Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Niat Curang Fic.


__ADS_3

Di kediaman Ken.


Khale dan Kimmy melangkahkan kaki mereka ke dalam rumah. Keyan menyusul dari belakang, mulutnya tak berhenti mengomel, mengumpat dua kakaknya yang tak menggubrisnya.


Ketiganya menghempaskan pantat ke sofa dengan kasar. Tanpa menaruh tas terlebih dahulu.


"Aku kesal!! Hari ini aku kesal dengan kalian berdua!" Keyan menunjuk kedua kakaknya.


"Apa sih anak ini?" Khale melotot.


"Tau tuh!" Kimmy ikut melotot juga.


"Apa sih, apa sih. Kalian tidak sadar ya, sudah menelantarkan aku?" Keyan sudah berdiri, memukul kepala Kimmy namun tertangkap tangan Kimmy.


"Haha.. Keyan rupanya iri kepada kita Khal. Dia tidak bisa mendekati wanita incarannya. Tidak seperti kita." Kimmy malah mengejek. Khale sendiri, hanya menanggapi dengan senyuman.


"Siapa yang iri? Aku hanya merasa tidak lagi dipedulikan kehadiran ku. Kalian asik dengan dunia baru kalian. Aku merana!! Tau tidak kah!"


"Putra putra Ibu sudah pulang? Kenapa ini? Kalian bertengkar?" Rimbun menyambut dengan semangat, namun segera melotot melihat Keyan dan Kimmy sudah adu mulut.


"Kenapa baru pulang jam segini? Dari mana saja?" Ken juga sudah berdiri, dengan tatapan serius kearah ketiga Putranya.


Seketika, ketiga pemuda itu berdiri dan membungkuk hormat ke arah Ayahnya.


"Ayah. Kami, kami tidak dari mana mana. Hanya, sepulang dari kampus tadi singgah di kafe. Hanya duduk untuk minum soda Ayah. Tidak lebih." ucap Khale.


"Bohong! Mereka bohong Ayah!" celetuk Keyan.


Ken langsung melotot. "Apa maksudmu?"


"Key,.. Kau apa apaan sih?" Kimmy menarik kerah Keyan.


"Kami sungguh hanya di kafe Ayah. Sumpah!" bantah Kimmy untuk meyakinkan Ayahnya.


"Kim! Diam! Biarkan Keyan yang menjawab Ayah." bentak Ken. Kini menoleh pada Keyan yang bersungut-sungut.


"Kami memang hanya duduk di kafe. Tapi," Keyan kini melangkah mendekati Ayahnya.


"Apa Ayah tau, apa yang mereka lakukan?" menunjuk dua kakaknya.


"Katakan pada Ayah, apa?" tanya Ken dengan nada cukup serius.


"Di kampus, seharian aku dicueki. Di kafe pun begitu. Ayah harus tau, Kimmy sedang mendekati Putri dari musuh bebuyutan Ayah! Apa itu tidak memalukan? Lalu Khale juga sama saja. Duduk di kafe, mojok dengan pacarnya. Bagaimana aku tidak kesal, jika sekarang, aku harus menjadi obat nyamuk mereka berdua. Jika aku Protes, mereka mengatakan jika aku iri pada mereka dan malah menyuruhku mencari wanita yang harus ku dekati juga. Menyebalkan!" Keyan mengadu panjang lebar.


Ken dan Rimbun saling melempar pandang. Lalu Ken mendekati Kimmy.


"Benarkah Kim? Kau sedang mendekati Putrinya Ricard?"


Kimmy gelagapan. "Ayah. Tapi Nay gadis yang baik, Ayah. Dia juga sopan dan lembut. Maafkan Kimmy." Kimmy menunduk.


Ken tergelak kecil, menepuk bahu Kimmy. "Kau harus bisa merebut hati orangtuanya. Kau tentu tau, jika orang tuanya pernah membenci Ayahmu. Tidak menutup kemungkinan, jika sekarang pun, mereka masih membenci Ayahmu ini. Dan kalau benar begitu, maka kau perlu perjuangan tentunya."


Kimmy mendongak. "Benar Ayah? Ah, baiklah. Aku akan berjuang."


Rimbun pun tersenyum. Kini Ken beralih menatap Khale. Ken menarik nafas .


"Apa kau sedang Frustasi?" bertanya pada Khale.


Khale menggeleng.


"Ayah serius bertanya padamu Khal. Apa kegagalan pernikahanmu dengan Nona Ellena membuat mu Frustasi? Sehingga kau mencari pelarian?"


Khale mendongak. "Aku sama sekali tidak sedang Frustasi Ayah. Ayah sudah tau sejak dulu , jika aku tidak menyetujui perjodohan kami bukan? Dan, kegagalan pernikahan itu, bukan kah itu harapan kita? Aku bahkan sangat senang dengan kegagalan itu. Artinya, tidak ada hati yang terluka." jawab Khale.


"Ayah tau itu. Tapi, Khale yang ku kenal, tidak sembarangan mendekati wanita. Dan Keyan mengatakan jika kau mojok dengan wanita. Coba jelaskan kepada Ayah!"


"Wanita itu, dia.. Aku sudah mengenalnya sejak dulu. Dia, dia Friya Ayah."

__ADS_1


"Friya?" Ken menoleh pada Rimbun, tentu mereka sudah mengenal Friya dengan baik, bahkan latar belakang Friya. Semasa dulu, Friya sering ke rumah mereka bersama Tripel K. Dan di saat hari pernikahan Ellena pun, Friya menemui mereka.


"Katakan pada Ayah, apa kau memang sudah mempunya hubungan spesial sejak dulu dengan Friya?" tanya Ken kembali.


Khale menggeleng. "Kami tidak memiliki hubungan khusus sebelum ini. Tapi, aku menyukainya dari dulu. Friya pun begitu. Hanya saja, Perjodohan ku dengan Ellena, membuat kami sama sama bungkam dan Friya memilih untuk pergi." jawab Khale.


Tiba tiba, Khale berlutut dihadapan Ken.


"Aku tau, Friya bukan dari kalangan kelas atas seperti kita. Aku tau, Friya bukan wanita idaman kalian. Friya hanya wanita biasa, dari orang biasa. Tapi kami saling mencintai dari dulu Ayah. Tolong jangan salahkan kami." ucapan Putra nya sungguh menyentuh hati Ken. Ken meraih pundak Khale untuk berdiri. Menepuk bahu Khale.


"Aku sungguh kecewa Khal, aku menyesal." ucapan Ayahnya membuat Khale cukup tersentak. Ia tidak menyangka jika Ayahnya akan kecewa padanya.


"Tapi bukan padamu. Melainkan pada diriku sendiri." sambung Ken.


"Maafkan Ayah. Selama ini sudah menjadi penghalang cinta kalian. Berjuanglah! Ayah akan mendukung siapapun Pilihan putra putraku. Ayah yakin, kalian bisa memilih pasangan dengan baik. Yang kalian pilih, sudah pasti yang terbaik."


Sekarang semua tertawa dan bernafas lega. Lain hal dengan Keyan. Wajahnya semakin tertekuk. "Kenapa Ayah tidak memarahi mereka sih? Susah susah aku mengadu, mereka malah yang mendapat dukungan." kesal sendiri dan membanting tubuhnya di sofa.


Mereka semakin tertawa. Ken kemudian mendekati Keyan dan duduk disampingnya.


"Untuk Putra Bungsu Tuan Ken. Kau harus memikirkannya dari sekarang. Mencari pasangan yang baik, dan kenalkan kepada Kami. Perlu kau ingat, Keluarga Fiandi, tidak akan memberi haknya secuil pun kepada cucu cucunya yang belum menikah. Itu sudah menjadi tradisi mereka dari dulu. Karena lajang, dianggap tidak akan bisa serius dalam pekerjaan. Jangan mau kalah dengan kakak kakakmu."


"Bagaimana aku tidak kalah? Mereka sudah memiliki pasangan. Sedangkan aku? Gambarannya saja belum terbayang!" protes Keyan.


Ken tergelak lagi, lalu berdiri. Menghampiri istrinya , meraih tangan Rimbun untuk mengajaknya melangkah pergi. Sebelum melangkah, Ken menoleh kembali ke arah Keyan.


"Kau tak perlu memaksakan diri. Percayalah! Jika sudah waktunya, kau akan bertemu dengan wanita itu. Wanita yang seperti ibumu ini." sembari membelai rambut Rimbun.


"Semua butuh Proses Key. Jika waktunya sudah tiba. Giliran kau yang akan berjuang." Rimbun menambahkan sebelum melangkah.


Ruangan itu dipenuhi gelak tawa Kimmy dan Khale sekarang.


"Haha.. Keyan merana!" ledek Khale.


"Terimakasih Key, berkat aduanmu, Ayah jadi tau tanpa kami harus memberi tahu. Dan kami mendapatkan restu dari Ayah." timbal Kimmy.


"Dasar Sial! Arg..!" Keyan meninju lengan Kimmy dan Khale bergantian. Namun akhirnya ikut tertawa juga. Mereka masih terdengar tertawa sampai melangkah ke kamar masing-masing.


Beralih ke Villa Puncak,


Fic sedang menuntun Ellena, melalui batu batu hitam kecil yang tertata rapi di jalan setapak. Mereka sedang berada di taman. Berada di luar Villa puncak.


Fic membawa Ellena kesebuah bangku khusus dengan meja bundar yang sudah di penuhi buah buahan segar dan minuman. Mempersilahkan Ellena duduk seperti mempersilahkan layaknya Putri Raja.


"Silahkan Tuan Putri." membungkukkan tubuhnya ke depan.


Ellena tergelak, menutup mulutnya dengan tangan. Kemudian duduk.


"Ah Fic. Sore ini sangat indah ya?" mengamati sekiling. Banyak Aneka bunga dan pohon Cemara.


Fic belum duduk, masih menatap Ellena penuh cinta.


"Tentu saja. Sangat indah. Apalagi ada Fic disisi Nona."


"Itu kau tau. Ayo duduklah. Kenapa berdiri?"


Fic tersenyum, kemudian menggeser bangku untuk duduk merapat dengan Ellena.


Fic mengambil buah anggur, dan menyuapkan kepada Ellena.


"Rencananya, Nona ingin berapa hari disini?" tanya Fic.


"Berapa hari? Cepat sekali Fic? Aku ingin berlama lama di sini." rengek Ellena, menggelendot manja di lengan Fic, sambil merebahkan kepalanya di bahu suaminya.


"Ah, iya. Tapi jangan terlalu lama. Kasian Orang tua Nona, pasti merindukan Nona."


"Mereka akan mengerti Fic. Ayolah. Kita satu bulan atau dua bulan disini, atau lebih dari itu."

__ADS_1


Fic terperangah, "Astaga, itu terlalu lama Ellena. Kita harus memikirkan kesibukan Tuan Nath. "


"Alah.. Ayah sudah biasa repot semenjak tidak ada kamu. Apa bedanya sekarang. Pokoknya aku mau lama disini! Aku ingin melepas semua kerinduan ku kepadamu tanpa ada gangguan dari ketukan pintu tiap pagi siang dan sore hari. Belum lagi Ayah dan Ibu, tiap saat memanggilku." Ellena masih merengek.


"Tapi sekarang lain Ellena. Kau sudah menikah, mereka tidak akan begitu lagi."


"Pokoknya tidak mau! Aku akan berbicara pada Ayah nanti. Aku ingin agak lama berada disini. Titik!" kalau sudah begini, Fic hanya bisa menghela nafas. Mana bisa dia menentang kehendak Ellena.


"Baiklah. Kita akan lama disini, bila perlu pulang setelah kau Hamil."


"Hamil?" sekarang Ellena yang terperangah. Menarik kepalanya untuk menatap Fic. Ellena belum memikirkan itu, kehamilan untuk dirinya. Membayangkannya saja belum pernah.


"Kenapa? Nona tidak ingin hamil?" tanya Fic.


"Aku,.Aku, ah, Aku belum mau hamil Fic? Bukan tidak ingin."


Fic tergelak. "Kenapa? Bukan kah itu yang ditunggu setiap pasangan?"


"Ah Fic. Jangan dulu. Aku kan masih ingin kau manja. Aku masih ingin menikmati masa kita berdua. Jika kita punya anak, cinta mu pasti akan terbagi. Aku tidak mau!" Ellena merengek lagi sambil menggeleng gelengkan kepalanya.


Fic pun kembali tergelak. "Cintaku tidak mungkin terbagi. Aku akan punya cinta Dua ratus persen. Seratus persen untuk mu, seratus persen untuk anak kita. Bagaimana?"


"Tidak mau Fic, itu sama saja!" Ellena bersikeras, mengguncang lengan Fic dengan keras.


Fic kembali menghela nafas. "Kau lucu Ellena. Kalau kau tidak hamil, Aku bisa dipecat dua kali oleh Tuan Nath."


"Dua kali? Maksudnya."


"Apa kau tidak tau, jika aku akan segera kehilangan pekerjaan ku sebagai Kepala Pelayan di Rumahmu. Dan jika kau tidak hamil, Aku bisa dipecat menjadi Menantunya."


Ellena tertawa sekarang. "Ayah tidak mungkin melakukan itu. Jika memecatmu sebagai Kepala Pelayan, itu baru pilihan bijak."


"Bijak darimana. Aku kehilangan pekerjaan. Baru saja menikah, malah tidak bekerja. Bagaimana aku akan menafkahi istriku?"


"Haha.. " Ellena tertawa keras.


"Kau kan harus menggantikan Ayah di Perusahaannya Fic."


"Aku?" Fic menunjuk dirinya sendiri.


"Terus siapa? Triple K. Mana mungkin? Mereka sibuk dengan Perusahaan Kakeknya. Paman Ken? Dia juga semakin Tua. Harapan Ayah hanya kamu Fic."


Fic terdiam sekarang.


"Tidak mungkin aku kan Fic. Kau tau, aku tidak tau apa apa tentang perusahaan." sambung Ellena.


"Itu semua salahmu. Kenapa tidak mau bersekolah, malah memilih untuk menikah."


Ellena langsung cemberut. "Kau menyesal sudah menikahiku ya?" memukul bahu Fic.


"Eh, tidak. Fic tidak bicara seperti itu."


Cepat berdiri dan menarik tubuh Ellena agar bangun. Kemudian menggendongnya.


"Fic tidak pernah menyesal. Fic sangat bahagia Nona." berputar beberapa kali. Lalu menurun kan kembali. Fic melingkarkan kedua tangannya di pinggang Ellena.


"Aku akan menuruti apapun keinginan Nona. Apapun itu, semampuku." memandangi wajah Ellena.


"Termasuk, jangan punya anak dulu?" Ellena memiringkan wajahnya.


Fic mengangguk, "Tapi tergantung pemberian Yang Kuasa. Jika sudah diberi sekarang, mana mungkin kita bisa menolak."


"Baiklah, tapi akan berdoa agar aku tidak cepat cepat hamil dulu." jawab Ellena.


Fic mengangguk saja. "Ah iya Tuan Putri. Semoga doamu terkabul."


Dalam hati Fic terkikik.

__ADS_1


'Aku akan membuatnya setiap malam tanpa penghalang apapun Ellena. Aku juga akan berdoa, Agar doamu tidak terwujud.' baru kali ini Fic berniat ingin mencurangi Ellena.


________


__ADS_2