
Ibra membanting map yang diberikan Ayahnya. Mengambil asbak kaca lalu membantingnya hingga pecah.
"Ayah macam apa anda ini," pekik Ibra. Dia sungguh tak habis pikir dengan apa yang barusan ayahnya katakan. Bisa-bisanya pria itu menggunakan kesempatan ini untuk membuat kesepakatan dengannya. Yang ada diotak ayahnya hanya bisnis, dan bisnis, sampai saat anaknya meminta dilamarkan gadis, dia juga menganggap ini peluang bisnis, mencari keuntungan.
Pak Yusuf bersedia menemaninya melamar Ayleen, dengan syarat, Ibra mau menandatangi persetujuan penjualan rumah. Rumah ini berada dipusat kota, Pak Yusuf yakin jika harganya sangat tinggi. Dengan uang itu, dia bisa membeli lagi 2 rumah yang nantinya akan dia atas namakan Haura, seperti permintaan Ratna.
"Jika kau tak mau menandatangani surat persetujuan penjualan rumah, pergilah sendiri melamar gadis itu. Dan jangan harap, Ayah akan menemanimu, apalagi memberikan uang untuk biaya pernikahan."
Ayleen yang ada didekat pintu, syok mendengar ucapan Pak Yusuf. Ya, saat mendengar suara barang pecah tadi, Ratna langsung berlari menuju ruang kerja, dan Ayleen mengikutinya. Saat ini, kedua orang itu tengah menguping dibalik pintu yang terbuka sedikit.
"Sebenarnya Ibra ini anak Ayah atau bukan?" tanya Ibra dengan mata berkaca-kaca. Kalau saja dia bisa memilih ayah sebelum dilahirkan, dia tak akan memilih Yusuf sebagai ayahnya. Lebih baik punya ayah orang miskin daripada kaya tapi seperti tak punya ayah. "Dimana-mana, orang tua akan dengan suka rela mengantar anaknya melamar, tapi ini.." Ibra tak sanggup melanjutkan kata-katanya. Ayah macam apa ayahnya ini?
__ADS_1
"Sudahlah Ibra, lebih baik cepat tanda tangani. Lagipula untuk apa mempertahankan rumah ini, rumah ini sudah tua. Lebih baik dijual, nanti sebagian uangnya, akan Ayah berikan padamu untuk biaya pernikahan kamu. Menikah itu tidak murah, bahkan resepsinya bisa habis ratusan juta."
Ibra terdiam, dia belum memikirkan apapun tentang resepsi.
Pak Yusuf mengambil map yang tadi dibuang Ibra. Membukanya lalu meletakkan diatas meja. "Ayah yakin keluarga gadis itu akan meminta uang untuk resepsi. Dan jalan satu-satunya, tandatangani surat ini. Kau akan mendapatkan uang dan Ayah akan datang untuk melamarnya. Kau sendiri yang bilang jika tak akan meminta uang sepeserpun lagi pada Ayah, jadi jangan berharap Ayah akan memberimu uang untuk pernikahan."
Ibra mengepalkan tangannya. Dia tak masalah jika orang lain menekannya, tapi ini ayahnya sendiri, ayah kandungnya.
Rumah ini menyimpan banyak sekali kenangan Ibra dan ibunya. Rasanya dia tak rela jika rumah ini dijual. Apalagi dulu ibunya sendiri yang mendesign ulang saat direnovasi.
Nanti saat kembali melamar, datanglah bersama keluargamu.
__ADS_1
Ibra teringat kembali ucapan Ayah Ayleen. Jika ayahnya tak mau datang melamar, apa yang harus dia jelaskan pada Ayah Ayleen. Rasanya terlalu memalukan jika harus memberitahu kebobrokan keluarganya pada keluarga Ayleen.
Didekat pintu, Ratna tersenyum penuh arti. Rencananya untuk mempunyai rumah baru atas nama Haura, akan segera kesampaian. Sedikit demi sedikit, dia akan mengalihkan semua aset atas nama ibu Ibra, menjadi nama Haura. Saat meninggal, alm memang belum membuat surat wasiat. Jadi harta peninggalannya menjadi hak anak dan suami. Tapi tentu saja, bagian Ibra lebih banyak. Jadi untuk menjual aset, harus ada tanda tangan Ibra dan Pak Yusuf.
Jauh-jauh hari, Ratna sudah memikirkan nasib Haura kedepannya. Dia takut jika terjadi sesuatu pada suaminya, seluruh hartanya akan jatuh ketangan Ibra. Oleh karena itu, dia harus mengamankan aset untuk Haura.
"Apa tak ada cara lain? Bukankah Ayah punya banyak uang untuk membeli rumah baru, tapi kenapa harus menjual rumah ini? Rumah ini sangat berarti bagi Ibu."
"Ibumu sudah meninggal, jangan bicarakan lagi tentang dia."
Merasa tak ada cara lain, dengan berat hati, Ibra mengambil pena yang ada diatas meja. Dia tak menyangka jika akan kehilangan rumah masa kecilnya. Rumah ini masih atas nama alm. Ibu Ibra. Jika dijual, harus ada tanda tangan Pak Yusuf dan Ibra yang merupakan ahli waris.
__ADS_1
"Tunggu!" Teriak Ayleen saat Ibra hendak tanda tangan. Gadis itu masuk lalu merebut pena ditangan Ibra. "Jangan lakukan ini. Jika Ayah Kakak tak mau datang melamarku, Kakak bisa datang sendiri. Aku bisa menjelaskan semua pada ayah. Bukankah Ayah meminta Kakak membawa keluarga? Yang seperti ini, bukan keluarga, jadi Kakak tak perlu membawa mereka. Ayo kita pulang." Dia menarik lengan Ibra keluar dari sana.
Terdengar umpatan Pak Yusuf. Padahal sedikit lagi dia akan berhasil mendapatkan tanda tangan Ibra.