Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 52


__ADS_3

"Kayaknya cuma aku yang antusias dengan persiapan pernihakan kita, tapi kamu enggak." Ayleen tak menahan lagi tangisnya, tak peduli make up nya akan rusak karena sudah bisa dipastikan jika prewedding kali ini batal. Ini sudah hampir jam 5, Meski ngebutpun, Ibra akan sampai hampir jam 6, sudah terlalu gelap untuk melakukan pemotretan. Menurut Seno, golden hour pemotretan sore hari itu antara jam 4-5.


"Gimana Leen, cowok lo bisa dihubungi?" tanya Seno.


"Pemotretannya dibatalkan, Bang," sahut Ayleen sambil menyeka air mata. Dia sudah terlanjur kecewa dan mood nya hancur, lanjut pemotretanpun, hasilnya tak akan bagus.


h"Terus gimana? Mau ganti hari lain aja? Tapi kalau besok gue gak bisa." Harusnya jika batal karena kesalahan customer, tak bisa dijadwalkan ulang. Namun karena dia kenal baik dengan Ayleen, jadi masih menawarkan jadwal ulang.


Ayleen menggeleng, "Gak usah." Dia kemudian masuk kedalam mobil milik Kikan, kembali ganti baju. Dia tak mau mengatur ulang jadwal meski Seno menawarkan. Kesalahan terjadi dari pihaknya, jadi kalau uang yang sudah dibayarkan sia-sia, mungkin sudah resiko.


Sedangkan Ibra, cowok itu memacu motornya dengan kecepatan tinggi. Beberapa kali menekan klakson dan mengumpat saat terjebak macet didekat lampu merah. Merutuki kecerobohannya yang kerja gak ingat waktu. Ketika sampai dilokasi yang dipilih untuk foto preweding, dia tak menemukan Ayleen ataupun Seno disana. Mencoba menghubungi Ayleen namun sia-sia, panggilannya tak dijawab.


"Ayolah Ay, angkat teleponnya," gumamnya saat melakukan panggilan untuk yang ke-5 kalinya.


Bugh

__ADS_1


Ibra meninju jok motornya. Kesal pada diri sendiri. Dia yakin Ayleen pasti sangat marah padanya. Tak ada pilihan lain, dia harus mendatangi rumah Ayleen untuk minta maaf.


Sesampainya dirumah, Ayleen langsung masuk kedalam kamar. Menangis sambil meremat remat boneka kucing kesayangannya. Semalam dia sudah tak bisa tidur, membayangkan akan menjalani sesi foto prewedding romantis bersama Ibra ditepi danau. Sejak dulu, dia sudah memimpikan prewedding seperti ini, namun kenyataannya, semua berantakan. Selain itu, dia juga malu pada Seno dan Kikan. Apa yang ada dipikiran mereka saat calon suaminya tak datang disesi foto prewedding.


Setelah puas menangis, dia duduk didepan meja rias. Membersihan make up yang terasa sia-sia itu. Meski sejak tadi ponselnya berdering, Ayleen tak ada niatan sama sekali mengambil benda itu didalam tas.


"Kak, makan yuk," teriak Alfath dari balik pintu. Dia bisa mendengar suara gagang pintu yang ditarik berkali-kali. Untung sudah dia kunci, jadi Alfath tak bisa masuk.


"Kak Leen udah makan tadi diluar," sahut Ayleen dari dalam. Dia sedang tak ada nafsu makan sama sekali. Dia lanjut membersihkan wajah lalu mandi. Selesai mandi, kembali terdengar suara ketukan dipintu kamarnya.


Sebenarnya Ayleen tak ingin menemuinya, tapi kalau gak ditemui, Mamanya akan tahu kalau mereka lagi berantem. "Ya udah Leen sisiran dulu, setelah itu keluar." Mama Nara mengangguk lalu meninggalkan kamar Ayleen.


Di ruang tamu, Ibra duduk dengan gelisah. Tak bisa tenang sebelum berhasil minta maaf pada Ayleen. Dan ketika melihat gadisnya itu datang, Ibra langsung berdiri.


"Ay, maafin aku."

__ADS_1


Ayleen hanya membuang nafas berat lalu duduk disofa single. Ibra kembali duduk disofa yang dekat dengan Ayleen. Dia hendak memegang tangan Ayleen tapi gadis itu lebih dulu menjauhkan tangannya.


"Please, maafin aku. Kita atur jadwal ulang ya. Kalau besok gimana, kamu mau gak?" Ibra coba membujuk, sayangnya Ayleen hanya menanggapi dengan senyum simpul. "Aku ada beberapa kenalan fotografer, aku hubungi mereka kalau kamu mau."


"Gak usah," sahut Ayleen malas. Dia sudah terlanjur kecewa pada Ibra.


"Ay, jangan gitu dong. Nanti gak ada foto kita loh diundangan sama souvenir," Ibra masih berusaha membujuk. "Mau ya kita atur jadwal ulang. Nanti kita berangkat sama-sama, aku jemput kamu."


Ayleen menghela nafas berat lalu berdiri. "Mah, Kak Ibra mau pamit," teriaknya.


"Ay, aku belum mau pulang," Ibra menarik pergelangan tangan Ayleen.


"Mamah, Kak Ibra mau pamit," Ayleen kembali berteriak. Dan karena Mama Nara sudah keluar, mau tak mau Ibra pamit.


__ADS_1


__ADS_2