![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Jantung Ellena tak berhenti berdegup kencang dari pertama kali Bus yang ia tumpangi itu berangkat dari Terminal. Sedikitpun gadis itu tak dapat memejamkan matanya. Bayangan Fic terus melintasi otaknya.
Hingga Bus sudah memasuki kapal, dan kapal mulai berlabuh pelan.
Ellena duduk di kursi kapal di antara para penumpang yang berasal dari bus yang sama dengannya tadi dengan alasan tak ingin berpisah dari rombongan itu.
Merogoh hpnya. Hp tanpa JPS bahkan kartu SIM yang sudah di lepas sejak dari Rumah.
Ellena mengulik sebentar, menemukan yang ia cari.
Ellena menatapi Potho seorang Pria dewasa yang sudah menggenggam hatinya itu, dan berhasil menuliskan nama abadi di dalam sana.
Ellena mengulas senyuman yang terhalang masker.
"Tunggu Aku Fic. Tunggu aku." Ellena menyeka air matanya yang menetes.
Kepalanya terasa berat, mungkin karena hampir semalaman tidak tertidur sedetikpun. Menyimpan kembali hpnya, lalu Kepala itu akhirnya tumbang juga di badan kursi dan terlelap begitu saja.
Hingga tepukan ringan seorang ABK mengejutkan Ellena.
"Nona. Kapal sudah merapat. Apa anda tidak turun?"
Ellena terlonjak, matanya berputar.
Tidak ada satu pun penumpang yang ia lihat kecuali beberapa ABK saja.
"Mereka kemana?"
"Penumpang sudah turun semua. Hanya tinggal anda yang belum." sahut ABK itu.
"Ya Tuhan!" Ellena cepat berdiri, dan segera berlari kecil menuruni tangga untuk ke geladak bawah.
Ruangan itu sudah kosong. Tidak ada mobil satu pun lagi di sana. Bus yang ia tumpangi tadi pun sudah tidak ada.
"Aku ketinggalan Bus! Bagaimana ini?" Ellena begitu panik, berlari keluar dari Kapal itu. Beruntung jembatan besi yang menghubungkan badan kapal dengan Dermaga belum di gulung.
Ellena berjalan cepat menyeberangi itu. Beberapa detik setelah Ellena berlalu, Awak kapal mulai menutup pintu Kapal.
Ellena lagi lagi mengedarkan pandangannya. Banyak Manusia saling berjalan. Tak ada satupun yang ia kenal. Para penumpang yang satu bus dengannya pun tidak ada yang ia lihat.
Ellena mendongak ke atas. Melihat para orang orang berjalan melalui jembatan penyebrangan Dermaga.
Matanya kembali mencari cari. Siapa tau saja, Bus yang ia tumpangi tadi masih berada di sekitar situ.
Ellena mendengus saat tak bisa menemukan yang ia cari.
Kini melangkah lesu dengan tujuan entah kemana. Hanya menyusuri jalanan itu yang akan membawanya keluar dari Pelabuhan.
"Lalu aku mau kemana ini?" wajahnya nampak kebingungan. Kini berhenti di pagar jalan dan menyandarkan punggungnya disana. Kembali menoleh pada arah Dermaga yang sudah ia tinggalkan Beberapa puluh meter itu.
Ellena duduk di sisi seorang wanita penjual Asongan.
"Beli minumnya Bu."
"Oh iya dek."
"Ini." penjual itu mengulurkan air mineral.
"Terimakasih. " Ellena mengulurkan lembaran uang seratus ribuan.
"Tunggu sebentar." Penjual itu sedang menghitung kembaliannya.
"Apa tidak ada uang pas dek? Masih kurang kembaliannya. Dari subuh tadi sepi pembeli." ucap si penjual.
"Ah,kalau begitu ambil saja kembaliannya Bu." sahut Ellena.
"Yang benar?" Si Penjual terbelalak.
"Iya. Ambil saja. Tidak apa apa." jawab Ellena, melepas maskernya dan meneguk air mineral.
"Terimakasih, terimakasih Adek baik hati." ucap si penjual berulang kali. Kemudian menatap wajah Ellena.
"Kau cantik sekali!" mata Si penjual terbelalak melihat kecantikan wajah Ellena.
Ellena cepat memasang maskernya kembali.
"Gadis cantik? Kau mau kemana? Kenapa sendirian?" Tanya si penjual, tengak tengok.
"Aku, aku tadi ketiduran di kapal dan sekarang ketinggalan Bus yang membawa ku."
"Astaga! Lalu tujuanmu mau kemana?" tanya Si penjual dengan nada serius.
__ADS_1
"Aku juga tidak tau. Hanya membawa sebuah alamat saja." jawab Ellena.
"Boleh ibu lihat?"
Ellena mengangguk, kemudian membuka tas kecilnya. Mengeluarkan lipatan kertas dari sana dan mengulurkannya pada si Ibu penjual.
Ibu itu memeriksa.
"Ini masih sangat jauh! Kau bisa sampai sore atau malam hari di tempat ini."
Ellena menjadi gelisah mendengar itu.
"Apa tidak ada bus lagi yang lewat sini Bu?" tanyanya.
"Biasanya ada, tapi tunggu kapal berikutnya."
"Kapan itu?" Ellena kembali bertanya.
"Biasanya, sekitar jam sepuluh siang nanti. Tapi jika menunggu itu, kau akan kemalaman di jalan."
Ellena kini semakin gelisah. "Aduh, bagaimana ya?"
"Kau belum pernah kesana?" tanya ibu itu.
Ellena menggeleng.
"Sebenarnya, jika kau mau berjalan kaki keluar dermaga ini, kau bisa menemukan bus yang kearah daerah itu. Di terminal sana biasanya banyak bus bus arah ke sana."
"Ibu bisa mengantar ku kesana?" Ellena mencoba meminta bantuan Ibu itu.
"Bisa, tapi.." Ibu itu nampak berpikir.
"Antar aku ke terminal itu Bu. Aku akan memborong semua daganganmu agar Ibu tidak rugi karena sudah membuang waktu jualan ibu." Ellena memohon .
"Bukan masalah itu." jawab Ibu itu, kembali menatap Ellena.
"Lalu apa Bu? Tolong aku Bu? Aku harus sampai ke daerah itu dan aku tidak tau jalan disini."
"Kau anak gadis, gadis yang sangat cantik. Ibu takut dengan keselamatan mu dek?" Ucap ibu itu.
"Lalu bagaimana? Aku juga takut Bu. Tapi aku harus ke daerah itu. Aku tidak mungkin kembali ke seberang sana!" rengek Ellena.
Ellena terdiam,
"Penjaga? Kenapa tidak berpikir ke sana?" Ellena baru sadar, menepuk keningnya sendiri.
"Bagaimana?" Ibu kembali bertanya.
"Iya Bu, iya. Mungkin karena aku panik. Aku sampai tidak terpikir untuk bertanya pada Penjaga saja."
Setelah mengemasi barang dagangannya, Ibu itu membimbing Ellena untuk menemui Penjaga Pelabuhan.
Ketiganya kini terlibat obrolan yang cukup serius.
Hingga tak lama kemudian, sebuah Travel berhenti di ujung sana.
"Nona! Silahkan ikut Travel itu. Kami sudah berbicara dengan sopirnya." ucap sang Penjaga.
"Apa travel itu bisa di percaya Pak?" Ellena bertanya untuk meyakinkan.
"Tentu saja. Itu Travel Resmi milik Dermaga, khusus untuk penumpang yang berkepentingan mendadak, sengaja di siapkan oleh pihak Dermaga."
Ellena bernafas lega sekarang. Kemudian mengangguk. Setelah mengucapkan banyak banyak terimakasih kepada Penjaga itu dan kepada Ibu penjual asongan, Ellena bergegas mengikuti sopir Travel yang sudah menjemputnya.
Sopir kemudian melaju dengan cepat setelah Ellena duduk dengan baik.
Beberapa jam sudah travel itu melaju tanpa henti. Tanpa ada obrolan. Ellena kini melepas maskernya dan menyimpannya di dalam tas. Terlihat Ellena menguap berkali kali. Tapi ia memaksakan diri untuk tetap terjaga. Ellena tidak ingin ketiduran lagi dan mengulangi kesalahan tadi.
"Dek, jika mengantuk tidur saja." ucap sang sopir memecah kesunyian.
"Tidak Pak. Aku takut nyasar." jawab polos Ellena. Sang sopir terbahak.
"Aku sudah tau alamat yang kamu tuju. Jangan takut nyasar. Jika sudah sampai, Aku bisa membangunkan mu." sahut Sang Sopir.
"Apa kita tidak bisa berhenti sejenak Pak? Aku ingin buang air kecil sebentar." ucap Ellena.
"Haha.. tentu saja. Kita akan beristirahat di rumah makan. Kau juga pasti lapar kan?"
"Ah iya." jawab Ellena sedikit malu.
"Bapak juga lapar Dek, Tunggu Sebentar ya?" ucap si Sopir.
__ADS_1
"Kau mau ke restoran apa? Yang biasa atau yang mewah." tanya Sang Sopir. Dengan melihat wajah Ellena, si sopir sudah bisa menebak jika penumpangnya kali ini bukan Anak orang biasa. Ia menawarkan Ellena untuk memilih Restoran.
"Restoran apapun Pak? Terserah bapak saja." jawab Ellena. Toh dia tidak tau daerah ini, pikirnya. Mana Ellena tau Restoran yang biasa atau yang mewah.
Sang sopir mengangguk, dan tak lama kemudian membelokkan Travelnya ke sebuah rumah makan yang cukup Elit baginya.
"Ayo Turun. Aku akan mengantarmu ke toilet dulu."
Ellena pun turun, mengikuti langkah kaki Bapak sopir itu.
"Masuklah. Kau bisa cuci muka dan bersih bersih dulu."
Ellena mengangguk dan segera masuk.
"Astaga!" Ellena menutup mulutnya ketika berada di dalam. Sebenarnya WC umum itu sudah terlihat bersih. Tapi untuk ukuran Ellena tetap saja, ia begitu terkejut dengan baunya.
Ellena hampir saja muntah. Cepat cepat menuntaskan urusannya. Dan membasuh mukanya dengan kilat. Lalu keluar dengan cepat.
"Sudah?"
"Bapak! Kau menunggu ku?" terkejut melihat si bapak masih berdiri di situ.
"Tentu saja. Bapak takut penumpang ku yang cantik ini tersesat dan hilang. Nanti tidak ada yang membayar sewa travel bagaimana?"
Ellena tergelak mendengar itu.
"Ah iya. Terimakasih ya pak."
"Bayar dulu." ucap Si bapak sopir itu.
"Bayar?" Ellena sedikit bingung.
"Tuh!" menunjuk seorang penjaga Toilet.
"Astaga!" Ellena kembali lupa, jika ini adalah Toilet umum tapi yang bertarif.
"Ada uang pas tidak?" tanya bapak itu.
Ellena menggeleng.
"Sudah ku duga." Bapak itu kembali terkekeh dan mengeluarkan uang lima ribu dari kantongnya.
"Biar bapak saja." mengulurkan pada penjaga.
"Ayo." kemudian mengajak Ellena memasuki Restoran yang cukup besar itu.
"Pak , padahal di sini ada toilet pribadinya. Kenapa membawaku ke toilet yang bau tadi?" gumam Ellena setelah menarik kursi dan duduk, sambil menunjuk ke arah tanda panah yang menunjuk ke Toilet.
"Haha.. Iya. Bapak tidak tau juga kalau ada toilet pribadinya di sini." jawab Bapak sopir itu merasa bersalah.
"Huh! Memang bapak tidak pernah masuk kesini?"
"Tidak pernah. Biasanya juga di Lesehan." jawab si bapak. Ellena sedikit tertawa menanggapinya.
"Kau mau pesan apa? Biar sekalian bapak pesan." ucap si bapak.
"Apa saja. Ikut bapak saja."
Bapak sopir mengangguk dan segera berlalu. Tak lama, dia datang kembali dengan dua orang pelayan restoran yang sudah membawa beberapa makanan dan minuman.
"Ayo makan!"
Ellena mengangguk saja.
Dia hanya mencicip beberapa makanan, namun tidak menghabiskan. Hanya menghabiskan satu gelas teh manis hangat saja.
"Kau sudah selesai?"
Ellena hanya mengangguk.
"Kenapa makannya sedikit?"
"Aku kurang berselera." jawab Ellena.
"Oh,baiklah. Seseorang jika dalam perjalanan begitu. Biasanya karena gelisah, ingin cepat bertemu dengan seseorang yang di tuju."
Ellena terbelalak, kenapa bapak ini seperti tau pikirannya. Dia memang begitu gelisah memikirkan pertemuannya dengan Fic.
'Sungguhkah aku bisa bertemu dengan Fic?"
______________
__ADS_1