
Ayleen yakin Ibra hanya sedang menggertak, pria itu tak akan berani keluar tanpa mengenakan apapun. Saat mendengar pintu kamar mandi terbuka, Ayleen sama sekali tak menolehh. Namun lama-lama, dia penasaran juga, dan akhirnya menoleh kesamping.
"Aaa..." Pekik Ayleen. Diluar dugaannya, ternyata pria itu beneran keluar tanpa sehelai benang. Tetesan air sisa mandi jatuh kelantai bersamaan dengan langkah kakinya. Dan rasanya, Ayleen seperti tak bisa bernafas saat Ibra makin dekat.
Namun semakin dekat, justru Ibra yang malu. Sejak tadi, tatapan Ayleen terus tertuju pada sesuatu dibawah perutnya. Mau tak mau, dia jadi membalikkan badan. "Kamu ngeliatinnya gitu banget sih, Ay."
Tawa Ayleen langsung meledak. Tak menyangka jika Ibra bisa malu juga. "Katanya tadi jangankan dilihat, disentuh juga boleh. Ternyata bohong, dilihatin doang aja gak boleh, gimana mau pegang," ledek Ayleen.
"Kamu nantangin aku, Ay?"
"Cuma mau membuktikan kata-kata kamu aja." Ayleen berdiri, hendak berjalan kedepan Ibra, namun pria itu lebih dulu membalikkan badan, yang otomatis, mereka jadi berhadapan.
Tubuh Ayleen langsung menegang saat Ibra yang tak memakai apa-apa berdiri menghadap kearahnya.
"Kenapa makin besar?" gumam Ayleen. Seperti terbius, matanya tak berkedip melihat milik Ibra.
__ADS_1
"Masih bisa makin besar lagi." Ibra meraih tangan Ayleen lalu menuntunnya untuk memegang miliknya. Baru menyentuh sedikit, Ayleen seperti tersengat aliran listrik. Reflek dia menjauhkan tangan. Rasanya seperti mimpi, dia melihat dan menyentuh langsung milik laki-laki. Wajah Ayleen merah padam, tubuhnya gemetaran dan panas dingin.
"A-ayah manggil." Ayleen hendak kabur tapi Ibra lebih dulu mencekal pergelangan tangannya.
"Jangan harap bisa kabur setelah membangunkannya." Sebelah tangan Ibra memegang tengkuk Ayleen, dan tanpa aba-aba langsung mendaratkan bibirnya diatas bibir Ayleen. Mengulum bibir merah yang selama ini hanya bisa dia pandangi dan bayangkan kelembutannya.
Ayleen memejamkan mata, menikmati ******* serta gigitan kecil dibibir yang membuat tubuhnya meremang. Saat lidah Ibra berusaha menyeruak masuk, dia menyerah tanpa perlawanan, membuka mulut dan berusaha melakukan seperti apa yang dilakukan Ibra. Tapi ternyata ciuman tak semudah yang dia bayangkan, baru sebentar, dia sudah kehabisan nafas. Untung Ibra paham dan melepaskan pagutan bibir mereka. Memberikan kesempatan Ayleen menghirup nafas sebentar lalu kembali memagut bibirnya.
Ibra kembali menuntun tangan Ayleen agar menyentuh miliknya. Dia juga berusaha menarik resleting dibelakang gaun Ayleen. Lagi-lagi, Ayleen tak berusaha menolak, pasrah bahkan membantu Ibra meloloskan gaunnya. Dia sadar jika saat ini, hati dan tubuhnya adalah milik Ibra. Jadi pria itu bebas melakukan apapun atas tubuhnya, termasuk meminta haknya saat ini juga.
"Malu?" goda Ibra.
Ayleen menggigit bibir bawahnya sambil mengangguk pelan. Ini pertama kalinya, tubuhnya dilihat laki-laki.
Ibra menyingkirkan lengan Ayleen, melepas pelindung terakhir yang menutupi tubuh istrinya itu. "Indah sekali," gumam Ibra yang tak berkedip menatap keindahan dihadapannya. Diangkatnya tubuh Ayleen lalu dibaringkan diatas ranjang.
__ADS_1
Ayleen men de sah saat bibir Ibra memberikaan kecupan basah disekitar lehernya. Kecupan yang semakin lama semakin turun hingga membuatnya melayang ke langit ketujuh.
Tok tok tok
Ketukan dipintu membuat Ibra menghentikan aktifitasnya sejenak.
"Kak Leen, temen-temen kamu datang," teriak Alfath dari balik pintu.
Ibra berdecak pelan sambil membuang nafas kasar.
"Besyanda, besyanda." Alfath lanjut menyanyi, membuat Ayleen dan Ibra pengen sekali melempari cowok itu dengan sendal.
Keduanya lalu bertatapan, setelah itu tawa mereka meledak bersama.
"Kayaknya emang harus ditunda dulu," Ibra menunjuk kearah jam. "Takut gak keburu sholat ashar."
__ADS_1