Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 78


__ADS_3

Perban dikepala Haura sudah dilepas, hanya tinggal lengannya yang masih terpasang gips. Mbak Santi sibuk membereskan barang-barang mereka. Setelah hampir 1 bulan dirawat, akhirnya Haura boleh pulang hari ini. Dan ini sungguh melegakan bagi Mbak Santi yang sebulan ini teruus ada dirumah sakit. Akhirnya dia akan kembali menginjak rumah, bisa tidur dengan lebih nyeyak.


"Kok gak seneng gitu mukanya?" Ayleen berdiri disebelah Haura, melihat wajah adiknya yang tampak tak bersemangat. Padahal beberapa hari yang lalu, Haura terus bertanya kapan pulang. Tapi giliran boleh pulang, malah terlihat tak bahagia.


"Gak ada Mama sama Papa di rumah."


Nyesss


Kalimat itu membuat Ayleen dan Mbak Santi yang mendengar hampir saja menitikkan air mata. Tapi mereka tahan sedemian rupa, tak tamu terlihat bersedih didepan Haura.


"Kan ada Kak Ayleen dan Kak Ibra," ujar Ayleen sambil berusaha menunjukkan senyum.


"Ada Mbak Santi juga loh," pengasuh Haura itu tak mau ketinggalan.


"Tuh benar, ada Mbak Santi juga," timpal Ayleen. "Nanti kita jalan-jalan kalau gips ditangan Haura udah dilepas. Sementara sebelum itu, Haura ikut Kak Ay ke kafe aja. Disana rame, Haura juga bisa nyanyi nanti. Kata Mbak Santi, Haura suka nyanyi."


"Tapi disana juga gak ada Mama sama Papa."


Astaga, bocah kecil itu sungguh membuat hati Ayleen porak poranda. Kalimat sederhana namun penuh makna. Dia hanya ingin bersama orang tuanya saat ini, hanya itu. Sorot mata Haura menunjukkan kerinduan yang sangat mendalam pada kedua orang tuanya.


Ayleen mendekap Haura, menyandarkan kepala gadis kecil itu didadanya. "Besok kita ke makam Mama sama Papa."


"Kita bawa bunga mawar yang banyak ya Kak, biar Mamanya Haura senang."


"Hem, iya," Ayleen mengangguk.


Mbak Santi terlihat menyeka air matanya. Sebulan ini dia tak pulang sama sekali, terus ada dirumah sakit untuk menjaga Haura. Tau seperti apa kesedihan serta mimpi-mimpi buruk Haura setiap malam. Haura sering mengigau memanggil Mama dan Papanya. Dan saat bangun, dia pasti akan menangis, sedih karena kedua orang tuanya meninggalkannya.


Sampai semua barang selesai dikemas dan Haura sudah berganti baju, Ibra belum kembali juga. Pria itu tadi keluar untuk mengurus administrasi.


"Mbak, aku keluar bentar ya. Mau lihat Kak Ibra, lama banget."


"Antri kali, Mbak," sahut Mbak Santi.

__ADS_1


Mungkin saja benar antri. Tapi Ayleen tetap ingin menyusulnya.


Jarak dari ruangan Haura kebagian administrasi lumayan jauh. Sepanjang jalan melihat dan tak sengaja berpapasan dengan orang sakit maupun keluarganya, membuat Ayleen beberapa kali mengucap syukur. Bersyukur karena dia masih diberi nikmat sehat. Nikmat yang terkadang orang lupa mensyukurinya.


Langkah Ayleen terhenti saat matanya melihat Ibra duduk dideretan kursi tunggu. Tak sendiri, melainkan bersama Putri. Ya, Putri yang sejak dulu mengejar Ibra.


Ayleen bergeming sambil meremat ujung kaosnya. Tatapannya terkunci pada Ibra dan Putri yang terlihat mengobrol. Tak ada senyum apalagi tawa dibibir mereka. Entahlah apa yang mereka bicarakan, mungkin Putri hanya sedang mengucapkan bela sungkawa atas kematian orang tua Ibra. Setahu Ayleen, Putri memang tidak datang ke rumah duka.


Dada Ayleen terasa sakit, apakah dia sedang cemburu? Buru-buru dia mengenyahkan pikiran itu. Saatnya tidak tepat untuk cemburu. Ibra masih berduka meski sudah 1 bulan kepergian ayahnya. Jangan sampai pria itu malah semakin sedih karena prasangka buruknya atau cemburu butanya.


Mereka hanya sekedar ngobrol sebagai teman, hanya itu. Ayleen mencoba berpositif thinking. Mengubur dalam-dalam rasa cemburu yang mengusik hati dan pikirannya. Namun melihat Putri yang baru berdiri, hatinya kembali diserang yang namanya cemburu. Putri terlihat sangat cantik dan anggun dengan jas dokter berwarna putih. Gaun selutut warna pink dan sepatu hak tinggi warna senada, membuat tampilannya sungguh mempesona. Mungkin jika ada pemilihan dokter tercantik di rumah sakit ini, Putri lah yang pastinya akan menang.


Benar kata Dilan, cemburu itu hanya untuk orang yang tidak percaya diri. Dan saat ini, dia sedang tak percaya diri jika dibandingkan dengan Putri. Baru hari ini Ayleen tahu jika Putri bekerja disini. Dia bahkan juga tidak tahu sejak kapan Putri sudah mulai praktek. Setahu dia dulu, Putri masih menunggu wisuda. Mungkinkah Ibra dan Putri sudah sering bertemu disini, mengingat Ibra setiap hari datang kerumah sakit, dan terkadang tanpa dia.


Enggak, gak mungkin. Kak Ibra gak mungkin diam-diam sering ketemu Putri dibelakangku.


Ayleen mengurungkan niatnya menyusul Ibra, berjalan dengan langkah gontai kembali keruangan Haura.


"Masih antri, sebentar lagi datang," bohong Ayleen. Dia menjatuhkan bobot tubuhnya disofa. Memejamkan mata sambil meredakan gemuruh didada.


Benar saja, tak berapa lama kemudian, Ibra datang. Pria itu membawa kursi roda, menggendong Haura lalu mendudukkannya disana. "Buat kamu," Dia mengambil sesuatu yang ternyata coklat dari dalam kantong celana lalu memberikannya pada Haura.


"Makasih, Kak." Haura dengan senang hati langsung menerimanya. Karena tak bisa membuka, Ibra membantunya lalu mengembalikan coklat itu pada Haura.


Diam-diam, Ayleen memperhatikannya. Mungkinkah coklat itu pemberian dari Putri?


"Hm...Enak sekali coklatnya," ujar Haura.


"Masak sih, sini Kakak coba." Ibra menggigit sedikit coklat yang dipegang Haura. "Iya, enak banget. Biasanya rasanya gak seenak ini, kenapa ini enak banget ya?" Sekali lagi, dia menggigit coklat ditangan Haura.


Ayleen tersenyum kecut. Biasanya gak seenak ini? Apa karena pemberian Putri, rasanya jadi lebih enak. Lebay, cibirnya dalam hati.


"Kak Ayleen, mau gak?" Haura menawari. Mengacungkan coklat kearah Ayleen. "Enak loh."

__ADS_1


Ayleen menggeleng, "Gak usah, buat Haura aja." Ogah banget dia makan coklat dari Putri.


"Tapi ini beneran enak loh, Yang. Yakin gak mau?" tanya Ibra.


"Enggak," sahut Ayleen malas. Membuang muka sambil bersedekap.


Setelah memastikan tak ada barang yang ketinggalan, mereka meninggalkan ruangan tersebut. Mbak Santi berjalan didepan sambil mendorong kursi roda Haura. Sementara dibelakangnya, Ibra menyeret koper besar sambil menggandeng tangan Ayleen.


"Kok lama banget tadi bayar administrasinya?" Ayleen iseng bertanya.


"Tadi ketemu temen."


"Temen, siapa?"


"Anak joker." Merasa jika Ibra mulai bohong, Ayleen makin penasaran untuk mencecarnya dengan pertanyaan lain.


"Anak joker siapa?"


"Kamu gak kenal."


"Cowok apa cewek?"


Ibra tergelak mendengar pertanyaan Ayleen yang menurutnya terlalu detail. "Anak joker itu cowok semua. Kamu nanyanya kayak wartawan aja, detail."


"Ya siapa tahu keselip satu cewek disana," celetuk Ayleen sambil menyeringai.


"Ya gak ada lah. Keanggotaannya khusus buat cowok saja."


Dasar pembohong.


Ayleen menarik tangannya kasar lalu berjalan cepat, mensejajari Mbak Santi.


"Kenapa sih dia, aneh banget," gumam Ibra.

__ADS_1


__ADS_2