
Ayleen dan Ibra duduk disebuah bangku panjang yang berada tepat dibawah pohon yang rindang. Dengan tangan saling menggenggam sambil menatap beberapa anak panti yang sedang bermain dihalaman panti yang luas tersebut. Ya, hari ini, Ibra dan Ayleen datang ke panti untuk memberikan sumbangan atas nama alm. Ibu Ibra. Selain uang yang diserahkan langsung kepada pengurus panti, mereka juga membawakan banyak sekali makanan.
"Kakak pengen punya anak berapa?" tanya Ayleen. Matanya sibuk menelisik anak-anak panti yang sedang bermain. Mereka tampak sangat bahagia saat bermain bersama seperti ini. Namun saat sendiri, entahlah. Pasti ada saat mereka merasa kesepian, rindu kasih sayang orang tua dan ingin bisa hidup seperti anak yang lainnya yang punya keluarga.
"Tujuanku menikah, adalah bahagia bersamamu." Ibra meletakkan genggaman tangan mereka dipangkuannya. "Jika kita diberi keturunan, bagiku itu adalah bonus, bukan sesuatu yang utama. Ada tidaknya anak, tak akan mengubah cintaku padamu, karena sekali lagi, anak hanya bonus. Urusan anak, aku serahkan sepenuhnya pada Allah. Karena dia yang paling tahu, siap tidaknya kita menjadi orang tua, dan layak tidaknya kita diberi gelar orang tua."
Ayleen menatap Ibra sambil tersenyum. Kalimatnya barusan terasa seperti guyuran hujan ditengah cuaca yang sedang panas-panasnya seperti saat ini. Disaat pasangan lain menargetkan anak, atau bahkan pria lain akan menikah lagi saat istrinya tak bisa memberi anak, sangat berbeda dengan suaminya.
"Kenapa menatapku seperti itu? Apa jawabanku barusan salah?" Ibra mengerutkan kening.
Ayleen menggeleng, "Tidak salah, hanya saja, bikin aku baper." Ibra terkekeh pelan mendengar jawaban Ayleen. "Disaat pria lain mungkin saja akan melakukan poligami ketika istrinya tak bisa memberi keturunan, suamiku justru menganggap jika keturunan bukanlah hal yang utama."
"Karena bagiku, bahagia bersamamu hingga surga, adalah yang utama. Tuhan sudah memberiku kamu, anugerah terindah dalam hidupku. Rasanya terlalu tamak jika aku masih memaksa meminta yang lain lagi." Ibra mengangkat genggaman tangan mereka lalu menciumnya.
"Ish," Ayleen melotot sambil menarik tangannya. "Gak enak kalau dilihat anak-anak." Dia memperhatikan sekeliling, takut ada yang melihat adegan romantis Ibra barusan.
"Kamu sih, mancing-mancing."
"Hah, mancing apaan coba?" Ayleen pengen sekali tertawa. Dilihat dari sisi mana coba dia mancing.
"Pokoknya dekat kamu, aku kepancing mulu."
"Yeee... dasar kamunya aja kalau gitu."
__ADS_1
"Hehehe.. " Ibra malah tertawa absurd dikatain seperti itu. "Pulang yuk."
"Tapi kayaknya Haura masih asyik main tuh," Ayleen menunjuk kearah Haura yang sedang bermain bersama anak panti. Tak jauh darinya, ada Mbak Santi, sang pengasuh yang selalu setia disisinya. Hari ini Ayleen maksa ngajak Haura, meski awalnya Ibra menolak. Dia kasihan pada Haura yang kesepian di rumah karena papanya kerja dan mamanya sudah sebulan tak pulang. Setiap hari hanya berdua dengan pengasuh.
"Haura," panggil Ibra sambil melambaikan tangan.
"Ish orang ini," Ayleen berdecak pelan. "Dibilangin bentaran dulu, masih aja ngebet minta pulang."
"Sini," panggil Ibra saat Haura menoleh kearahnya. Sambil berlari kecil diikuti pengasuhnya, Haura menuju tempat Ibra dan Ayleen. "Pulang yuk," ajak Ibra.
Haura menggeleng cepat. "Gak mau, Haula masih mau main."
"Kapan-kapan lagi kita kesini," bujuk Ibra.
"Nanti dululah Kak, kita pulangnya. Biar Haura puas main dulu," Ayleen coba menego Ibra.
"Haula masih mau main," ucap bocah itu sambil menatap Ayleen. Puppy eyes nya membuat Ayleen tak kuasa menolak.
"Ya udah, Haura main lagi gih. Satu jam lagi kita pulang," sahut Ayleen sambil menyentuh puncak kepala Haura.
"Yeee.. makasih Kak Ay." Haura mendekati Ayleen, berjinjit lalu mengecup pipinya. "Kak Ay mau ikutan main gak?"
"Enggak," sahut Ibra cepat. Tatapannya yang sedikit melotot membuat Haura langsung menunduk takut.
__ADS_1
"Jangan galak-galak dong," Ayleen menoleh kearah Ibra. "Ya udah Haura main sama Mbak Santi dan yang lain ya, Kak Ay disini aja." Haura mengangguk lalu menarik tangan pengasuhnya kearah teman-teman barunya di panti.
"Awas aja kalau kamu ikut kesana, langsung aku ajak pulang detik ini juga. Ogah aku dikacangin disini sendirian," omel Ibra. Bersedekap sambil menunjukkan muka jutek.
"Kamu itu jangan galak-galak dong sama Haura. Dia itu a_"
"Anaknya Ratna," potong Ibra cepat.
Ayleen menghela nafas sambil geleng-geleng. "Iya, dia anaknya Ratna, tapi juga adik kamu. Udah dong marahnya." Ayleen mengusap pelan punggung Ibra. "Haura gak tahu apa-apa. Dia juga gak pernah minta dilahirin dari rahim Ratna. Udah, jangan marah-marah mulu sama dia."
"Ya tapi_"
"Ya tapi tadi ngomongnya udah adem, enak didenger, buat aku baper, sekarang kok mulai ngeselin lagi." Ayleen memutar kedua bola matanya malas. "Jangan galak-galak, ntar kadar kebucinan aku ke kamu berkurang loh." Ibra terkekeh pelan mendengar penuturan Ayleen. Istrinya itu memang selalu bisa bikin dia tertawa. Dan satu lagi, jago meredam amarahnya.
"Emang berapa persen kadar kebucinan kamu ke aku?" tanya Ibra. "Palingan masih banyakan aku."
"Emang kamu berapa?" tantang Ayleen.
"100 persen."
"Aku 101 persen. Banyakan aku kan?" cibir Ayleen.
"1 nya minta siapa Neng," Ibra mencubit gemas pipi Ayleen. "Kalau aja lagi dirumah, aku habisin kamu." Ayleen tak kuasa menahan tawa mendengar ancaman Ibra. "Pulang yuk."
__ADS_1
"Kumat deh," Ayleen membuang nafas berat.