Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 77


__ADS_3

"Mama, Papa." Haura terus meraung-raung memanggil kedua orang tuanya. "Haula mau ketemu Mama sama Papa." Jika hari-hari sebelumnya Haura masih bisa dibujuk, tidak untuk hari ini. Gadis kecil itu mengalami tantrum, sampai Mbak Santi kualahan.


"Haura, Haura tenang sayang," Ayleen memeluk Haura, berusaha menenangkannya.


"Haula mau ketemu Mama sama Papa."


"Mama sama Papa, udah gak ada. Udah pergi untuk selamanya."


"Pelgi kemana? Kenapa Haula gak diajak?" Haura terus saja menangis sambil menarik-narik baju Ayleen. Beberapa kali, tak hanya menarik, dia juga memukul Ayleen.


Menjelaskan tentang kematian pada anak seusia Haura memang tidak mudah. Bocah itu belum terlalu paham tentang apa itu kematian. Ayleen maupun Ibra yang tak menguasai ilmu parenting, jelas bingung menjelaskannya.


Ayleen memeluk Haura yang sedang menangis. Bocah kecil yang bulan depan genap berusia 5 tahun itu mendekap foto kedua orang tuanya sambil terus meraung-raung memanggil mereka.


Semua yang ada diruangan tersebut ikut menangis, tak terkecuali Ibra. Sejak Haura lahir kedunia, baru kali ini dia merasa kasihan pada adiknya tersebut. Hari ini, tepatnya dua minggu pasca kecelakaan maut yang menewaskan Pak Yusuf dan Ratna.


Mereka membiarkan Haura menangis untuk meluapkan perasaannya. Sampai akhirnya lelah dan hanya menyisakan isakan saja.


"Haura ingat gak, apa yang pernah dijelaskan Bu Guru disekolah? Setiap yang bernyawa, pasti akan mati," ujar Mbak Santi yang berdiri disebelah ranjang Haura. "Seperti si comel, ikan kecilnya Haura yang mati dan dikubur."

__ADS_1


Mbak Santi menjelaskan panjang lebar tentang apa itu kematian pada Haura. Sampai Haura sedikit demi sedikit bisa paham. Ayleen merasa bersyukur Haura memiliki Mbak Santi. Selain baik, sayang pada Haura, Mbak Santi juga bisa dibilang cerdas. Menguasai ilmu parenting dan bisa menerapkannya dengan baik.


"Kalau mereka bahagia di sulga, kenapa Haula gak diajak?" tanyanya pada Mbak Santi. "Apa mereka udah gak sayang Haula?"


"Justru karena mereka sayang, makanya Haura gak diajak. Mereka ingin Haura jadi anak yang pintar, anak yang sholeha, yang selalu mendoakan mereka."


"Tapi Haula ingin ikut," rengek bocah itu.


"Kalau Haura ikut, Kak Ibra sama siapa?" Ibra ikut bicara. Dia mendekati Haura, membuat Mbak Santi minggir untuk memberi ruang pada pria itu. Ayleen tersenyum pada suaminya. Tak rugi siang malam dia mengoceh agar Ibra melupakan masa lalu dan menerima Haura. Akhirnya hari ini, Ibra bisa menunjukkan sikap sebagai seorang Kakak yang baik.


"Kan ada Kak Ayleen," jawab Haura.


"Haura mau kan?" Ayleen ikut bertanya.


"Iya, Haula mau." Ibra dan Ayleen yang ada disisi kiri dan kanan Haura, langsung memeluk gadis kecil tersebut.


Disudut ruangan, kedua orang tua Ratna tak henti-henti menyeka air mata. Sebenarnya mereka bersedia dan ingin mengasuh Haura, namun karena banyak pertimbangan, terutama usia mereka yang sudah tak muda lagi, akhirnya mereka setuju memberikan hak asuh Haura pada Ibra dan Ayleen. Takut jika umur mereka tak panjang, Haura malah akan terlunta-lunta nantinya. Kedua adik Ratna sudah berkeluarga, belum tentu mereka mau mengasuh Haura.


"Nanti kalau Haura sudah boleh pulang, kita sama-sama ke makan Ayah dan Tante Ratna," ajak Ayleen. "Kita bawakan bunga sambil mendoakan mereka."

__ADS_1


Haura mengangguk, "Mama suka bunga mawal. Nanti kita beli yang banyak ya, Kak, buat Mama."


"Iya, nanti kita beli yang banyak," sahut Ayleen. "Sekarang Haura istirahat ya, biar cepat sembuh." Dia membantu Haura berbaring lalu menyelimutinya. Setelah Haura tidur, Ibra mengajak Ayleen pulang.


Ibra mengendarai mobilnya menuju rumah. Sekarang musim hujan, membuat pria itu lebih sering menggunakan mobil milik ayahnya daripada motor miliknya, terutama saat pergi bersama Ayleen seperti saat ini.


"Makasih ya, Ay, udah selalu ada buat aku," Ibra menggenggam sebelah tangan Ayleen. "Aku gak tahu akan seperti apa kalau gak ada kamu," dia menoleh sebentar kearah Ayleen lalu kembali fokus ke jalan.


"Bukankah memang seperti itu suami istri seharusnya. Saling mendukung, saling menguatkan. Bukan hanya ada disaat senang saja, tapi juga disaat susah."


"Aku sangat bersyukur memiliki istri seperti kamu, yang benar-benar bisa ngertiin aku." Ibra menarik tangan Ayleen lalu menciumnya. Beruntung saat musibah ini datang, dia sudah punya Ayleen, kalau tidak, dia pasti akan merasa sendirian, tak punya siapa-siapa lagi didunia ini. "Maaf, honeymoon kita jadi gagal." Sebelumnya, Ibra dan Ayleen sudah merencanakan honeymoon ke Turki. Ibra tak menyumbangkan semua harta peninggalan alm. Ibunya. Mengambilnya sedikit untuk membahagiakan Ayleen dengan mengajaknya honeymoon.


"Tidak masalah, bisa lain kali."


"Makasih sudah mau ngertiin keadaan aku."


Ayleen mengangguk lalu bergelayut dilengan Ibra. "Aku sayang kamu, Kak."


"Aku juga," Ibra mencium puncak kepala Ayleen.

__ADS_1


__ADS_2