![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
[Tuan Putri,
Nona Ellena ku,
Maafkan Fic.
Sungguh, maafkan Fic yang tidak bisa lagi menemanimu. Tidak bisa lagi menjagamu.
Saat Dokter mengatakan jika jantungmu tidak bisa lagi berfungsi, tubuh ku terasa ringan. Aku tidak bisa lagi berpijak. Saat kami tidak bisa mendapatkan donor jantung untuk mu, dunia menjadi gelap di mataku.
Aku tidak punya pilihan untuk ku pilih, selain hidupmu. Maafkan aku, sekali lagi maafkan aku. Aku hanya ingin kau hidup.
Aku tau ini akan menyiksamu, tapi percayalah. Jika kau menatap ke depan, kau akan melihat cahaya.
Ellena,
Aku mencintaimu, tidak ada yang lain. Dan aku menepati janjiku untuk tidak kemana mana. Aku ada didalam dirimu. Ada didalam dadamu. Untuk selamanya.
Berjanjilah padaku, untuk tetap bahagia.
Hiduplah dengan baik Ellena, karena itu akan membuatku senang.]
Fic'
Tubuh Ellena gemetar. Matanya masih terus menatap kertas di tangannya itu. Membacanya berulang kali. Air matanya pun sudah tak berhenti. Menetes dan membasahi kertas itu.
"Apa maksudmu Fic?" bibir Ellena cukup bergetar. Kini menoleh pada Ayah dan Ibunya kemudian pada Khale.
"Ayah.."
"Ellena." Nathan ingin merengkuh Putrinya.
"Jadi!!" Ellena tiba tiba bangun. Memegangi dadanya.
"Jantung yang ku pakai saat ini, adalah Jantung milik Fic?" Ellena mencengkram kedua lengan Nathan.
"Maafkan Ayah Nak."
"Ayah. Katakan jika ini bohong!"
"Tidak! Ini tidak mungkin kan Ayah? Jantung ini milik orang lain kan? Bukan punya Fic?" Ellena masih mengguncang lengan Ayahnya.
"Keputusan Fic tidak bisa di ganggu gugat. Dia, dia memaksa. Kami tidak kuasa untuk mencegah. Ellena. Maafkan Ayah!" Nathan mendekap tubuh Ellena yang langsung melemah.
"Tidak Ayah. Kau pasti bohong." Ellena merintih.
"Kau harus kuat sayang. Kau harus menyenangkan Fic disana. Agar pengorbanan Fic tidak sia sia."
"TIDAK...!!!" Ellena berontak dari pelukan Nathan.
"Arg ..... Arg ...!" Ellena menjerit jerit, menjambak rambutnya sendiri.
"Kenapa? Kenapa kalian membunuh Fic?"
"Kenapa memisahkan kami Ayah! Apa salah kami?"
"Ellena. Ellen." Mira sudah tidak bisa berbuat apa apa lagi, kecuali merintih.
"Kalian sudah membunuh Fic! Kalian membunuh Fic!"
"Kenapa tidak membunuh ku sekalian!!"
"Ellena!" Nathan kembali merengkuh tubuh Ellena. Namun Ellena meronta.
__ADS_1
"Ellena, tenang lah Nak. Ayah mohon tenanglah. Kasian Fic, Ellena." Nathan berusaha menahan tubuh Ellena yang terus meronta.
Khale hanya bisa mencengkeram dinding melihat Ellena yang begitu terpukul.
"Fic...! Kenapa pergi...? Kenapa kau tidak membawaku serta? Fic....! Aku ingin ikut! Fic... Aku ikut!" Ellena semakin meronta.
"Aku ingin bersama Fic, tapi kalian membunuhnya. Kenapa? Kenapa?" suara teriakan Ellena menggema dalam ruangan.
"Aku benci kalian. Aku benci kalian."
"Ellena...!" Nathan mengeratkan pelukannya.
"Lepas Ayah! Lepas! Aku mau mati saja! Aku ingin menyusul Fic!" Ellena terus meronta dalam kukungan tangan Nathan.
"Ellena..." Mira kini menjerit.
"Khal,! Cepat hubungi Dokter!" seru Nathan.
Tanpa bicara, Khale segera merogoh hpnya untuk menghubungi Dokter.
"Ellen. Dengarkan Ayahmu. Tenang dulu sayang!"
"Tidak! Lepas...! Lepaskan aku! Aku membenci kalian!" Ellena memukul mukul dada Ayahnya.
"Aku ingin pergi. Aku ingin menyusul Fic Ayah! Aku tidak mau ditinggal Fic!"
"Fic... Aku ikut kamu! Aku ikut!" Ellena semakin kuat meronta.
Cukup lama Nathan menahan tubuh Ellena. Dengan bantuan Khale juga. Hingga dokter datang dan berlari cepat mendekati Ellena.
"Tolong Putriku! Bagaimana ini?" seru Nathan dengan kepanikan yang besar.
Tanpa berbicara, Dokter yang susah siap itu menyuntikkan obat penenang pada lengan Ellena.
"Ayah Jahat! Ayah jahat!"
"Aku ingin menyusul Fic. Aku ingin menyusulnya Ayah. Lepaskan Ellena!" Teriakan Ellena semakin melemah.
"Fic.. jangan tinggalkan aku. Bukan kah kita akan menikah? Fic, ku mohon kembali padaku." kini tubuh Ellena melemah dan akhirnya tak sadarkan diri di pelukan Nathan.
"Ellena." Mira cukup tertekan melihat keadaan Putrinya.
Nathan kemudian membawa tubuh Ellena ke ranjang.
"Bagaimana keadaannya Dokter?" Mira bertanya.
"Saya sudah memberi obat penenang untuk Nona Ellena. Semoga ini bisa membuatnya tenang."
"Bagaimana jika dia sadar nanti dan mengamuk lagi?" tanya Nathan.
"Semoga saja tidak Tuan. Yang bisa kalian lakukan saat ini hanyalah bersabar. Bukanlah kita sudah memprediksikan jika keadaan ini pasti akan terjadi pada Nona?"
Mereka hanya bisa memejamkan mata sejenak dengan ucapan sang Dokter.
Memang benar. Kondisi ini, sudah mereka duga dari awal. Ellena pasti akan syok berat saat tau jika Fic lah yang mendonorkan jantungnya untuk dirinya.
Dokter sudah kembali dengan di antar oleh Khale.
Mira yang masih tertekan terlihat menyadarkan punggungnya di sofa.
Nathan, dia terus mengusap telapak tangan Ellena yang masih terpejam diatas Ranjang.
"Maafkan Aku. Aku sungguh Ayah yang tidak berguna."
__ADS_1
Mira melirik, kemudian menghampiri suaminya.
"Jangan menyalahkan dirimu Nath."
"Aku sudah membuat putriku menderita seperti ini Mira. Seharusnya pada saat itu aku mencegah Fic untuk bertanda tangan. Tapi aku malah ikut mendukungnya. Apa yang akan terjadi pada Ellena setelah ini? Apa aku akan kuat melihatnya bersedih setiap hari, Mira?"
"Kita akan menghadapi apapun itu Nath. Kita tidak boleh menyerah. Seiringnya berjalannya waktu, Luka Ellena pasti akan sembuh."
Hati Nathan semakin teriris. Mira tidak pernah tau yang sesungguhnya terjadi, jika setelah Ellena membaik, maka Nathan harus siap menikahkan Ellena dengan pria yang bahkan Nathan sendiri belum tau siapa pria yang di maksud dalam perjanjian yang ia tanda tangani saat itu.
Jika itu pria baik, jika tidak? Bukankah sama saja Nathan mendorong Putrinya sendiri ke lembah penderitaan?
'Aku tidak akan membiarkan itu terjadi Ellena! Lebih baik aku di penjara seumur hidupku dari pada harus menikahkan mu dengan pria yang belum jelas itu.'
_______
Hari berganti hari,
Harapan semua orang jika Ellena akan bisa melewati masa sulitnya ternyata salah.
Pernah sekali waktu, Khale membawanya Ellena mengunjungi Makam Fic. Itu pun atas permintaan Ellena sendiri meskipun Nathan sudah berusaha mencegah. Benar saja, yang ada Ellena beberapa kali pingsan disana.
Keadaaan baik Fisik maupun Psiki Ellena memburuk. Tidak ada yang di lakukan Ellena sekarang ini kecuali hanya duduk di sisi ranjang sambil menatap kosong. Ellena tidak bisa lagi berpikir jernih. Makan atau pun mandi sudah tidak teratur.
Sesekali Ellena terlihat tersenyum menyentuh ujung bibirnya. Bayangan Fic menciumnya, bayangan Fic memanjakannya. Lalu selang beberapa detik, butiran butiran bening kembali berjatuhan di pipinya. Mendekap tubuhnya sendiri.
"Kenapa melakukan ini padaku? Seharusnya biarkan saja aku mati. Dari pada harus meninggalkan aku dengan cara seperti ini."
Berbulan keadaan itu berlaku, semua orang sudah dibuat patah harapan. Tidak ada yang bisa membujuk Ellena lagi.
'Fic! Kembali lah! Kau tidak melihat bagaimana Ellena tersiksa. Aku saja, aku saja yang akan menggantikan penderitaan kalian!' Nathan menjerit dalam hati.
Ini tengah malam, semua penghuni rumah sudah terbuai ke alam mimpi berbalut kegelisahan yang merundung akibat kesedihan mendalam milik Ellena.
Mira terlihat bergerak bangun untuk ke kamar mandi. Hanya sebentar saja, Mira sudah kembali dan segera ingin naik ke atas ranjang lagi.
Tapi matanya cepat menoleh ke benda tipis milik suaminya yang terus bergetar.
"Siapa malam malam begini menelepon Nathan?" rasa penasaran yang membuncah, Mira meraih benda itu.
Nomor tidak dikenal!
Mira ingin menarik tombol hijau, tapi panggilan itu berakhir.
Hati Mira masih diliputi penasaran.
Tidak seperti biasa, ada yang menghubungi suaminya malam malam begini. Apalagi ini nomor baru. Mira meletakkan hp itu kembali.
Tapi tiba tiba, Hp itu kembali bergetar.
Mira cepat menyambarnya dan mengangkat panggilan.
[Tuan Nath!]
"Hah!...!" Mira memekik, melempar hp itu ke atas kasur.
Nathan yang masih tertidur, sontak terbangun karena teriakan Mira.
"Mira! Ada apa?" cepat merengkuh tubuh Istrinya yang terlihat pucat dan syok.
"Fic! Fic!" menunjuk Hp di atas kasur.
___________________
__ADS_1