
Setelah tadi sempat sepi sebentar, ruang tamu rumah Ayleen kembali ramai. Teman-temannya di kafe yang kebetulan hari ini shift pagi, datang malam. Mereka tampak asyik, mengobrol ngalor ngidul disertawa canda tawa. Tak lupa hidangan dihadapan tak luput dari sasaran mulut yang terus tertawa renyah itu.
Sedangkan Ibra, dia hanya sesekali ikut senyum mendengar candaan mereka. Berkali-kali melihat jam diponsel, berharap mereka segera pulang. Ini sudah hampir jam 9 malam, tapi mereka masih tampak asyik dan belum ingin pulang.
Ibra tampak gelisah, memainkan jemari Ayleen yang saat ini berada dipangkuannya. Sesekali menatap Ayleen dan menunjukkan jam diponselnya.
Ayleen paham maksud Ibra, tapi tidak mungkin dia menyuruh teman-temannya pulang.
"Eh, btw jam berapa sih sekarang?" tanya Ajeng.
"Masih belum jam 9, santai aja. Nanti lo gue anterin pulang," sahut Raka.
Ibra makin lemas mendengarnya. Tak tahukah mereka kalau ini malam pertamanya dan Ayleen? Kenapa tak peka dan segera pulang. Apa dia harus menunjukkan wajah menyebalkan agar mereka sadar yang segera angkat kaki?
__ADS_1
"Pulang aja yuk," ajak Ajeng. Kalimat yang terasa seperti angin segar bagi Ibra. "Ayleen pasti capek, mau istirahat."
"Ya elah, pengantin baru mah gak bakal istirahat semalaman ini," sahut Doni sambil cekikikan.
"Halah, kayak ngerti aja. Lo kan belum nikah," ledek Aldo.
"Ya meski gue belum nikah, tapi gue gak bodoh. Pengantin baru mana bisa tidur dimalam pertama. Ini itu momen yang paling ditunggu oleh pengantin tahu gak."
Tuh tahu, kenapa gak pulang-pulang, batin Ibra.
"Ayleen." Teriak beberapa orang yang baru keluar dari dalam mobil. Ada 2 mobil dihalaman, dan masing masing berisi 6 orang perempuan yang kemudian berlari menghampiri Ayleen lalu memeluknya bergantian.
"Selamat," seru Eka. "Gak nyangka kamu bakalan nikah semuda ini. Dah gitu misuanya," Eka melirik Ibra sambil senyum-senyum. "Ganteng banget," bisiknya. "Jangan cemburu ya, aku sebenarnya udah lama ngefans sama Kak Ibra."
__ADS_1
Ayleen tersenyum absurd sambil menoleh kearah Ibra. Putri, Delisa, dan sekarang Eka. Dan dia yakin, masih banyak cewek diluaran sana yang ngefans sama suaminya. Dia gak boleh lengah. Lengah dikit, bisa jadi disamber orang.
"Kak kenalin, ini temen-temen kampus aku."
"Oh...pantesan," sahut Ibra.
"Pantesan apa, Kak?" tanya Safia.
"Pantesan kayak pernah lihat."
Mereka semua bergantian kenalan dengan Ibra, setelah itu masuk kedalam dan lanjut obrolan. Dengan perasaan dongkol, Ibra memaksakan diri tersenyum.
"Maaf ya Leen, malem baru bisa dateng. Hari ini kita padet banget jadwalnya. Ada 3 acara dihari ini," terang Eka. "Karena rumah Adel deket sini, jadi kita mutusin kesini paling akhir. Nanti kalau kemalaman, bisa nginep dirumah Adel."
__ADS_1
Mendengar kata kalau kemalaman, membuat Ibra pengen kejang-kejang. Dia tahu cewek kalau udah ngerumpi, bisa lupa waktu. Sepertinya kalau nya harus dibuang, karena pasti bakal kemalaman.
"Gak masalah, yang penting kalian dateng." Ayleen melirik Ibra, tahu jika suaminya itu tengah kesal saat ini. Namun lagi-lagi, dia tak mungkin mengusir teman-temannya.