
Ratna memasuki rumah dengan wajah kesal. Betapa tidak, saat mengantar Haura kesekolah tadi, banyak sekali ibu-ibu wali murid yang terang-terangan menatapnya sinis. Bahkan dia sempat mendengar ada yang menyebutnya nenek lampir, menyebalkan bukan. Semua ini gara-gara acara lamaran Ibra kemarin yang viral. Ketidakadaannya dengan sang suami, menjadi sorotan utama.
Video lamaran itu banyak di share dimedia sosial. Sangat mudah bagi Ratna untuk melihat seperti apa acara lamaran kemarin, belum lagi, ada beberapa orang yang langsung men-tag dia.
Komentar netijen maha benar membuat Ratna makin meradang. Mereka mengolok-olok dirinya yang dianggap ibu tiri jahat. Tak jarang yang mengatakan jikan ayahnya tak hadir pasti gara-gara dilarang ibu tirinya. Sepertinya netizen langsung sigap mencari tahu tentang keluarga mereka, buktinya akun media sosialnya langsung diserbu hatters. Dan terpaksa, Ratna menonaktifkan kolom komentar dan memprivasi akunnya.
Sama seperti Ratna, Yusuf juga mendapatkan tatapan tak mengenakkan dari bawahannya dikantor. Dia yakin, dibelakangnya, mereka sedang membicarakannya.
"Apa saya perlu klarifikasi sesuatu?" tanya Riko, asistennya. "Saya bisa mengatakan jika kemarin Bapak dan Ibu sedang ada urusan diluar kota," saran Riko.
Pak Yusuf hanya menanggapi dengan mengangkat telapak tangan, yang artinya tidak perlu. Percuma dia klarifikasi, karena mereka tetap akan mencari celah untuk terus menjelekkannya.
Baru saja Riko undur diri, Om Musa masuk keruangannya.
"Udah lihat video yang viral itu?" tanya Om Musa sambil menyeringai.
"Aku lagi banyak kerjaan, lebih baik kamu pulang," usir Pak Yusuf.
Tahu jika kakaknya itu hanya pura-pura, bukannya pergi, Om Musa malah duduk hadapan Pak Yusuf.
"Orang satu Indonesia merasa kasihan pada Ibra, tapi ayahnya sendiri malah tidak, miris," sindir Om Musa. "Ibra itu anak kamu, Mas, anak kandung. Tak bisakah kamu sedikit peduli dengan anak itu?"
__ADS_1
Pak Yusuf menyandarkan punggungnya dikursi sambil memejamkan mata. Hubungannya dengan Ibra mulai memburuk sejak dia menikah dengan Ratna. Ibra terang-terangan menolak pernikahan itu, tapi dia tak peduli, tetap menikah dengan Ratna.
"Ibra itu sebenarnya anak baik, kenapa dia jadi berandalan dan tak bisa diatur? Itu karena dia protes padamu, dia cari perhatian kamu. Pernah gak, setelah menikah dengan Ratna, kamu ngobrol dari hati ke hati dengan Ibra, gak pernahkan? Dunia kamu hanya dipenuhi dengan istri baru kamu itu, sampai kamu melupakan Ibra. Ibarat besi, saat dia sedikit bengkok, harusnya kamu luruskan, bukan malah ditekan hingga makin bengkok."
Pak Yusuf masih setia diam, tak membantah ataupun mengiyakan semua perkataan adiknya.
"Harta peninggalan ibunya, sudah dibagi. Aku harap, Mas gak bikin ulah dengan meminta hak Ibra. Yang benar itu, harusnya Mas gak usah minta bagian, berikan semuanya pada Ibra. 2 bulan lagi, Ibra akan menikah, aku harap, Mas mau datang hari itu." Om Musa pergi setelah mengungkapkan isi hatinya yang dia pendam bertahun-tahun. Karena sejatinya, dia juga tak setuju kakaknya itu menikah dengan Ratna.
...----------------...
Ternyata video lamaran yang viral itu, membawa berkah tersendiri bagi Ibra. Bengkel motornya makin ramai. Utamanya peningkatan terjadi pada pelanggan cewek. Mungkin mereka ingin kenalan dengan anggota joker yang ganteng-ganteng. Bengkel sudah berubah jadi seperti basecamp joker karena Ibra menambah karyawan akibat kebanjiran konsumen. Jika dulu hanya dia, Reza dan Diki, sekarang ditambah Rio, Bono dan Noval.
"Sering-sering kayak gini Bu Bos," ujar Reza. Dia langsung menyeruput es kopi yang terlihat seger itu. "Kopi buatan Bu Bos emang yang paling mantep," pujinya.
Ibra dan Ayleen masuk kedalam bengkel untuk makan siang bersama, sedang yang lain akan makan bergantian.
"Kamu yang masak, Ay?" tanya Ibra saat Ayleen membuka kotak makanannya. Dan seketika, aroma sedap langsung tercium.
"Iya, mumpung hari ini aku libur." Ayleen menyendok makanan lalu menyuapkan pada Ibra. "Lusa gak lupakan, kita ada sesi foto prewedding."
"Hem, ingat kok," Ibra mengangguk pelan.
__ADS_1
"Kok kayak gak semangat gitu?"
"Semangat sayang," Ibra menarik gemas hidung Ayleen. "Ak lagi dong," dia membuka mulutnya lebar untuk menerima suapan dari sang kekasih.
Ibra dan Ayleen akhirnya setuju untuk mengadakan akad nikah dirumah dengan mengundang, saudara, teman dan tetangga. Om Musa memberikan pinjaman uang pada Ibra yang nantinya akan diganti saat sudah bisa mencairkan uang deposito berjangka milik alm. ibunya. Sebenarnya Ayah Septian menolak uang Ibra, dia ingin membiayai pernikahan tersebut, tapi Ibra jelas keberatan. Jadi diambil tengahnya, biaya ditanggung kedua belah pihak.
"Jangan sering-sering bawa makanan kesini."
"Kenapa?" Ayleen mengerutkan kening. "Gak enak ya?"
"Karena terlalu enak, makanya jangan. Gak rela aku bagi-bagi kemereka," Ibra menunjuk dagu kearah teman-temannya.
"Pelit."
"Bukannya pelit, gak ikhlas masakan calon istri dinikmati mereka juga." Ayleen hanya terkekeh mendengarnya.
"Dasar posesif," gerutu Ayleen.
"Biarin," Ibra merangkul pundak Ayleen. "Salah sendiri cantik." Ditatapnya wajah Ayleen gemas. Ingin sekali dia mencium bibir pink yang tampak menggoda itu. Tapi dia tahan karena sudah janji akan mengambil ciuman pertamanya saat sudah halal nanti. "Kamu bakalan habis saat kita udah halal nanti," geram Ibra yang mati-matian menahan diri.
Ayleen hanya tergelak melihat ekspresi Ibra.
__ADS_1