Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy

Pelabuhan Terakhir Sang Bad Boy
BAB 37


__ADS_3

"Kak Ibra." Sebuah suara yang langsung membuat Ibra membalikkan badan. Pria itu langsung tersenyum melihat gadis yang dia rindukan selama 2 minggu ini berdiri diambang pintu, tersenyum kearahnya. Padahal dia sudah pasrah jika malam ini tak bisa bertemu dengan Ayleen.


Ayleen langsung berlari menghampiri Ibra yang ada dihalaman rumahnya. Ingin sekali ada adegan berpelukan untuk melepas rindu. Sayang 2 pasang mata sedang mengawasi, membuat dia tak bisa berkutik. Saat dia keluar tadi, 2 saudaranya itu juga mengikuti. Dan sekarang, duduk dikursi teras dengan mata tak pernah lepas menatap interaksi antara Ibra dan Ayleen.


Ibra yang hendak memakai helm meletakkan kembali helmnya. Diapun sama, ingin memeluk Ayleen, tapi tatapan tajam dari 2 saudara laki-laki Ayleen, membuatnya terpaksa menahan diri.


"Aku kangen sama kamu," ujar Ibra sambil menelisik wajah Ayleen. Wajah yang beberapa hari ini, hanya fotonya saja yang dia lihat.


Ayleen mengangguk, tanpa Ibra bilangpun, dia juga tahu, karena dia juga rindu pada cowok itu.


Ibra meraih tangan Ayleen lalu menggenggamnya. "Maaf, udah bikin kamu nunggu lama. Aku udah berusaha cepet, Ay. Tapi...." Ibra membuang nafas kasar. Proses membuka bengkel tak semudah yang dia pikirkan. Selain nyari tempat yang cocok itu tidak mudah, jual motor juga gak gampang, gak langsung laku.


Ayleen menggeleng cepat dengan mata berkaca-kaca. "Aku gak papa kok, yang penting Kakak dateng."


"Mana mungkin aku gak dateng. Aku sayang sama kamu. Aku bakal ngelakuin apapun buat kamu."


Ayleen menatap motor matic warna hitam yang ada disebelah Ibra.


"Keren gak motor baru aku? Bukan baru sih," Ibra garuk garuk kepala sambil tersenyum simpul. "Aku beli second."


Ayleen tersenyum sambil meneteskan air mata. Dia menarik tangannya yang dipegang Ibra lalu menyeka air mata. "Keren, keren banget," ujarnya sambil mengacungkan 2 jempol. "Pasti nyaman banget duduk disini." Dia menepuk jok bagian belakang. Dan lagi-lagi, air matanya menetes.


"Kenapa nangis?" Ibra menyeka air mata Ayleen dengan kedua ibu jarinya.


"Maaf," Ayleen menunduk. "Kakak jadi kehilangan motor kesayangan. Hadiah terakhir dari alm. Ibu Kakak."


Ibra terkekeh pelan mendengarnya. "Aku gak masalah kehilanga motor kesayangan, asal aku gak kehilangan gadis kesayanganku ini." Diusapnya pipi Ayleen dengan punggung tangan sambil tersenyum.

__ADS_1


"Hem, hem." Suara deheman Aydin membuat Ibra langsung menjauhkan tangan dari wajah Ayleen.


Ayleen cemberut sambil menoleh kearah Alfath dan Aydin. "Ish, dua satpam itu ganggu aja, nyebelin."


Ibra tergelak melihat wajah kesal Ayleen. "Namanya juga princess, ya dijagain terus. Kamu beruntung banget punya keluarga kayak mereka, Ay. Aku aja iri loh."


"Beruntung apanya, mereka itu nyebelin," celetuk Ayleen.


"Mereka kayak gitu, karena sayang sama kamu."


Ayleen kembali menoleh kearah Aydin dan Alfath. Dan kedua orang itu langsung pura-pura ngobrol, pura-pura tak memperhatikan dua sejoli itu. Ayleen tersenyum, benar apa yang dikatakan Ibra, mereka seperti ini karena sayang padanya.


"Setelah ini, kayaknya aku bakalan sibuk. Harus kuliah, memulai usaha, dan belajar sholat lagi. Maaf jika nanti, waktu buat kamu jadi kurang."


Ayleen tersenyum lalu meraih tangan Ibra dan menggenggamnya. "Makasih, udah mau melakukan banyak hal buat aku. Makasih udah mau perjuangin aku."


Hati Ayleen langsung meleleh, begitupun air matanya. Malam ini, hatinya jadi melow, dikit-dikit baper, pengen nangis.


"Oh iya, apa mulai besok, kamu udah mulai diizinkan keluar?"


"Aku belum tanya sama Ayah. Kenapa?"


"Aku pengen ngajak kamu ke makam Ibu."


"Nanti aku tanya sama Ayah. Semoga aja udah boleh keluar dan pegang HP. Tapi ya gitu, pasti 2 satpam itu yang bakal terus ngawasin aku." Ayleen kembali menoleh kearah teras, dimana dua saudaranya sedang duduk. Dia tiba-tiba teringat sesuatu. "Tunggu sebentar ya. Sebentar doang, jangan kemana-mana." Ayleen berlari masuk kedalam rumah. Entah apa yang mau dia ambil hingga lari tergesa-gesa menuju kamarnya yang ada dilantai atas.


Tak berselang lama, Ayleen kembali dengan nafas ngos-ngosan. Ditangannya, ada sebuah buku.

__ADS_1


"Ini, buat belajar." Ayleen memberikan buku tersebut pada Ibra. Buku panduan sholat lengkap. "Semoga makin semangat belajarnya kalau bukunya dari aku." Ujarnya sambil tersenyum lebar, menunjukkan dua lesung pipi yang membuat siapapun yang melihat langsung terpesona.


"Pasti," ujar Ibra yakin. "Aku pasti makin semangat belajar. Karena udah gak sabar banget pengen ngehalalin kamu."


Ayleen menggigit bibir bawahnya sambil menunduk malu. Pipinya merona, dan jantungnya mulai berdebar.


"Haduh...jam berapa sih ini? Nyamuknya banyak banget. Udah mau tengah malam kali ya, Bang?" Seru Alfath lumayan kencang.


Ibra paham arti kalimat Alfath barusan, tak lain tak bukan, adalah sindiran halus agar dia cepat pulang.


"Udah malem Ay, aku pulang ya. Kamu tidur yang nyenyak." Ibra mengusap pelan rambut Ayleen.


"Hem," Ayleen mengangguk. "Kakak juga, tidur yang nyenyak. Kantung mata Kakak kelihatan sedikit hitam, pasti kurang tidur."


"Gimana bisa tidur, kangen kamu mulu." Ayleen lagsung tergelak.


"Mulai deh gombal."


Ibra memasukkan buku dari Ayleen kedalam jok. Setelah itu memakai kembali helmnya. "Aku pulang dulu, love you."


"Love you too," sahut Ayleen sambil malu-malu kucing.


"Assalamualaikum, Bang." Pamit Ibra pada saudara Ayleen sambil mengangkat sebelah tangan.


"Waalaikum salam." Sahut Ayleen dan Aydin.


"Kok kamu diam aja, Al?" tanya Aydin.

__ADS_1


"Kan cuma Abang yang dipamitin bukan aku." Alfath berdecak pelan lalu masuk kedalam rumah.


__ADS_2