
Perkiraan Ibra bakal sebentar di bengkel ternyata salah. Setelah urusan dengan sales selesai, pekerjaan di bengkel yang menumpuk membuatnya mau tak mau ikut turun tangan. Diki tak masuk karena sakit, membuta Reza dan Beni sedikit kualahan. Mengirim pesan pada Ayleen jika dia pulang agak telat, tapi rupanya, pesannya cuma diread, tak dibalas.
Dia sampai dirumah sekitar jam 8 malam. Ayleen tak ada di kamar, membuatnya langsung pergi ke kamar Haura. Ternyata dugaannya benar, istrinya itu ada disana.
"Aku beliin donat kesukaan kamu, Yank." Ibra yang baru masuk langsung menunjukkan barang bawaannya. Tak lupa sambil memamerkan deretan gigi putihnya dengan tersenyum lebar.
"Haura mau donat?" tawar Ayleen.
"Mau," bocah itu mengangguk cepat.
Ayleen mengambil kotak berisi donat dari tangan Ibra, mengajak Haura dan Mbak Santi makan sama-sama. Namun dia seperti melupakan Ibra yang juga ada disana. Pria itu hanya diam karena Ayleen tidak mengajaknya ikut makan.
Ibra meninggalkan kamar Haura, kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi. Tubuhnya terasa lengket karena tadi tak sempat mandi di bengkel.
"Kalau Mbak Ayleen mau balik ke kamar, gak papa kok," ujar Mbak Santi. Dia bicara seperti itu karena tahu Ibra baru pulang kerja, mungkin Ayleen ingin menyambutnya. "Biar Haura saya temani. Saya tidur disini saja untuk sementara waktu." Mbak Santi belum mau membiarkan Haura tidur sendiri disaat bocah kecil itu masih sering mimpi buruk.
"Mbak Santi kembali aja ke kamar, istirahat. Sebulan tidur di rumah sakit, pasti gak nyamankan? Malam ini, biar saya saja yang nemenin Haura tidur disini."
"Emang gak papa, Mbak? Terus itu Mas Ibra?"
Ayleen tergelak ditanya soal Ibra. "Dia udah gede, udah berani tidur sendiri. Udah gak papa, malam ini, Haura biar tidur sama saya."
"Yeee...tidul sama Kak Ayleen," Haura bersorak bahagia.
"Ya udah kalau gitu, Mbak." Mbak Santi lalu undur diri, keluar dari kamar Haura.
Sementara Ibra, didalam kamar dia terus-terusan menatap jam dinding. Sudah hampir pukul 10, tapi Ayleen tak kunjung masuk kamar, membuatnya resah gelisah. Apa lagi malam ini, dia sudah berencana ingin memadu kasih. Sudah sangat lama mereka tak melakukannya, tepatnya sejak kepergian ayahnya sebulan yang lalu. Hasrat yang sudah sebulan tak tersalurkan, tak bisa ditahan lagi malam ini.
__ADS_1
Ditengah kesabaran yang sudah setipis kertas, dia menyusul Ayleen ke kamar Haura. Kamar tersebut sudah gelap, hanya menyisakan lampu tidur saja yang menyala. Ibra garuk-garuk kepala, yang dia tungguin sejak tadi, taunya udah molor di kamar Haura.
Sambil berjalan pelan agar tak membangunkan Haura, Ibra mendekati Ayleen. Ditepuknya beberapa kali bahu istrinya itu sambil memanggil didekat telinga.
"Yang, bangun. Pindah ke kamar yuk," bisiknya.
Ayleen hanya menggeliat, tak ada niat bangun meski sebenarnya dia mendengar suara Ibra. Sejatinya, dia memang belum tidur, hanya pura-pura saja. Terbiasa tidur bersama Ibra, pisah ranjang membuatnya susah tidur.
"Sayang, bangun," Ibra kembali memanggil. "Pindah yuk, jangan tidur disini." Pria itu mencium belakang telinga serta leher Ayleen, membuat wanita itu tak bisa melanjutkan pura-pura tidur karena geli.
"Aku tidur disini malam ini," sahut Ayleen. Berusaha mendorong Ibra agar tak terus mencium leher dan telinganya.
"Terus aku tidur sama siapa?"
"Udah gede, tidur sendiri. Udah sana keluar," Ayleen mendorong dada Ibra agar menjauh darinya.
"Gak ada tapi-tapian. Aku udah janji sama Haura, malam ini nemenin dia tidur."
Ibra berdecak sebal sambil mengacak rambutnya frustasi.
Ayleen membenarkan posisi selimutnya dan Haura, lalu kembali memejamkan mata. Melihat itu, mau tak mau Ibra keluar kamar.
Ayleen langsung bernafas lega melihat Ibra keluar, tapi sesaat kemudian, pria itu malah kembali masuk. Buru-buru Ayleen menutup mata, pura-pura tidur.
"Yang, yakin mau tidur disini malam ini?" Ternyata Ibra masih belum putus asa. Dia duduk disisi ranjang, masih berusaha membujuk Ayleen agar mau kembali ke kamar.
"Iya. Aku udah janji sama Haura," sahut Ayleen dengan mata tetap terpejam.
__ADS_1
"Haura udah tidur, gak akan tahu kalau kamu pindah kamar." Ibra sedikit merengek, berharap Ayleen kasihan padanya.
"Haura sering mimpi buruk dan terbangun malam-malam. Aku gak mungkin ninggalin dia sendirian."
Ibra kembali berdecak sambil garuk-garuk kepala. Bingung seperti apa lagi merayu Ayleen. "Aku panggilin Mbak Santi biar kesini."
"Enggak, enggak, udah sana kamu keluar." Ayleen memang masih kesal pada Ibra. Seperti apapun pria itu membujuknya agar kembali ke kamar, dia tak akan mau.
"Kamu marah ya sama aku? Seharian kamu diem. Trus pesan aku gak dibalas. Dan sekarang, malah tidur disini. Sebenarnya kamu ke_"
Ayleen meletakkan telunjuknya didepan bibir Ibra. "Berisik, nanti Haura kebangun. Udah sana keluar."
Ibra membuang nafas kasar lalu dengan sangat terpaksa berjalan menuju pintu.
"Kak," panggil Ayleen pelan. Buru-buru Ibra membalikkan badan dengan penuh semangat. "Jangan lupa tutup kembali pintunya. Dan jangan masuk lagi." Ibra mengumpat dalam hati. Dia pikir Ayleen berubah pikiran, ternyata dia hanya di php. Kembali membalikkan badan lalu keluar dan menutup kembali pintunya.
Ibra kembali ke kamar dengan perasaan kesal. Mencari-cari apa kesalahannya hingga Ayleen seperti ini. Dia yakin, bukan murni karena Haura Ayleen memutuskan tidur disana, melainkan ada masalah lain. Yaitu masalah antara dirinya dan istrinya itu. Tapi apa masalahnya?
Hingga sampai tengah malam, Ibra tak kunjung bisa tidur. Berkali-kali mencoba memejamkan mata dan berharap kantuk datang, nyatanya tetap saja, dia tak bisa tidur.
"Aku gak bisa kayak gini terus," dia turun dari ranjang lalu menuju kamar Haura.
Ayleen yang baru tertidur, kaget saat tubuhnya terasa melayang. "Kak Ibra," pekiknya tertahan saat menyadari Ibra sedang mengangkat tubuhnya. "Turunin aku."
"Iya, aku turunin. Tapi nanti kalau sudah sampai di kamar kita." Mata Ayleen langsung melotot, tak menyangka jika Ibra akan senekat ini. Pria itu mengangkatnya hingga kamar mereka, lalu menurunkannya pelan diatas ranjang. "Diam disini. Aku bangunin Mbak Santi, suruh pindah ke kamar Haura."
"Kasihan Mbak Santi dibangunin malam-malam." Ayleen mengabaikan perintah Ibra agar diam ditempat. Dia turun dari atas ranjang hendak mencegah Ibra. Tak kehabisan akal. Ibra menutup pintu lalu menguncinya dari luar. "Loh, loh, aku kok dikunciin." Ayleen yang panik mencoba menarik-narik gagang pintu. Tapi nihil, tapi bisa dibuka karena Ibra menguncinya dari luar.
__ADS_1
"Tunggu, aku gak lama." Ibra kemudian pergi untuk membangunkan Mbak Santi.