![Pejantan Tangguh [Pemilik Hati Tuan Putri]](https://asset.asean.biz.id/pejantan-tangguh--pemilik-hati-tuan-putri-.webp)
Travel itu kembali melaju di tengah jalanan yang tentunya tidak seramai Kota tempat tinggal Ellena yang selalu padat lalu lintas.
Ellena kini sudah mendengkur halus. Tidak bisa lagi menahan kantuk yang sangat menguasai matanya. Hingga Ellena tidak punya kesempatan untuk melihat pemandangan luar yang sebenarnya begitu indah. Pemandangan yang mungkin saja belum pernah Ellena lihat di kota.
Beberapa kali guncangan badan mobil yang mengenai jalan berlubang tidak membuat Ellena terbangun. Hingga sang Sopir meminggirkan mobilnya karena merasakan sesuatu yang tidak beres.
Sang sopir terlihat keluar dari mobil untuk memeriksa.
"Ah sial! Pecah ban rupanya. Pantas saja!" gumamnya. Melirik jam tangan. Ini sudah pukul Tiga sore.
"Dek.. dek!" mencoba membangunkan Ellena.
Ellena terlonjak kaget dan bangun seketika. Lalu membuka pintu mobil untuk keluar.
"Kenapa berhenti pak? Apa sudah sampai?" Ellena kembali memutar matanya. Pemandangan yang begitu asing baginya. Sangat asing. Kanan dan kiri jalan terdapat rumah rumah penduduk. Tapi yang membuat unik adalah Bangunan sebuah Pura kecil yang terdapat di setiap depan rumah warga.
'Apa ini kampung Bali?' hatinya sedikit bertanya.
"Mobilnya pecah Ban Dek." ucap Pak sopir.
"Terus bagaimana? Apa masih jauh perjalanan kita?" tanya Ellena kembali resah.
"Kalau dari sini sekitar dua jam tidak sampai. Tapi kalau kau menunggu mobil ini, sudah pasti bisa empat jam lebih. Kita harus mencari bengkel dulu. Dan jalan ini rusak parah. Lihatlah!" menunjuk jalanan yang memang sangat rusak.
"Bisa jadi selepas Magrib baru kita sampai ke tujuan."
Ellena kembali menatap sekeliling.
"Ini, seperti kampung Bali yang aku sering lihat di sosial media?" tanyanya, cukup penasaran dengan tempatnya sekarang berdiri.
"Ini daerah Banjit. Sudah termasuk kabupaten way kanan. Desa ini memang khusus orang orang Bali yang menempatinya. Mungkin Nenek moyang mereka adalah Transmigrasi dari Bali." jelas Pak sopir.
Ellena hanya mengangguk saja.
"Lalu bagaimana denganku? Aku takut kemalaman di jalan." tanya Ellena.
"Begini saja. Bagaimana kalau adek naik ojek saja. Itu bisa lebih cepat sampai. Kau tidak akan kemalaman, daripada harus menunggu bapak menemukan bengkel, mengganti ban mobil, belum lagi mobil ini sudah pasti sangat lambat untuk melewati jalan ini."
Ellena nampak berpikir.
"Bapak yang akan mencari ojek untukmu. Bagaimana?" Bapak sopir itu kembali bertanya.
Ellena akhirnya mengangguk, dalam pikirannya saat ini yang tepenting bisa bertemu dengan Fic apapun caranya.
"Baiklah, tunggu sebentar." Bapak itu segera melangkah pergi. Hingga beberapa saat, ia kembali lagi bersama seorang ojek.
"Tolong antar dia ketempat tujuan ya Mas?" ucap pak sopir pada si ojek.
"Siap pak! Ayo dek." sang ojek menepuk jok motornya.
"Ah iya. Tunggu Sebentar." Ellena menghampiri sang Sopir travel.
Menghitung ongkos yang sudah mereka sepakati sejak di pelabuhan tadi dan mengulurkannya pada bapak itu.
"Terimakasih ya Pak. Sudah banyak membantuku." ucap Ellena.
"Iya dek, sama sama . Tunggu sebentar." Bapak itu mengurangi dua lembar uang dari Ellena dan menghampiri sang ojek.
"Ini ongkos adek ini. Tolong sampai kan dia pada tujuannya. Jika tidak berhasil ketemu, tolong bawa dia pada Pak RT setempat saja." ucap Bapak sopir.
"Beres Pak. Aku akan mengantarnya sampai ketemu orang yang dituju." jawab sang ojek.
"Hati hati ya? Jangan takut, daerah ini aman kok. Kabar yang beredar jika disini banyak Begal dan rawan kejahatan itu sudah masa lampau. Sekarang ini, daerah ini aman terkendali." ucap pak sopir travel.
Ellena lagi lagi mengangguk, dengan ragu ragu mulai menaiki Motor.
Sang Ojek pun mulai menjalankan motor metignya.
Sungguh, ini pengalaman pertama Ellena menumpangi kendaraan berroda dua seperti ini. Kikuk, saat mau tidak mau harus berpegangan pada pinggang sang Ojek. Belum lagi debu dan hawa panas. Padahal ini sudah sore, tapi terik matahari masih saja terasa.
Apalagi ketika mencium bau keringat Sang ojek. Ellena merasa tidak nyaman. Untung segera teringat dengan maskernya, cepat merogoh dan mengenakannya.
Satu jam sudah Ellena di bawa pontang panting oleh laju motor yang tak stabil itu. Jalanan yang banyak berlubang membuat pinggang Ellena terasa ngilu dan pegal. Belum lagi panas di bokongnya.
Ellena kini bisa melihat, beberapa kali mereka melintasi hutan belukar, lalu perkebunan karet. Tak jarang Ellena terkejut dengan bau busuk yang menyengat hidungnya, padahal sudah memakai masker.
"Mas,bau apa sih ini?" karena penasaran Ellena bertanya pada sang ojek.
"Bau Balem Dek." jawab Sang ojek.
"Balem?" Ellena tidak mengerti rupanya.
"Balem itu getah karet. Yang di ambil dari pohon karet, lalu di bekukan. Begini memang baunya. Busuk! Tapi itu mata pencarian pokok sebagian warga sini selain kopi sawit dan lada." ucap Sang ojek.
"Oh.." Ellena sedikit paham.
Tak lama, Sang ojek itu berhenti di pinggir jalan sebuah perkampungan.
"Kita sudah sampai di kampung yang kamu tuju. Kamu tau rumahnya dimana?" tanya sang Ojek.
"Tidak tau." jawab Ellena.
Sang ojek terdengar mendengus.
__ADS_1
"Ah, baiklah. Kita bisa bertanya pada mereka." menunjuk segerombolan Ibu ibu yang sedang duduk di gardu sambil mengasuh anak anak balitanya.
Ellena setuju, kemudi menuruni motor, memilih untuk berjalan kaki menghampiri Ibu ibu itu.
Sang ojek pun mengikuti dengan menjalankan motornya dengan pelan.
"Permisi Ibu. Boleh saya bertanya?" sapa Ellena.
Mereka yang sedari tadi memang sudah melihat dan memperhatikan kedatangan Ellena cepat mendekat.
"Iya mbak? Apa ya..?" salah satu bertanya.
"Saya sedang mencari seseorang yang tinggal di desa ini. Mungkin ada yang mengenalnya?"
"Siapa namanya mbak?"
"Namanya.. Fic. Tuan Fic. Apa ibu kenal?" ucap Ellena.
"Fic?" Ibu ibu itu saling melempar pandangan.
"Sepertinya tidak ada yang bernama Fic disini? Apa mbak salah desa mungkin?"
Ellena sungguh tercengang mendapati jawaban mereka. Cepat menoleh pada Sang Ojek.
"Coba periksa dulu yang benar alamatnya Dek!" saran sang Ojek.
"Tunggu sebentar." hati Ellena tiba tiba sangat khawatir. Kembali memeriksa kertas dari Ayahnya.
"Tidak ada? Ah,kemana kertas nya?" Ellena kini panik setengah mati. Mengobrak Abrik isi tasnya. Kertas itu tidak bisa ia temukan.
"Jangan jangan, jatuh di travel tadi. Atau di pelabuhan." Tubuh Ellena lemas sekarang.
"Ya Tuhan..! Bagaimana jika aku tersesat?" sungguh Ellena kebingungan sekarang. Menatap para Ibu Ibu yang sepertinya ikut bingung. Lalu menatap sang ojek yang juga nampak bingung.
"Mas, bagaimana? Kertas alamat itu hilang." berkata pada Sang ojek.
"Kasian sekali Mbak ini. Pasti dari jauh ya?" ucap seorang ibu ibu.
"Benar Bu. Saya dari kota. Saya, saya sedang mencari.. Mencari kakak ku. Kakakku pergi dari rumah sekitar tiga atau empat bulan yang lalu. Ayahku mengatakan jika dia tinggal di daerah sini. Di desa ini. Tapi untuk memastikan, kertas alamat itu malah hilang." sahut Ellena.
"Tidak menyimpan nomor HP-nya?"
Ellena menggeleng dengan wajah putus asa sekarang.
"Jangan panik, jangan panik. Bapak sopir yang membawamu tadi itu, mengatakan jika daerah ini yang kamu tuju. Artinya ini benar desanya. Hanya saja, kenapa orang yang kamu cari bisa tidak ada disini ya? Kau salah sebut nama mungkin." ucap sang Ojek.
"Tidak mungkin mas. Yang saya cari memang bernama Fic. Bukan yang lain." jawab Ellena.
"Apa mungkin dia ganti nama disini?"
"Mungkin iya." Ellena baru sadar, jika Fic sedang menyembunyikan identitas aslinya.
"Tapi siapa nama Fic disini. Ayah tidak mengatakan apapun selain.." Ellena tidak melanjutkan ucapannya. Teringat sesuatu yang pernah ayahnya ucapkan.
"Ilham. Apa ada yang mengenal Nama Ilham?" beruntung Ellena bisa mengingat saat Nathan pernah mengatakan jika Fic tinggal bersama pria yang bernama Ilham.
"Ilham?" para ibu ibu bersahutan.
"Oh.. Ilham Suaminya Mbak Ranti mungkin!" seru satu ibu ibu.
"Bapak nya Naila!"
Ellena seperti tidak asing dengan nama yang mereka sebut barusan.
"Ranti?" Ellena berusaha mengingat ingat nama itu.
"Oalah.. Mungkin yang dia cari itu mas Gilang lho...! Pria tampan rupawan anak bosnya Ilham dari kota itu!"
"Oh, yang sekarang jadi juragan kebun?"
"Gilang..?" Ellena kembali merasa tidak asing dengan nama itu. Kilasan kejadian di taman tempo lalu membuatnya terbelalak seketika.
"Di mana rumahnya Bu?" tanya Ellena dengan cukup serius.
"Tidak jauh dari sini mbak. Aku bisa mengantarmu."
Ellena sungguh sumringah mendengar itu. Cepat mengangguk untuk mengiyakan.
"Kalau begitu aku permisi ya dek." Sang ojek akhirnya berpamitan.
Ellena mengangguk, kini mengikuti langkah seorang Ibu Ibu yang hendak ngantarnya. Baru saja mereka melangkah beberapa meter, Ibu itu berseru pada seseorang yang baru keluar dari sebuah warung.
"Ranti...!"
Yang di panggil menoleh, Ibu itu berlari menghampirinya.
"Ada yang mencari kalian!"
"Mencari kami? Siapa?" tanya Ranti sedikit heran.
"Itu!" menunjuk Ellena yang sekarang sudah mendekat dan berdiri di belakangnya.
"Nona Ellena!" Ranti memekik seperti tak percaya dengan apa yang dilihat.
__ADS_1
"Kau mengenalku?" tanya Ellena, sambil menatap seksama wajah itu.
"Kamu... kamu...!" kini ingatan Ellena begitu jelas pada wajah itu, seketika Ellena menubruk Ranti dan memeluknya dengan cukup erat.
"Pertemukan aku dengan Fic. Ku mohon." Ellena terisak.
Ranti membalas pelukan Ellena.
"Nona. Tenanglah. Kau akan bertemu dengannya." Ranti mengelus halus punggung Ellena.
_______
Sementara Fic saat ini sedang sibuk di halaman belakang rumah besar yang baru dua bulan mereka tempati itu.
Membantu Ilham memindah semaian bibit sawit.
"Mas Gilang. Berhentilah membantuku, kau sudah mandi! Nanti kau kotor lagi!" seru Ilham.
"Mandi lagi! Aku tidak tega melihatnya bekerja sendirian." bantah Fic.
"Haha.. Tai kucing kau akan mandi lagi. Setelah itu kau akan sibuk menyuruhku membuat perapian. Aku tidak Sudi! Lebih baik berhentilah! Duduk lah bersantai, meminum kopi sambil melamunkan Nona Ellena saja." ucap Ilham kini mendekati Fic.
Fic tersenyum. "Ellena." Fic menarik nafas berat.
"Andai saja dia tiba tiba muncul disini." gumamnya, terdengar oleh Ilham.
"Apa yang akan kau lakukan?"
"Aku akan memeluknya, walau itu hanya sebatas bayangannya saja. Aku akan memeluknya sampai tubuhku terasa ngilu."
"Lalu? Jika yang datang bukan bayangannya saja melainkan benar benar Nona Ellena, apa Kau akan membawanya ke KUA?" ejek Ilham sambil tertawa.
"Tentu saja. Aku akan membawanya ke KUA. Aku tidak akan mungkin melepasnya lagi untuk kali ini."
"Mas Gilang. Ada tamu yang mencarimu!" seru Ranti sudah berdiri di belakang mereka.
Mereka menoleh, "Siapa?" tanya Fic , tidak melihat siapa pun bersama Ranti.
"Di luar ada seseorang yang mencarimu. Katanya penting." ucap Ranti kembali.
"Siapa dek?" kini Ilham yang bertanya.
Ranti tidak menjawab.
Terdengar langkah kaki mendekati mereka.
"Fic!"
Deg...! Panggilan itu begitu membuat Hati Fic bergetar. Suara yang begitu tidak asing baginya. Suara yang begitu sangat ia rindukan.
Fic menoleh cepat.
"Nona Ellena!" Fic terperangah. Mengucek matanya beberapa kali.
"Apa aku sedang bermimpi?" meyakinkan penglihatannya.
"Benarkah dia Nona Ellena? Atau bayangannya?" kembali Fic mengucek matanya, kini menoleh pada Ranti yang mengangguk padanya.
Lalu kembali pada gadis yang sudah semakin dekat itu.
"Fic!" Ellena sesekali menyeka air matanya yang tak berhenti mengalir.
Ellena semakin mendekat.
Fic kini bisa melihat dengan jelas wajah Ellena di remang senja. Tiba tiba tubuh Fic terasa ringan, dengan jantung yang berdebar sangat kencang.
"Fic! Apa kau masih ingin membohongi ku? Akan mengatakan, jika kau tidak mengenalku?" kini Ellena benar benar berdiri di hadapannya.
"Ellena." Fic seperti berada di bawah alam sadar. Tangannya yang cukup gemetaran itu kini bergerak pelan menyentuh wajah Ellena. Memandangi wajah Ellena masih dengan rasa seperti sedang bermimpi.
"Kau benar benar Ellena? Mana mungkin?" Air mata Fic kini mengalir tanpa ia sadari.
"Aku Ellena. Aku jauh jauh mencarimu, dan datang kemari untuk mu Fic! Jangan membohongi ku lagi. Jangan mengatakan jika kau tidak mengenalku! Jangan bilang jika kau sudah mati karena mendonorkan jantungmu untuk ku!" Ellena kini memukul mukul dada Fic yang masih terpaku dengan tangan masih menyentuh wajahnya.
"Ellena! Ellena..! Arg.....!" Fic seketika berteriak kuat. Lalu merengkuh tubuh Ellena dan memeluknya dengan sangat erat.
"Ellen." Mendekap Ellena dalam dalam dan menciumi pucuk kepala Ellena.
Tangisan Ellena pecah seketika di dalam pelukan Fic.
"Kenapa kau jahat padaku?"
"Kenapa meninggalkan aku selama itu Fic?" Ellena menangis tersedu.
"Maafkan aku. Maafkan aku.." Fic pun terisak. Masih terus memeluk Ellena.
"Aku hampir gila kau buat Fic. Aku hampir putus asa! Apa kau tau itu?"
"Maafkan Fic Nona. Maafkan Fic. Fic tidak punya pilihan. Sungguh!"
Di sebelah mereka, sepasang suami istri sedang menikmati pemandangan yang begitu mengharukan itu. Sesekali ikut terisak.
Pertemuan sepasang kekasih yang saling mencintai itu, mampu membuat mereka ikut menangis bahagia sekaligus meremang.
__ADS_1
_________