
"Gimana Leen, udah siap mau pindah kesini?" tanya Ayah. Baru saja mulut Ayleen terbuka, Alfath sudah menyahuti duluan.
"Siaplah, Yah. Orang rumahnya bagus dan mewah gini. Dah gitu_"
"Dah gitu gak ada kamu yang resek, yang suka gangguin," potong Ayleen cepat. Dia belum lupa kejadian 4 hari yang lalu. Gara-gara kissmark dileher setelah malam pertama, dia diledekin Alfath habis habisan. Sampai dia benar-benar malu karena akhirnya semua orang jadi tahu kalau dileher dan dadanya banyak kissmark. Mana hari itu, saudara-saudarnya masih pada ngumpul dirumah.
"Halah, nanti pasti kangen sama aku kalau udah pindah kesini," goda Alfath sambil mendekati Ayleen. "Apa aku ikutan pindah kesini aja biar kamu gak kangen." Dia menyenggol lengan Ayleen cukup kuat hingga tubuh kakaknya itu oleng kearah Ibra. Reflek Ibra menahan Ayleen dengan memeluk pinggangnya. "Cie...mesra amat pengantin baru," ledeknya. "Mah, Abang pengen Mah," Alfath ganti meledek Aydin yang ke gap lagi ngelihatin kearah Ibra dan Ayleen. "Kayaknya bentar lagi Mama mantu lagi."
"Udah punya pacar, Bang?" tanya Ayah yang dari wajah dan nada bicaranya, tampak ingin ikut ngeledekin Aydin. "Kenalin dong sama Ayah."
"Paan sih Yah. Ay gak mikirin cewek, fokus ke karier dulu."
"Nikah muda itu enak loh, Bang." Kali ini, Ibra ikutan ngomporin.
"Tuh kan bener apa kata Al. Bang Ibra udah ngebuktiin enaknya. Emang lo gak pengen Bang ngerasain ehem ehem."
"Al....." Pelik Mama Nara, Ayah Septian dan Ayleen bersamaan. Pelototan mereka bertiga membuat Alfath langsung mati kutu.
"Masih kecil jangan ngomongin yang kayak gitu," omel Mama Nara.
__ADS_1
Padahal udah 18 tahun, masih aja dianggap kecil, gerutu Alfath dalam hati.
"Ay keluar dulu ya," pamit Aydin sambil menunduk.
"Eh, itu Abang kenapa, raut wajahnya kayak langsung berubah gitu," ujar Ayleen. "Kamu ngeledekinnya keterlaluan kali Al, Abang ngambek tuh," omel Ayleen.
...----------------...
Ayah Septian dan Mama Nara pulang lebih dulu, sementara Alfath tetap disana, membantu Ayleen dan Ibra mengubah suai tatanan rumah. Ada juga Pak Soleh, tukang kebung dirumah Ayleen yang ikut kesini buat bantu-bantu. Ibra ingin menghilangkan jejak-jejak Ratna dirumah ini. Tak mau masih ada sesuatu yang akan mengingatkannya pada wanita itu.
"Kakak." Sebuah teriakan nyaring membuat Ayleen dan Ibra yang sedang menurunkan hiasan dinding langsung menoleh.
"Haura," sapa Ayleen pada adik Ibra tersebut. Meletakkan lukisan diatas meja lalu menghampiri Haura dan memeluknya.
"Papa."
Ayleen dan Ibra kompak melihat kearah pintu. Beberapa saat kemudian, muncul Pak Yusuf dari sana. Pria itu datang sendirian, tak bersama Ratna. Ditangannya, ada dua kantong keresek besar.
Ayleen dan Ibra menghampirinya untuk mencium tangan.
__ADS_1
"Udah makan siang belum, Ayah bawain makanan?" Dia meletakkan dua kantong keresek yang ternyata berisi makanan keatas meja. Ibra dan Ayleen saling bertatapan. Setelah acara pernikahan hari itu, ini kali pertama mereka bertemu kembali. "Mana keluarga kamu Ayleen? Kata Ayah kamu, hari ini kalian kesini semua."
Akhirnya pertanyaan Ibra terjawab dengan sendirinya. Ternyata Ayah Septian yang memberitahu jika hari ini, mereka datang kerumah Ibra.
"Mereka barusan pulang. Tinggal adik saya saja dibelakang, sedang bersihin kolam." Ayleen masih terlihat sangat canggung berbicara dengan Pak Yusuf.
"Ayah terlanjur beli banyak makanannya. Ayah pikir orang tua kamu masih disini. Oh iya, panggil adik kamu, kita makan siang bareng-bareng." Ayleen mengangguk lalu mengajak Haura ke halaman belakang untuk memanggil Alfath.
"Tante Ratna kok gak ikut?" Sebenarnya malas membahas soal Ratna, Ibra hanya sekedar basa basi.
"Ratna tak ada dirumah. Dia tak pulang sejak hari pernikahan kamu."
Mulut Ibra langsung menganga lebar. Tak menyangka jika ada masalah antara Ayahnya dan Ratna. Padahal yang dia tahu selama ini, Ayahnya itu sangat bucin pada istri mudanya.
"Dia kemana?" Ibra mulai kepo.
Pak Yusuf mengedikkan bahu. "Ayah tidak tahu. Ponselnya tak bisa dihubungi."
"Apa dia gak kangen sama anaknya pergi berhari-hari seperti itu?"
__ADS_1
Terdegar helaan nafas berat Pak Yusuf. "Entahlah." Pria itu tersenyum getir sambil memijit pelipisnya. "Ayah cuma kasihan sama Haura, dia nanyain mamanya terus."
Tinggal beberapa bab lagi, Ibra dan Ayleen tamat. Tapi gak usah khawatir bakal kangen mereka ataupun Alfath, karena akan disambung dengan kisahnya Bang Aydin.