Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 58


__ADS_3

Kebaya putih dengan payet manik-manik itu terlihat sangat pas dibadan Ayleen. Dengan riasan wajah sedikit bold, rambut disanggul serta hiasan bunga melati, gadis itu terlihat sangat cantik. Sampai-sampai Alfath berkali-kali mengajak kakaknya itu foto. Namun dengan dalih yang sangat menyebalkan, kapan lagi coba, Kak Leen terlihat cantik. Astaga, kalimat itu membuat Ayleen geram, seolah hanya hari ini saja dia cantik.


"Al, fotoin Ayah sama Kak Leen." Ayah Septian menyodorkan ponselnya pada Alfath. Tahu dirinya diajak foto, Ayleen langsung memeluk pinggang ayahnya dan menyandarkan kepala dibahunya. Tak mau ketinggalan, Aydin yang baru masuk ke kamar Ayleen langsung duduk disebelah Ayleen. Mengapit gadis itu ditengah lalu berpose dengan berbagai gaya.


"Aku juga mau ikutan foto," protes Alfath. Disaat dia tengah bingung nyari orang yang sekiranya mau disuruh mengambil gambar, Mama Nara masuk disaat yang tepat. "Mah, fotoin dong." Alfath menyodorkan ponsel, namun diluar dugaan, Mama Nara malah angkat tangan.


"Mama juga mau ikutan foto. Masa ibu surinya gak ikutan foto." Dengan sedikit mengangkat rok batiknya, Mama Nara berjalan lalu duduk disebelah Ayah. Lengkap sudah mereka 1 keluarga dikamar Ayleen.


"Buruan, kok malah bengong?" teriak Aydin.


"Aku," Alfath menunjuk dirinya sendiri. "Gak ikutan foto gitu?"


"ENGGAK!" Sahut mereka berempat kompak.


"Astaga, kenapa gak sekalian aja aku dikeluarin dari kartu keluarga." Alfath memasang ekspresi wajah sesedih mungkin, sayangnya mereka tak ada yang bersimpati.


"Buruan, make up Mama keburu luntur," seru Mama Nara.


Alfath mendengus kesal. "Kejam," geramnya sambil melotot.


Ayah Septian tampak menahan tawa, begitupun dengan Aydin. Kasihan adiknya itu dibulli, Aydin beranjak dari duduknya, menghampiri Alfath lalu mengambil ponsel ditangan adik bungsunya itu. "Buruan sana," didorongnya Alfath kearah ranjang dimana semua keluarga sudah siap dengan posenya. Aydin memutar kamera lalu membidik gambar mereka berlima. "Siap, 3, 2 , 1."


"CHEESE." Seru mereka berlima kompak.


Keseruan mereka berlima terpaksa diakhiri saat Om Diego datang dan memberitahu jika tamu sudah mulai berdatangan. Ayah Septian dan Mama Nara sebagai yang punya gawe, langsung turun untuk menyambut tamu. Ya, pernikahan Ayleen hari ini, diselenggarakan dirumah, bukan di hotel atau tempat lainnya. Memasang tenda dihalaman rumah yang cukup luas, dan mengundang tak lebih dari 500 tamu saja. Hanya saudara, tetangga dan teman dekat.


Tinggallah mereka bertiga didalam kamar. Merasa momennya sesuai, Aydin segera mengeluarkan sebuah kotak dari kantong celananya lalu menyodorkan pada Ayleen.

__ADS_1


"Hadiah, dari Abang dan Al."


"Hadiah?" Ayleen menatap kedua saudara laki-lakinya bergantian.


"Iya, hadiah pernikahan dari kami," Alfath menimpali.


Ayleen membuka kotak kecil berwarna biru tersebut. Ternyata isinya adalah sebuah gelang emas putih yang sangat cantik.


"Bagus gak, aku yang pilihan?" tanya Alfath.


"Pantesan jelek," canda Ayleen dengan mata berkaca-kaca. Tak menyangka jika kedua saudaranya menyiapkan kado istimewa untuknya.


"Kita terinspirasi dari film india," ucap Alfath. "Disana ada tradisi, saudara laki-laki mengikatkan rakhi atau apa gitu namanya pokoknya gelanglah, ditangan saudara perempuannya. Makanya kita milih hadiah gelang buat Kak Leen."


"Cuma biar kamu ingat, meski kita udah gak sedekat ini nantinya. Kamu sudah ikut suami, kami masih saudara kamu. Saudara laki-laki yang akan selalu ada buat kamu. Tetap melindungi kamu meski kamu udah punya pelindung." Kalimat Aydin itu membuat Ayleen terharu dan ingin menangis.


Aydin mengambil gelang dalam kotak tersebut lalu memakaikan ditangan kiri Ayleen.


"Saudara laki-lakiku kan 2, kenapa gelangnya cuma satu?"


"Heh, gelang itu harganya mahal," ujar Alfath sambil melotot. "Makanya kami patungan buat beli."


"Patungan ya?" Aydin sedikit menyindir. "Aku 80 persen, kamu 20."


"Hehehe." Alfath tertawa sumbang sambil garuk garuk kepala saat rahasianya dibuka oleh Aydin.


Ayleen tersenyum lalu memeluk pinggang Alfath. "Makasih banyak, kamu pasti sampai pecahin sijago buat patungan."

__ADS_1


"Astaga, jangan ingatkan itu." Alfath berakting menangis dan menyeka air mata, membuat Ayleen gemas dan langsung menoyor kepalanya.


Ayleen ganti memeluk Aydin. Superhero kedua setelah ayah. Kakak yang selalu melindungi dia sejak kacil. "Makasih banyak, Bang. Leen sayang sama Abang."


"Ck, sama aku gak bilang sayang," gerutu Alfath.


Ayleen menoleh kearah Alfath. "Sama si bocil juga sayang." Dia lalu merentangkan kedua lengannya untuk memeluk kedua saudaranya itu.


Alfath si hobi posting foto, segera mengambil ponsel disaku kemeja batiknya. "Momen yang wajib diabadikan." Dia memakai kamera depan untuk berswafoto. "Bang, 3, 2, 1."


Cup


Mata Ayleen langsung membulat dan mulutnya menganga lebar saat kedua pipinya dicium oleh Aydin dan Alfath.


"Sibling goals banget nih, wajib di posting."


"Jangan," Ayleen berusaha merebut ponsel Alfath. "Nanti Kak Ibra cemburu."


"Laki kamu kebangetan banget kalau gini aja cemburu." Alfath tak mau tahu, langsung dia posting foto tersebut di akun media sosialnya.


"Al," rengek Ayleen. "Aku jelek banget tadi."


Alfath dan Aydin kompak melongo.


"Jadi alasannya jelek, bukan takut Ibra cemburu?" tanya Aydin.


"Ups." Ayleen langsung menutup mulutnya yang telah keceplosan.

__ADS_1


__ADS_2