Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 36


__ADS_3

Hening, tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun untuk beberapa saat. Ya, semua orang masih syok dengan keberanian Ibra. Jadi pacar saja, tak direstui, eh...malah melamar.


Sebenarnya tadi, Ayah Septian hanya memancing, tak terlalu serius. Tapi yang terjadi, malah diluar dugaannya. Padahal dia pikir, nyali Ibra akan menciut kalau ditantang dengan keseriusan. Ayah pikir, pemuda seperti Ibra, pasti belum ada pikiran untuk menikah. Tapi ternyata, pemuda dihadapannya itu berbeda dengan apa yang dia pikirkan.


"Melamar putri saya?" Setelah ditahan-tahan, Mama Nara buka suara lebih dulu. "Apa yang kau punya sampai berani melamar Ayleen?"


"Astaga, saya hampir lupa." Ibra mengambil bungkusan yang ada disebelahnya. "Ini ada martabak buat keluarga, Tante."


Ayah, Mama dan Aydin, langsung melongo. Menatap nanar kantong keresek warna putih yang berisi martabak.


"Hahaha." Suara tawa yang berasal dari dalam, membuat perhatian mereka langsung teralih. Siapa lagi kalau bukan Alfath. Diam-diam, dia ikutan Ayleen menguping. "Kamu dilamar pakai martabak, Kak. Hahaha." Alfath masih terpingkal-pingkal, tak sadar jika tawanya terdengar jelas sampai ruang tamu.


"Al, suara kamu," pekik Ayleen tertahan sambil menginjak kaki Alfath. Cowok itu reflek membungkam mulutnya, bisa-bisanya dia lupa kalau sedang sembunyi-sembunyi nguping. Ah, jadi ketahuan deh.


"Bu-bukan melamar pakai martabak," Ibra takut mereka salah paham. "Martabak ini hanya buah tangan. Untuk lamarannya, saya akan membawakan apapun yang diminta Ayleen." Ibra merutuki diri sendiri, kenapa juga memunculkan si martabak ini pada saat tidak tepat. Bisa-bisanya saat ditanya punya apa, malah punya martabak.


Mendadak martabak diatas meja itu mengingatkan Ayah Septian pada masa lalu. Dimana hari itu, saat pulang kerja, dia membawa martabak untuk keluarga Nara. Tapi sayangnya, tak ada seorangpun yang mau menyentuh martabak tersebut. Dan peristiwa itu, sungguh membuat dia berkecil hati.


"Makasih buat martabaknya," ujar Ayah Septian. "Kamu tahu saja kesukaan Om." Dia tak mau ada orang yang merasakan hal yang sama dengan yang dia rasakan dulu. Cukup dia saja yang tahu rasanya ketika kita yang hanya punya uang pas-pasan dan tulus ingin memberi, malah tak dianggap sama sekali, itu sakit, sakit sekali.


Mama Nara langsung menyenggol lengan suaminya lalu memelototinya. Tak setuju dengan tindakan suaminya yang terkesan menerima Ibra.


"Memang kamu udah kerja?" cibir Aydin. "Pakai bilang mau memberikan apapun yang diminta Ayleen."


"Menikah itu tidak hanya butuh cinta," Ayah Septian ikut menimpali. "Nafkah itu tak hanya batin saja, tapi juga lahir. Memang kamu sudah merasa mampu untuk menafkahi putri saya?" Dia tahu seperti apa sulitnya rumah tangga dengan gaji pas-pasan. Setiap hari harus menanggung malu karena kenyataan jika gaji istrinya lebih besar.


"Insyaallah, Om."


Aydin langsung berdecak pelan mendengar jawaban Ibra. "Jangan bilang, kalau kamu mengandalkan uang dari orangtua?"


"Saya tahu kamu berasal dari keluarga kaya," Mama Nara menimpali. "Tapi apa artinya warisan, kalau pekerjaan saja, kamu tidak punya. Warisan itu bisa habis, kalau tiap hari dipakai, tanpa ada pemasukan."


"Saya punya pekerjaan, Tante."

__ADS_1


"Kerja diperusahaan ayah kamu?" tebak Mama Nara sambil tersenyum kecut. "Itu previlege, bukan hasil kemampuan kamu."


Ibra menggeleng cepat. "Saya tidak bekerja disana. Saya buka bengkel motor." Dahi Mama Nara langsung mengkerut, begitupun dengan Aydin. "Belum buka sih, masih persiapan. Lagi renovasi tempat dan nyiapin peralatan. Tapi insyaallah, minggu depan sudah bisa buka."


"Tapi sama saja, modalnya juga dari orangtua kan?" Aydin tersenyum meremehkan. "Kamu belum bisa jadi apa-apa tanpa orang tua. Jadi jangan sok mau melamar putri orang."


"Kalau itu, saya tidak bisa menyangkal. Memang dari orang tua modalnya. Saya menjual motor pembelian alm. ibu saya. Dari penjualan motor itulah, saya membuka bengkel. Memang sih, tempatnya masih nyewa."


Mendengar itu, mata Ayleen langsung berkaca-kaca. Dia tahu Ibra sangat menyayangi motornya. Dan sekarang, pria itu rela menjual motor demi memiliki usaha agar dianggap layak saat meminangnya.


"Tuh kan, bener yang aku bilang," bisik Alfath pada Ayleen. "Harga motornya Kak Ibra itu sekitar setengah M, makanya bisa buat modal usaha bengkel. Mama aja yang pelit, beliin aku motor 50 juta aja, ngomelnya 7 hari 7 malam."


"Dosa ngatain Mama sendiri," sentak Ayleen pelan sambil melotot.


Melihat Ibra, Ayah Septian seperti melihat masa lalunya. Berjuang untuk memantaskan diri bagi Nara. Buka usaha itu tidak mudah, dia sudah pernah mengalaminya. Pernah jatuh bangun berkali kali. Dia mengapresiasi usaha Ibra.


"Saya belum lulus S1, belum punya ijazah untuk melamar pekerjaan dengan gaji yang bisa dibilang lumayan. Jadi karena saya hobi otomotif, saya putuskan untuk mencoba usaha bengkel motor. Kalau mengenai modal dari orang tua, saya rasa tak ada salahnya. Bukankah Kak Aydin jadi dokter, juga dimodalin orang tua?"


Huk huk huk


Sialan bocah ini, bisa-bisanya dia membalikkan kata-kataku.


"Mah, Bibi suruh buatin minuman," titah Ayah. "Kasihan Ibra, sepertinya dia haus. Mana dari tadi Ayah lihat keringetan mulu." Ibra langsung tersenyum simpul. Malu karena tak mampu menyembunyikan kegelisahannya.


"Gak usah repot-repot , Tante," ujar Ibra.


"Baguslah kalau begitu," sahut Mama Nara enteng.


"Mah...." tekan Ayah Septian.


"Ibrahimnya gak mau, Yah." Mama Nara membuang nafas kasar.


"Bener kata kamu, Al." bisik Ayleen dengan nada kesal pada adiknya. "Mama pelit, minuman aja perhitungan."

__ADS_1


"Dosa ngatain mama sendiri," Alfath menirukan kalimat Ayleen. Kedua adik kakak itu masih saja menguping dibalik tembok, sama sekali tak ada niat untuk pergi.


"Bagini Ibrahim, mengawali usaha itu tidak mudah," ujar Ayah Septian. "Om sudah pernah merasakannya. Perlu kegigihan, perlu usaha keras. Bukannya Om tak percaya dengan kemampuan kamu. Tapi semua memang butuh proses. Ayleen, kami membesarkannya dengan penuh kasih sayang. Mencukupi segala kebutuhannya sampai dia tak merasakan kekurangan. Saat seorang laki-laki memintanya, sebisa mungkin, kami juga ingin memastikan jika kedepannya nanti, Ayleen tidak kekurangan apapun, entah cinta ataupun kebutuhan hidup."


Ibra menunduk, dia paham apa yang dimaksud ayah Ayleen. "Saya akan mengusahakan agar Ayleen tidak kekurangan apapun, Om."


"Saya hargai keberanian kamu datang kemari untuk meminang Leen. Tapi sebelum kami menerima ataupun menolak. Kami ingin kamu membuktikan dulu jika kamu mampu dalam hal finansial. Mampu bukan berarti kamu harus jadi kaya dulu, tapi setidaknya, kamu ada penghasilan. Dan satu lagi, menikah itu adalah ibadah terpanjang. Dan tujuannya apa? Yaitu menuju surganya Allah."


Ngomongin tentang Allah, kepercayaan diri Ibra langsung drop. Dia sadar jika dalam urusan agama, masih sangat kurang alias dibawah standar.


"Seorang laki-laki, adalah kepala rumah tangga, imam. Menyerahkan Ayleen padamu, bukan hanya menyerahkan tanggung jawab memberi sandang, pangan dan papan, tapi juga tanggung jawab membimbingnya ke surga. Apakah kamu juga sudah siap dengan tanggung jawab membimbing Ayleen ke surga?"


Bisa dikata, tadi saat memamerkan usaha barunya, kepercayaan diri Ibra sudah perlahan menanjak, tapi saat mulai membahas agama, dia yang tadinnya sudah merasa hampir dipuncak, seperti langsung terhempas kedasar lautan.


Bisa-bisanya dia memikirkan untuk melamar gadis, hanya perlu mapan, tapi ternyata dia salah. Kesiapan dalam hal agama juga sangat dibutuhkan.


"Kenapa diam, jangan bilang kalau kamu gak pernah sholat?" tanya Mama Nara.


"Paling cuma jumatan, Mah," sindir Aydin.


Ibra menyeka keringat dinginnya. Jangankan 5 waktu sehari, sekali setiap juma't saja, dia tidak pernah.


"Kamu bisa sholatkan?" tanya Ayah Septian.


"Bi-bisa, Om, dulu."


"Dulu," pekik Mama Nara dan Aydin bareng.


"Apa maksudnya denga dulu?" tanya Ayah.


"Saya sudah lama tidak sholat. Sejak ibu saya meninggal."


"Astaghfirullah," Mama Nara sampai ngelus dada. Ibunya Ibra meninggal sudah cukup lama, sekitar 6 tahun. Itu artinya, selama 6 tahun, Ibra tidak pernah sholat.

__ADS_1


"Belajar dulu jadi imam yang baik. Tak perlu sebagus imam dimasjid atau di mushola, seenggaknya, bisa jadi imam untuk keluarga," ujar Ayah Septian. "Fokus memperbaiki keimanan, kuliah dan menjalankan usaha. Lupakan dulu tentang pacaran. Setelah itu, baru datang lagi kemari untuk melamar Ayleen. Dan satu lagi, jangan lupa bawa keluarga kalau melamar."


__ADS_2