![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Mobil Nathan kini berhenti tepat di depan Rumah Elfa. Keduanya cepat menuruni mobil, bahkan tidak lagi mempedulikan Ayah Elfa lagi.
Mereka Berjalan terburu menuju pintu di ikuti Ayah Elfa.
Nathan dengan rasa tidak sabar mengetuk pintu berkali kali.
Pintu di buka seseorang, dan yang membuka adalah Ilham yang langsung melirik ke arah Ayah Elfa yang berdiri di belakang Nathan.
Tanpa di suruh Mira dan Nathan menyeruak masuk.
"Dimana Fic?" Nathan bertanya saat tak menemukan Fic di dalam ruangan itu.
"Tuan!" Fic muncul dari arah dapur.
Seketika keduanya menoleh bersamaan.
"Fic..!" Mira berlari ke arah Fic dan menubruk.
"Fic!" memeluk Fic dengan tangisannya yang pecah seketika.
" Nyonya. Sudah!"
"Aku tidak menyangka bisa bertemu denganmu!" melepaskan pelukannya.
Kini berganti Nathan yang memeluk Fic. Setelah beberapa saat, kini mereka sudah duduk dengan tenang di ruangan tengah rumah itu.
Mira menyeka air matanya dengan sesekali masih terisak.
"Bagaimana kabarmu Fic? Kenapa tidak memberi tahu kamu dahulu jika akan kemari?" tanya Nathan Setelah semua tenang.
"Maafkan aku Tuan. Aku harus berhati-hati. Aku takut, ada yang mendengar jika menghubungi mu. Aku hanya ingin melihat Nona sebentar saja."
"Jadi? Apa yang dilihat Ellena sore tadi di taman itu sungguh kamu Fic?" Mira kini bertanya, mengingat aduan Ellena sore tadi.
Fic mengangguk. " Aku sengaja mampir ke Taman itu sebelum kemari. Aku tidak menyangka jika Nona Ellena sedang di sana bersama Tuan Muda Khale. Saat aku memutuskan untuk cepat pergi, Nona melihat ku dan mengejar. Beruntung Istrinya cepat datang dan berhasil membohongi Nona." ucap Fic, menunjuk Ilham.
"Apa kau tau Fic. Semenjak keluar dari rumah sakit, baru hari ini Ellena bersedia keluar kamar. Aku dan Khale bahkan seperti tidak percaya. Tapi sekarang aku baru mengerti, jika firasat Ellena yang membawanya kesana. Pada akhirnya, kalian bertemu." ucap Mira.
Nathan terdengar mendengus. "Hati Ellena benar benar sudah terikat mati padamu. Hingga dia bisa punya firasat setajam itu."
Semua terdiam sekarang. Apa yang dikatakan Nathan dan Mira masuk akal. Bagiamana tidak, Ellena yang tidak pernah mau keluar kamar, tiba tiba sangat bersemangat dengan ajakan Khale sore itu. Bahkan Ellena sempat berharap bisa bertemu Fic di taman itu. Fic pun begitu, sebenarnya ia ke taman itu belum berniat untuk bertemu Ellena. Ia hanya sekedar ingin melihat taman tempat ia pernah bersama Ellena dulu.
Itu kebetulan? Atau memang ikatan hati mereka yang begitu kuat.
"Ellena sangat kacau Fic. Jika kau melihatnya, kau tidak akan tega." ucap Nathan.
"Bisakah kita mencari jalan keluar, agar Ellena bisa bersamamu lagi?" Mira bertanya.
Fic mengusap wajahnya. Dia sangat mengerti jika kondisi Ellena benar benar kacau sekarang.
__ADS_1
"Apa seseorang itu pernah menemui Tuan Nath lagi?" tanya Fic.
"Ya. Beberapa kali mereka menemuiku secara rahasia. Dan memintaku untuk segera menikahkan Ellena dengan pria yang sampai saat ini belum mereka sebutkan namanya itu." jawab Nathan.
"Apa Tuan ada mencurigai seseorang yang ada di belakang semua ini?" tanya Fic.
"Ya. Mengingat ucapan mu dulu, jika kekecewaan bisa saja merubah seseorang untuk memberontak, Aku akhirnya menaruh kecurigaan ku pada Ken."
Fic menoleh cepat. "Tapi aku tidak yakin Tuan. Meskipun aku pernah mengatakan itu, tapi sepertinya itu bukan berbuatan Tuan Ken."
"Dari mana kau yakin Fic?"
"Tuan Nath. Saat itu adalah waktu yang paling genting. Kecewa sedalam apapun itu, Seorang tuan Ken tidak akan mungkin tega. Karena ini adalah urusan nyawa, dan nyawa Nona Ellena. Tuan Ken tidak mungkin akan sanggup melakukannya." sahut Fic.
Nathan nampak terdiam untuk berpikir lagi. Benar juga ucapan Fic pikirnya. Jika urusan lain, Ken bisa jadi. Tapi saat itu adalah urusan nyawa Ellena. Ken tidak akan mungkin Setega itu. Walau bagaimanapun juga, Ken adalah orang yang bisa diandalkan dan dipercayanya selama ini dan belum pernah sekalipun membuatnya kecewa.
"Apa kamu ada kecurigaan dengan yang lain?" Kini Nathan yang bertanya pada Fic.
Fic mengangguk. "Apa Tuan masih ingat Ricard?"
Nathan dan Mira seketika tercengang. Mereka tidak pernah berpikir sejauh itu dan bisa melupakan Ricard begitu saja.
"Kau benar. Ricard. Ini pasti ulah Ricard!" ucap Nathan.
"Pantas saja, sedikitpun tidak ada gelagat yang mencurigakan dari Ken ataupun Rimbun. Mereka bahkan ikut tertekan saat kematian palsu mu itu." sambung Nathan.
"Nath.." Mengingat siapa Ricard dan apa yang pernah Ricard lakukan pada dirinya, Mira seketika cemas.
Nathan pun sama halnya dengan pikiran Fic saat ini. Karena Memang selama ini, orang yang paling membencinya adalah Ricard. Bisa jadi ini adalah perbuatan Ricard yang masih menaruh dendam padanya dan akan membalasnya melalui Ellena.
"Kalau begitu, mana mungkin aku akan menikahkan Ellena dengan pria itu. Ini tidak boleh di biarkan!" Nathan kini berdiri. Lalu menatap serius pada Fic.
"Kau tinggal dimana Fic?"
"Jauh Tuan. Aku tinggal di desa mereka. Di daerah kota Lampung." Fic kembali menunjuk Ilham dan Ranti.
"Baguslah." ucap Nathan.
"Sebaiknya kau pulang malam ini juga ke desa itu lagi. Biar aku yang memikirkan masalah ini."
"Tuan. Apa yang akan anda lakukan? Ku mohon jangan ceroboh!" Fic pun ikut berdiri. Kini mereka saling berhadapan dengan tatapan yang sama sama serius.
"Sebagai seorang Ayah, aku tidak akan mungkin membiarkan hidup Putriku menderita. Apalagi ini karena masa lalu orang tuanya. Ellena tidak boleh terlibat. Kau mengerti Fic. Jadi biarkan aku yang akan membereskan semua ini." ucap tegas Nathan.
"Tidak Tuan. Jika kau harus mengorbankan hidupmu, aku tidak setuju!" balas Fic.
"Dengarkan aku Fic! Sudah cukup kamu berkorban untuk kami. Dan biarkan kali ini aku yang akan melakukan sesuatu untuk kalian!"
"Tuan! Mana bisa seperti itu!"
__ADS_1
"Fic. Tugasmu, bahagiakan Ellena. Kembali kan kehidupannya seperti dulu lagi. Percayalah. Semua akan baik baik saja. Aku bisa menjaga diri selama Ellena tidak bersama kami. Jadi pulanglah sekarang. Aku akan segera membawa Ellena padamu di tempat mu sekarang tinggal."
"Tuan!"
"Fic."kini Mira yang ikut bicara.
"Apa yang dikatakan Nathan benar. Kami sebagai orang tua akan melakukan apapun demi Kebaikan dan Kebahagiaan Putrinya. Percayalah Fic. Kami akan bisa melewati ini dengan baik. Percaya lah pada kami. Ellena sangat tertekan. Apa kamu tidak memikirkan bagaimana nanti setelah dia menikah dengan pria itu? Ellena bisa gila! Ellena bisa nekat!"
Fic kini terdiam. Tidak bisa berkata apapun lagi. Menatap secara bergantian Mira dan Nathan.
Fic merasa tidak bisa berbuat apa apa sekarang. Fic tiba tiba hendak berlutut, namun Nathan cepat mencegahnya.
"Kau mau apa hah?"
"Aku pria yang tidak berguna!"
"Bicara apa kamu Fic?"
"Kamu berguna! Kamu bahkan rela menderita demi Ellena. Jika saja saat itu darahmu sama dengan Ellena, mungkin kamu sudah mati! Kau tidak ingat itu? Tapi Tuhan berencana lain. Kau memang untuk Ellena. Kau pria yang tepat untuk Menjadi suami Ellena. Jadi sekarang, tugasmu adalah untuk menjaga Ellena dengan baik." Nathan menepuk bahu Fic beberapa kali.
"Pulang lah. Sekarang juga, sebelum ada yang melihat mu di kota ini." tambah Nathan.
Fic menunduk, tidak bisa lagi berkomentar.
"Fic. Cepatlah!" ucap Mira.
"Nyonya. Jika aku lari, itu artinya aku pengecut."
"Kau tidak pengecut. Yang kita lakukan ini adalah demi menyelamatkan Ellena. Sekali lagi demi Ellena Fic!" Nathan kembali meyakinkan Fic.
"Tapi anda yang akan menanggung semuanya, Tuan!"
"Apa kau meremehkan aku?" Nathan melotot.
"Tidak akan terjadi apa apa padaku!" kini Nathan menoleh pada Ilham yang hanya terdiam mendengar perseteruan mereka.
"Bawa kembali dia kembali ke desamu!"
"Baik Tuan!" Ilham cepat menjawab dan berdiri.
"Ayo Mas Fic!" meraih lengan Fic.
"Lepas!" Fic menghempaskan tangan Ilham.
"Fic! Kau menentang ku? Apa kau ingin melihatku marah?" Nathan menatap tajam Fic.
"Tuan, Aku memikirkan mu sekarang."
"Yang harus kau pikirkan sekarang ini adalah Ellena. Wanita yang kau cintai, dan yang sangat mencintaimu. Dan kau harus percaya, jika aku akan bisa menjaga diriku asal Ellena tidak lagi berada di kota ini."
__ADS_1
Fic kini pasrah oleh usiran Nathan. Setelah beberapa saat lamanya terdiam untuk menatap kedua orang di hadapannya itu secara bergantian, akhirnya Fic pun memutar tubuhnya.
_______________