
Ayleen duduk diatas ranjang, dihadapannya sang Mama sedang sibuk merias wajahnya. Seperti tak ada kerjaan, 3 pria dirumah itu mengelilingi sambil menatapnya. Hari ini memang hari minggu, semua pada libur. Sebenarnya tidak semua, Bang Aydin harusnya kerja, tapi dia minta cuti.
"Mah, yakin Mama bisa? Leen, ke salon aja ya, Mah," rengek Ayleen. Tak yakin dengan hasil make up Mamanya.
"Gak usah meragukan kemampuan Mama. Tangan dewa ini akan menyulapmu menjadi wanita tercantik didunia," sahut Mama Nara. Tangannya masih sibuk meratakan foundation diwajah Ayleen.
"Lebai," celetuk Alfath sambil menahan tawa. Tak pelak Mamanya yang kesal langsung mengambil bantal dan melemparkan kewajah putra bungsunya itu. "Ngomong sekali lagi, gantian kamu yang Mama rias," ancamnya.
Ayah Septian dan Aydin langsung kompak ketawa, sedang Alfath hanya bisa nyengir sambil garuk-garuk kepala. Amit-amit kalau dia sampai dirias.
"Kata kamu, Ibra cuma datang berdua dengan pamannya, terus ngapain pakai dandan cantik-cantik, sampai mau kesalon segala," ujar Aydin. Dia bersandar pada almari dengan kedua tangan dilipat didada.
"Biarpun yang datang cuma 2 orang, hari ini tetep hari yang spesial buat aku, Bang," sahut Ayleen jengkel. "Aku mau terlihat cantik, terlihat sempurna dihari ini." Hari ini, Ibra dan pamannya akan datang untuk melamar Ayleen. Tak ada acara spesial, apalagi mengundang orang, hanya pembicaraan 2 keluarga saja.
"Buat siapa coba, cuma 2 orang Leen yang dateng." Aydin berdecak pelan sambil geleng-geleng.
__ADS_1
"Yang dateng emang cuma 2 orang, Bang," Alfath menimpali. "Tapi yang ngelihat ribuan orang." Mama Nara dan Ayah Septian langsung mengerutkan kening. "Kan fotonya diupload dimedsos, dilihat ribuan orang," lanjut Alfath.
Ayah Septian langsung geleng-geleng. Jaman sekarang, apapun tak bisa lepas dari medsos, apalagi anak muda. Jangankan acara lamaran, mau tidur aja, cekrek dulu lalu upload.
"Yah, saudara beneran gak ada yang dateng?" tanya Aydin.
"Cuma Tante Shaila dan Om Diego saja yang datang. Tante Sarah, Tante Kinan, semua lagi sibuk. Dah gitu rumah mereka jauh, jadi Ayah larang buat dateng. Nanti aja pas nikahannya Leen, mereka datang."
"Tapi kan nikahannya cuma di KUA, Yah," ujar Ayleen.
"Mama gak setuju kamu nikah di KUA," sahut Mama Nara cepat.
"Tapi Mama pengen ada acara dirumah, Leen. Kamu itu anak perempuan satu-satunya. Dah gitu mantu pertama, pokoknya Mama mau bikin acara dirumah." Mama Nara terlihat tak mau dinego untuk kali ini.
"Mah .." Ayleen kembali merengek. Bingung seperti apa mengatakan pada Mamanya, jika Ibra tak ada biaya.
__ADS_1
"Jangan banyak gerak," omel Mama Nara. Takut jika make up nya bakal berantakan.
"Kak Ibra gak ada uang, Mah."
"Gak ada uang kok ngebet nikah," celetuk Alfath.
"Diam kamu," bentak Ayleen. Kalau saja dia bisa menoleh, sudah dia pelototi adiknya itu, sayang dia tak bisa banyak gerak, takut mamanya ngomel lagi.
"Yaelah, mau jadi manten, makin galak aja," gumam Alfath.
"Gak usah mikirin biaya, biar Ayah yang nanggung," ujar Ayah Septian yang sejak tadi hanya diam. Bagaimanapun, mana tega dia membiarkan Ayleen menikah tanpa pesta sama sekali. Meski Ayleen mengatakan tak mau ada pesta, tapi dia yakin jika dalam hati, Ayleen pasti menginginkannya, hanya saja tak mau membebani Ibra.
"Tapi, Yah.." Ayleen yakin jika Ibra tidak akan setuju. Pria itu pasti malu jika semua biaya pernikahan ditanggung keluarganya.
"Udahlah Leen, setuju aja. Suruh si Ibra buang dulu gengsinya," Aydin ikut menimpali. "Oh iya, emang bokapnya gak mau ngasih duit sepeserpun gitu? Pelit amat jadi orang." Meski dia tak banyak omong dan tak suka becanda seperti Alfath, tapi sekali ngomong, Aydin suka langsung menohok.
__ADS_1
"Kak Ibra lagi ngurusin warisan sekarang," sahut Ayleen.
"Warisan!" pekik Mama Nara. Tak pelak, semua yang ada disana langsung menatapnya.