![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Hari ini, Nathan menepati janji.
Sepulang dari menengok Ellena di Rumah sakit, Nathan menghubungi Ken untuk membahas rencana persiapan pernikahan Ellena dan Fic.
Ken yang saat ini sedang berada di rumah besar keluarga Fiandi bersama Rimbun dan Khale segera berpamitan.
"Jelek. Tuan Nath meneleponku. Memintaku datang untuk membahas pernikahan Nona Ellena. Aku harus kesana dulu. Kau disini saja bersama Khale, nanti aku jemput." ucap Ken pada Rimbun.
Mendengar itu Kakek Fiandi membelalak.
"Nona Ellena akan menikah?" tanya pria yang sudah terlihat renta itu, bahkan sekarang berjalan sudah dibantu dengan sebuah tongkat khusus.
"Iya Kek. Nona Ellena akan menikah." Rimbun yang menjawab pertanyaan Kakeknya.
"Khale? Ah, maksudnya menikah dengan Khale kan? Kenapa kalian diam diam? Tidak memberi tahu Kakek?" Kakek mendekat, duduk di samping Khale.
"Kakek. Nona Ellena akan menikah, tapi bukan dengan Khale." Rimbun kembali menyahut. Kakek tentu saja semakin terbelalak.
"Ken! Apa ini maksudnya? Bukan kah kau dan Tuan Nath sudah punya perjanjian untuk menikahkan Khale dan Nona Ellena?" Kakek kini menoleh pada Ken.
"Kami memang punya perjanjian itu Kakek. Tapi mau bagaimana lagi jika keduanya saling tidak menyukai. Sebagai seorang Ayah, aku dan Tuan Nath tentu tidak akan egois." jawab Ken.
"Ken benar Kek? Baik Nona Ellena dan Khale sama sama tidak saling cinta." Rimbun membenarkan ucapan Ken.
Kakek terlihat terdiam. Kemudian menoleh pada Khale.
"Kau tidak menyukai Nona Ellena? Kakek buyut rasanya tidak percaya."
"Kakek Buyut, meskipun Khale menyukainya kalau Ellena sendiri tidak, masa harus di paksa." sahut Khale.
"Lalu, dengan siapa Nona Ellena akan menikah?" Kakek bertanya pada Ken.
"Fic , Kek. Ternyata Nona Ellena selama ini diam diam menyukai Fic. Begitu juga sebaliknya. Saat ini kondisi jantung Nona sedang bermasalah. Tuan Nath ingin Nona Ellena cepat menikah agar Nona lebih tenang." sahut Rimbun kembali.
"Baiklah Aku pergi dulu. Nanti aku kemari lagi untuk menjemputmu Sayang." Ken berpamitan lada Rimbun. Menyuruh Khale agar disini saja menemani Ibunya.
Selepas kepergian Ken, Kakek terlihat menarik nafas.
"Fic? Ck,.. Bisa bisanya Tuan Nath membatalkan perjanjiannya hanya demi kepala pelayan itu." Kakek menggelengkan kepalanya.
"Kek, jangan seperti itu. Fic memang hanya kepala pelayan. Tapi dia pria yang tangguh dan bertanggung jawab. Ku rasa Tuan Nath tidak akan salah jika menyetujui Fic sebagai Suami Nona Ellena. Semua juga sudah mengenal siapa Fic." timbal Rimbun.
Kakek kembali menarik nafas. "Padahal, aku sangat berharap keluarga Fiandi akan bersatu dengan Keluarga Edoardo. Dengan pernikahan Khale dan Nona Ellena akan berdampak baik untuk perusahaan kita."
"Kakek, kenapa malah memikirkan Perusahaan sih? Pikirkan perasaan mereka. Khale juga tidak mungkin menikahi wanita yang tak menginginkannya." kembali Rimbun menyahut.
________________
Sementara saat ini, Ken sudah bersama dengan Nathan di ruangan tengah.
"Apa kau sungguh ikhlas jika Fic menikahi Ellena Ken?" Nathan menoleh menatap Ken.
Ken tersenyum tipis. "Kenapa Tuan bertanya seperti itu?"
"Ah, aku hanya takut kau kecewa dan berbeda pendapat dengan ku. Selama ini kita selalu bersama dalam hal apapun, dan tidak pernah berbeda pendapat sekalipun."
Ken menarik nafas,
"Itu kau tau. Artinya sekarang juga kita tidak akan berbeda pendapat." Sahut Ken.
"Apalagi ini masalah Hati, seperti kita ini sudah tidak bisa ikut campur lagi, Tuan. Kita pernah muda bukan? Lalu tentang Fic, Kita sudah mengenal baik siapa Fic. Dia tidak mungkin di ragukan lagi. Dalam hal apapun itu." sambung Ken meyakinkan agar Nathan tidak meragukan lagi keikhlasannya.
"Kau benar Ken. Terimakasih." Nathan menepuk bahu Ken.
"Apa kau tidak ingat, dulu kita pernah membahas ini sebelum Putra Putri kita lahir? Kita ingin menjodohkan mereka, kemudian salah satu dari mereka tidak suka,"
"Lalu kabur!" sela Nathan. Keduanya kini terbahak keras mengingat obrolan mereka dahulu sebelum Triple K dan Ellena ada di dunia.
"Ah baiklah. Lalu bagaimana rencana pernikahan mereka. Apa akan ada Pesta besar atau?"
__ADS_1
"Tidak Ken. Kau tau bagaimana Ellena. Dia tidak suka Pesta ataupun keramaian. Jadi lebih baik, acara sederhana saja." potong Nathan.
Ken mengangguk. "Ada baiknya juga untuk kesehatan jantung Nona Ellena. Kerena keramaian , tidak baik untuk kesehatan Nona saat ini." sahut Ken.
"Baiklah Ken. Kita akan menikahkan mereka setelah Ellena pulang dari rumah sakit. Siapkan semuanya. Undang kerabat dekat kita saja."
Ken kembali mengangguk.
Hari ini juga Nathan dan Ken langsung terlihat sibuk menghubungi sana sini terkait persiapan untuk resepsi pernikahan Fic dan Ellena.
Mereka sengaja tidak mencetak undangan, karena berniat untuk mengundang mereka dengan mendatangi satu satu secara langsung.
________
Epilog.
Pagi pagi, Nathan dan Mira sudah terlihat melangkah menuju ruangan dimana Ellena dirawat dengan wajah penuh ketenangan.
"Pagi sayang!" Mira menyapa berbarengan dengan membuka pintu ruangan.
"Pagi Ibu. Ayah." Ellena menyambut dengan mata yang berbinar bahagia.
Mata Mira langsung fokus pada tangan Fic yang sedang menyisir rambut Ellena.
'Wajar kalau Ellena jatuh cinta pada Fic. Dia begitu perhatian.' batin Mira.
Fic cepat mengangguk pada mereka berdua lalu kembali pada rambut Ellena. Fic mengikat rapih rambut Ellena keatas. Kemudian segera beranjak untuk menyisih.
"Bagaimana keadaan Ellena Fic?" tanya Nathan pada Fic.
"Aku sudah diperbolehkan pulang hari ini Ayah!" seru Ellena.
Nathan tersenyum. "Ayah tau. Dokter sudah menelpon Ayah semalam, jika pagi ini kau sudah boleh kembali ke rumah."
"Tuan, kalau begitu aku akan segera mengurus administrasi Nona." ucap Fic.
Nathan mengangguk.
"Fic harus mengurus biaya administrasi dan surat keterangan dari Dokter Ellena. Biarkan dia pergi sebentar saja. Ada Ayah dan Ibu yang menemanimu." sahut Nathan.
Ellena hanya mengangguk. Fic pun melangkah.
"Ellena. Ayah dan Paman Ken sudah menyiapkan untuk hari pernikahanmu. Jadi setelah beberapa hari di rumah nanti, kau akan segera menikah." ucap Mira mengelus punggung Ellena.
"Benarkah? Jadi Ellena dan Fic sungguh akan menikah secepatnya?" Ellena menatap Ibu dan Ayahnya secara bergantian.
Nathan mengangguk. "Semoga saja dengan pernikahan kalian, kau bisa lebih baik dan sehat Ellena. Ayah hanya ingin kau mendapatkan kebahagiaanmu. Jangan memikirkan apapun lagi sekarang. Pikirkan lah kesehatanmu saja."
Ellena kembali tersenyum. "Terimakasih Ayah. Terimakasih. Ellena mengira tidak akan semudah ini untuk bersatu dengan Fic. Kami saling mencintai Ayah. Ellena mencintai Fic." memandangi kedua orang tuanya.
"Baiklah, Ibu akan mengemasi barang-barangmu, agar setelah Fic kembali kita sudah siap." ucap Mira.
"Iya Bu, Ellena mau ke kamar mandi sebentar." Ellena bangun dan melangkah.
"Biar Ibu antar!"
"Tidak usah Bu, Ellena sudah kuat." Ellena tetap melangkah ke kamar mandi.
Mira sendiri segera membereskan barang barang milik Ellena, memasukkannya ke koper kecil.
"Kenapa Putrimu lama?" tanya Nathan pada Mira setelah beberapa lama Ellena berada di dalam kamar mandi.
Mira menoleh ke pintu kamar mandi, Kemudian menghampiri dengan perasaan kembali khawatir.
"Ellena! Apa ada sesuatu? Kenapa lama sekali sayang?" Mira mengetuk pintu.
"Sebentar Bu! Aku belum selesai!" sahutan Ellena seketika membuat Mira dan Nathan Lega.
Mira kembali melangkah, namun kembali menoleh ketika terdengar pintu kamar mandi terbuka.
__ADS_1
Mira terbelalak, wajah Ellena memucat dengan keringat dingin membasahi wajah. Tangannya berpegangan disisi pintu menahan tubuhnya yang gemetaran.
"Ellena!" Jerit Mira cepat menghampiri.
Nathan yang mendengar suara Mira pun segera menoleh dan berlari.
"Sayang, sayang kau kenapa?" Merengkuh tubuh Putrinya yang langsung ambruk diperlukan Nathan.
"Ellena!" Nathan pun menjerit ketika tubuh Ellena kejang kejang.
Fic yang baru masuk pun sangat terkejut. Cepat berlari mendekat.
"Nona!" Saraf di tubuh Fic menegang menyaksikan itu.
"Apa yang terjadi Tuan?" tanya Fic,wajahnya seketika memucat.
"Aku tidak tau, aku tidak tau Fic. Ellena ke kamar mandi dan tiba tiba sudah seperti ini."
Tanpa bertanya lagi, Fic segera mengangkat tubuh Ellena dari pangkuan Nathan dan membawanya ke Ranjang.
"Aku akan memanggil Dokter!"
"Cepat Fic!"
Fic langsung berlari keluar untuk memangil Dokter.
Tak lama Dokter pun tiba bersama beberapa tim Medisnya.
"Tolong keluar semua."
Mereka hanya bisa pasrah ketika seorang perawat mengusir mereka dan menutup pintu.
"Jantungnya berhenti Dokter!" seru salah satu tim Medis.
"Ya Tuhan!" Pekik Dokter, segera mengeluarkan AED (automated external defibrillator) sebuah alat medis yang dapat menganalisis irama jantung secara otomatis dan memberikan kejutan listrik untuk mengembalikan irama jantung Ellena yang saat ini berhenti.
Beberapa kali Dokter terlihat menempelkan Alat itu ke dada Ellena.
Beberapa saat kemudian terlihat Dokter bernafas lega saat detak jantung Ellena berhasil kembali.
"Selamat datang kembali Nona." menoleh pada beberapa perawat.
"Pindahkan Nona Ellena ke ruang ICU!" Perintah Dokter yang segera di balas anggukan oleh Tim Medisnya.
Yang di luar, tiga orang itu bukan hanya cemas. Tapi sudah lebih dari itu. Mira tak berhenti menangis di dada Nathan. Fic duduk memangku kepalanya dengan kedua tangannya.
Seketika semua menoleh saat pintu di buka, melihat beberapa Perawat mendorong tubuh Ellena keluar menuju ruangan lain.
Dokter juga terlihat tergesa mengikuti.
Fic berlari menahan Dokter. Nathan juga menghampiri.
"Apa yang terjadi pada Nona?" Fic bertanya.
"Tuan. Jantung Nona Ellena tadi sempat berhenti. Belum jelas apa penyebabnya. Beruntung masih bisa kembali. Ini masalah serius, kami harus cepat menangani. Permisi." belum sempat Nathan bertanya Dokter sudah berlalu menyusul Para Perawat.
"Nona!" tak mempedulikan Nathan yang masih menenangkan Mira yang menjerit, Fic ikut berlari menyusul Dokter.
"Nona, Nona!" Fic menyusul hingga ke pintu ruangan ICU.
Brak!
Pintu Ruangan ditutup mereka.
"Ellena!" Fic hanya bisa mengepalkan tangannya di pintu yang sudah tertutup itu.
"Argh.....!" Fic meremas rambutnya.
"Kau kenapa lagi? Tadi pagi kau sudah membaik. Ku mohon Ellena. Jangan membuatku takut!"
__ADS_1
_____________