![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Dari kejauhan Mira sudah bisa melihat beberapa Perawat berjalan terburu ke arah Ruangan Ellena.
Belum sempat Mira menghampiri untuk bertanya mereka sudah menutup pintu dan beberapa saat kemudian pintu Kembali terbuka. Mereka mendorong tubuh Ellena di atas ranjang dorong.
"Apa yang terjadi pada Putriku?" kini Mira tergesa menghampiri dan bertanya.
"Nona Ellena akan kami pindahkan ke ruang Operasi. Nona Ellena akan segera di operasi." jawab satu Perawat.
Tanpa memberi kesempatan yang lain untuk bertanya, para Perawat itu kembali mendorong Ranjang itu.
Semua kembali dalam ketegangan. Kemudian beberapa saat setelah itu, terlihat Nathan berjalan lemas kearah mereka. Mengusap keringat dingin yang mengalir diwajahnya sambil melangkah.
"Nath." Mira menyambut.
Nathan hanya menunjukan ekspresi wajah Penuh tekanan. Semua tau itu tanpa harus bertanya. Memilih untuk diam.
Dari arah belakang Nathan, beberapa perawat pun terlihat mendorong ranjang kembali. Nampaknya mereka sedang mendorong Jenasah seseorang yang sudah ditutup kain putih.
"Nath. Apa itu?" Mira mencoba bertanya tanpa menyelesaikan kalimatnya.
Nathan hanya mengangguk berat.
"Fic!" Mira langsung berlari menghampiri Ranjang itu disusul Nathan dan lainnya.
Beberapa perawat itu terpaksa berhenti karena Mira menahan mereka.
"Mira! Jangan!" Nathan mencegah tangan Mira yang hendak membuka kain penutup Jenasah itu.
"Aku hanya ingin melihatnya untuk yang terakhir kalinya. Ku mohon Nath." iba Mira.
"Aku takut kau tidak kuat Mira. Sudahlah. Jangan lakukan!" kembali Nathan mencegah.
"Aku hanya ingin melihatnya sebentar saja. Aku berjanji akan kuat." kembali Mira mengiba untuk meyakinkan Nathan. Nathan akhirnya mengangguk.
Tangan Mira bergerak pelan, menyibak kain penutup di wajah Jenasah itu. Semua ikut memperhatikan dengan dada yang bergemuruh keras.
"Fic!" Mira menutup kuat mulutnya sendiri dengan kedua tangannya ketika menyaksikan itu. Wajah Fic yang kini terlihat sangat pucat. Dengan mata terpejam dan bibir terkatup rapat.
Mira menjerit jerit histeris. Rimbun juga sama. Ken dan ketiga Putranya bahkan ikut menangis sesenggukan.
Hingga para perawat kembali menutup kain putih itu.
"Permisi Tuan! Kami harus segera mengurus jenazah Tuan Fic!" Mereka kembali melanjutkan perjalanan.
Tangisan mereka pecah mengiringi para Perawat itu hingga jauh menghilang di ujung sana.
Khale saja terlihat begitu Frustasi, memukul mukul tembok dengan tinjuannya.
Nathan lagi lagi hanya bisa mendekap tubuh Mira dan menyeretnya pelan ke bangku.
"Tidak ada yang perlu ditangisi sekarang." ucap lirih Nathan.
"Kita harus bisa menghargai pengorbanan Fic. Ia melakukan ini demi Ellena. Demi wanita yang ia cintai. Ia memilih menukar kehidupannya untuk Ellena. Bahkan diantara kita belum tentu ada yang bisa melakukan seperti apa yang di lakukan oleh Fic!" kini ucapan Nathan terdengar keras seperti sedang meluapkan emosinya.
Semua kini terdiam, tenggelam dalam sesenggukan yang tersisa.
"Mira. Berhentilah menangis." kini mengusap wajah istrinya.
"Kita berdoa untuk kesembuhan Putri kita. Kita harus membuat Fic senang. Karena kesembuhan Ellena adalah tujuan Fic. Kau mengerti Mira."
Mira hanya bisa mengangguk.
__ADS_1
"Ah baiklah. Tenanglah. Dan mulai lah berdoa. Di dalam sana, saat ini Putri kita sedang berjuang melawan maut."
Mira mengangguk. "Bagaimana dengan Fic?"
Nathan menarik nafas dalam dalam. "Pihak Rumah Sakit yang akan memakamkan Fic. Fic sendiri yang berpesan. Ia tidak ingin kita meratapinya. Karena setelah Dia pergi, dia hanya ingin kita fokus pada Ellena saja."
Kini semuanya kembali terdiam. Berusaha melupakan wajah pucat Fic yang sempat mereka lihat untuk yang terakhir kalinya tadi.
Diam dalam waktu yang cukup lama.
__________
Ini sudah menjelang sore. Tidak ada yang pergi dari ruangan itu sedikitpun. Mungkin hanya sekedar berjalan mondar mandir kemudian duduk kembali atau sekedar ke kamar mandi lalu kembali lagi. Tidak ada yang ingat makan, tidak ada yang ingat mandi. Sesering mungkin menoleh ke arah sana, berharap Sang dokter datang menghampiri mereka.
Dan tenyata, ujung penantian mereka yang begitu gelisah itu berakhir juga. Sang Dokter terlihat berjalan kearah mereka.
Serempak semua bangun dari bangku dan serempak menghampiri.
"Bagaimana Dokter?" Nathan bertanya terlebih dahulu.
"Operasi Nona Ellena berjalan lancar Tuan."
Hembusan nafas lega begitu terdengar dari mereka. Mira menitikkan kembali air mata. Tapi kali ini air mata kelegaan.
"Terimakasih Dokter! Terimakasih. Bolehkah kami menemui Putri kami?" Tanya Mira.
"Kalian tidak boleh melihatnya dulu. Nona Ellena sedang melewati masa kritisnya dan itu butuh waktu 48 jam. Selama itu, kami harus mengawasi Nona Ellena secara ketat demi menjaga adanya kemungkinan pendarahan atau infeksi yang terjadi Pasca Operasi.
Setelah Nona Ellena berhasil melewati masa kritisnya, kami akan memindahkannya kembali ke ruangan semula. Kalian baru boleh melihat." jawab sang Dokter.
"Baiklah Dok. Terimakasih." sahut Nathan.
"Kalau begitu,saya Permisi Tuan. Semoga Nona Ellena bisa melewati masa kritisnya dengan baik." Dokter memutar tubuhnya untuk meninggalkan mereka.
"Sayang. Sebaiknya kau pulang dulu.Biar Khale yang mengantarmu. Kau harus makan dan beristirahat." ucap Nathan pada Mira.
"Bagaimana aku bisa makan dan beristirahat Nath? Aku belum bisa tenang sebelum Ellena dikeluarkan dari ruangan bedah itu!"
"Mira. Kau harus percaya, jika Ellena akan baik baik saja. Ini hanya masa kritis Pasca Operasi. Tidak segawat sebelumnya. Percayalah, di dalam sana Para Tim Medis Ahli yang menjaga Ellena. Jika terjadi apa apa sedikitpun pada Ellena, mereka akan cepat bertindak. Ayolah!" bujuk Nathan.
Mira masih menggeleng saja.
"Begini saja. Kita pulang semua. Biar salah satu dari Triple K yang tinggal disini. Bagaimana?"
Mira menoleh pada Ken yang langsung mengangguk.
"Biarkan Khale yang tinggal bersamaku. Kami bisa bergantian untuk terjaga selalu disini. Aku akan cepat mengabari kalian jika ada sesuatu."
Mira pada akhirnya mengangguk.
Dan kini mereka pulang ke rumah masing masing, tertinggal Khale dan Ken saja di sana.
__________
Saat ini, Nathan dan Mira sudah berada di kamar mereka. Sudah selesai mandi dan berganti. Wajah keduanya masih terlihat murung. Menyimpan kesedihan yang mendalam.
Apalagi Mira, saat pertama melangkah masuk ke rumah ini wajah Fic langsung terbayang di matanya. Terlebih ketika Pelayan menyambutnya dan menawari makan Malam untuk mereka. Biasanya Fic lah yang pertama menyambut kedatangan Mira ketika ia kembali dari manapun itu.
Bahkan jika Nathan yang pulang, Fic tidak terlalu peduli, tidak seperti jika Mira yang pergi, Fic orang pertama yang akan menyambutnya di depan pintu.
"Mira. Makanlah dulu. " Ucap Nathan, melirik Nampan makanan yang baru saja di antar Pelayan ke kamar mereka.
__ADS_1
"Nanti saja. Aku ingin tidur sebentar. Kepalaku pusing sekali." sahut Mira langsung membanting tubuhnya di kasur..
"Baiklah. Kalau begitu, tidurlah dulu." Nathan kini mengelus lembut punggung istrinya. Hingga beberapa saat lamanya.
Terlihat Nathan beranjak pelan setelah memastikan jika Istrinya sudah terlelap, kemudian meraih hpnya untuk menghubungi seseorang.
[ Berikan tas itu padanya. Dan jangan ada yang berani mengambil apapun dari tas itu. Aku ingin kalian konsisten dalam perjanjian kita.] ucap Nathan ketika panggilannya terangkat.
[ Baik. Tapi kami perlu memeriksanya, apa saja yang ada di dalamnya.] sahut yang disana.
[ Tidak ada apapun kecuali hanya uang dan beberapa kartu debit saja. Itu hanya untuknya bertahan hidup di tempat dimana kalian membuangnya!]
[ Baiklah. Kami akan memeriksanya dahulu.]
[Periksa saja kalau tidak percaya! Satu lagi, aku tidak mau kalian menyakitinya walau sedikitpun. Jika kalian tidak bisa dipercaya, maka ke ujung dunia mana pun kalian berada, aku bersumpah akan mengejar kalian!] ancam Nathan.
[ Tenang saja Tuan. Tugas kami bukan untuk menyakitinya, hanya memastikan jika dia tidak lagi berada di kota ini.]
Tut...!
Panggilan terputus sepihak.
Nathan menarik nafas panjang. Meletakkan kembali Ponselnya.
"Aku tidak akan tinggal diam!" Nathan meremas kepalan tangannya.
"Tenang lah kau disana Fic! Bertahan lah sebentar. Sampai aku menemukan, siapa orang ini. Orang yang sudah berani mempermainkan Kita!"
Nathan kini melangkah ke ranjangnya dan berbaring di sisi istrinya. Mencoba untuk Menghalau resah, dan sejenak ingin melupakan segala beban pikirannya.
Hingga terlelap sampai pagi menjelang.
Sementara di ujung kota. Tepatnya di pinggiran kota.
Pagi buta itu, terlihat sebuah mobil berhenti di pinggir persimpangan jalan. Dua pria terlihat keluar dari mobil itu. Satu diantara mereka menyetop sebuah Bis Anta kota yang melintas.
Kemudian satu orang membuka pintu belakang mobil. Menyeret paksa seorang pria dari sana kemudian mendorongnya dengan kasar hingga jatuh terjerembab ke lantai dalam Bis itu.
Salah satu dari mereka melempar sebuah tas hitam kearah pria yang sudah berada di dalam bis yang siap melaju kembali itu.
Pria dalam Bis itu terlihat sempoyongan saat berusaha berdiri dengan satu tangan meraih tas dan satu tangan memegangi kepalanya yang terasa sangat pusing.
"Duduk sini mas!" seru sang kenek Bis menunjuk sebuah kursi kosong.
Pria itu hanya mengangguk kemudian menempati kursi itu. Melirik sekilas satu penumpang pria di sebelahnya.
Matanya tiba tiba berkunang-kunang Kemudian kepalanya ambruk di bahu Pria disebelahnya. Entah kenapa.
Pingsan atau tertidur.
"Mas , mas." Pria yang bahunya tertumpang kepala itu berusaha memanggil.
"Astaga! Orang ini tidur atau pingsan?" kemudian membetulkan posisi kepalanya dengan hati hati.
Matanya melirik tas hitam millik pria itu yang terjatuh di bawah kursi bis.
"Ya Tuhan! Untung aku melihatnya." cepat mengambilnya untuk menyimpannya baik baik di balik punggungnya.
Melirik sekilas wajah Pria itu.
"Dia seperti orang kaya. Tapi kenapa pakaiannya lusuh begini? Apa dia mabuk?"
__ADS_1
Ah, tak ingin memikirkan, Pria itu kembali fokus pada pikirannya sendiri yang sebenarnya memang masih ruwet memikirkan keadaan anaknya di kampung. Ingin cepat cepat sampai di sana.
_____________