Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 84


__ADS_3

Ibra, Ayleen dan Haura, sampai didepan pemakaman. Sore itu udara terasa agak sejuk karena mendung. Sama seperti Haura, wajah bocah itu tampak mendung. Bisa dipastikan jika sebentar lagi, hujan akan turun dari kedua mata bulatnya.


Sambil membawa buket bunga mawar, mereka memasuki pemakaman yang sepi tersebut. Hanya terlihat sekitar 3 orang didalam sana. Haura memeluk erat lengan Ayleen, entah karena takut, atau sedih, atau mungkin keduanya.


Makam pertama yang mereka singgahi adalah makam Pak Yusuf. Haura yang sudah bisa membaca, langsung tahu makam siapa itu. Seperti dugaan Ayleen, pelan tapi pasti, suara isakan itu terdengar, Haura menangis. Meletakkan buket bunga mawar sambil terisak.


"Papa, Haula kangen Papa." Kalimat pertama yang meluncur dari mulut mungilnya membuat hati Ayleen dan Ibra bergetar. Terdengar sangat tulus, ungkapan kerinduan dari relung hatinya yang terdalam. "Papa... " Panggilan yang terdengar menyayat hati itu membuat air mata Ayleen menetes. Segera dia rengkuh bahu Haura yang naik turun karena isakan.


"Kita berdoa untuk Ayah sama-sama," ajak Ibra. Dia tak mau Haura terus larut dalam kesedihan.


Mereka bertiga mengangkat kedua telapak tangan. Ibra memimpin doa, sedang Ayleen dan Haura mengamini. Selesai doa, Ibra menyentuh nisan Ayahnya. Matanya tampak berkaca-kaca. "Yah, Haura sama Ibra. Ibra bakal jagain dan sayangin dia seperti yang Ayah lakukan."


Ibra benar-benar tak pernah membayangkan berasa disituasi ini, mengasuh Haura. Dulu, dia sangat membenci anak itu. Jangankan menjawab sapaaan Haura, menatap wajahnya saja, Ibra ogah. Tapi sekarang, Tuhan telah berhasil membalikkan hatinya. Rasa sayang pada Haura pelan-pelan terus bertumbuh. Bahkan dalam hati, dia bertekad akan menjadi pengganti ayah untuk gadis kecil yang sudah menjadi yatim piatu tersebut.


Sebelum pergi, Haura berpamitan pada papanya. "Papa, Haula janji bakal lajin belajal. Haula akan buat Papa dan Mama yang ada di sulga bangga."


Mereka bertiga lalu pindah ke malam Ratna. Hari ini untuk pertama kalinya, Ayleen ke makam wanita itu. Sama seperti di makam ayahnya, Haura juga mengunggkapkan kerinduannya pada sang Mama. Berjanji akan menjadi anak yang patuh seperti yang selalu mamanya inginkan.


Karena hari mulai gelap, mereka tak bisa berlama-lama disana meski Haura masih enggan pulang. Untunglah Ayleen berhasil membujuknya dengan mangajak mampir ke Mezra kafe sebelum pulang.


Sudah lama Ayleen tak datang ke Mezra kafe, terhitung sejak kematian Pak Yusuf. Dan hari ini, dia ingin membuatkan kopi spesial untuk Ibra.


"Kamu tunggu disini ya." Ayleen menyuruh Ibra dan Haura duduk disalah satu meja kosong. Kebetulan malam ini kafe cukup ramai, jadi hampir semua meja terisi.


Ayleen meminta Desi membawakan puding dan dessert box untuk Haura dan Ibra, sedang dia mengambil apron lalu langsung menuju coffee maker yang kosong. Malam ini hanya ada Abdi ditempat barista, cowok itu terlihat sedikit kualahan menyiapkan pesanan.


"Untung lo dateng, Leen. Bantuan gue bentar," pinta Abdi.

__ADS_1


"Siap Bang. Tapi aku bikinin kopi buat suami aku dulu ya."


"Iya deh."


Sebelum mulai, Ayleen melihat kearah Ibra yang kebetulan juga menatap dia. Pria itu membentuk jarinya menjadi simbol love sambil mengarahkan padanya. Tak pelak Ayleen yang baper langsung tersipu malu-malu. Padahal udah nikah, tapi masih berdebar-debar dibaperin kayak gitu.


Ayleen mulai membuat kopi untuk Ibra. Kali ini pilihannya jatuh pada latte art bentuk Love. Dia membuat sangat pelan dan hati-hati. Ingin membuat gambar yang sangat cantik karena kopi ini teramat spesial. Senyumnya mengambang saat bentuk hati yang dia ukir pada kopi tersebut terlihat sangat sempurna. Namun saat dia hendak membawanya pada Ibra, Abdi mencegah.


"Biar anak-anak aja yang bawa, Leen. Bantuin gue, gak enak kalau pelanggan terlalu lama nunggu." Tak enak mau nolak, akhirnya Ayleen memanggil Desi dan memintanya mengantar kopi tersebut pada Ibra.


"Hati-hati ya Mbak bawanya, jangan sampai goyang, entar rusak," pesan Ayleen.


"Ya elah," Abdi yang mendengar sampai geleng-gelang. padahal untuk suaminya, bukan pelanggan, kalau rusak dikit, pasti juga gak masalah.


Ayleen membantu Abdi membut pesanan, dengan mata yang masih sesekali menatap Ibra.


Sambil membuat kopi, Ayleen dan Ibra masih terus terusan saling melempar senyum dan tatapan penuh cinta. Sampai sebuah protes dari Raka menghentikan aksi kebucinan mereka.


"Leen, pelanggan minta swan, kenapa kamu bikin love?" Raka yang baru kena omel pelanggan ganti mengomeli Ayleen.


Ayleen melihat kertas kecil didekatnya. Ternyata memang latte art swan, bukan love, dia salah bikin.


"Namanya juga lagi jatuh cintrong, Ka. Cuma ada love dipikirannya. Maklum lagi terlove love sama Pak Suami," ledek Abdi.


"Hadeh... " Raka langsung geleng-geleng. "Lo aja yang bikin latte art Bang. Leen biar bikin lainnya," sepertinya kekesalan Raka masih belum hilang. "Untung anaknya owner, cantik pula. Kalau enggak, udah_"


"Udah apa?"

__ADS_1


Raka langsung menoleh dan tersenyum simpul saat mendapati Ibra berdiri dibelakangnya.


"Udah apa?" Ibra kembali bertanya.


"Udah... udah.... aku biarin." Raka buru-buru mengambil kopi didepan Abdi yang baru siap dan langsung membawanya pergi.


"Kok Haura ditinggal sendiri?" tanya Ayleen.


"Kelihatan kok dari sini. Lagian dia lagi asyik makan puding sambil main HP." Ibra berjalan masuk ketempat barista, berdiri tepat disebalah Ayleen. "Pengen ngeliatin dari deket kalau kamu bikin kopi. Kamu seksii banget kalau lagi bikin kopi gini," puji Ibra.


"Dilihatin dari jauh aja udah ambyar, apalagi ditempelin kayak gitu," gerutu Abdi lirih. Pria itu menghela nafas menanti kejadian selanjutnya yang mungkin lebih wow daripada salah bikin pesanan.


Ayleen membuat pesanan sesuai kertas kecil yang ditempel waiter sambil mengobrol dengan Ibra. Sesekali masih mengawasi Haura, takut ilang.


"Kamu jangan sering-sering kesini, Yang," ujar Ibra.


"Kenapa?"


"Takut pelanggan pada naksir sama barista cantik ini," jawab Ibra sambil mengusap lengan Ayleen.


Gerakan Ayleen mendadak berhenti saat Ibra menyentuh tengkuknya. Jantungnya berdebar kencang. Ya, pria itu sedang mengikat rambutnya yang sejak tadi tampak sedikit mengganggu. Biasanya, Ayleen selalu mengikat rambut dan memakai topi saat jadi barista. Tapi kali ini tak demikian karena niat awalnya cuma mau bikin kopi buat Ibra.


"Kok diem, lanjutin. Udah ditungguin loh sama yang mesen." Bisikan Ibra didekat telinga membuat jantung Ayleen makin tak sehat.


"Ya Allah. Jiwa jombloku meronta-ronta," ujar Abdi sambil membuat mimik muka mau nangis. Tak pelak Raka yang ada didekatnya langsung menyodorkan tisu.


. .

__ADS_1


Bagi yang baca bab ini, please sempetin like dan kasih emot ❤ buat Ayleen dan Ibra dikolom komentar.


__ADS_2