
Ayleen menyodorkan satu cup es coklat pada Ibra. Duduk disamping pria itu lalu menyodot es coklat miliknya. Menoleh kearah Ibra yang sejak tadi hanya diam saja, bahkan es coklat darinya sama sekali belum dicicipi. Saat ini, keduanya berada disebuah taman didekat rumah Ibra.
Ayleen menepuk bahunya. "Malam ini aku pinjemin buat, Kakak. Kali aja pengen nangis."
Ibra tersenyum getir sambil menatap Ayleen. "Aku bukan anak kecil yang cengeng."
"Emang hanya anak kecil aja yang boleh nangis? Semua orang boleh nangis kali. Seorang pahlawan, seorang pemimpin, bahkan seorang binaraga yang kuat, yang mampu mengangkat beban ratusan kilo, juga boleh nangis. Asal masih dalam porsinya, tidak berlarut-larut. Bagiku," Ayleen meletakkan es coklat disebelahnya lalu meraih tangan Ibra dan menggenggamnya. "Kakak tetap seorang pria sejati meski nangis."
Ibra menjatuhkan kepalanya dibahu Ayleen, bersamaan dengan itu, air matanya luruh. "Kamu sangat beruntung, Ay. Kamu punya keluarga yang baik, yang sangat menyayangimu. Punya ayah yang hebat, mama yang penuh kasih sayang, dan saudara laki-laki selayaknya guardian angel. Sedangkan aku_" Ibra tak mampu melanjutkan kata-katanya. Terlalu menyesakkan saat ingat semua perlakuan ayahnya. Dan ibu tirinya, sama sekali tak layak disebut ibu. "Aku tak punya siapa-siapa yang bisa disebut keluarga."
Sebenarnya Ayleen tak ingin menangis. Ingin menjadi penguat bagi Ibra, namun dia tak sekuat itu. Kata-kata menyesakkan dari bibir Ibra, nyatanya membuat dia ikutan menangis.
"Kakak masih punya aku," Ayleen mengeratkan genggaman tangannya. "Dan sebentar lagi, aku dan keluargaku, akan menjadi keluarga, Kakak." Dia tak mau Ibra merasa sendirian lagi.
"Kehilangan seseorang yang kita cintai itu sangat menyakitkan. Aku sudah pernah merasakannya saat Ibu pergi untuk selamanya. Aku tak mau lagi merasakan sakit seperti. Jangan pernah tinggalkan aku, Ay." Ibra mengangkat wajahnya, menatap Ayleen.
"Kita akan selalu bersama."
__ADS_1
"Sampai maut memisahkan?"
Ayleen menggeleng sambil tersenyum. "Until jannah." Melepaskan tangan Ibra lalu menyeka air mata cowok itu.
Ibra terseyum disela-sela isakannya. Meraih tangan Ayleen yang ada dipipinya lalu menciumnya. "Aku sayang kamu, Ay."
"Aku juga."
Ibra menggenggam tangan Ayleen, kembali merebahkan kepala dibahu cewek. "Ini adalah sandaran ternyaman." Ujarnya sambil memejamkan mata.
"Tapi jangan lama-lama, pegel."
"Janji?" Ayleen mengangkat kelingkingnya.
"Hem, janji." Ibra menautkan jari kelingking mereka.
"Awas kalau sampai berani minjemin sandaranku pada cewek lain," ancam Ayleen sambil melotot. "Putri, Delisa, entah siapa lagi. Banyak banget sih cewek-cewek yang ngerubutin kamu."
__ADS_1
"Resiko jadi orang ganteng ya kayak gini," seloroh Ibra sambil terkekeh. "Kamu makin cantik deh kalau cemburu." Ujarnya sambil memiringkan kepala, menatap Ayleen yang bersandar dibahunya.
Ayleen menyebikkan bibir, mengangkat kepala sembari mengambil es coklat yang ada disebelahnya. "Lihat nih, es sampai meleleh denger gombalan kamu." Menunjukkan es miliknya lalu menyedotnya.
Ibra tak kuasa menahan tawa. Selesai Ayleen menyedot, dia merebut es tersebut lalu menyedotnya.
"Itu punyaku," sewot Ayleen. "Kakakkan udah aku beliin tadi."
Ibra mengambil es disebelahnya lalu memberikan es yang belum dia minum sama sekali itu pada Ayleen.
"Bekas bibirnya aja, seenak ini, apalagi bibirnya langsung." Celetukan Ibra membuat Ayleen salah tingkah. Membuang pandangan kearah lain sambil meminum es milik Ibra. "Kamu udah pernah ciuman, Ay?"
"Ish, apaan sih nanya kayak gitu," sewot Ayleen. "Palingan Kakak yang udah pro," tebaknya.
"Mau gak aku ajarin?" Ayleen reflek melihat kearah Ibra dengan tatapan tidak suka. "Becanda Sayang." Lanjut Ibra sambil mengacak-acak puncak kepala Ayleen.
"Gak lucu."
__ADS_1
"Iya, iya maaf. Becandanya keterlaluan." Ibra merapikan rambut Ayleen sambil menyelipkan dibelakang telinga. "Aku bakal ngambil ciuman pertama kamu saat kita sudah halal nanti. Huft," dia lalu membuang nafas kasar. "Bener-bener udah gak sabar pengen ngehalalin kamu." Ngomongin pernikahan, membuat Ibra jadi kepikiran tentang biayanya.