Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 76


__ADS_3

Kematian akan datang pada semua yang hidup tanpa terkecuali. Namun kadang ketika kematian itu terlalu mendadak, membuat mereka yang ditinggalkan merasa belum siap.


Pagi ini, jenazah Pak Yusuf dimakamkan. Kematian yang mendadak itu, membuat terkejut sekaligus terpukul orang-orang disekitarnya. Banyak sekali yang hadir dan ikut mendoakan dalam prosesi pemakaman tersebut. Mulai dari keluarga, tetangga, kolega, karyawan perusahaan serta teman-teman Ibra. Semua orang merasa kehilangan, terlebih Ibra.


"Pulang yuk," ajak Ayleen. Semua orang sudah pergi, menyisakan dia dan Ibra didepan makam Pak Yusuf yang masih basah dengan taburan bunga segar.


"Aku masih mau disini, Ay."


"Besok kita kesini lagi, sekarang kita pulang. Semalaman Kakak gak tidur, aku gak mau Kakak sakit," ujarnya sambil mengusap lembut lengan Ibra. "Kita doakan Ayah dari rumah," bujuknya. Masih ada Haura dirumah sakit, dia tak mau Ibra sampai drop apalagi berlarut-larut dalam kesedihan.


Ayleen menuntun Ibra berjalan meninggalkan pemakaman. Diluar, ada Aydin yang menunggu mereka. Ayah Septian sengaja menyuruhnya untuk menunggu dan mengantar mereka pulang.


Rumah Ibra dan Ayleen penuh dengan pelayat. Dihalaman dan tepi jalan, banyak sekali kiriman papan bunga yang entah dari siapa saja. Rumah duka memang ditempatkan disana, bukan di rumah baru Pak Yusuf. Karena sudah ada orang tua Ayleen, Om Musa serta Tante Dijah yang menemui para pelayat, Ayleen menyuruh Ibra istirahat dikamar. Sementara dia kedapur untuk mengambil makanan.


"Makan ya, aku suapin." Ayleen masuk kedalam kamar dengan nampan berisi makanan dan minuman.


"Aku gak lapar, Ay."


"Tetap harus makan meski gak lapar." Ayleen duduk disebelah Ibra, menyendok makanan lalu menyodorkan kedepan mulut pria itu. Namun suapannya tak kunjung diterima, membuat dia mau tak mau harus sedikit memaksa. "Kak..."


Tatapan penuh permohonan Ayleen membuat Ibra tak tega menolak. Meski tak selera, dia tetap membuka mulut dan menerima suapan Ayleen.


"Kenapa Ayah pergi secepat ini, padahal kami baru saja berbaikan. Aku bahkan belum sempat minta maaf padanya." Ujar Ibra setelah beberapa suapan berhasil dia telan.

__ADS_1


"Aku yakin, Ayah pasti udah maafin Kakak. Hati orang tua itu seluas samudera. Mereka akan memaafkan anak-anak mereka bahkan sebelum mereka minta maaf."


"Apa ada kabar dari Mbak Santi?" tiba-tiba saja, Ibra teringat Haura. Saat ini, Mbak Santi masih stay di rumah sakit.


"Gak ada," Ayleen menggeleng. "Semoga mereka baik-baik saja."


...----------------...


Hari ketiga setelah kematian Pak Yusuf, Ibra dan Ayleen datang ke rumah sakit. Haura sudah melewati masa kritis dan dipindahkan diruang rawat. Saat Ayleen dan Ibra masuk, ada orang lain diruangan itu selain Mbak Santi. Sepasang suami istri yang sudah lumayan berumur.


"Mereka orang tua Tante Ratna," ujar Ibra pada Ayleen. Keduanya lalu menyalami orang tua Ratna tersebut.


"Maaf, kami tidak hadir diacara pemakaman Ayah kamu," ujar Pak Ali, ayah Ratna.


"Kami ikut berbela sungkawa, Nak Ibrahim." Bu Halimah-ibu Ratna ikut bicara. Penampilan kedua orang itu sangat berbeda dengan Ratna. Mereka terlihat sederhana dan sopan, sangat berbeda dengan Ratna.


"Terimakasih Bu."


Sebenarnya bukan hanya karena harus menjaga Haura dan Ratna dirumah sakit, namun ada alasan lain lagi dibalik ketidak hadiran mereka. Keluarga Pak Yusuf tak menyukai Ratna, tak pernah menganggap wanita itu saudara ipar mereka, dan hal itu jelas berimbas pada keluarga Ratna juga. Mereka merasa jika kedatangannya tak terlalu diharapkan, bahkan mungkin, keluarga Ibra lebih senang jika dia tak datang. Apalagi saat kecelakaan, Ratna yang mengemudi, secara tidak langsung, dia yang anggap sebagai penyebab meninggalnya Pak Yusuf.


"Bagaimana kondisi Haura?" tanya Ayleen yang saat ini berada disamping ranjang Haura. Gadis kecil itu tampak sedang tidur saat ini.


"Alhamdulillah, Haura sudah melewati masa kritisnya, Mbak Ayleen," jawab Mbak Santi. "Tapi..."

__ADS_1


"Tapi apa?" Ayleen mengerutkan kening.


"Haura terus menanyakan Papa dan Mamanya," air mata Mbak Santi kembali luruh. "Saya gak tega mau memberitahu jika papanya sudah gak ada."


Ayleen ikut menitikkan air mata. Kasihan pada Haura yang harus menerima kenyataan jika diusianya yang masih kecil ini, dia sudah menjadi anak yatim. Belum lagi Ratna masih kritis. Semoga saja wanita itu selamat. Ayleen tetap mendoakan yang terbaik meski dia tak terlalu suka pada Ratna. Tapi jika melihat wajah Haura, tak tega rasanya jika gadis kecil itu harus kehilangan ayah dan Ibu dalam waktu yang bersamaan.


"Bagaimana kondisi Tante Ratna?" Meski membenci Ratna, Ibra tetap ingin tahu kondisinya.


"Dia masih di ICU," sahut Pak Ali. Pria itu mengalihkan pandangan kearah lain sambil menyeka air mata.


"Nak Ibra," Bu Halimah meraih tangan Ibra lalu menggenggamnya. "Tolong maafkan Ratna," ujarnya sambil menyusut hidung. "Kami tahu Ratna banyak salah. Tapi kami mohon, maafkan dia. Kami yang salah mendidiknya, kami yang salah Nak Ibra." Bu Halimah menepuk-nepuk dadanya bersamaan dengan tangisnya yang pecah. Pak Ali yang ada disampingnya langsung merengkuh bahunya untuk menenangkan. "Kami sadar, Ratna banyak salah."


Ibra tertunduk dalam. Memaafkan Ratna bukanlah hal mudah baginya. Tapi melihat kedua orang tuanya, rasanya tak tega untuk bilang tidak.


"Dengan keluarga Bu Ratna," panggil seorang suster yang baru masuk keruangan Haura.


"Iya Suster, kami keluarganya," sahut Pak Ali.


"Bu Ratna kembali kritis."


Bu Halimah menjadi orang pertama yang langsung berlari menuju ruang ICU disusul oleh Pak Ali. Ibra dan Ayleen juga ikut menyusul, meninggalkan Mbak Santi untuk menjaga Haura.


Dari kaca, tampak Dokter sedang melakukan pertolongan pada Ratna. Bu Halimah dan Pak Ali tak henti-hentinya memanjatkan doa yang terbaik untuk Ratna. Sampai akhirnya, terlihat Dokter melepas alat alat kesehatan yang menempel di tubuh Ratna.

__ADS_1


"Pasien atas nama Bu Ratna, meninggal dunia."


__ADS_2