Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]

Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]
Menginjakkan kakinya di Tanah Lampung!


__ADS_3

Di dalam Bus!


Fic beberapa kali menggeser pantatnya yang sudah terasa panas. Sudah hampir empat jam lebih bus itu melaju tak berhenti sejak dari Pelabuhan Bakauheni tadi.


Berulang kali Fic juga mengusap wajahnya. Tidur tidak bisa, terjaga pun makin gelisah.


Fic mencoba mengalihkan pikirannya dengan menatap luar.


Pohon pohon menjulang tinggi terlihat dengan remangan lampu jalan. Lalu melewati beberapa pemandangan sawah yang terhampar luas. Kemudian kebun kebun yang menghijau.


Tak lama kemudian, Bus nampak memasuki sebuah perkotaan. Perkotaan yang sedikit terlihat ramai dari kota kota sebelumnya yang di lihat Fic sepanjang perjalanan tadi.


Bus berbelok ke sebuah Rumah makan dan berhenti.


Semua turun. Ilham pun mengajak Fic untuk turun. Memasuki Rumah Makan yang mempunyai Tempat makan khusus Lesehan itu.


Sang sopir bersama keneknya terlihat langsung merebahkan tubuhnya untuk tidur sebentar mengusir kantuk.


Para penumpang memilih tempat dan posisi masing masing. Duduk bersila memesan kopi dan makanan, ada juga yang segera rebahan sekedar untuk meluruskan punggung mereka yang Pegel akibat Berjam jam duduk di dalam bus.


Fic memilih tempat di pojok, menyandarkan punggungnya ditembok dan meluruhkan kedua kakinya. Ilham memesan makanan dan kopi.


Kemudian ikut duduk di hadapan Fic berbatas meja.


"Mas Fic. Jangan lepaskan tasmu, di sini banyak copet." bisik Ilham.


"Sungguh?" Fic sedikit terbelalak.


Ilham mengangguk, Fic cepat mendekap tas hitam miliknya. Siapa yang tidak takut di copet? Jika itu terjadi, sungguh Fic akan hancur seketika.


Fic memilih untuk setia menggenggam tasnya.


Pelayan Rumah makan menghampiri, menyajikan beberapa makanan dan kopi yang di pesan Ilham.


Fic menatap itu, menatap sayur di mangkok besar. Macam macam lalapan, bahkan ada jengkol petai beserta sambal mentahnya.


Tapi ada yang membuat Fic sedikit aneh dengan sayur di mangkok itu. Potongan ikan besar dengan kuah air bening yang cukup banyak. Terlihat ikan itu masih putih seperti masih mentah. Bertabur daun kemangi.


"Ayo makan mas! Kamu pasti lapar." ajak Ilham.


Pria itu nampak perhatian dengan Fic, menyendok nasi ke piring Fic dan mendekatkan lauk pauk serta lalapan, juga menarik mangkok air cuci tangan.


"Ini apa?" Fic menunjuk.


"Ini pindang paten mas. Pindang bening ala makanan khas Penduduk Lampung pribumi." sahut Ilham cepat mengisi piringnya.


Fic meringis melihat cara makan Ilham, dengan lahap menyuap mulutnya dengan tangan. Terdengar beringsik saat mengunyah jengkol.


Ilham melirik Fic. "Kau tidak suka makanan seperti ini ya?"


Fic tidak menjawab. Memegang sendok seperti bingung hendak memulai makan


"Astaga! Aku lupa jika kau berasal dari kota. Mana kau suka makanan seperti ini? Baiklah, aku akan pesan yang lain." Ilham sudah berdiri.


"Tidak usah." Fic mencegah.


"Biar aku mencobanya." Fic menyendok sayur. Ilham tersenyum saja.


"Kenapa ini seperti masih mentah?" memperhatikan ikan yang sudah di piringnya.


"Ya. Pindang bening namanya. Coba lah. Kau pasti suka jika sudah mencicipinya." Ilham meraih sendok. Menuang banyak Kuah ke piring Fic.


"Kuahnya harus banyak supaya enak." sambung Ilham.


Fic ragu ragu untuk menyuap mulutnya. Tapi setelah suapan pertama, nampak ia menikmati juga.


"Enak ya. Bisa tidak amis. Padahal ikan ini terlihat masih mentah." ucap Fic.


"Haha... Meskipun terlihat putih begini, tapi mereka memasukan banyak rempah rempah ke dalam sayur ini dengan cara mengirisnya. Sebab itu,kuah terlihat bening." jelas Ilham.


"Enak kan?"


Fic mengangguk, makan dengan lahap menikmati makanan itu.


"Sekalian lalapnya." Ilham menyodorkan Jengkol, petai dan irisan mentimun. Fic tersenyum melihat itu.


"Jika yang ini aku tidak mau." memilih mengambil Timun saja.


"Ini kota apa?" tanya Fic di sela kunyahan mulutnya.


"Bandar jaya. Masih sekitar seharian lagi baru sampai ke rumahku."


"Hah, yang benar saja!" Fic terbelalak.


"Sore bahkan bisa sampai Isak nanti. Bus itu juga tidak masuk ke kampung ku. Hanya di pinggiran kota. Kita bisa menyewa jasa ojek untuk masuk. Dan itu sangat jauh kawan."


"Apa kampung kamu terlalu di perdalaman?" tanya Fic.


"Bukan hanya di perdalaman, tapi hampir di pegunungan. Daratan tinggi lebih tepatnya."


Fic mendengus. "Bagaimana kalau, kita menyewa taksi saja sejak dari sini. Ku rasa itu akan mempercepat perjalanan kita. Apa kau tau jika bokongku sudah sangat panas?"


"Hem.. bisa, tapi bukan taksi melainkan Travel. Tapi sewanya pasti mahal jika sampai kesana."


"Itu tidak masalah, bukankah kau juga harus cepat sampai untuk melihat keadaan anakmu?"


Ilham mengangguk. "Istriku,semalam juga sudah menelpon Mas. Rumah sakit meminta istriku melunasi biaya operasi pagi ini."

__ADS_1


"Apa anakmu sudah selesai di Operasi?"


"Kata istriku sudah. Alhamdulillah, operasi berjalan lancar." jawaban Ilham membuat Fic kembali teringat tentang keadaan Ellena. Fic meletakkan sendoknya. Mengusap kembali wajahnya.


'Bagaimana kabar Nona Ellena. Apa operasi nya berhasil? Aku sungguh ingin mendengar kabarnya.' Fic lagi lagi gelisah.


"Mas."


"Ah, iya." Fic tersentak.


"Kau teringat dengan Tuan putri?"


Fic mengangguk. "Aku hanya ingin tau kabarnya. Apakah Operasinya juga berjalan lancar."


"Kau bisa mencari tau nanti setelah sampai di rumahku."


Fic lagi lagi mengangguk. Ia masih merasa beruntung sempat mencatat nomor Nathan di dalam otaknya.


"Kalau begitu, Kita bisa mencari mesin ATM disini dan mengirim uang pada istrimu dahulu. Lalu mencari travel untuk kita ke kampung mu."


Ilham mengangguk setuju. "Habiskan dulu makanannya. Sayang. Ini mahal."


Fic mengangguk, tapi tidak lagi melanjutkan makannya. Ia menatapi Pria di hadapannya itu yang sedang dengan lahapnya makan.


Fic, lagi lagi merasa beruntung bisa bertemu dengan Ilham. Walaupun hidup Ilham kekurangan, tapi sepertinya pria itu tulus dan bisa di percaya.


Akhirnya kedua pria itu melangkah keluar dari Rumah makan itu setelah Ilham berbicara pada sang sopir dan selesai membayar makanan mereka pada kasir.


Ilham membawa Fic memasuki sebuah Plaza yang tertulis kalimat.


Plaza Bandar jaya.


Terlihat mulai ramai meskipun ini masih sekitar subuh. Para pedagang sayuran sudah nampak merapihkan dagangan.


Para pembeli yang sepertinya seorang pedagang kulakan pun sudah mulai berdatangan.


Ilham menunjuk sebuah tempat.


"Itu mesin ATM Mas!"


"Oh iya. Kita kesana."


"Jaga tas nya baik baik mas." bisik Ilham mengingatkan Fic. Fic mengangguk.


Mereka melangkah ke arah mesin ATM.


"Berikan Nomor rekening istrimu." ucap Fic saat sudah berada di dalam.


Ilham cepat mengeluarkan hpnya. Mengulik sebentar kotak masuk dan memperlihatkan pada Fic.


Fic segera melakukan Transaksi.


Ilham tertegun, matanya berkaca kaca dan tangisnya pecah seketika.


"Mas Fic. Kau begitu baik. Ini 20 juta. Dua tahun, mungkin aku baru bisa mengumpulkan uang sebanyak ini. Itu pun harus banyak banyak berpuasa. Tapi kau memberikannya pada kami secara instan."


Fic menepuk punggung pria itu. "Kita sudah berteman bukan? Mulai detik ini, kita akan saling membantu."


Ilham semakin terisak, memeluk Fic dengan erat.


"Terimakasih mas Fic. Terimakasih, sungguh. Jika Tuhan tidak mempertemukan aku denganmu, entah bagaimana nasib anakku sekarang."


Fic hanya bisa menghela nafas.


'Aku juga berharap, Nona Ellena sembuh seperti sedia kala. Walau aku harus menanggung sakit seperti ini, tapi setidaknya aku bisa berkorban sedikit untuknya.'


"Sudah." Fic mendorong pelan tubuh Ilham.


"Aku juga berterima kasih padamu Ilham. Jika aku tidak bertemu orang baik seperti mu, mungkin tas ini juga sudah raib di embat orang jahat. Kau juga bersedia membawaku yang tak punya tujuan ini." ucap Fic.


Ilham menyeka air matanya. "Tidak apa apa. Ini tidak seberapa jika di bandingkan kebaikanmu. Nyawa anak ku tertolong."


"Ayo kita belanja dulu. Kau bisa memilih oleh oleh untuk keluargaku. Dan aku ingin mencari beberapa ganti." ucap Fic mengajak Ilham melangkah lagi.


Keduanya kini melangkah.


_____________


Ini sudah lewat dari setengah hari,


Dua jam Setelah melewati gerbang jalan yang bertuliskan "Selamat Datang Di Way Kanan",


Travel yang di sewa mereka kini mulai memasuki jalanan aspal yang berlubang.


Semakin kesana, jalanan semakin rusak.


Fic bisa melihat dengan jelas kanan kiri dari balik kaca. Sesekali melewati sawah. Sesekali melewati kebun perkopian dan lada.


Fic bisa menghirup udara yang begitu sejuk. Mengingatkannya pada Villa Puncak! Tentu saja bayangan Ellena kembali menari di otaknya.


Bagaimana tidak teringat, disanalah Fic pernah menjamah seluruh tubuh Ellena tanpa jeda. Dan hampir saja melampaui batasan jika saja Fic tidak cepat tersadar jika itu salah. Fic beruntung masih bisa mengerem nafsunya. Hingga keduanya selamat dari perbuatan yang seharusnya memang belum boleh terjadi.


"Sebentar lagi kita sampai mas." ucap Ilham menyentak lamunan Fic.


Tak lama mobil itu membelok kejalan kecil sesuai dengan arah petunjuk dari Ilham kemudian berhenti di depan rumah yang sangat sederhana. Ilham cepat mengemasi barang barang dan turun disusul Fic.


Mereka sudah disambut oleh dua wanita, satu wanita masih muda dan satu lagi sudah separuh baya.

__ADS_1


Banyak pasang mata dari beberapa tetangga yang kepo melirik mereka. Kemudian berbisik bisik. Mungkin mereka terkejut melihat Ilham pulang dengan menyewa Travel. Biasanya juga hanya pakai ojek.


Tumben Travel. Apa sudah sukses?


Dan itu siapa? Ya Tuhan! Itu siapa yang di bawa Ilham?


Tampan sekali?


Pasti orang kaya!


Atau Bos nya?


Begitulah, bisik bisik mereka kira kira.


Mobil itu pergi setelah Fic selesai memberi bayaran sewa. Melirik dua wanita yang langsung menyerbu Ilham dengan Isak tangis.


"Sudah ayo masuk dulu." ucap Ilham pada dua wanita itu sambil mengulurkan kantong kantong plastik berisi banyak macam oleh oleh.


"Mas.. Eh," Ilham menutup mulutnya.


"Mas Gilang. Ayo masuk!" menarik tangan Fic yang masih terpaku.


Rumah berdinding geribik bambu dengan atap Asbes dan hanya berlantai tanah itu mampu membuat Fic tertegun.


"Rumah kami memang begini keadaannya mas. Sungguh tidak layak untuk mas Fic!"


Fic tersenyum, kini melangkahkan kakinya tanpa ragu untuk menginjak teras.


Ilham menghampiri dua wanita tadi kemudian berbisik.


"Dia ini mas Gilang. Aku bertemu dia dijalan. Tapi dia orang baik, dia yang menolongku. Yang membayar biaya Operasi untuk Naila. Jika aku tidak bertemu dia ini, entah lah. Jadi kita harus perlakukan dia dengan sebaik mungkin, kita berhutang nyawa Naila padanya." bisik Ilham.


Kedua wanita itu langsung terbelalak.


Wanita separuh baya itu cepat cepat ke dalam, kemudian kembali lagi dengan menarik selembar tikar. Sepertinya itu tikar baru yang sengaja ia simpan.


Biasalah, Emak emak di kampung itu suka sengaja menyimpan Tikar baru mereka untuk jika sewaktu waktu ada tamu dadakan.


Yang wanita muda juga begitu, cepat menyisih kan barang barang tak penting yang sekiranya mengganggu pemandangan. Kemudian Ilham mempersilakan Fic masuk.


Fic masuk, mencopot sepatunya dan duduk di atas tiker itu.


"Mas Gilang, kenalkan. Ini Ranti, istri ku dan ini Bu Marni, Mertuaku."


Kedua wanita itu mengangguk ke arah Fic, begitu juga dengan Fic.


Mereka bertiga ikut duduk di atas tiker.


"Bagaimana Naila dek?" tanya Ilham pada istrinya.


"Semalam, Dokter langsung mengoperasi Naila mas. Naila sudah sadar dan beberapa hari lagi sudah boleh pulang. Aku juga baru pulang untuk menyambutmu. Besok pagi kita bisa ke Rumah sakit untuk menengok Naila. Dia menanyakanmu terus." jawab Ranti.


Ilham mengangguk, "Syukurlah. Apa bapak disana?"


"Iya. Bapak disana, belum pulang sejak Naila masuk Rumah sakit."


Ilham menoleh pada Fic. "Mas Gilang beristirahat dulu saja ya?" tawar Ilham, tapi seperti ragu ragu. Mana mungkin menyuruh Fic untuk tiduran di atas tiker ini?


Beruntung Ibu cepat paham dan menyahut.


"Di kamar kalian saja. Nanti kalian bisa pindah ke kamar ibu."


"Terus ibu?" tanya Ranti.


"Ah gampang. Pikirkan nanti saja."


Fic hanya tersenyum, dia paham jika Rumah ini berukuran sempit. Hanya ada dua kamar dan dapur serta ruangan ini saja. Pasti mereka bingung akan menempatkan Fic dimana.


Fic sudah berpikir akan segera mencari tempat tinggal yang lebih besar dan layak untuk mereka nantinya.


Menghela nafas panjang kembali, dan membulatkan hati untuk memulai kehidupan baru di Desa ini.


________________


desa: Gunung sari.


kec: Rebang Tangkas.


kab: Way kanan.


Lampung!


Bagi yang tau daerah ini, tunjuk jari.


Perjalanan Fic di desa ini sekalian mewakili author untuk memperkenalkan Daerah kami pada Dunia, daerah yang terkenal dengan julukan Negri 1001 Air Terjun!


Terkenal dengan Perkebunannya juga lho. Ada, kopi, lada , karet, sawit dan masih banyak lagi.


Terkenal dengan istilah, Senggol Bacok!


Seperti terdengar seram! Padahal tidak. Baik penduduk pribumi atau pendatang, banyak yang ramah kok.


Nanti akan ada gambaran tentang beberapa air terjun atau lebih di kenal dengan sebutan Curup yang akan di jumpai Fic. Pemandangan alami hasil dari alam yang cukup indah.


Bagi yang tinggal di sekitar daerah Way kanan, boleh komen di bawah, air terjun atau Curup mana yang kalian ketahui?


Ayo komen!

__ADS_1


___________


__ADS_2