
Raut wajah Pak Yusuf seketika berubah, terlihat otot wajahnya menegang. Sepertinya dia tersinggung, karena secara tidak langsung, dia cap sebagai ayah yang tidak bertanggung jawab. Dia memang sudah 3 bulan lebih tidak memberi uang sama sekali pada Ibra. Dan apa tadi, usaha bengkel, dia bahkan tak tahu sama sekali jika Ibra punya usaha. Pantas saja putranya itu tak pernah menghubunginya sama sekali untuk meminta uang.
"Kamu buka bengkel?" tanya Pak Yusuf. "Darimana modalnya?"
"Yang pasti bukan dari, Ayah," sahut Ibra sambil tersenyum miring. Lagi-lagi, Pak Yusuf mendapatkan kalimat yang menohok. "Sudahlah, Ibra datang bukan untuk membahas bengkel atau apapun, Ibra hanya ingin mengenalkan Ayleen, dan meminta Ayah menemani Ibra melamarnya bulan depan." Dia tak mau berlama-lama disini.
"Kerja apa orang tua kamu?" tanya Ratna. Entah apa maksud dari pertanyaannya, tapi sepertinya wanita itu masih ingin mencari celah untuk menjatuhkan Ayleen.
"Untuk apa bertanya tentang itu," sahut Ibra. "Saat Tante menikah dengan Ayah, aku bahkan tak menanyakan, kerja apa orang tua, Tante." Ratna seketika mencengkeram sendoknya kuat. Kalimat Ibra terdengar seperti sindiran. Orang tuanya memang miskin, yang kerjanya cuma jualan sayur dipasar. Itu juga salah satu penyebab dia menikah dengan Pak Yusuf. Dia sudah bosan hidup miskin, ingin kaya dengan cara instan. Sayangnya setelah menikah, dia baru tahu jika kebanyakan harta yang dia kira milik Pak Yusuf, ternyata milik alm. Istrinya
"Tapi Ayah tetap harus tahu seperti apa latar belakang keluarganya," Pak Yusuf menimpali.
Ibra tersenyum kecut, saat menikahi Ratna, apa ayahnya itu juga memikirkan tentang latar belakang keluarga Ratna? Rasanya tidak, ayahnya hanya peduli pada kecantikan dan keseksian Ratna saja.
__ADS_1
"Ayleen anak Bu Kinara, dekan di kampus Ibra. Beliau teman alm. Ibu dulunya. Ayah Ayleen punya usaha coffee shop, namanya Mezra coffee n dessert, Ibra yakin Ayah tahu tempat itu. Kafe itu sangat terkenal dan punya banyak cabang." Ibra menjelaskan panjang lebar, bahkan pendidikan orang tua Ayleen juga dia sebutkan. Kakaknya yang menjadi dokter dan sekarang tengah menempuh pendidikan spesialis, juga tak luput dari ceritanya. Sambil sesekali melirik Ratna, agar ibu tirinya itu tahu seperti apa hebatnya keluarga calon menantunya.
Pak Yusuf memperhatikan Ayleen. Pantas saja gadis itu pintar bicara, ternyata dia dari keluarga yang cukup terpandang dan latar pendidikan yang bagus. Dia jarang kumpul dengan teman alm. Istrinya, jadi dia tak tahu siapa saja temannya dulu.
"Apa orang tua kamu setuju, kamu menikah dengan Ibra?" tanya Pak Yusuf.
"Setuju Om."
"Tapi, Mas." Ratna hendak protes tapi Yusuf lebih dulu mengangkat telapak tangannya, memberi isyarat agar Ratna diam. Wanita itu mendengus kesal. Dia takut jika Ibra menikah nanti, pria itu akan kepikiran tentang kerja diperusahaan, jika itu terjadi, posisinya tak akan aman. Padahal dia sudah berencana akan menggantikan suaminya setelah pria itu pensiun.
"Ikut Ayah ke ruang kerja, ada yang ingin ayah bicarakan." Pak Yusuf beranjak dari duduknya, berjalan lebih dulu menuju ruang kerja. Sementara Ibra, dia ragu untuk meninggalkan Ayleen sendirian. Takut jika ibu tirinya berbuat macam-macam.
"Gak papa, Kakak pergi aja," ujar Ayleen. Dia paham apa yang Ibra pikirkan.
__ADS_1
Setelah Ibra menyusul ayahnya keruang kerja, kini tinggal Ayleen, Ratna dan Haura dimeja makan. Meski berada dimeja makan, tapi kenyataannya Ayleen tak ditawari makan sejak tadi.
Ratna menyudahi makannya meski belum habis. Selera makannya hilang sejak Ibra datang. Dia memanggil pengasuh Haura, meminta wanita itu membawa Haura kedalam kamar dan mengajarinya belajar.
"Kamu yakin mau menikah dengan Ibra?" tanya Ratna. "Dia itu berandalan, kerjaannya cuma bikin ulah, menyusahkan. Mau-maunya kamu sama dia," lanjutnya sambil tersenyum miring. "Kamu cantik, dari keluarga terhormat. Tidak susah untuk mendapatkan pria yang lebih segalanya dari Ibra, mending kamu pikir ulang deh, rencana menikah dengan Ibra." Entah apa maksud Ratna bicara seperti itu. Tapi satu hal yang pasti, Ayleen geram mendengar Ratna menjelek-jelekkan Ibra. Ibu macam apa dia itu.
"Itu menurut anda, tapi tidak menurut saya. Bagi saya, Kak Ibra itu pria yang baik, bertanggung jawab, serta memiliki banyak sekali kelebihan. Saya yakin, dia akan menjadi orang yang sukses kelak, bahkan mungkin bisa lebih sukses dari ayahnya. Kalau saja dia menggantikan ayahnya di perusahaan, saya yakin perusahaan akan lebih maju."
Rahang Ratna langsung mengeras. Dia mengepalkan tangannya yang ada dibawah meja. Dia tak akan membiarkan Ibra sampai bekerja di perusahaan, tidak akan.
Brakk. Pyarrr
Suara sesuatu yang dilempar serta suara barang pecah, membuat Ratna dan Ayleen terkejut. Dari asal suaranya, Ratna tahu jika itu dari ruang kerja suaminya.
__ADS_1