak terima.


"Hey.. Kau kenapa? Aku sudah meminta maaf!" ucap Mirza melepas cengkeraman tangan Zero dari kerahnya.


Zero masih tak bersuara, menatap dengan tatapan membunuh. Mirza tidaklah gentar, membalas tatapan mata Zero dengan cukup intens.


"Heh, dasar Tempramental." gerutu Mirza, memilih melangkah pergi.


"Dasar Pengecut!" seru Zero.


Mirza menoleh, namun hanya menyeringai tipis kemudian meneruskan langkahnya. Bukan takut ya, hanya ingin menghindari masalah.


Ini di tempat lain.


Seorang anak laki-laki remaja terlihat memasuki sebuah toko. Menoleh kesana kemari seperti sedang mencari sesuatu. Ujung bibirnya tersenyum tipis menyimpan tanda kecurangan. Kemudian anak remaja itu mulai bertanya kepada wanita penjaga toko.


"Ah, kak. Tas warna hitam itu, berapa harganya?" menunjuk Tas yang terletak jauh diatas tatakan.


"Oh yang ini?" menurunkan barang dan memperlihatkan.


Anak remaja itu mengangguk.


"Ini, Dua ratus ribu."


"Kalau yang itu?" menunjuk barang lain.


Penjaga Toko mengembalikan barang yang ada ditangannya dan menjawab pertanyaan Anak remaja itu. Lagi lagi, anak remaja itu kembali bertanya dan bertanya lagi seolah ingin mengalihkan perhatian darinya. Dan lagi lagi Penjaga toko dengan telaten menjawab harga yang ditanyakan.


Dan kelengahan Penjaga Toko dimanfaatkan oleh anak remaja itu. Tangannya menyambar beberapa Notes tempel dan secepat kilat memasukan kedalam tasnya.


Tapi malang, Penjaga Toko menyadari perbuatan Anak remaja itu dan langsung menegur.


"Hei, apa yang kau lakukan?"


Anak remaja itu pucat dengan ekspresi wajah yang gugup. "Tidak, aku tidak sedang melakukan apapun."


"Aku melihat, kau mengambil sesuatu dan memasukannya kedalam tas mu!"


"Eh, eh tidak. Aku tidak mengambil suatu apapun." sadar jika dirinya sudah ketahuan, anak remaja itu memilih untuk kabur.

__ADS_1


Penjaga Toko tidak mungkin tinggal diam. Meneriaki anak remaja itu sambil mengejar.


Anak remaja itu berlari kencang keluar toko sampai menabrak seseorang.


"Zero!" anak remaja itu mengenali yang ia tabrak. Seseorang itu ternyata adalah Zero.


"Kau tidak punya mata ya!" bentak Zero, mendadak jiwa Tempramentalnya kambuh.


"Maaf, aku tidak sengaja. Ah maaf ya, aku buru buru. Permisi." tanpa menoleh lagi, anak remaja itu melanjutkan pelariannya. Seorang wanita berteriak tepat dihadapan Zero.


"Tolong tangkap dia! Dia mengutil di Toko ku. Tolong!" seru Penjaga Toko kepada Zero.


"Benarkah? Tenanglah, aku akan mendapatkannya." selesai bicara Zero langsung mengejar anak remaja itu.


Anak remaja itu masih berlari dan sekarang telah masuki sebuah gang. Menoleh kebelakang, ke kiri dan ke kanan untuk memastikan.


Setelah merasa aman, dia menghentikan larinya, berjalan santai sambil tersenyum menepuk nepuk tas yang berisi barang curiannya.


"Heh!" tanpa disadarinya, Zero sudah berada di depannya menghadang langkahnya.


Anak remaja itu tentu terkejut. "Kenapa kau mengikuti ku?"


Zero terlihat sinis, menghampiri dan menarik paksa Tas anak remaja itu.


"Apa yang kau lakukan? Ini tas ku!" Anak remaja itu tentu mempertahankan Tas nya.


"Kembalikan apa yang sudah kau curi!" Zero masih berusaha merebut tas.


"Aku tidak mengambil apapun!" bantah Anak remaja itu , sikukuh mempertahankan miliknya.


"Kalau begitu aku ingin memeriksanya!"


Adegan rebutan pun terjadi. Zero yang memiliki tubuh tinggi besar dengan otot yang kekar sudah pasti memenangkan. Zero segera memeriksa isi tas itu. Dan benar saja, beberapa Notes Tempel ada di dalam sana.


"Apa ini? Kau mencurinya?" Zero melotot pada anak remaja itu.


"Cepat kembalikan, atau aku akan menghajarmu!" ancam Zero.


Karena kesal, Zero memukul wajah anak remaja itu hingga anak itu terjatuh.


"Kecil kecil sudah belajar menjadi pencuri kau ya!" Zero menghampiri anak remaja yang sudah jatuh itu dan kembali akan memukulnya.


"Hentikan!" suara pria muncul dari belakang.


Zero menoleh, matanya langsung memerah kesal.


"Kau rupanya. Pengecut yang tadi menabrak ku." kini Zero beralih menatap Pria yang tak lain adalah Mirza itu.


"Kau yang pengecut. Tidak tahu malu, menindas yang lebih lemah. Dia itu anak ingusan! Benar benar kejam!"


"Tutup mulutmu! Aku bukan pengecut! Dia yang sudah berbuat masalah!" sahut Zero dengan sangat marah.


"Kalau kau bukan pengecut, lepaskan anak itu dan lawan aku!" tantang Mirza.


Terang saja si Zero semakin dibuat kesal. Secara kan Dia Preman Sekolah, mana bisa di tantang sedemikian rupa. Sikap Tempramental nya langsung meningkat.


Tanpa berbicara lagi, Zero langsung memberi hadiah tinjuan kepada Mirza. Mirza pun tak mau kalah membalas serangan Zero. Kedua pria itu kini adu jotos, dan kesempatan itu tidak sia siakan oleh Anak remaja itu. Dia memilih kabur menyelamatkan diri.


Dengan nafas ngos ngosan berlari pulang.


Sampai dirumahnya ia di sambut oleh kakak perempuannya yang entah apa sebabnya menutupi wajahnya dengan sebuah kardus.


Melihat wajah dan tangan adiknya lebam tentu dia khawatir dan bertanya. "Apa yang terjadi padamu Pahmi?"


"Aku, aku terjatuh." jawab Pahmi segera duduk di sofa.


Pak Abim, Ayah mereka masuk dari arah dapur menghampiri mereka. Melihat putranya terluka tentu saja langsung ikut khawatir.


"Alya, cepat ambil obat!" menyuruh Putrinya mengambil obat. Alya pun mengambil obat dan membantu mengobati luka Pahmi.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa terjatuh?" tanya Pak Abim.


"Ya bisa lah! Aku berlari dan tak sengaja tersandung." Pahmi berkilah. Mana mungkin Pahmi mengatakan yang sebenarnya terjadi. Ia memilih untuk berbohong.


Tapi Alya sepertinya tidak mempercayai pengakuan adiknya.


"Dilihat dari lukanya, kau tidak dari terjatuh. Bagaimana mungkin wajahmu lebam seperti ini? Ini adalah hasil dari sebuah pukulan."


"Ayah, dia berbohong! Dia pasti dari berkelahi!" seru Alya.


Pak Abim melotot. "Kau berkelahi?" bertanya dengan nada penuh tekanan.


"Tidak ! Aku tidak berkelahi Ayah. Aku, aku di pukul seseorang." jawab Pahmi dengan sedikit takut.


"Di pukul seseorang? Kenapa? Apa masalahnya? Apa kau membuat masalah?" tanya Pak Abim langsung mengintrogasi.


"Aku tidak membuat masalah Ayah. Orang itu memukulku tiba tiba." Pahmi masih berusaha berkelit.


"Itu tidak mungkin. Orang tidak akan memukulmu jika kau tidak melakukan kesalahan. Jujur pada kami, atau kau sedang belajar untuk berbohong?" sekarang giliran Alya yang mengintrogasi.


Setelah terus dicerca pertanyaan terus menerus akhinya Pahmi pun mengatakan yang sebenarnya.


"Aku tadi hanya membeli barang dan lupa membayarnya."


"Hah! Apa? Itu namanya mencuri Pahmi! Pantas saja kau di pukul!" ucap Alya sambil memukul Adiknya. Pak Abim pun jadi kesal dan ikut menghukum putranya.


"Dasar anak kurang ajar. Kau mengutil. Toko mana yang sudah kau ambil barangnya hah!" Pak Abim juga memukul tubuh Pahmi.


"Ampun.. Ampun!" Pahmi berteriak, berusaha menghentikan dua serangan padanya.


"Aku hanya sekali ini membuat masalah. Kenapa kalian begitu marah? Sebenarnya kak Alya lah sumber masalah terbesar dirumah ini!" ucap Pahmi. Kedua orang itu langsung berhenti dan saling memandang.


Pak Abim kembali melotot ke arah putranya.


"Apa kau bilang? Kakakmu sumber masalah? Berani sekali kau! Tutup mulut mu itu!" Pak Abim menunjuk Pahmi.


"Bagaimana tidak sumber masalah! Lihatlah, dia selalu diam di dalam rumah dan menutup kepalanya dengan kardus itu selama lima tahun. Dia sudah menyusahkan aku dan Ayah. Membuat Ayah menangis setiap hari karena memikirkannya. Apa itu namanya jika bukan sumber masalah." Pahmi menunjuk kepala kardus Alya.


Mendengar ucapan Adiknya, tubuh Alya gemetaran dan dadanya terasa sesak tiba tiba.


"Benarkah aku sumber masalah Ayah?" Alya menangis. Tentu saja pak Abim langsung panik melihat anak gadis kesayangannya menangis.


"Sayang, sayang. Jangan dengarkan mulut Pahmi. Kau bukan sumber masalah. Tenanglah jangan menangis." Pak Abim segera meraih bahu Alya untuk menenangkan. Tapi Alya mendorong tubuh Ayahnya.


"Aku memang sumber masalah!" Alya berlari ke kamarnya sambil menangis.


"Aku benci kalian! Aku benci dunia ini. Aku ingin mati saja!" Alya berteriak di dalam kamarnya.


Pak Abim menoleh pada Pahmi yang ketakutan.


"Kau ya! Kenapa bicara seperti itu? Kau menyakiti hatinya Pahmi!" Pak Abim kembali memberi hadiah pukulan di tubuh Pahmi.


"Ayah, aku tidak bermaksud begitu. Aku hanya berusaha membantu Ayah agar kak Alya mau keluar rumah dan melepaskan kardusnya." bantah Pahmi.


Pak Abim ambruk di kursi. Menggeleng gelengkan kepalanya sambil menangis.


"Dia sudah sangat menderita selama ini. Kau tau itu. Dia patah semangat dan kehilangan kepercayaan diri. Aku memikirkan itu siang malam dan belum dapat solusi.


Dan hari ini kau malah menambah masalah lagi. Kali ini dia benar benar tidak akan mau keluar kamar dan makan apapun." Pak Abim menangis tersedu sedu membuat Pahmi merasa bersalah.


"Ayah, kita harus berusaha lebih keras lagi untuk membantu kak Alya keluar dari masalahnya. Kita pasti akan mendapatkan jalan."


"Ayo lah Ayah semangat! Semangat!"


_________


sampai jumpa di sana kak? Dan ingat, Kelanjutan Pejantan Tangguh akan ada disana dan Beberapa kisah menarik lainnya.


Jangan lupa, ketik Insecure Girl!

__ADS_1


Nama Pena, Cahaya Nalara.


__ADS_2