Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 47


__ADS_3

Mama Nara salah tingkah saat menyadari semua orang menatapnya. Emang ada yang salah ya? Atau ekspresinya terlalu berlebihan?


"Mamah girang banget denger kata warisan," ledek Alfath sambil menahan tawa. Anak bungsunya itu kalau ngomong sering bener.


"Ya seneng dong, denger Ibra mau dapat warisan," ujar Mama Nara. "Dimana-mana, orang tua akan lebih tenang jika putrinya menikah dengan pria yang mapan. Meski uang bukan penentu kebahagiaan, tapi setidaknya, dengan uang akan lebih mudah mendapatkan kebahagiaan. Benar jika kriteria mantu idaman itu yang bertanggung jawab, baik akhlaknya, dan penyayang, tapi kalau ditambah bonus kaya, tentu lebih baik. Hidup itu harus realistis."


"Reaslistis, apa matre?" Alfath kembali meledek.


"Hus, gak boleh ngeledeki Mama kayak itu," ujar Ayah Septian. Dia lalu mendekati istrinya dan merangkul pundaknya sebentar. "Mama ini wanita paling tidak matre sedunia. Kalau Mama kamu matre, gak bakalan ada kamu dan kamu," dia menunjuk Ayleen dan Alfath. "Ayah gak punya apa-apa pas nikah sama Mama. Masih mending Ibra, udah punya usaha. Lah Ayah," dia menunjuk diri sendiri. "Ayah cuma mahasiswa yang nyambi jadi barista dikafe orang. Mama kamu udah jadi dosen loh waktu itu, gajinya gede. Gitupun, Mama mau sama Ayah."


"Selain Mama dan Kak Leen, masih ada gak sih, cewek gak matre diluaran sana?" tanya Alfath. "Kalau ada, aku mau tuh. Bakalan aku ajak nikah setelah lulus SMA, aku kan juga pengen nikah muda."


Bukannya fokus pada pertanyaan Alfath, Mama Nara dan Ayah Septian malah melihat kearah Aydin.


"Kenapa pada ngeliatin aku?" tanya Aydin sambil menunjuk dirinya sendiri. "Ay masih mau kerja, mau fokus ngambil spesialis, biar Al aja duluan. Lagian kenapa sih dengan keluarga ini, heran, cita-cita kok nikah muda semua." Dia memutar bola matanya malas sambil geleng-geleng.


"Bang, kamu punya pacar gak sih?" tanya Alfath.


"Ngapain pacaran, dosa," sahut Aydin cepat.


"Mantap, Bang." Ayah Septian memberikan 2 jempolnya langsung.


"Ya mana seru hidup tanpa pacaran," ujar Alfath. "Emang gak pengen gitu, Abang ada yang ngechat. Hai, lagi apa? Sudah makan, sudah tidur, sudah mandi, su_"


"Sudah berakk," potong Aydin cepat. Ayleen sampai tak kuasa menahan tawa, alhasil Mama Nara yang sedang mengoles eyeliner, jadi berantakan.

__ADS_1


"Leen," desis Mama Nara sambil melotot.


"Maaf Mah, habis Abang kocak banget sih." Ayleen masih saja belum bisa berhenti tertawa.


Tak ingin diledeki lagi, Aydin memilih keluar dari kamar Ayleen. Dibawah terdengar ramai, Alfath dan Ayah ikutan keluar, mungkin Tante Shaila dan Om Diego datang. Benar saja, dibawah sudah ada Shaila dan Diego, mereka hanya datang berdua tanpa anak-anak.


"Mana anak-anak?" tanya Ayah.


"Pada sibuk, gak ada yang mau ikut. Katanya nanti aja Pas Leen nikahan. Ibu gak dateng, Bang?" tanya Shaila sambil mencium tangan abangnya.


"Mau dateng tapi aku larang, kasihan udah tua, lagipula jauh." Ibu mereka ikut Sarah tinggal di Semarang. Usia yang sudah renta membuat Ayah Septian tak mengizinkannya bepergian jauh. Sudah berkali-kali Ayah Septian meminta ibunya untuk ikut tinggal di Jakarta, tapi wanita itu menolak, merasa lebih kerasan tinggal di Semarang, apalagi rumah Sarah termasuk masih desa, rasanya lebih tenang. "Rencananya bulan depan, kami sekeluarga mau berkunjung kesana, sekalian ngajak calon suamianya Leen, biar Ibu kenal."


"Bagus deh kalau gitu." Shaila memperhatikan meja makan yang hanya ada sedikit sekali makanan. "Ini beneran gak ada apa-apa Bang? Gak masak-masak gitu?"


"Cuma 2 orang, jadi gak masak-masak."


"Mejanya aja dibungkus Om, silakan." Seloroh Alfath sambil merentangkan tangan kearah meja makan.


"Wah! Lumayan Mah, mumpung meja makan dirumah rusak. Besok pagi aku sewa pick up untuk ngangkut," balasnya becanda. Shaila hanya geleng-geleng, suaminya itu memang sangat klop kalau ngomong dengan Alfath.


"Tante gak bawa apa-apa kesini?" tanya Alfath. "Yaelah, masa owner brand baju muslim yang udah terkenal, dateng dengan tangan kosong?" ledeknya.


Shaila menunjukkan paperbag yang dia bawa. "Tante bawain kebaya buat Kak Leen."


"Buat Al?"

__ADS_1


"Nunggu lebaran aja kalau kamu." Dia lalu naik keatas menuju kamar Ayleen. Tak sabar ingin melihat keponakannya itu memakai kebaya rancanganya.


...----------------...


Alfath berkali-kali keluar keteras untuk melihat tamu yang akan datang. Ini sudah lebih 45 menit dari waktu yang dijanjikan, tapi mereka belum juga datang.


Sama seperti Alfath, Ayleen yang menunggu diruang tengah, juga dibuat galau. Ini sudah jam 10.45 kemarin Ibra bilang akan datang jam 10.00.


"Coba kamu hubungi Ibra sekali lagi, Leen." Titah Mama Nara saat melihat putrinya gelisah.


"Udah Mah, tapi gak diangkat." Ayleen tampak kesal sekaligus cemas.


"Mungkin terjebak macet, sabar." Tante Shaila menepuk bahu Ayleen untuk menenangkannya.


"Tapi ini minggu Tan, ya masa macet sih."


"Sabar, tunggu aja dulu."


Kak Ibra kemana sih? Jangan bikin aku cemas gini dong.


Ayleen hampir menangis, takut Ibra kenapa-napa. Tak hanya itu, dia juga kepikiran bagaimana kalau Ibra batal melamarnya hari ini.


Suara berisik motor membuat Alfath langsung keluar untuk melihat. Mulutnya menganga lebar saat melihat puluhan motor sport masuk kehalaman rumahnya. Beberapa yang tak bisa masuk, memarkir motornya diluar rumah.


"Busyet, yang dateng sekompi, Yah." Seru Alfath masih dengan mata tak berkedip. Mendengar itu, Ayah Septian dan Mama Nara langsung keluar untuk melihat. Sama seperti Alfath, mereka langsung syok.

__ADS_1


"Yah, gimana nih," Mama Nara yang panik menarik-narik tangan suaminya. "Gak ada makanan."


__ADS_2