
Motor yang dikendarai Ibra memasuki halaman rumahnya. Digerbang tadi, 2 orang satpam langsung menyapa saat melihatnya datang. Sudah terlalu lama Ibra tidak pulang, dan saat ini, dia merasa seperti orang asing dirumahnya sendiri. Padahal dia dibesarkan dirumah ini.
"Ayo masuk," ajak Ibra sambil menggandeng tangan Ayleen. Sebelum kesini tadi, mereka mampir ketoko kue. Membeli buah tangan meski Ibra sempat menolak.Tapi rengekan Ayleen membuatnya tak bisa berkata-kata selain mengiyakan. "Ingat, jangan dimasukin hati kalau mereka ngomong yang enggak-enggak."
"Iya, iya," Ayleen mendongak menatap Ibra sambil tersenyum. Entah sudah berapa kali cowok itu mengulang kata-kata yang sama, Ayleen sampai hafal.
Ibra tahu jika dijam ini, keluarganya biasa makan malam, jadi saat masuk, dia langsung menuju meja makan. Pintu rumahnya memang jarang dikunci selain malam hari, karena diluar sudah ada satpam yang berjaga.
"Kakak." Teriak Haura yang lebih dulu melihat kedatangan Ibra. Teriakan Haura membuat fokus Pak Yusuf dan Ratna pada makanan langsung teralihkan. Mereka menatap kearah Ibra yang sedang menggandeng tangan seorang gadis.
Mata Haura langsung berbinar melihat kakaknya datang. Meski Ibra tak pernah baik padanya, entah kenapa, Haura selalu ingin dekat dengan kakaknya itu. Dia ingin turun dari kursi untuk menghampiri Ibra, tapi ditahan oleh mamanya.
"Kalau makan, gak boleh sambil jalan-jalan," ujar Ratna pada putrinya. Haura mengangguk, dia memang dididik untuk selalu menjadi anak yang patuh.
Ibra mengucapkan salam lalu mengajak Ayleen menghampiri Ayahnya. Jantung Ayleen berdetak kencang saat pandangan kedua orang tua Ibra tertuju padanya. Ayah Ibra sudah terlihat berumur, namun garis ketampannya masih terlihat. Dari sini Ayleen bisa menyimpulkan jika ketampanan Ibra berasal dari ayahnya. Sedang ibu tirinya, Ayleen tak menyangka jika masih sangat muda, bahkan tampak lebih cocok jadi anaknya Pak Yusuf.
Dengan tangan sedikit gemetaran, Ayleen meletakkan kotak berisi cake diatas meja makan sambil tersenyum ramah.
"Tadi kami mampir ketoko kue, Kak Ibra bilang, Om suka tiramisu," ujar Ayleen.
"Kadar gula Mas Yusuf tinggi, dia gak boleh makan yang manis-manis," sinis Ratna.
__ADS_1
"Ya udah, kalau gitu, cakenya buat Haula aja," celetuk bocah polos itu.
"Haura juga gak boleh makan cake, nanti giginya bolong," ujar Ratna sambil menatap Haura. Bocah itu langsung menunduk lemas. Tak berani membantah apapun.
Ibra berdecak sebal, Jangankan menghornati tamu, Ratna behkan tak bisa menghargai pemberian. Wanita macam apa yang dinikahi ayahnya itu.
"Ya udah nanti kita bawa pulang saja tiramisunya." Ibra mencoba membesarkan hati Ayleen. "Anak-anak di bengkel pasti suka dikasih kue." Ibra kembali melihat kearah ayahnya. "Kenalin Yah, ini Ayleen, calon istri Ibra." Ayleen mengulurkan tangannya kearah Pak Yusuf. Tapi tangannya tak segera disambut, karena Pak Yusuf masih sedikit terkejut dengan istilah calon istri tadi. Tapi beberapa saat kemudian, Pak Yusuf akhirnya menyambut uluran tangan Ayleen. Sambil tersenyum, Ayleen langsung mencium punggung tangan ayah Ibra tersebut.
"Duduk sayang." Ibra menarik kursi untuk Ayleen. Tapi gadis itu ragu, karena tuan rumah sama sekali tak mempersilakan dia duduk. Selain itu, dia juga belum dikenalkan pada ibu tiri Ibra. "Duduk," ulang Ibra sambil mendorong pelan bahu Ayleen. "Gak usah sungkan, ini rumah aku."
Ratna tampak kesal mendengar Ibra menyebut ini rumahnya. Selain itu juga sedikit tersinggung karena merasa sama sekali tak dianggap keberadaannya. Dia tak dikenalkan, seolah tak penting sama sekali.
Ibra menarik kursi disebelah Ayleen lalu duduk disana. "Bulan depan, Ibra mau melamar Ayleen. Jadi Ibra minta, Ayah untuk menemani Ibra."
"Kamu serius?" tanya Pak Yusuf.
"Sangat serius, makanya aku bawa Ayleen kesini, untuk dikenalkan sama Ayah." Ibra menggenggam tangan Ayleen, menunjukkan keseriusannya.
"Kamu kok mau sih, dilamar sama Ibra?" celetuk Ratna.
Ibra langsung melemparkan tatapan sengit kearah ibu tirinya itu. "Apa maksud tante ngomong kayak gitu?"
__ADS_1
"Ya Tante cuma ngomong apa adanya. Mau-maunya dia dilamar kamu yang masih kuliah. Kamu belum kerja, emang bisa kenyang makan cinta doang," sinis Ratna sambil tersenyum meremehkan.
Ibra ingin membantah perkataan Ratna, tapi Ayleen lebih dulu memegang lengannya sambil menggeleng. Saat ini, dia masih ingin mendengar celotehan ibu tiri Ibra.
"Oh...jangan-jangan kamu mau karena tahu Ibra anak orang kaya," lanjut Ratna sambil menatap Ayleen sinis. "Heran sama gadis jaman sekarang, gak bisa lihat yang kaya dikit."
Ingin sekali Ayleen membalikkan kata-kata Ratna. Bukankah dia yang seperti itu, tak bisa lihat orang kaya dikit, tak peduli sudah tua, bahkan suami orang, main embat saja. Apa dia tidak punya kaca sampai bisa ngomong seperti itu.
"Kamu kerja atau kuliah?" tanya Pak Yusuf.
"Kuliah, Om," sahut Ayleen.
"Masih sama-sama kuliah, kenapa udah mikir nikah? Kenapa gak fokus kuliah dulu, ngejar cita-cita. Kamu gak sedang ngincer sesuatu dari Ibrakan?"
"Yah," seru Ibra lantang. Tak terima atas tuduhan yang dilimpahkan ayahnya pada Ayleen.
"Diam kamu, Ayah bertanya pada dia, bukan kamu," tekan Pak Yusuf.
Ayleen menggenggam tangan Ibra sambil tersenyum. Bibirnya berucap aku gak papa tanpa mengeluarkan suara. Tapi Ibra tetap gelisah, takut Ayleen sahit hati.
"Ya pasti ngincer hartanya Ibra lah," Ratna menimpali. "Udah kelihatan wajah-wajah matrenya."
__ADS_1
Ayleen hanya tersenyum dikatain seperti itu. "Memang Kak Ibra punya harta ya?" tanya Ayleen sok polos. "Saya bahkan tidak tahu jika Kak Ibra punya harta. Yang saya tahu, Kak Ibra hanya mahasiswa yang tengah merintis usaha bengkel. Tiap hari harus berjuang nyari uang untuk makan dan biaya kuliah. Berjuang sendiri, nyari uang sendiri," Ayleen mengulang kata-katanya sebagai penekanan.