Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 73


__ADS_3

Plakk


"Aww.." pekik Ayleen saat ada yang menepuk pantatnya. "Ish, jahil banget sih," geramnya pada sang suami. Bagaimana tidak, lagi enak-enak masak, malah ditabok pantatnya, siapa yang kesel. Memang tidak sakit, tapi kaget saja.


"Salah sendiri pakai baju sekksi banget." Ibra memeluk Ayleen dari belakang sambil meletakkan dagu dibahu wanita yang sedang memakai hot pant dan tanktop tersebut. Dirumah ini, mereka hanya tinggal bertiga dengan Bi Sulis, jadi Ayleen tak terlalu memikirkan soal pakaian. "Kamu lagi godain aku ya? Masih kurang yang semalam? Seksi banget bajunya," bisik Ibra sambil iseng menurunkan satu tali tank top Ayleen.


"Kurang? Kebanyakan yang iya." Ayleen kembali membenarkan tali bajunya. "Udah ah, lepasin. Aku mau masak. Gak kelar-kelar nanti masaknya kalau dikekepi gini. Bentar lagi aku kuliah," rengek Ayleen.


"Justru kalau sambil dipeluk gini, harusnya kamu semangat. Diluar sana, para istri pada protes karena suaminya kurang romantis. Lah kamu, di romantisin malah gak mau."


"Bukan gak mau, tapi susah gerak kalau kayak gini."


"Kamu mah gitu, dikit-dikit susah gerak. Dibawah bilangnya susah gerak, minta diatas terus. Aduh, aduh, aduh," Ibra mendadak meringis kesakitan karena Ayleen mencubit pinggangnya dengan keras. Dan reflek, kedua lengannya terlepas dari pinggang Ayleen.


"Rasain, sakit kan?" ejek Ayleen sambil membalikkan badan. "Udah duduk sana," Dia menunjuk dagu kearah kursi yang ada didapur. "Tungguin bentar lagi mateng."


"Gak boleh apa, nungguin dideket kamu?"


"ENGGAK!" sahut Ayleen penuh penekanan. Kalau diijinin dekat, yang ada dia gak bakalan kelar masaknya. Bukan hanya itu, bisa-bisa bukan makanannya yang dimakan sama Ibra, tapi dia. "Udah kesana," Ayleen membalikkan tubuh Ibra kearah kursi.

__ADS_1


"Siap Nyonya Ibrahim." Namun sebelum menuju kursi, Ibra masih nyuri kesempatan mere mas pantat Ayleen, tak pelak wanita itu kembali berdecak kesal. "Gemes," ujar Ibra tanpa rasa bersalah. Dan langsung kabur menuju kursi saat Ayleen mengangkat keatas spatula yang dia pegang.


Setelah menunggu hampir 20 menit akhirnya selesai juga Ayleen memasak. Dengan dibantu Ibra, mereka menyusun makanan keatas meja makan. Ayleen yang terbiasa makan rame-rame, jadi merasa sepi hanya makan berdua dengan Ibra saja.


"Kak, apa sebaiknya Haura sama Ayah kita ajak tinggal disini saja ya? Rumah ini terlalu gede untuk kita berdua."


"Ayah belum resmi bercerai dengan Ratna." Selama masih ada hubungan dengan Ratna, Ibra tak akan pernah mau mengajak Ayahnya tinggal bersama.


"Tante Ratna udah ada kabar belum sih? Aku kasihan sama Haura, nanyain Mamanya terus."


"Kata Mbak Santi, kemarin Ratna pulang." Tadi malam, Ibra dichat oleh pengasuh Haura.


"Mereka ribut besar tadi malam." Ibra mendadak kehilangan selera makan. Harusnya dia senang jika Ayahnya dan Ratna ribut, tapi entah kenapa, dia kasihan pada ayahnya itu. "Ratna diam-diam sudah mengajukan gugatan cerai. Dan dia maksa minta hak asuh Haura."


"Astaga, tuh nenek lampir apa sih maunya."


"Ya pasti hartanya Ayahlah. Haura akan dijadikan senjata buat nguras hartanya Ayah. Dia pasti nuntut nafkah anak yang besar nantinya. Lumayankan, kalau tiap bulan uang dari ayah masih mengalir. Uang itu, pastinya dia juga yang menikmati."


"Aku gak rela kalau hak asuk Haura jatuh ketangan Ratna. Dia itu bukan ibu yang bener. Lihat aja kelakuannya, pergi dari rumah sampai sebulan lebih gak inget anak. Eh...sekarang ujug-ujug datang minta hak asuh. Kebangetan memang tuh orang. Tapikan Ratna gak kerja, apa mungkin hak asuh Haura bisa jatuh ketangan dia?"

__ADS_1


"Ya mungkin saja, Haurakan masih dibawah umur, masih balita, belum genap 5 tahun dia. Dah gitu, dia melaporkan Ayah atas tuduhan KDRT. Jadi kemungkinan besar, Ratna bakal dapat hak asuh Haura."


"Emang bener ya, Ayah kamu melakukan KDRT?"


"Aku belum nanya kebenarannya sama Ayah. Tapi kayaknya benar. Ayah kalau emosi suka main tangan. Dulu sama Ibu juga kayak gitu. Aku pernah lihat sendiri Ibu dihajar sama Ayah. Ditampar, ditendang, pernah juga dicambuk pakai ikat pinggang."


Tubuh Ayleen seketika merinding. Tenggorokannya terasa tercekat, susah dibuat menelan. Hanya membayangkan saja, sudah mengerikan, apalagi sampai mengalami. Kelakuan anak cenderung sama dengan orang tuanya. Ibarat kata, buah jatuh tak jauh dari pohonnya. "Ka-kamu nggak kayak Ayah kamukan?"


Ibra langsung tergelak melihat wajah pias Ayleen. "Aku malah lebih parah lagi."


"Kak Ibra!" pekik Ayleen yang mendadak ngeri.


"Kalau kamu sampai bikin kesel aku, siap-siap saja aku hajar 10 ronde," ujar Ibra sambil tergelak.


"Ish, gak lucu tahu gak," bibir Ayleen langsung mengerucut kedepan. "Tiga ronde aja rasanya udah remuk, apalagi sepuluh."


"Kalau sepuluh, gak remuk, tapi malah enak. Mau nyoba gak?" Ibra menaik turunkan alisnya.


"Ogah." Sahut Ayleen cepat lalu memasukkan sesendok nasi kedalam mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2