Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 83


__ADS_3

Sore ini, Ibra dan Ayleen mengajak Haura ke makam Mama dan Papanya. Seperti permintaan Haura, mereka mampir ke toko bunga juliet florist untuk membeli mawar yang kata bocah itu kesukaan Mamanya.


Ibra mengerutkan kening saat tangan Ayleen melingkar manja secara tiba-tiba di lengannya. Biasanya istrinya itu tak mau menunjukkan keromantisan didepan orang.


"Ada yang bisa saya bantu?" tanya wanita cantik penjual bunga. Bukannya menjawab, Ayleen malah menoleh kearah Ibra sambil melotot. Mulut Ibra reflek menganga, jangan bilang kalau alasan Ayleen lengket kayak gini, karena penjual bunganya cantik? Ibra mati-matian menahan senyum melihat tingkah istrinya.


"Mau bunga mawal," sahut Haura.


"Mawar apa cantik?" tanya penjual bunga tersebut sambil menunduk dan menyentuh kepala Haura.


"Buket mawar putih," ganti Ayleen yang menyahuti.


"No," ujar Haura cepat. "Mawal melah, Mama suka mawal melah."


"Oh, buat Mama kamu ya?"


"Hem," sahut Haura sambil mengangguk. "Aku seling lihat Papa kasih Mama mawal melah. Dan Mamaku seneng banget.'


Ayleen reflek menoleh kearah Ibra sambil menatapnya sengit. "Tuh, Papa kamu aja romantis," sindirnya lirih.


Ibra hanya menanggapi dengan senyum kecut. Selama ini, dia memang tak pernah memberi Ayleen bunga. Bukan pelit, tapi di lebih suka memberi martabak atau pem-pem, lebih kelihatan faedahnya, bisa dimakan, daripada bunga? Yang ada lama-lama layu dan berakhir ditempat sampah, sayang uangnya kan.


"Ya udah Mbak, buket mawar merahnya 3," ujar Ibra.


"Kok banyak amat?" Ayleen mengerutkan kening. Setahu dia, mereka hanya akan ke makam Pak Yusuf dan Ratna, karena Ibu Ibra tidak dimakamkan ditempat yang sama dengan mereka.

__ADS_1


"Satunya buat kamu, biar romantis." Perkataan Ibra mengundang tawa penjual bunga, membuat wajah Ayleen langsung merah karena malu. "Mau mawar saja, atau apa lagi?" tanya Ibra. Kali ini dia gak mau nanggung-nanggung ngasihnya. Akan dia belikan bunga apapun yang diminta Ayleen agar predikat suami paling romantis tahun ini, disematkan padanya. "Melati, kenanga, anggrek, lily, daisy, krisan, atau bunga banggke?"


"Ish," desis Ayleen sambil mencubit pinggang Ibra. Bisa-bisanya suaminya itu meledekinya didepan cewek cantik.


"Kalian pacar atau..."


"Kami sudah menikah," sahut Ibra sambil merenhkuh bahu Ayleen.


"Dia..." Lovely menunjuk Haura. Cewek itu kadang memang suka kepo.


"Dia adik suamiku," jawab Ayleen. "Namanya Haura."


"Nama yang sangat Indah," puji penjual bunga. "Hai Haura, nama Kakak Lovely."


"Love, cinta?" tanya Haura.


"Cantik namanya, kayak Kakak, cantik banget."


"Ah.. masak sih. Kamu orang ke 1 juta yang bilang Kakak cantik," seloroh Lovely sambil kecentikan memainkan ujung rambutnya.


"Hah, benarkah?" Haura si bocah polos itu sampai melongo, percaya jika dia memang orang ke 1 juta yang bilang Lovely cantik.


"Iya benar. Dan kamu Mas," Lovely melihat kearah Ibra. "Gak mau jadi orang ke 1juta 1 yang bilang aku cantik?" godanya.


"Waduh, bisa habis aku Mbak kalau sampai bilang kamu cantik. Pawangnya galak," ujarnya sambil melirik Ayleen.

__ADS_1


"Hahaha, masak sih?" Lovely malah cekikikan. Dia menatap wajah Ayleen yang terlihat malu-malu. "Aku iri sama kalian, masih muda udah nikah. Lha aku? Astaga... " dia membuang nafas kasar. "Sayang, kapan kamu nikahin aku?" teriaknya sambil menoleh kearah dalam.


"Nanti, lebaran monyet," sahut seorang pria dari dalam.


Ibra dan Ayleen tak bisa menahan tawa mendengarnya, sementara Lovely hanya geleng-geleng kepala.


Tak mau membuat pembeli menunggu lama, Lovely langsung membuat buket bunga mawar, dia bantu seorang wanita yang bekerja disana. Ayleen tertarik melihat proses membuat buket, dia melepaskan tangan Ibra untuk mendekat kearah Lovely.


"Ini toko kamu?" tanya Ayleen.


"Bukan, punya camer," sahut Lovely.


"Oh...." Ayleen manggut-manggut. Setelah melihat proses pembuatan buket hingga jadi 1, dia berjalan-jalan melihat bunga.


Sementara Ibra, dia duduk bersama Haura sebuah bangku panjang. Matanya tak pernah lepas menatap Ayleen. Menyadari Ibra terus menatapnya sambil senyum-senyum, Ayleen segera mendekati suaminya itu.


"Gitu banget ngeliatin aku?"


"Cantik."


"Dih, mulai deh gombal." Ayleen menyebikan bibir, pura-pura tak percaya omongan Ibra, padahal dalam hati, senangnya minta ampun dipuji cantik.


"Beneran, cantik banget. Bunga-bunga disini aja, kalah cantiknya sama kamu."


"Didenger Haura tuh, gak malu?" ujar Ayleen.

__ADS_1


Ibra menoleh kesebelah, mendapati adiknya itu sedang menutup mulut untuk menyembunyikan suara tawanya.


__ADS_2