
"Aku pulang dulu," pamit Ayleen pada teman-temannya di kafe. Setelah kejadian itu, setiap hari Ayah Septian sendiri yang menjemput Ayleen dari kafe. Dan Raka, cowok itu masih segan setiap bertemu dengan bosnya tersebut. Beruntung dia tak sampai dipecat.
Sambil menggandeng lengan Ayahnya, keduanya keluar dari kafe. Tapi sesampainya diluar, Ayleen mengerutkan kening saat tak nampak mobil ayahnya. "Mobil Ayah mana?"
"Ayah bawa motor." Jawabnya sambil menunjuk motor matic milik Ayleen. "Mau gak, kalau malam ini, Ayah ngajak kamu jalan-jalan?"
"Jalan-jalan? Mau gak ya?" Ayleen mengetuk-ngetukkan telunjuknya di kening. "Mau dong." Dia tersenyum sambil mengeratkan pelukannya dilengan sang ayah.
Mereka lalu berjalan menuju motor milik Ayleen yang ada diparkiran. "Sini Ayah pakaikan." Ayah merapikan rambut Ayleen lalu memasangkan helm dikepala sang putri. "Kamu masih inget gak, pertama kali belajar naik sepeda?" Ayleen mencoba mengingat-ingat, tapi sepertinya, saat itu dia masih sangat kecil, sehingga dia tidak ingat. "Saat belajar sepeda dilapangan, kamu nangis minta dibeliin helm karena ngelihat anak yang bersepeda pakai helm. Tapi pas udah dibeliin helm, kamu malah sering nangis. Tahu gak kenapa?" Ayleen menggeleng. "Karena setiap kali mau pakai helm, selalu gak bisa. Kamu masih 4 tahun saat itu, belum bisa masang pengaitnya." Ayah tergelak tatkala teringat saat-saat itu.
"Pasti saat itu, Ayah kesel banget sama Leen?" tebak Ayleen.
"Mana ada, yang ada Ayah selalu terpingkal-pingkal saat melihat kamu berusaha mati-matian mengaitkan helm. Tapi ya gitu endingnya, gagal, lalu nangis." Ayah menanap kedua netra Ayleen sambil memegang bahunya. "Tapi sekarang, putri Ayah sudah besar. Sudah pinter pakai helm, bahkan udah berani pacaran."
"Ayah...." Rengek Ayleen yang malu jika sudah mulai diledekin soal cowok.
Ayah Septian memakai helm lalu naik keatas motor, begitupun dengan Ayleen, duduk dijok belakang sambil memeluk pinggang ayahnya.
"Kita muter-muter sekitar sini aja ya?"
"Terserah, Ayah," sahut Ayleen. "Aku nurut pangeran bermotor putih aja pokoknya." Ayah langsung tergelak, menyalakan mesin motor lalu meninggalkan Mezra kafe.
Mereka muter-muter tak jauh dari Mezra kafe. Sepanjang jalan, terus bercerita tentang masa kecil Ayleen sambil ketawa lepas. Tak jarang Ayleen memberengut kesal saat masa kecilnya yang memalukan diungkit sang ayah. Seperti saat dia ngompol dimobil, saking takutnya melihat badut yang ada dilampu merah.
__ADS_1
Melihat ada kedai bakso yang masih buka, Ayah membelokkan motornya dan berhenti didepan kedai. "Mau makan bakso gak?" Ayleen sebenarnya menghindari makan mendekati jam tidur. Sekarang sudah hampir jam 11, makan bakso? Apa kabar dengan berat badan? "Ayolah, gak akan gemuk hanya makan bakso semangkok. Itung-itung ngasih rezeki ke pedagangnya."
Ayleen tak bisa lagi menolak. Turun dari motor lalu masuk bersama ayah kedalam kedai yang sepi pembeli tersebut.
"Kok sepi banget ya, Yah." Ujar Ayleen saat mereka menunggu pesanan disiapkan. "Jangan-jangan rasanya gak enak," bisiknya, takut terdengar penjual.
"Belum ngerasain gak boleh menilai dulu," ujar Ayah. "Usaha memang kayak gini, kadang sepi kadang ramai. Kemarin saat lewat depan bengkelnya Ibra, Ayah lihat ramai banget. Pinter dia, padahal baru buka sebulan lebih, tapi udah ramai banget."
"Mungkin karena kenalan dia banyak. Dan gitu anak motor semua."
"Tapi Ayah lihat kemarin, lebih banyak pelanggannya cewek loh. Mungkin karena montirnya ganteng."
"Masak sih, Yah?" Ayleen langsung panik sambil menarik-narik lengan ayahnya. Dia pernah ke bengkel Ibra sekali, saat grand opening, itupun ditemani Alfath. Setelah itu tidak pernah lagi. Dia dan Ibra hanya bertemu sesekali di kampus. Berangkat kuliah, bareng Mama Nara, pulangnya dijemput Ayah, seperti itu setiap hari.
"Ish, Ayah nyebelin." Ayleen memberengut sambil melipat kedua lengan didada. Padahal tadi dia sudah ketar-ketir, takut Ibra digodain sama pelanggannya. Resiko punya cowok ganteng ya kayak gini.
Beberapa saat kemudian, bakso serta minuman mereka datang.
"Sini Ayah potongin baksonya." Ayah menarik mangkok bakso milik Ayleen. Memotong bakso berukuran jumbo itu menjadi kecil-kecil. Hal yang selalu dia lakukan dulu, saat Ayleen masih kecil.
"Leen udah gedelah, Yah. Udah bisa motong bakso sendiri." Ayleen hanya bicara, tapi tidak menghentikan apa yang dilakukan ayahnya.
"Ayah tahu," sahut Ayah sambil menoleh kearah Ayleen sebentar. "Tapi bagi ayah, kamu tetap putri kecil ayah."
__ADS_1
"Ayah..." Ayleen yang baper langsung memeluk pinggang ayah yang saat itu duduk disebelahnya.
Selesai memotong bakso, Ayah mendorong mangkuk tersebut kedepan Ayleen. Gadis itu menambahkan kecap dan sambal, lalu memakannya.
Ayah Septian memperhatikan Ayleen yang sedang makan. Tanpa dia sadari, air matanya meleleh. Gadis kecilnya, sudah dewasa sekarang, sudah mengenal cinta, bahkan sudah ada pria yang datang untuk meminangnya.
Dia meluangkan banyak waktu untuk Ayleen akhir-akhir ini. Rela mengantar jemput kemanapun, membantu Ayleen mengerjakan proyek kuliah, sampai mengajari Ayleen teknik-teknik tersulit dalam membuat kopi, karena takut tak bisa lagi memiliki momen kebersamaan seperti ini dengan putrinya itu.
Saat gadis itu menikah nanti, dia akan menjadi milik suaminya, bukan miliknya lagi. Melihat usaha Ibra yang lancar, serta pria itu tampak serius belajar, membuat dia yakin jika tak lama lagi, Ibra akan kembali datang untuk melamar Ayleen. Beberapa hari yang lalu saat melewati bengkel Ibra, dia mendengar suara murottal yang berasal dari bengkel tersebut. Sepertinya selain bekerja, Ibra juga sekalian belajar. Pemuda itu sepertinya sangat serius ingin segera menghalalkan putrinya.
Ayleen yang tak sengaja menoleh, terkejut melihat ayahnya meneteskan air mata. "Ayah kenapa?"
Buru-buru Ayah menyeka air matanya. "Gak papa, Ayah hanya kepedesan." Tak percaya dengan jawaban sang ayah, Ayleen menyendok kuah bakso ayahnya lalu mencicipinya.
"Bohong, orang gak pedes." Ayah tersenyum simpul saat kebohongannya terkuak. "Ayah kenapa?" tanya Ayleen lagi.
Ayah Septian menyentuh kepala Ayleen, merapikan rambutnya lalu menyelipkan dibelakang telinga. "Putri ayah sudah besar. Padahal rasanya baru kemarin Ayah ngajarin kamu 1 tambah 1, tapi tiba-tiba aja, udah mau menikah." Air mata ayah kembali luruh, dan buru-buru dia menyekanya.
"Ayah..." Ayleen memeluk ayahnya. Terbawa suasana dan ikutan nangis. Untung warungnya sepi, kalau tidak, pasti mereka jadi pusat perhatian. "Ayah tetap jadi cinta pertamanya, Leen."
"Kamu tahu apa yang paling ditakutkan oleh seorang ayah? Yaitu menyerahkan putrinya pada seorang laki-laki yang bergelar suaminya. Takut jika putri yang dia sayang, yang dia jaga sepenuh hati bak berlian, dia berikan pada orang yang salah. Takut jika putrinya tak diperlakukan seperti apa dia memperlakukannya." Ayleen makin terisak, bahu ayahnya sampai basah dengan air mata.
"Kamu pernah dengar Leen, lelahnya menanti jodoh, tak sebanding dengan lelahnya hidup dengan orang yang tidak tepat. Perbanyak sholat istikharah, minta petunjuk tentang jodohmu. Saat Ibra datang kembali nanti, keputusan ada ditanganmu."
__ADS_1