
Makin siang, bengkel makin ramai, untung Fikri sudah pulang kuliah, jadi sudah mulai bisa membantu Reza. Ayleen duduk dikursi kasir, bermain ponsel sambil menunggu Ibra yang sedang mandi.
Beberapa saat kemudian, ketika pintu kamar mandi terbuka, aroma wangi sabun dan sampo langsung tercium. Ayleen menatap Ibra yang baru keluar dari kamar mandi sambil menggosok rambutnya yang basah dengan handuk.
Cakep banget sih, pantesan banyak yang naksir.
"Lama ya nungguin?" tanya Ibra. Tapi tak ada tanggapan, karena cewek didepannya itu sedang melamun sambil menatapnya. Ibra tak kuasa menahan senyum. Ditiupnya mata Ayleen sampai cewek itu gelagapan. "Ngelamun Neng, terpesonanya sama Abang ya?" ledek Ibra sambil menahan tawa.
"Eng-enggak kok," sahut Ayleen dengan wajah memerah karena malu. Merutuki diri sendiri dalam hati, bisa-bisanya sampai ketahuan Ibra saat terpesona.
"Kenapa, aku ganteng ya kalau habis mandi? Apalagi rambutnya masih basah kayak gini," ujarnya sambil menyentuh rambut. "Untung udah pakai baju, kalau belum, bisa makin terpesona kamu, Yang." Ayleen tergelak mendengar kenarsisan pacarnya itu. Tapi tak bisa dipungkiri, dia memang terpesona tadi.
Ibra menarik kursi plastik kedepan Ayleen. Duduk disana lalu menyerahkan handuk pada kekasihnya itu. "Bantuin ngeringin rambut aku dong."
"Dih manja."
"Sekali-kali manja sama pacar gak papa kan?"
Ayleen mengambil handuk dari tangan Ibra, menggosok rambut cowok itu sambil sedikit dipijat agar lebih rileks. Ibra pasti lelah akhir-akhir ini. Kuliah sambil kerja, itu tidak mudah. Apalagi cowok itu udah mulai mengerjakan skripsi.
"Enak gak?" tanya Ayleen.
"Banget," sahut Ibra sambil memejamkan mata. Menikmati pijatan Ayleen dikepalanya. Stress dan lelahnya perlahan hilang, berganti dengan rasa nyaman yang sedikit demi sedikit mendatangkan kantuk. "Nanti kalau udah nikah, mau minta diginiin tiap hari, kan keramasnya tiap hari."
"Ya masa tiap hari."
"Ya udah, sehari 3 kali galau gak mau sekali setiap hari."
"Yee..itu mah maruk." Sahut Ayleen sambil mendorong bahu Ibra pelan.
"Ya mau gimana lagi, orang istrinya cakep banget. Mana tahann..." Seloroh Ibra sambil terkekeh pelan.
__ADS_1
Setelah rambut Ibra lumayan kering, Ayleen menyudahi kegiatan itu. Menyerahkan kembali handuk pada Ibra yang kemudian ditaruh kembali kedalam kamar mandi oleh cowok itu. Tak perlu sisir, karena rambutnya pendek, Ibra hanya perlu merapikan dengan jari. Tapi herannya, begitupun udah cakep banget.
"Kamu belum makan, Ay?" tanya Ibra dan langsung dijawab dengan gelengan oleh Ayleen. "Mau nasi padang gak? Nasi padang diseberang bengkel enak loh. Harganya juga murah, porsinya banyak, mau gak? Atau mau nyari makan diluar? Kita ke makam agak sorean aja, panas jam segini."
"Nasi padang aja deh kalau gitu."
"Ya udah tunggu sini, aku beliin. Nanti kita makan disini." Ayleen menggeleng cepat sambil beranjak dari duduknya.
"Ikut." Dia mendekati Ibra dan langsung menggandeng lengannya. Takut nanti digodain cewek lagi disana, jadi lebih aman, diintilin aja.
"Panas, udah kamu tungu disini aja."
"Enggak, pokoknya aku ikut." Tekan Ayleen sambil melotot. "Entar Kakak digodain cewek lagi disana." Ibra sontak tergelak melihat keposesifan Ayleen. Tapi jujur, dia suka.
Ibra mengambil marker pen yang ada diatas meja kasir lalu menyerahkannya pada Ayleen. "Kamu tulis disini." Dia menunjuk dahinya sendiri. "Cowok ini miliknya Ayleen. Biar gak ada yang godain lagi."
Ayleen tergelak mendengar ide konyol kekasihnya itu. Mana tega dia mencoret wajah tampan Ibra. "Udah ayo berangkat." Dia meletakkan kembali marker pen diatas meja lalu menarik lengan Ibra keluar.
"Yakin nih, gak mau nulis kepemilikan didahi aku?" kelakar Ibra.
...----------------...
Sore hari, mereka menuju makam ibu Ibra. Singgah membeli bunga didepan makam lalu masuk. Makam ibunda Ibra lumayan jauh dari pintu masuk, tapi untungnya, sore ini agak mendung, jadi tidak kepanasan. Ayleen sudah membawa hijab dari rumah, jadi saat menuju makam, dia sudah mengenakan hijab instannya. Yang kata Ibra, dia makin cantik saat berhijab.
Amalia Puspita, Ayleen membaca nama yang terukir dinisan. Dia dan Ibra jongkok lalu menaburkan bunga diatas makam.
Ibra membacakan doa untuk alm. Ibunya. Surat Alfatihah dan beberapa surat pendek. Ayleen yang juga berdoa jadi kurang khusyuk gara-gara bacaan surat Ibra. Tak menyangka jika bacaan cowok itu sudah sangat bagus.
Selesai berdoa, Ibra menyentuh nisan ibunya sambil tersenyum.
"Hari ini, Ibrahim gak datang sendirian, Bu, Ibrahim bawa calon istri, namanya Ayleen." Dia menoleh kearah Ayleen sambil tersenyum. "Dia cantik bangetkan, Bu?" Ayleen tersenyum mendengar pujian Ibra. "Kalau senyum, ada lesung pipinya, mirip Ibu. Ayleen anaknya Bu Kinara, teman Ibu. Kalau saja ibu masih ada," Mata Ibra mulai berkaca-kaca, teringat alm. Ibunya. "Ibu pasti suka sama dia. Sama seperti Ibu, dia juga pecinta kopi, bedanya, ibu hanya bisa menikmati kopi, tapi Ayleen juga pandai meracik kopi. Dia barista yang hebat. Barista cewek paling cantik yang pernah Ibrahim temui."
__ADS_1
Melihat Ibra meneteskan air mata, Ayleen mengambil tisu didalam tas lalu menyerahkan padanya.
"Lihatlah, Bu, calon menantu Ibu sangat perhatian. Ibu gak usah mengkhawatirkan Ibrahim lagi, setelah ini, ada yang akan ngerawat Ibrahim. Ada yang akan ngingetin makan, tidur dan lainnya." Setelah panjang lebar menceritakan tentang Ayleen, mereka lalu meninggalkan makam.
"Kak..." Panggil Ayleen saat mereka sedang berada ditempat parkir.
"Apa?" tanya Ibra sambil mengangsurkan helm milik Ayleen. Melihat cewek itu ragu mengatakannya, dia jadi penasaran. "Ada apa sih?"
"Kakak gak mau ngenalin aku ke Ayah Kakak?" Ibra yang hendak mengaitkan helm langsung berhenti. Bukannya tak mau mengenalkan, tapi takut Ayah dan Ibu tirinya akan mengeluarkan kata-kata yang menyakiti Ayleen. Dia tahu seperti apa perangai mereka, terlebih ibu tirinya. Sejak pertengkaran mereka hari itu, dia dan ayahnya tak pernah lagi berkomunikasi.
"Lain waktu saja." Ibra mengaitkah helm lalu naik ke atas motor.
"Kenapa gak sekalian hari ini? Bukankan rumah Kakak tak jauh dari makam ini?"
"Ayo naik," Ibra menyalakan mesin motornya. Tak mau lagi membahas soal ini.
"Bukankah hari itu, Ayah meminta Kakak membawa keluarg saat melamar. Jadi cepat atau lambat, Ayah Kakak harus tahu tentang kita." Tapi Ayleen masih saja mendesak.
Ibra menghela nafas berat. Ini juga yang masih mengganggu pikirannya. Dia malas sekali berhubungan dengan ayahnya, tapi bagaimanapun, dia tetap ayahnya. Dan saat melamar ataupun menikah, pria itu harus tahu.
"Seperti apapun hubungan kalian, dia tetap ayah, Kakak." Ujar Ayleen sambil mengusap pelan lengan Ibra.
Ibra mematikan kembali mesin motor lalu menatap Ayleen. "Baiklah kita kesana. Tapi sebelum itu, bisakah kamu berjanji dulu."
"Apa?"
Diraihnya sebelah tangan Ayleen lalu menggenggamnya. "Kamu gak akan masukin dalam hati ucapan mereka. Dan apapun yang mereka katakan, tak akan ada yang berubah dari hubungan kita."
"Ya, aku janji."
"Baiklah, setelah magrib, kita kesana. Sekarang mending kita nyari cemilan lalu ke masjid sholat magrib. Setelah itu kerumahku." Ayleen langsung mengangguk setuju. Dia lalu memakai helm dan naik keatas motor.
__ADS_1
"Ngomong-ngomong, Kakak udah bagus banget bacaan surat pendeknya," puji Ayleen.
"Masak sih? Tapi bagus dong, jadi bisa cepet-cepet datang melamar." Ibra bukannya yang tak bisa sholat atau ngaji. Dia bisa, dari kecil juga sudah mengaji privat. Ibunya memanggil guru ngaji khusus untuk mengajarinya. Hanya saja sudah lama meninggalkannya, jadi sedikit lupa.