
Entah siapa yang mulai duluan, keduanya sudah sama-sama polos. Saling menyentuh tubuh satu sama lain untuk memberikan kepuasan.
Malam ini sama-sama yang pertama bagi keduanya. Namun Ibra tampak lebih luwes daripada Ayleen yang masih sedikit malu-malu dan kaku. Mungkin karena Ibra sudah terbiasa nonton film dewasa saat kumpul bersama temannya.
Ayleen tak henti henti melenguh, menunjukkan jika dia sangat menikmati sentuhan Ibra. Tak ada seincipun tubuh Ayleen yang terlewat dari belaian Ibra. Pria itu memang sengaja berlama-lama sebelum masuk ke inti. Dia ingin membuat Ayleen benar-benar nyaman agar nanti tak terlalu tegang dan membuatnya kesakitan.
Ayleen berteriak sambil menyebut nama Ibra saat merasakan tubuhnya seperti meledak. Inikah yang disebut puncak? Tanya Ayleen dalam hati. Benar kata orang, mencapai puncak itu rasanya sungguh luar biasa. Dan sekarang, tubuhnya terasa sangat lemas.
"Gimana rasanya?" tanya Ibra.
Untuk bilang jika ini sangat nikkmat, tentu Ayleen malu. Dia hanya tersenyum lalu menggigit bibir dalamnya malu-malu.
"Nikkmatkan?" Ditanya to the point kayak gitu, mana mungkin Ayleen mengelak. Meski malu, dia tetap mengangguk. "Mau yang lebih enak?" Dan sekali lagi, Ayleen mengangguk.
Ibra makin semangat untuk segera melakukan inti permainan. Namun sebelum itu, dia kembali membuat Ayleen rilex. Sampai akhirnya, dia mendengar Ayleen menjerit. Matanya melotot, dan kedua tangannya mencengkeram sprei sangat kuat. Meski tak berkata apa-apa, dia tahu Ayleen kesakitan saat dia mulai menyatukan milik mereka.
"Tahan sebentar ya."
Ayleen mengangguk, dia memang sudah membayangkan jika akan sakit. Namun tak menyangka jika akan sesakit ini. Air matanya meleleh menahan rasa sakit dibawah sana.
Ibra sebenarnya kasihan, namun tak mungkin dia mundur. Sekarang atau besok, tatap akan sakit. Diciumnya bibir Ayleen untuk mengalihkan rasa sakit. Dia terus bergerak hingga menyirami Ayleen dengan benih cintanya.
Diciumnya kening Ayleen lama sebelum akhirnya merebahkan tubuhnya yang basah oleh keringat disamping wanita itu. Diraihnya tangan Ayleen lalu dikecupnya beberapa kali.
"Makasih," Ibra memiringkan tubuh menghadap Ayleen. Menyeka keringat dikening dan sekitaran wajah istrinya itu.
__ADS_1
Ayleen hanya menjawab dengan anggukan. Tubuhnya terasa sangat lelah dan dibawah sana, masih terasa sakit.
"Masih sakit?" tanya Ibra sambil bangun untuk melihat milik Ayleen. Tak pelak Ayleen langsung meraih bantal untuk menutupi miliknya.
"Jangan dilihatin gitu, malu."
"Dari tadi juga udah dilihat," sahut Ibra sambil cekikian. "Yang atas kok gak sekalian ditutupi?"
"Astaga, lupa." Ayleen meraih guling untuk menutupi dadanya. Ibra makin kenceng lagi ketawanya. Bisa-bisanya masih malu setelah apa yang mereka lakukan barusan. "Kak, ambilin bajuku dong."
"Kita kekamar mandi dulu buat bersih-bersih."
"Masih capek."
"Aku gendong ya."
"Seberat apa sih? Emang berapa berat badan kamu, 100 kg?"
"Hah," Ayleen reflek melotot. "Ya enggak segitu juga kali."
"Berarti aku masih kuat kalau gak segitu."
Tanpa basa basi lagi, Ibra mengangkat tubuh Ayleen. Tak pelak bantal dan guling yang tadi dijadikan pelindung, jatuh dengan sendirinya.
Ayleen tak berani menatap Ibra, menyembunyikan wajah didada bidang pria itu. Terlalu malu dengan kondisi tubuhnya saat ini.
__ADS_1
Sementara Ayleen malu-malu, Ibra justru cekikikan. Apalagi saat melihat hasil karyanya yang luar biasa di tubuh sang istri. Kulit putih Ayleen mendadak ada coraknya.
Keduanya lalu membersihkan tubuh dikamar mandi. Ibra keluar lebih dulu untuk mengambilkan Ayleen pakaian dan membantunya mengenakan.
"Aku bisa sendiri," tolak Ayleen.
"Tapi aku pengen bantu." Ayleen pasrah saja, menolak juga tak ada gunanya. Setelah berpakaian, keduanya keluar dari kamar mandi. Melihat cara jalan Ayleen yang sedikit aneh, Ibra tak kuasa menahan tawa.
'Apaan sih, kenapa ketawa?"
"Cara jalan kamu aneh."
"Ma-masa sih?" Ayleen berusaha menormalkan jalannya. Tapi di bawah sana memang masih terasa sakit saat dipakai berjalan. Tak tahan melihat cara jalan Ayleen, Ibra kembali menggendonganya.
"Aku bisa jalan sendiri," rengek Ayleen.
"Iya, tapi kayak robot." Ibra masih saja tertawa terbahak-bahak.
"Ish, nyebelin." Ayleen memukul lengan Ibra karena kesal diledekin mulu.
Bukannya diatas ranjang, Ibra malah menurunkan Ayleen disofa. "Tunggu sini bentar, aku bersihin ranjangnya." Ibra melepas sprei yang ada bercak darahnya, dia ganti dengan sprei baru dialmari. Ayleen senyum-senyum sendiri memperhatikan kesibukan suaminya. Tak menyangka jika pria itu cakap dalam hal seperti ini. Ranjang yang semula berantakan, sekarang menjadi sangat rapi.
"Kenapa senyum-senyum?" tanya Ibra saat tak sengaja melihat Ayleen tersenyum.
"Kamu makin ganteng kalau rajin gini." Pujian itu langsung membuat Ibra tergelak. Bisa-bisanya dia dipuji ganteng hanya karena ganti sprei.
__ADS_1
"Ya udah, besok aku cuciin sprei nya, biar makin berlipat ganda gantengnya. Atau sekalian aku ngepel sama nyapu rumah kamu." Sekarang, gantian Ayleen yang tergelak. Tapi mendadak, tawanya langsung berhenti.