![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
"Aduh!" Fic mengeluh saat Ellena beberapa kali memukul tubuhnya dengan kuat. Fic menarik tubuhnya sampai ke tepi Ranjang.
Ellena sungguh kesal. Rasa ingin berteriak kencang tapi malu didengar orang. Memilih untuk menarik selimut, menutup seluruh tubuhnya sampai kepala. Memiringkan tubuhnya menghadap tembok.
Fic sedih melihat itu. Sekarang jadi serba salah.
"Nona. Kau marah ya?"
Ellena menyibak selimutnya sebatas leher.
"Pergi sana!", kakinya menendang Fic.
Fic menangkap kaki Ellena. Dia tau Ellena sangat marah padanya.
"Maafkan aku. Maaf." Fic merengek, kembali merangkak mendekati Ellena.
"Kau tidak waras! Apa kau bukan pria sejati? Apa kau ada kelainan Fic? Katakan padaku sejujurnya. Jika benar, tidak masalah bagiku. Aku akan menerimamu apa adanya. Tapi jika tidak benar, aku marah! Aku sangat marah padamu! Kau mempermainkan aku!"
Fic tertegun mendengar celoteh amarah dari Ellena. Belum sempat membela diri, Ellena sudah beranjak menggapai pakaiannya dan pergi dari kamar Fic.
"Nona..!" Ellena tak menggubris panggilan Fic.
"Ck, Ah... Kenapa jadi kacau sih?" Fic pun menggerutu sendiri.
Lalu berdiri dan meraih pakaiannya. Fic duduk termenung di tepi kasur.
"Apa aku keterlaluan? Aku sungguh menginginkannya padahal. Tapi kenapa aku takut untuk melakukannya, aku takut menyakiti Ellena."
Fic kini beranjak menyusul Ellena ke kamarnya setelah mengenakan pakaian..
Fic membuka pintunya, mengintip dahulu. Hanya terlihat kepala Ellena saja. Seluruh tubuhnya sudah di tutupi selimut. Fic mendekat dengan pelan. Kemudian merangkak ke ranjang. Sekarang duduk tepat di samping Ellena.
"Nona. Kau masih marah? Maafkan Fic." ia menyenggol bahu Ellena, mengintip wajah gadis itu.
Ellena tak bergeming, malah mendusalkan wajahnya di batal.
"Ellen." Fic tidak menyerah, ia mendekatkan wajahnya ke telinga Ellena.
"Bukan aku tidak mau melakukannya. Ah, aku memang payah. Sebenarnya aku sangat ingin itu dari dulu. Tapi, entahlah. Tiba tiba saja, aku takut melakukannya. Aku sangat takut menyakitimu Ellena. Kau tau kan, dari dulu aku paling takut kau kenapa napa.?" kini mendekap tubuh Ellena dari belakang.
"Jangan marah. Fic sedih." Fic meratap.
Ellena mendorong tubuh Fic. "Diam. Aku masih marah padamu!" Kemudian kembali pada posisinya lagi.
"Ellen." Fic belum juga menyerah. Mendekap Ellena lagi.
"Sayang ..." Huh, panggilan sayang dari Fic yang tak biasa sebenarnya membuat Ellena tergelitik hatinya.
'Apa , apa? Barusan Fic memanggilku sayang. Hihi..' tapi Ellena masih bertahan dengan marahnya.
"Nona Ellena. Sayang..." Fic kembali merayu.
"Sudah ya marahnya. Fic tidak akan mengulangi lagi. " Ellena masih diam saja.
"Ellen. Aku ini pria sejati. Sungguh. Jika kau tidak percaya,kau boleh memeriksanya. Ayolah Ellena, kau boleh melihatnya sendiri." meminta Ellena untuk melihat miliknya.
'Astaga..' Ellena ingin terkikik sebenarnya. Tapi dia masih ingin marah pada Fic.
'Biar saja, terserah kau saja Fic. Aku masih marah.'
Fic sekarang mengambil tangan Ellena dan menuntunnya untuk memegang miliknya.
"Peganglah. Dia perkasa bukan?" Ellena langsung terkejut. Sontak menarik tangannya yang sudah menempel disana. Sempat merasakan benda keras menegang di balik celana Fic.
"Apa sih?" Langsung terduduk sekarang, tapi cepat cepat memalingkan wajahnya yang memerah.
"Kupikir,milikmu tidak bisa bangun." melirik sedikit pada Fic.
Fic tersenyum melihat wajah memerah Ellena.
"Kau boleh melihatnya sendiri. Mau?" Fic kini berdiri diatas kasur dengan menekuk lututnya di hadapan Ellena. Menurunkan celana yang ia kenakan.
"Apa sih Fic?" Mencegah tangan Fic. Ellena sungguh memerah wajahnya. Fic tergelak.
__ADS_1
"Jangan marah lagi ya? Kita akan melakukannya lagi. Dan aku akan berhasil kali ini." Fic kembali membenahi celananya. Tidak jadi membukanya untuk memperlihatkan miliknya pada Ellena.
Ellena masih merengut. "Aku ngantuk, aku mau tidur." Kembali merebahkan tubuhnya dan menarik selimut. Tidak peduli pada Fic yang hanya bisa mendengus. Fic putus asa sekarang. Tidak berhasil merayu Ellena.
"Baiklah. Tidurlah. Aku memang tidak berguna " ucap Fic.
"Aku tidak akan mengganggumu." Fic menuruni ranjang. Kini beralih ke sofa. Meremas rambutnya di sana. Melirik punggung Ellena yang tidak bergeming.
"Aku memang tidak berguna. Baru beberapa jam menjadi suami Ellena, aku sudah membuat kecewa." Fic mengeluh, mencaci dirinya sendiri. Lalu merobohkan tubuhnya di sofa itu.
Entah sudah jam berapa sekarang, Fic sudah hampir terlelap. Tiba tiba ia menyenggol sebuah tangan yang melingkar di pinggangnya.
"Nona." Fic tersadar dan cepat menarik tubuh Ellena yang hampir terjatuh.
Wajah itu tersenyum padanya.
"Kenapa menyusul kemari?"
"Aku tidak tega lama lama marah padamu. Aku ingin tidur disini juga menemanimu." jawab Ellena.
"Mana bisa seperti itu." Fic langsung bangun , mengangkat tubuh Ellena dan membawanya ke Ranjangnya.
"Tidurlah. Aku akan menemanimu sampai kau tertidur." Fic merebahkan Ellena dan mengatur posisinya. Mendekap Ellena dari belakang punggungnya setelah menarik selimut.
Malam semakin larut. Lama mereka saling terdiam dengan posisi itu, meskipun keduanya belum tertidur. Jemari Fic meremas jemari Ellena. Desir desir indah kembali mengaliri tubuh mereka.
"Entah seperti apa aku menyayangimu Nona. Sampai sampai aku sangat takut terjadi apapun padamu." bisik Fic. Ellena tersenyum, membalikan wajahnya bertepatan Fic mengangkat wajahnya.
"Aku mengerti Fic. Aku tau itu. Maafkan aku yang sudah memaksamu." Keduanya kini saling menatap kembali.
"Aku pria sejati Ellena. Millik ku bisa bangun. Milikku keras kok." ucap Fic. Ellena jadi tertawa.
"Iya, aku percaya. Ayo tidur saja. Aku sudah mengantuk."
"Tapi aku ingin kau tau dulu sekarang. Aku tidak terima kau menuduhku ada kelainan."
"Iya Fic. Aku percaya. Tadi itu, aku hanya kesal padamu. Ayolah tidur." rengek Ellena.
"Aku ingin kamu tau Ellena. Milik ku sangat besar dan panjang. Kau pasti suka." Fic masih saja bicara. Tangannya sekarang bergerak aktif. Meraba seluruh lekukan tubuh Ellena. Ellena menggelinjang, saat tangan Fic sudah menyusup ke area sensitifnya dan meraba lembut disana. Kemudian memilih lembut.
"Ah , Fic." Ellena jadi mendesahh.
Fic menyeruput bibir imut Ellena, menghisapnya dengan semangat. Sejurus kemudian, Fic sudah melucuti pakaiannya dan pakaian Ellena kembali.
"Aku tidak akan gagal lagi. Meskipun kau harus menjerit kesakitan, aku tidak akan menyerah lagi Ellena." kini sudah berada di atas tubuh Ellena. Mendusel di leher Ellena dan turun ke dadanya. Selesai usel usel disana, mulai kembali turun ke area sensitif.
Sungguh, keduanya benar benar dibuat melambung tinggi dengan adegan mereka itu. Fic terengah-engah, Ellena juga.
Bahkan tanpa di sadari keduanya, Fic sudah berada diantara Paha Ellena. Fic mulai kembali menghentak, sekarang dengan sangat hati-hati. Ellena meringis, menggigit bibirnya. Ellena berusaha untuk tidak bersuara. Dia takut bersuara lagi, khawatir Fic akan kendor lagi dan menggagalkan ritual penting ini.
Fic sudah beberapa kali mencoba , tapi terus melesat sempura. 'Kenapa payah sekali? Apa milikku benar benar tidak perkasa?' batin Fic.
Dia meraba miliknya untuk memastikan. Ini keras, ini besar panjang untuk ukuran normal.
'Apa milik Nona memang yang payah?'
Sementara nafas mereka sudah memburu, hasrat sudah tak terbendung lagi, tapi lagi lagi Fic belum berhasil. Peluh sudah bercucuran.
Fic akhirnya memakai satu tangannya untuk membantu tugas Juniornya.
"Emm.." Ellena terbelalak, hampir saja berteriak. Untung cepat sadar.
'Jangan mengeluh Ellena. Jangan. Tahan!' Ellena hanya bisa mencengkeram Lengan Fic. Saat Fic sudah berhasil memasuki Ellena, pelan namun pasti, ia menekan lebih dalam agar sepenuhnya tenggelam.
"Nona. Apa ini sakit?" Fic terengah.
"Se, sedikit. Tidak apa apa. Tidak apa apa." Ellena terbata bata, menahan rasa pedih dan sakit. Sangat terasa bagian sensitifnya seperti robek dan seperti tertusuk tombak saja.
Fic menunduk ingin mengintip, tapi Ellena mencegah. Menahan wajah Fic agar tetap menatapnya.
"Aku mencintaimu Fic."
"Ellena, aku juga. Bolehkan aku bergerak sekarang?"
__ADS_1
"Ah, iya. Lakukan saja."
Ah, Fic sungguh berada di lambungan tingkat tinggi. Segera bergerak berirama. Mengambil jeda untuk sesekali menyeruput bibir manis Ellena.
Ellena mencengkram kuat lengan Fic, seiring hentakan pinggul Fic, seiring rasa sakit dan pedih menyiksanya, perlahan hilang terganti rasa asing yang begitu aneh. Tubuhnya menggelinjang. Angannya mulai melambung, rasa sakit itu sekarang hilang terganti kenikmatan yang mencuat.
"Fic. Pelan." rengek Ellena. Fic mengintip wajah Ellena. Masih terus bergerak. Mata Ellena terpejam sebentar, kemudian terbuka kembali. Menatap Fic sendu, desahann Ellena terus terdengar oleh Fic. Fic sedih melihat wajah Ellena, namun Gairahnya sungguh memuncak. Ia tidak bisa untuk tidak bergerak lagi. Tidak bisa untuk berhenti.
"Ellena. Maafkan aku, aku tau kau kesakitan. Ah.. Tapi aku tidak bisa berhenti. Ellena." Fic mendekap tubuh Ellena, mengangkat punggung Ellena dan menyeruput kembali bibir Ellena. Ellena sudah mendesahh desahh, Fic tidak mengerti apa yang dirasakan Ellena saat ini, tapi Fic seperti tidak bisa lagi peduli. Dia terus menghentak tubuh Ellena, bahkan semakin kasar.
Sesuatu rasa yang begitu indah, mengalir ke seluruh saraf pria itu. Hingga mencapai otaknya.
Keduanya terpejam, sama sama menggigit bibir sendiri sendiri, merasakan di puncak tertinggi. Hingga kamar itu sekarang dipenuhi suara desahann mereka dan rengekan Ellena.
"Fic." Ellena meremas rambut Fic. Fic meremas seprai. Tak lama dari desahann desahann mereka, erangan dari mulut Fic terdengar, tak lama dari mulut Ellena juga. Kedua tubuh itu bergetar hebat.
Ellena merasakan sesuatu seperti meledak di bawah sana. Susuatu yang mengalir hangat membasahi yang di dalam. Ia mencapai puncaknya, hingga menggigit bahu Fic , tak sanggup menahan rasa nikmat yang baru ia rasakan selama hidupnya.
Fic pun begitu, merasakan sensasi luar biasa. Saat sesuatu dari miliknya tumpah ruah dalam rahim Ellena. Fic sampai menegang tubuhnya.
"Ellena.." Fic terus memanggil nama gadis itu. Yang di panggil hanya beringsik dengan erangan dan desahann.
Kini kedua tubuh itu melemas berbarengan.
Nafas keduanya masih memburu. Dada mereka naik turun. Fic masih berada di atas Ellena, memandangi wajah Ellena yang masih terengah engah. Menyeka keringat di wajah Ellena. Kemudian menciumi kepala dan wajah Ellena.
Fic mulai melepaskan dirinya, dan duduk disisi Ellena yang sangat terlihat lemas. Mata Fic menangkap bercak darah yang banyak di sprei putih itu. Seketika Fic tersentak.
"Ellena. Kau berdarah! Ya Tuhan!" menoleh pada Ellena yang malah tersenyum.
"Apa karena aku terlalu kasar? Maafkan aku." Fic sangat merasa bersalah sampai terdengar menangis.
Ellena tersenyum, menarik tubuh Fic dan memeluknya.
"Tidak apa apa Fic. Sakit sebentar. Setelah itu tidak kok. Aku suka."
Fic mendongak. "Kau suka?"
"Emm.." Ellena mengangguk.
Fic merasa lega sekarang, kemudian ikut berbaring. Menarik selimut untuk menutupi tubuh mereka berdua
Mendekap Ellena dalam pelukan hangatnya.
Malam terus merangkak. Meskipun gairah kembali mengaliri saraf Fic, tapi pria itu belum berani lagi untuk mengulangi seperti yang tadi. Fic masih takut, melihat darah tadi saja, sudah membuatnya hampir pingsan. Ellena sudah membalikkan tubuhnya, menatap Fic lagi, menyeruput bibir Fic lagi.
Tapi Fic memilih memutar tubuh Ellena dan mendekapnya dengan kuat. Mengusap tanpa henti kepala Ellena.
"Tidurlah, ini sudah malam. Jika tidak, nanti aku ingin mengulangi lagi yang tadi bagaimana?"
"Kita ulang sekali lagi Fic. Aku masih penasaran." rengek Ellena.
"Tidak. Aku tidak mau. Kau kesakitan. Nanti saja setelah kau membaik."
"Hanya sakit sebentar ini." Ellena terus merengek.
"Meskipun sebentar, tetap sakit. Sudah. Tidur Ellena. Ini sudah sangat malam." Fic bertahan, padahal hasratnya kembali menyerang, dan kali ini sangat menggebu.
Apalagi saat Ellena memaksa untuk memutar tubuhnya dan merapatkan tubuhnya pada Tubuh Fic. Tubuh polos mereka kembali bersentuhan dan bergesekan.
Fic goyah sudah. Tak bisa untuk tidak menyentuh. Menyikap kembali selimut.
Dan Akhirnya, adegan tadi terulang lagi. Lebih dahsyat dan panas dari yang pertama. Fic sudah mulai lihai bergerak. Sudah bisa menguasai tubuh Ellena dengan sempurna. Sekali lagi, mereka mereguk nikmatnya malam pertama mereka. Penuh desahann dan berakhir dengan Erangan panjang yang membuat iri bagi yang mendengarnya.
Kali ini mereka berdua benar-benar loyo. Terbaring lemas sambil berpelukan. Ellena sudah tidak kuat membuka mata. Terlelap begitu saja.
Fic menarik selimut kembali.
'Terimakasih Ellena. Sudah mau mencintaiku. Sudah bersedia memberikan seluruh cinta dan tubuhmu untuk ku.' Fic berulangkali mencium kening Ellena. Dan kemudian ikut menyusul ke alam mimpi.
____________
( Huh! Gol!! )
__ADS_1