![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Ellena masih sesekali mengusap air matanya. Walaupun hatinya kini diliputi rasa bahagia yang tiada Tara, tapi jauh di dalam sana harus menyimpan rasa sedih yang besar. Mengingat pengorbanan Fic untuknya. Lalu membayangkan saat Fic harus tinggal di pedesaan yang mungkin jauh tidak baik bila di banding rumah ini.
"Ya Tuhan. Terimakasih telah menjaga Fic untukku." ucapnya lirih Ellena mendekap kembali tubuhnya sendiri. Jika saja darah Fic sama dengannya, mungkin saat ini Ellena tidak akan pernah mendapatkan kenyataan dari Ayahnya seperti ini. Ia benar benar akan kehilangan Fic untuk selamanya.
"Aku harus menyusul Fic!"
"Tapi, bagaimana caranya aku bisa keluar dari rumah ini tanpa ada yang tau?" sama halnya dengan Ayahnya, Ellena pun memikirkan cara.
Ellena nampak berpikir keras, kemudian ia bangun untuk keluar kamar. Melangkah ke dapur, mengamati satu persatu pelayan wanita dan melempar senyum ke arah mereka.
Para pelayan langsung menyapa dengan bahagia. Meraka begitu heran. Baru kali Ellena melangkah ke dapur setelah beberapa bulan terakhir ini.
"Tuan Putri!" seorang Pelayan wanita separuh baya berlari menyambut.
"Kenapa kemari? Apa anda memerlukan sesuatu? Biar kami bantu."
"Tidak. Aku hanya ingin melihat lihat dapur ini saja."
"Oh iya. Silahkan Tuan Putri." Pelayan itu segera menunduk, mempersilahkan Ellena. Hatinya ikut bahagia dengan senyuman Ellena.
Semua Pelayan pun sama bahagianya. Cepat menyapa dan melempar senyuman sebanyak yang mereka bisa.
"Nona Ellena." satu pelayan lain menghampiri.
"Apakah Nona ingin dibuatkan suatu makanan sepesial? Saya pasti akan sangat senang memasaknya untuk anda."
Ellena menggeleng. "Tidak. Aku hanya sedang merindukan kalian." jawaban Ellena sungguh membuat mereka senang. Bersyukur jika Tuan Putri mereka akhirnya bangun dari keterpurukan.
"Kami juga merindukan anda Nona."
"Terimakasih, sudah kembali tersenyum untuk kami."
"Semoga Tuan Putri selalu bahagia."
Ellena hanya kembali tersenyum menanggapi ucapan mereka.
Matanya kini tertuju pada satu pelayan yang baru saja datang. Pelayan muda itu melempar senyuman ke arahnya dan cepat menghampiri.
"Nona. Kenapa anda ke dapur? Apa anda membutuhkan sesuatu?" tanyanya.
Ellena tidak segera menjawab. Menatap pelayan yang tak lain adalah Elfa itu dari ujung kepala hingga kaki. Tubuh ramping dan tinggi milik Elfa hampir serupa dengan dirinya, rambut hitam lurus yang sama dengannya juga. Warna kulit mereka pun sama.
Elfa adalah satu satunya orang yang paling dekat dengan Fic. Ellena bahkan pernah menaruh cemburu pada Elfa. Lalu mengingat ucapan Fic, jika Fic sangat dekat dengan keluarga Elfa.
"Nona. Apa saya ada salah?" Elfa jadi serba salah dengan tatapan Ellena padanya.
"Tidak. Tapi, bisakah kau ikut aku ke kamarku? Aku sedang perlu bantuan mu." balas Ellena.
"Oh, tentu saja. Mari silahkan." jawab Elfa, mempersilahkan Ellena untuk duluan.
Ellena melangkah, Elfa menyusul dari belakang. Mereka masuk ke kamar Ellena. Setelah berada di dalam kamarnya, Ellena kembali memutar tubuhnya untuk menatap Elfa. Kali ini dengan tatapan yang cukup serius. Elfa sampai bingung di buatnya.
Tak biasanya Ellena seperti ini padanya, semenjak Elfa berkerja di rumah ini, Ellena jarang berbicara padanya.
Elfa tau jika Ellena kurang menyukainya karena pernah cemburu padanya. Elfa pun begitu, pernah tidak menyukai Ellena karena menganggap sudah merebut Fic dari dia. Tapi itu hanya berlaku sementara bagi Elfa, setelah menyadari cinta di antara mereka yang begitu besar, Elfa jadi mengerti. Mulai menyukai Ellena dan sudah sangat menyayangi Ellena seperti halnya para Pelayan lainnya.
"Nona. Ada apa? Apa Nona marah padaku?"
Ellena tersenyum. "Seharusnya aku yang bertanya padamu Elfa, apa kau marah padaku?"
Elfa terbelalak, "Marah? Mana mungkin? Dan untuk alasan apa?"
"Apa kau tidak membenciku? Aku sudah membuat Fic tidak lagi bersama kita. Aku sudah membunuhnya." Ellena menunduk kali ini, menyeka air matanya yang mengalir.
"Eh, jangan bicara seperti itu Nona." Elfa cepat merengkuh pundak Ellena, membawanya ke tepi ranjang.
"Semua orang juga tau, jika Tuan Fic melakukan itu karena sangat mencintaimu. Jadi tidak ada alasan untuk membencimu Nona."
"Tapi Fic mati Elfa. Apa kau tau, jika aku tidak bisa memaafkan diriku sendiri untuk itu. Aku mengutuk diriku sendiri setiap waktu."
"Hus...! Jangan bicara seperti itu. Ku mohon Nona. Tuan Fic ingin anda hidup. Kami semua juga sama." Elfa memeluk Ellena.
Ellena sesenggukan di pelukan Elfa.
"Aku sangat membenci diriku sendiri Elfa. Aku ingin mati. Aku sungguh ingin mati saja."
"Jangan begitu Nona." Elfa berusaha menenangkan hati Ellena.
Tapi Ellena tiba tiba bangun, "Tidak bisa Elfa. Aku tidak bisa hidup seperti ini terus. Aku ingin mati saja. Aku ingin menyusul Fic. Bantu aku Elfa. Bunuh aku! Ayo bunuh aku saja!" Ellena mengguncang lengan Elfa.
"Nona, Kau bicara apa!" Elfa mulai panik. Makin panik ketika Ellena bergerak mendekati laci dan mengambil sebuah gunting.
"Kalau kau tidak mau membantuku, biar aku saja yang melakukannya sendiri!" Ellena sudah menggenggam gunting itu.
Elfa terbelalak, sungguh terkejut melihatnya.
"Nona! Apa yang kau lakukan? Jangan Nona. Jangan! Aku mohon!" cepat menyambar tangan Ellena.
"Lepaskan! Aku hanya ingin menyusul Fic!"
Kini mereka berebut gunting itu.
__ADS_1
"Nona! Jangan, jangan! Tuan Fic akan bersedih jika tau kau seperti ini!" Elfa terus berusaha merebut Gunting itu dari tangan Ellena.
"Tidak! Fic akan senang jika aku menyusulnya."
"Tidak Nona. Tidak! Tuan Fic akan bersedih. Cukup Nona. Kau bisa bertemu dengannya, bukan dengan cara ini!" Elfa semakin kuat berusaha. Ellena pun sama, semakin kuat mempertahankan Guntingnya.
"Tidak ada cara selain mati Elfa. Biarkan aku bertemu dengan Fic dengan kematian ku."
Elfa semakin panik. Bingung harus berbuat apa sekarang. Ingin berlari keluar untuk meminta bantuan, tapi jika ditinggal Ellena pasti akan nekat pikirnya.
'Aku harus berteriak kencang.' baru saja Elfa hendak berteriak kencang Ellena sudah berhasil merebut Gunting itu dan menodongkan ke arah perutnya sendiri.
"Jangan berani berteriak, atau aku akan melakukannya sekarang!"
"Ya Tuhan!" Elfa pucat, menatap gunting yang sudah terarah ke perut Ellena.
"Jangan Nona. Jangan! Kau tidak boleh melakukan itu." mundur beberapa langkah ke belakang sambil gemetaran.
"Kenapa? Dengan begini aku bisa bertemu dengan Fic! Seharusnya kau bisa membantuku Elfa."
"Tidak Nona. Jika kau mati, kau tidak akan pernah bisa bertemu dengan tuan Fic!"
"Kenapa Elfa. Bukan kah Fic juga sudah Mati?"
"Tuan Fic belum mati Nona. Kau salah." Elfa keceplosan akhirnya.
'Bicara apa aku? Astaga!' Menutup mulutnya sendiri.
"Apa kau bilang?" Ellena kini menatap tajam, melangkah mendekat.
"Kau bicara apa barusan?"
Elfa hanya menggeleng.
"Katakan Elfa. Kau bilang Fic belum mati. Katakan yang sebenarnya apa yang kau tau tentang Fic!"
"Nona." Elfa kini berlutut.
"Tolong jangan katakan ini pada siapapun. Aku akan di gantung Ayahku." Elfa memohon.
Ellena ikut berlutut kini, melempar gunting ke lantai dan kemudian memegang bahu Elfa.
"Katakan yang kau tau."
Elfa mendongak, menatap Ellena.
"Tuan Fic tidak mati. Kemarin, dia datang ke rumah dan Orang tua Nona menemuinya. Kami merahasiakan ini demi kebaikan semua."
Ellena membulatkan matanya. Sebenarnya Ellena tidak terkejut, hanya berpura pura terkejut.
Elfa mengangguk,
"Dia ingin melihatmu sebentar saja." ucap lirih Elfa.
Ellena terisak kembali, terduduk di lantai.
"Fic. Kenapa dia harus menderita seperti itu?"
"Nona jangan bersedih lagi. Tuan Fic melakukan ini demi Nona." ucap Elfa.
"Aku ingin bertemu dengannya Elfa. Bantu aku."
"Tuan Fic sudah pergi. Ayah Nona menyuruhnya pergi secepatnya. Ayah Nona takut, jika ada yang mengetahui keberadaannya di kota ini, Tuan Fic akan bahaya." jelas Elfa.
"Kalau begitu, kau harus membantuku, agar aku bisa keluar dari rumah ini tanpa ada yang tau." Ellena kembali menatap Serius.
"Tapi caranya bagaimana? Penjaga sangat ketat Nona?"
"Tunggu sebentar, aku akan membicarakan ini pada Ayahku."
"Tapi Nona? Apa tidak akan jadi masalah?" tanya Elfa, cukup khawatir.
"Jika kau bersedia membantuku, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan." Ellena kini bangun. Meminta Elfa untuk menunggu di kamarnya, dia sendiri segera pergi menemui Ayahnya.
Elfa hanya bisa pasrah dengan kecerobohannya yang sudah keceplosan di depan Ellena.
'Tapi jika aku tidak mengatakan yang sebenarnya, Nona bisa nekat.'
Di kamar lain, Nathan nampak mengangguk setuju setelah mendengar ucapan serius dari Ellena.
Keduanya kemudian melangkah untuk menemui Elfa setelah Mira pun setuju.
Elfa cukup gugup ketika melihat Kedatangan Ellena yang membawa serta Nathan. Tidak ada yang bisa Elfa perbuat kecuali menunduk takut.
'Mati aku. Tuan Nath pasti akan menghukum ku atas kecerobohanku.' meremas jari jemarinya.
Nathan mendekat.
"Apa kau serius bersedia membantu Ellena?"
Elfa mendongak sekarang. "Tentu Tuan. Membantu Nona, sama saja membantu Tuan Fic. Saya akan sangat senang melakukannya. Katakan apapun itu, saya bersedia."
__ADS_1
Nathan tersenyum ke arah Ellena.
"Bicaralah padanya, Ayah menunggu diluar." selesai bicara Nathan kembali keluar meninggalkan mereka.
Ellena mendekati Elfa dan berbicara serius. Sesaat Elfa terbelalak kemudian terlihat mengangguk paham.
______
Ini sudah menjelang petang, terlihat Nathan berjalan beriringan dengan Ellena menuju mobil.
Penjaga cepat menyambut.
"Anda hendak pergi Tuan?"
"Nona Ellena mengajak jalan jalan. Aku harus mengantarnya sebentar." jawab Nathan di balas senyuman senang dari Penjaga itu. Melirik Ellena yang nampak tersenyum.
"Iya Tuan. Anda harus pergi. Kami sangat bersyukur akhirnya Tuan Putri bisa kembali tersenyum seperti itu." cepat membukakan pintu mobil.
Ellena masuk di susul Nathan.
Baru saja Nathan hendak menutup pintu mobil, Elfa terlihat berlari ke arah mereka.
"Tuan Nath. Bolehkah saya menumpang? Ayah saya menelpon dan menyuruh saya pulang sekarang juga."
"Kau ini. Kemarin kau baru saja pulang. Mau pulang lagi?" sambar Penjaga.
Nathan cepat menoleh pada Elfa.
"Apa Ayahmu belum membaik?" tanya Nathan pada Elfa.
"Sepertinya begitu Tuan? Apakah saya boleh menumpang?"
"Tentu saja. Kami akan mengantar mu kalau begitu. Dan kau boleh cuti beberapa hari untuk merawat Ayahmu dulu." balas Nathan.
"Terimakasih Tuan. Terimakasih." Sahut Elfa segera membuka pintu belakang dan masuk.
Penjaga hanya bisa tersenyum saja. "Hati hati Tuan." melambaikan tangan ke arah mobil Nathan yang mulai berjalan.
"Tuan Nath memang sangat baik. Tidak membedakan siapapun." ucap Penjaga itu memuji kebaikan Nathan yang memperbolehkan Elfa menumpang, kemudian menutup pintu gerbang kembali.
Nathan melajukan mobilnya dengan cepat hingga sudah sangat jauh dari rumahnya.
Melirik Ellena yang sudah beralih ke jok belakang bersama Elfa.
"Apa kalian sudah selesai?"
"Sudah Ayah." jawab Ellena.
"Tunggu sebentar." Nathan masih terus melajukan mobilnya. Hingga beberapa saat lamanya. Ia melirik jam, ini sudah lepas magrib.
Nathan menghentikan mobilnya di sebuah terminal.
Tak lama kemudian pintu Mobil belakang terbuka. Elfa terlihat keluar dari mobil dengan menggunakan masker. Tanpa bicara sedikitpun menutup pintu mobil dan berjalan menuju Terminal Bus itu.
Nathan Kemudian memutar mobilnya.
"Kita pulang saja."
__________
Gerbang kembali terbuka. Mobil Nathan masuk perlahan dan terparkir rapi di tempat semula.
"Tuan, kenapa sudah pulang?" penjaga sedikit heran.
"Nona Ellena tertidur." Nathan yang sudah keluar menjawab dengan simpel.
Menoleh ke arah pintu, Mira terlihat berlari kecil menyambut mereka.
"Kalian tidak jadi pergi?" tanya Mira.
"Putriku tertidur. Jadi aku pulang saja setelah mengantar Elfa." jawab Nathan. Lalu membuka pintu mobil sebelah untuk menggendong tubuh Ellena.
"Mungkin Tuan Putri kelelahan Tuan." Penjaga berbicara. Melihat Nathan sudah menggendong Ellena dengan wajah Ellena yang merapat di dada Nathan.
"Kau benar." jawab Nathan.
"Mira , tolong ambilkan tas Ellena." ucap Nathan pada Mira.
Mira mengangguk, mengambil tas Ellena dari dalam mobil dan segera menyusul langkah Suaminya yang sudah membawa Ellena masuk.
Mira melangkah dahulu untuk membukakan pintu kamar Ellena.
Nathan kemudian merebahkan tubuh Ellena di ranjang.
"Pergilah Nath, biar ini menjadi urusanku sekarang. Aku juga ingin berbicara sebentar padanya."
Nathan mengangguk. "Kunci pintunya, dan jangan lupa untuk selalu mengunci kamar ini dari luar." pesan Nathan.
Mira mengangguk. Setelah Nathan kekuar, Mira menutup pintu dan menguncinya. Lalu kembali melangkah menghampiri Ellena yang sudah duduk di tepi ranjang.
"Terimakasih. Kau sudah bersedia membantu kami." ucap Mira.
__ADS_1
"Tidak masalah Nyonya. Saya sangat senang melakukannya."
______________