
Ibra segera menjabat tangan calon mertuanya. Padahal belum apa-apa, baru berjabat tangan saja, keringat dingin langsung mengucur deras dari pori-pori kulit Ibra. Wajahnya juga tampak pucat, bahkan Ayah Septian sampai tersenyum menyadari tangan calon mantunya gemetar sekaligus dingin dan basah.
"Gak usah grogi," ujar Ayah Septian. "Minum dulu aja."
Ibra kembali melepaskan tangan Ayah Septian. Mengambil air meneral botol yang disodorkan oleh Pak Yusuf dan menegaknya hingg habis. Mengambil tisu yang disodorkan tante Dijah, lalu menyeka keringat dikeningnya.
Udah siap?" tanya Ayah Septian. Begitu Ibra mengangguk, Ayah Ayleen tersebut langsung mengulurkan tangan dan dijabat oleh Ibra.
"Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau saudara Ibrahim Arham Baihaqi bin Yusuf Baihaqi dengan anak saya yang bernama Ayleen Shadiq binti Septian Shadiq dengan mas kawin berupa cincin berlian, dibayar tunai." Ayah Septian sedikit menghantakkan tangan setelah menyebut kata tunai. Pertanda bagi Ibra untuk langsung menjawab.
"Saya terima dengan mas kawin tersebut, tunai." Ucap Ibra dengan sangat lantang dalam satu tarikan nafas.
Namun kenapa semua hanya diam, tak ada yang mengatakan sah seperti pernikahan pada umumnya, membuat Ibra bingung sekaligus bertanya-tanya dalam hati.
"Terima apa, Mas?" tanya petugas KUA sambil menahan tawa. Dan beberapa undangan juga terdengar tertawa pelan.
__ADS_1
"Nama pengantin perempuannya belum kamu sebutkan," bisik Pak Yusuf. Wajah Ibra seketika merah padam, malu setengah mati apalagi disiarkan secara live. Satu Indonesia pasti kompak menertawakannya saat ini.
"Gak papa, masih bisa diulang," ujar petugas KUA. "Mungkin saking terlalu semangatnya, pengen cepet- cepet sah, jadi dikorup kata-katanya, biar ringkas." Makin merah lagi wajah Ibra diledekin seperti itu. Petugas tersebut lalu menyodorkan kertas kecil pada Ibra. "Dibaca dulu beberapa kali lalu kita ulangi sekali lagi.
Ibra membaca tulisan yang ada dikertas tersebut. Padahal semalam dia sudah hafal diluar kepala, bisa-bisanya saat hari H, malah lupa, ambyar gara-gara grogi.
"Gimana Mas Ibrahim, udah hafal?" tanya petugas KUA.
"Su-sudah, Pak."
Setelah beberapa saat, Ayah Septian kembali menjabat tangan Ibra. Dan alhamdulillah, yang kedua ini, Ibra bisa melafalkannya dengan benar dan dalam satu tarikan nafas.
SAH
Kata itu menjadi puncak kelegaan Ibra sekaligus Ayleen yang ada didamam kamar. Setelah doa bersama, Ayleen keluar dengan dituntun oleh Mama Nara dan neneknya, ibu dari Ayah Septian.
__ADS_1
Ibra tak berkedip melihat wanita yang telah sah menjadi istrinya itu. Sedangkan Ayleen, dia terus menunduk karena malu. Saat keduanya didudukkan berdampingan, baik Ibra maupun Ayleen, sama-sama grogi. Sampai-sampai Ayleen tak berani menatap Ibra.
"Kok diem-dieman, satru ya?" kelakar petugas KUA. Para undangan kembali dibuat tertawa. Petugas KUA tersebut sepertinya memang ounya selera humor yang tinggi. "Udah halal, udah boleh dipegang tangannya. Tapi kalau mau pegang yang lain, nanti aja dikamar." Baik Ayleen maupun Ibra, keduanya menunduk karena malu.
Ayleen diarahnya untuk mencium tangan Ibra. Dilihatin banyak orang seperti ini, membuat Ayleen maupun Ibra grogi. Jika biasanya berpegangan tangan sudah sangat biasa, kali ini tangan Ayleen gemetar saat mencium tangan Ibra. Dan momen saat Ibra mencium kening Ayleen, sungguh mendebarkan, jantung keduanya seperti mau melompat dari tempatnya.
"Diulang-ulang, belum sempat kefoto tadi," ujar tante Dijah tanpa rasa bersalah. Tak tahukan dia jika saat ini, baik Ibra maupun Ayleen, deg-degan setengah mati.
Tak mungkin menolak, Ibra kembali mencium kening Ayleen.
"Tahan.." Teriakan itu membuat Ibra batal menjauhkan bibirnya dari kening Ayleen. Entah sampai berapa detik mereka disuruh tahan diposisi itu. Para keluarga, teman dan fotografer, berlomba-lomba mengambil foto.
"Kamu cantik sekali," bisik Ibra setelah melepaskan bibirnya dari kening Ayleen.
Keduanya lalu menandatangi buku nikah dan lanjut prosesi penyerahan mahar. Ayleen sungguh terharu melihat cincin berlian yang disematkan Ibra dijari manisnya. Tak menyangka jika pria itu akan mengabulkan permintaan yang bernada candaan.
__ADS_1
Mereka sepakat untuk meniadakan cincin kawin. Bukan tanpa alasan, melainkan karena Ibra memiliki alergi terhadap logam mulia. Ayleen tak mau jika hanya dia saja yang pakai cincin kawin sedang Ibra tidak. Karena hal itulah, Ibra memilih cincin berlian sebagai mahar.